![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Langkah kaki yang terdengar menggema, memenuhi lorong sebuah perusahaan besar di pusat kota Kuala Lumpur tersebut. Karyawan yang sedang lalu lalang, melirik penasaran pada sesosok wanita cantik bertubuh proporsional yang berjalan dengan langkah pasti menuju ruangan atasannya.
Sementara itu di gedung yang sama, Tahta terlihat sibuk bergulat dengan semua tumpukan kertas yang berjajar rapi di meja besarnya. Pria dengan setelan jas hitam itu, sesekali menghela napas panjang sambil terus menorehkan tinta dari benda kecil di tangannya. Tahta mengangkat kepalanya saat mendengar suara ketukan pintu.
"Ada apa, Za?" tanya Tahta saat pintu kayu berwarna coklat itu mulai terbuka.
"Ada yang ingin menemui Anda, Pak," ucap seorang pria yang sudah berdiri di ambang pintu.
Reza Rahardian, asisten pribadi Tahta yang sudah bertahun-tahun mendampinginya. Dengan setelan jas hitam dan mata coklatnya, dia menatap ke arah Tahta menunggu jawabannya. Pria itu terlihat begitu ramah dan sopan meskipun perawakannya tidak kalah kekar dari Tahta. Kulit yang berwarna sawo matang membuatnya terlihat semakin manis.
"Siapa?"
"Me," sahut seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajah serius.
Reza menggeser posisinya, memberikan jalan pada wanita yang tidak lain adalah Cinta. Dia melangkah pasti menuju tempat duduk yang berada tepat di hadapan pria yang sangat dikaguminya itu.
"Ada apa?" tanya Tahta dengan heran.
Pria yang terlihat sedikit terkejut dengan kedatangan Cinta itu menyipitkan sebelah matanya. Dia menyadari bahwa wanita yang sedang menatapnya itu sedang tidak dalam mood yang baik.
Cinta belum menjawab. Dia hanya menatap dalam-dalam netra pria yang penuh karisma tersebut.
Bagaimana mungkin pria seperti ini bisa diperdaya oleh wanita itu? batin Cinta yang masih bergelut dengan batinnya.
Tahta melambaikan tangan kanannya ke arah Reza. Memberikan isyarat pada pria berusia dua puluh lima tahun itu untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Mungkin saja Cinta tidak nyaman untuk berbicara karena ada Reza, pikir Tahta.
Tahta mengarahkan tatapan tajamnya pada Cinta yang juga masih terpaku padanya. "Tumben sekali gadis cantik ini datang ke perusahaan. Apa kau membuat masalah lagi?" gurau Tahta mencoba mencairkan suasana.
"Tahta." Cinta tak menghiraukan candaannya dan mulai memasang wajah serius pada Tahta.
"Hmm, katakan."
"Apa kau benar-benar mencintai kekasihmu?" tanya Cinta dengan sedikit keraguannya.
Tahta mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan yang terdengar begitu aneh di telinganya. "Apa kau bercanda? Tentu saja aku sangat mencintainya. Jika tidak, untuk apa aku memperjuangkannya selama bertahun-tahun."
"Bagaimana jika ternyata dia tidak benar-benar mencintaimu? Bagaimana jika dia mengkhianatimu?"
"Heh! Apa ibu yang mengatakan itu padamu?" Tahta sudah mulai terpancing emosi mendengar pertanyaan Cinta.
Atmosfer di ruang yang cukup luas tersebut seketika menjadi dingin dan mencekam. Kedua orang yang saling bertatapan tajam itu seolah siap untuk membakar dan menerkam satu sama lain.
Cinta mer*mas rok span berwarna hitam yang dia kenakan sedari pagi itu. Rasanya ingin sekali dia meluapkan kekecewaan terhadap orang yang telah mengkhianati pria di hadapannya itu.
Dia mendorong ponsel tersebut ke arah Tahta. Memberikan isyarat dengan mendongakkan kepala pada pria itu untuk melihat gambar yang sudah dia siapkan.
"Apa ini?" tanya Tahta sambil meraih ponsel yang tepat berada di hadapannya.
Dia membuka kunci layar tersebut dengan cepat. Manik matanya sesaat terbuka lebar saat kunci layar sudah terbuka tapi, dengan segera Tahta menetralkan ekspresinya kembali. Dia menatap Cinta dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan. Antara terkejut, penasaran, dan kecewa.
"Apa ibu memintamu untuk mengikutinya?"
"Apa aku gila? Untuk apa aku mengikutinya. Lupakan soal Tante, aku hanya ingin kau melihat kenyataan dan tidak ada sangkut pautnya dengan Tante Laras."
Tahta mengusap kasar wajahnya. "Ini hanya kesalahpahaman. Pria ini teman baik Bella, dia seorang dokter. Perusahaan Bella adalah investor utama di rumah sakitnya dan mereka memang sedang membahas proyek," jelas Tahta dengan penuh keyakinan.
"Mana ada teman yang kalo ketemu langsung ciuman?" Cinta menaikkan sedikit intonasi suaranya.
Tahta sejenak terdiam. Dia menatap tajam tepat ke arah manik manik berwarna coklat muda di hadapannya tersebut. Alisnya hampir bertaut satu sama lain.
"Cinta! Kau sama sekali tidak mengenal Bella, jadi jangan sembarangan bicara tentang dia di hadapanku. Mengerti!"
"Aku tidak bicara sembarangan, Tahta. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
"Hah, sudahlah. Pasti ibu yang sudah menyuruhmu untuk melakukan ini. Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum kesabaranku habis."
Hawa panas mulai bergelayut di ruangan tersebut seiring perdebatan di antara keduanya. Tak kalah panasnya dengan wanita yang sedang mereka bicarakan saat ini.
Wanita yang sudah tidak mengenakan sehelai benangpun itu bergumul di balik selimut yang menutupinya. Suara erangan seorang pria pun memenuhi kamar apartemen yang cukup luas tersebut. Bella dan Bimo sudah bercucuran keringat. Setelah puas dengan aktivitas panasnya, Bella merebahkan tubuhnya di samping dada bidang Bimo yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu.
"Oh, Bebi. Apakah kau sudah kehabisan tenaga? Aku masih ingin sekali lagi, setelah ini aku berjanji tidak akan mengganggumu." Bimo kembali bergerilya di tubuh Bella yang sudah tak berdaya.
Namun, hanya dengan sedikit rangsangan dari pria berotot kekar itu Bella sudah kembali bergeliat manja. Bimo sudah begitu hapal dengan titik-titik sensitif dari wanita bertubuh sintal itu.
Dari balik jendela apartemen itu bisa terlihat dengan sangat jelas langit sudah mulai berwarna jingga. Di bawah langit jingga ibu kota Malaysia itu, seorang wanita berseragam guru mengendarai mobilnya dengan kesal.
Cinta mer*mas setir mobilnya bahkan sesekali memukul benda berbentuk bulat tersebut dengan tangan kanannya.
"Proyek-proyek gundulmu itu, Ta. Proyek apa'an yang bahasnya harus pake ******n segala? Proyek pembuatan anak?" geram Cinta.
"Aku nggak rela kamu sama dia, nggak relaaa ... haishh ... dasar wanita j*lang. Aku tidak akan membiarkan suami impianku jatuh ke tangan wanita seperti itu." Cinta terus menggerutu dan mengucapkan sumpah serapahnya sepanjang jalan menuju rumah.
Bersambung ....