![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Halo anak Papa," sapa Rudi yang baru saja pulang dari kebun.
Cinta yang tengah menemani anak-anaknya bermain segera menghampiri pria tersebut. Meraih tangan Rudi dan mencium lembut punggung tangannya.
"Tumben sore banget pulangnya?"
"Tadi panen kentang dan pengepulnya nungguin, jadi terpaksa harus nemenin mereka. Apa anak-anak rewel?" tanya Rudi sembari menghampiri Ratu yang tengah asyik membongkar bonekanya.
Raja menatap lekat Rudi saat pria yang dia panggil papa itu mencium kening adiknya. Anak kecil berusia dua tahun itu bergegas bangkit dan berlari menghampiri papanya. Rudi menyambut Raja dan membawanya dalam pelukan bersama Ratu. Kecupan-kecupan gemas Rudi layangkan pada keduanya. Anak-anak itu tidak nampak risih ataupun keberatan akan hal tersebut.
"Apapa, papa?" celoteh kedua batita tersebut sembari menepuk-nepuk perlahan wajah Rudi.
"Apa, Baby Twins? Kalian mau ma–uukh...." Pria itu tiba-tiba merintih menurunkan Raja dan Ratu. Dia memegang kepalanya yang terasa berat.
"Kau tidak apa-apa?" Cinta menghampiri suaminya dengan panik.
"Sepertinya aku mau flu," jawab Rudi sembari memijit pelan pelipisnya.
"Mandilah dulu, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Setelah itu minum obat dan istirahat."
"Siap, istriku tercinta." Sebuah kecupan Rudi layangkan di kening istrinya.
Senyum mengembang di sudut bibir Cinta. Dia terus saja menatap punggung Rudi yang semakin menjauh dan menghilang di balik tembok. Rasanya ada kupu-kupu yang berterbangan di hatinya. Menggelitik dan menerbangkannya setiap detik. Hampir tiga tahun dia bersama pria itu, dan selama itu pula rasa cinta coba dia pupuk dan kembangkan setiap detiknya.
"Mama," panggil Ratu yang tengah duduk sembari mendongak menatap mamanya.
Suara menggemaskan itu berhasil mengalihkan perhatian Cinta. Dia kembali pada kedua anaknya. Dua orang anak yang menjadi alasan dan tujuan Cinta bangkit dari segala keterpurukan.
"Iya, Sayang. Raja mainan apa, Nak?"
"Ego," jawab Raja sembari menumpuk lego berwarna-warni di hadapannya.
"Okah, atu okah," sela Ratu sembari menunjukkan boneka beruang dalam pelukannya.
"Iya, Ratu mainan bo-ne-ka dan Raja mainan le-go," ucap Cinta mengeja kata yang diucapkan oleh anak-anaknya.
Kedua bocah itu mengangguk bersamaan. Ya, cinta tidak membiasakan berbicara cadel di depan anaknya. Anak adalah seorang peniru ulung. Saat dia masih belajar berbicara, Cinta sebisa mungkin menyontohkan cara berucap yang benar agar anak-anaknya mengerti pelafalan yang benar dan berusaha menirukannya.
"Raja ... Ratu ...." Seorang gadis muda masuk dan berhambur memeluk dua bocah yang juga antusias menyambut kedatangannya.
"Nanaaa." Ratu memererat pelukannya.
"Biarin, Kak. Namanya juga bocah. Kak Cinta apakabar?"
"Alhamdulillah, sehat. Anak-anak nanyain kamu terus, sampai pusing kakak. Gimana kuliahnya?"
"Biasa, aku kan pintar mungkin nggak akan sampai empat tahun aku udah lulus," ujar Nana dengan penuh percaya diri.
"Hah, terlalu percaya diri itu tidak baik, yaa. Ngomong-ngomong adik kakak ini makin hari makin cantik aja. Apa besok kau sudah balik ke Jakarta lagi?" tanya Cinta dan mendapatkan anggukan dari adiknya.
Gadis itu kini terlihat lebih anggun dan dewasa. Dia mengenakan dress berwarna biru muda membuat dirinya terlihat lebih segar dan bersinar. Nana selalu menyempatkan diri untuk menjenguk keponakannya di tengah kesibukan mengurus cafe dan tugas kuliahnya. Rasa sayangnya pada Raja dan Ratu membuat gadis itu tidak memerdulikan rasa letih karena harus bolak-balik Jakarta-Bogor dalam satu hari.
"Aku titip anak-anak, yaa mau lihat Rudi dulu, tadi agak kurang enak badan dia." Cinta meninggalkan mereka bertiga setelah mendapat anggukan dari adiknya.
Wanita itu menuju kamar pribadinya. Mata Cinta berkeliling menyapu setiap sudut ruangan. Pria yang dia cari tidak ada di sana. Cinta berdiri menghadap jendela kaca yang masih terbuka. Menampakkan langit di balik bukit yang masih bersemu jingga kemerahan.
Kenapa kau seolah selalu mengingatkanku tentang semua luka? batin wanita itu saat perlahan mulai menarik tirai penutup jendela tersebut. Alisnya sedikit terangkat tatkala mendengar suara percikan air dari dalam kamar mandi.
"Mandi apa bertapa, sih," gerutu wanita cantik itu sembari merapikan meja riasnya.
Cinta menghentikan gerakan tangannya saat indera pendengarannya menangkap suara getaran ponsel. Ekor matanya melirik pada benda pipih yang tergeletak di meja sebelah ranjang. Cinta melangkah mendekat. Netranya menyipit saat melihat nama yang tertulis di atas layar tersebut.
"Bimo? Bukankah dia ...." Cinta meraih benda pipih tersebut. Dia menatap lekat layar yang masih terus menyala menunjukkan sebuah panggilan masuk.
Cinta dengan ragu menempelkan ibu jarinya di atas tombol berwarna hijau. Dia perlahan menggeser tombol bergambar telepon itu ke atas dan menempelkan benda berwarna hitam itu ke telinganya.
"Halo, Rud. Tolong suamiku, dia ... dia kecelakaan. Aku harus segera membayar untuk biaya operasinya," ujar seorang wanita yang terdengar begitu panik di seberang telepon.
Netra Cinta membelalak lebar saat suara wanita itu menyelusup masuk ke dalam telinganya. Suara yang tidak asing. Suara seorang wanita yang menjadi alasan penderitaannya. Suara seorang wanita yang menjadi penyebab anak-anaknya tidak bisa mengenal siapa ayah kandungnya.
Jantung wanita itu bahkan seolah berhenti berdetak dan darahnya terasa mendidih seketika. Napa Cinta memburu saat wanita itu terus saja memanggil nama suaminya. Rahangnya mengetat dan tangan Cinta sudah terkepal begitu erat seolah ingin menghantam apapun yang ada di hadapannya.
...Bersambung .......
...****************...
Haloo, Kesayangan.
Maaf, yaa dua hari aku absen. Kalo weekend aku nggak bisa ngetik lama-lama soalnya suami dan anak libur. Bisa didemo masyarakat nanti kalo kelamaan pegang HP. Jadi demi kebaikan bersama, pas weekend disempatkan untuk update, yaa tapi kalau nggak bisa mohon kemaklumannya.
Lope-lope sekebon buat kalian, My Shining Star.