[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Menceritakan Kebenaran


..."Setidaknya, jangan pernah hidup dalam kubangan lumpur kebohongan."...


Dua orang wanita yang berbeda generasi, tengah duduk di sebuah cafe pinggir jalan. Cafe bernuansa retro dengan ornamen buku-buku jadul, serasa membawa pengunjungnya kembali ke waktu lampau. Di luar begitu ramai kendaraan berlalu lalang, namun dari tempat kedua wanita itu duduk, hanya samar-samar terdengar deru mesin. Dua buah cangkir dan sepiring kentang goreng sudah bertengger manis di atas meja kayu.


"Kau terlihat semakin cantik dan berisi, Nak," ucap wanita paruh baya yang sedari tadi memandangi teman duduknya, Cinta.


"Apa aku terlihat begitu gemuk, Tante?" Cinta menunduk memperhatikan tubuhnya. Menarik samping bajunya untuk memastikan bahwa bentuk tubuhnya masih ideal.


"Bukan begitu, hanya saja kau terlihat lebih segar dari terakhir aku melihatmu."


"Aaa." Cinta mengangguk-anggukkan kepala. "Itu karena aku terlalu sering menghirup udara segar, Tante. Di desa tidak ada polusi berlebih. Apalagi aku tinggal di dekat perkebunan."


"Kau terlihat begitu bahagia sekarang. Suamimu sepertinya pria yang cukup baik. Setidaknya aku tidak terlalu merasa bersalah pada kakek karena membiarkanmu pergi. Kapan-kapan kau harus memperkenalkannya pada Tante."


Cinta tersenyum sumir. Kini sorot matanya terlihat sendu. Dia menunduk, mengaduk kopi latte-nya dalam diam.


Apa dia pria baik? Dia sangat baik, tapi ... juga tidak begitu baik. Dia pernah membuatku kehilangan keluarga, dia membuat anak-anakku kehilangan ayahnya. Dia juga membuatku kehilangan suami. Dia pria jahat, tapi aku tak bisa membencinya. Dia juga terlalu baik untuk bisa kubenci. Bahkan dia berhasil dengan sempurna menggantikan sosok ayah bagi anak-anak. Cinta menggigit kecil bibir bawahnya saat kembali diingatkan dengan sosok yang pernah mengisi kehidupan rumah tangganya.


"Dia sudah meninggal, Tante," ujar Cinta lirik dengan wajah yang masih tertunduk.


Laras membeku. Netranya melebar, menatap sosok yang perlahan mengangkat kepala dan menarik kedua sudut bibirnya. Senyum yang terlihat jelas dipaksakan.


"Kau serius, kan? Cinta, kau tidak boleh main-main dengan nyawa seseorang." Laras tak lagi bisa mengontrol ekspresinya saat ini. Wajah yang sudah terlihat berkerut kecil dibeberapa tempat itu, terlihat khawatir sekaligus tegang.


"Dia meninggal dua tahun lalu, Tante. Kanker hati."


"Ha.ha.ha." Napas laras tersengal. Jantungnya berdetak kencang saat mendengar penuturan Cinta. Tuhan, kenapa kau tidak pernah memberikan akhir yang manis untuk kisahnya, begitulah kata yang berputar-putar di kepala Laras.


"Nak, ma—maafkan, Tante." Kini linangan air mata membasahi pipi wanita tua itu.


Cinta meraih tangan Laras, menggenggamnya seolah tengah menyalurkan kekuatan. Sepertinya ini terbalik, bukankah seharusnya orang yang ditinggalkan yang akan dikuatkan. Tapi entah mengapa Laras terlihat lebih hancur daripada dirinya.


"Tidak apa-apa, Tante itu sudah lama, dan aku sudah baik-baik saja. Aku bahagia sekarang. Tante lihat, kan?" ujarnya sembari menunjukkan senyum semanis mungkin.


Laras menatap lurus ke netra coklat di hadapannya. Beberapa saat mata mereka beradu pandang dalam diam. "Jangan sembunyikan apapun dari Tante. Kau tahu, kan Tante sangat menyayangi kalian seperti anak Tante sendiri. Carilah Tante jika kau sedang kesepian, jika kau butuh teman, ataupun butuh bantuan. Apapun! Tante akan selalu ada untukmu. Jangan pura-pura kuat di hadapan Tante, karena itu tidak berguna."


Hati Cinta mencelos. Air mata tumpah begitu saja saat kata-kata tulus itu keluar dari bibir Laras. Perasaan Cinta menghangat, tapi juga terasa sesak bersamaan. Dia bisa kembali merasakan kasih sayang dan perhatian dari sosok ibu yang sangat dirinduinya, tapi juga merasa bersalah akan banyaknya kebohongan yang dia simpan rapat dari wanita itu.


Laras mengulurkan tangan, mengusap air mata Cinta dengan sia-sia. Cairan bening itu sudah menganak sungai di pipi mulus wanita muda itu.


"Kau merindukannya?" tanya Laras pelan dan hati-hati.


Laras sedikit memiringkan kepala saat tidak mendapatkan respon dari Cinta. Mantan menantunya itu masih tertunduk dengan linangan air mata. Laras mengulangi pertanyaannya, kali ini sedikit lebih keras. Namun cinta tak bergeming.


"Kau tidak mencintainya?"


Tubuh Cinta menegang. Kepalanya perlahan terangkat menatap Laras yang tengah mengharapkan jawaban darinya. Cinta menipiskan bibir sembari menggeleng perlahan.


"Lalu kenapa kau menikahinya? Apa kau dipaksa? Apa pria itu bertindak jahat padamu?" cecar Laras menuntut jawaban pasti dari Cinta.


Cinta menggigit bibir bawahnya. Tangan yang sebelumnya ada di atas meja, dia tarik turun ke pangkuan dan merem*s jari-jarinya hingga sensasi panas menyelimuti kulit tangannya. Pikiran Cinta tengah berkecamuk. Dia ingin menyimpan rapat semua kisah hidupnya, tapi dia sadar itu akan sia-sia pada akhirnya. Tidak ada hal yang terlihat nyata bisa disembunyikan dengan rapat selamanya. Pada akhirnya Cinta membuka mulutnya. Cerita mengalir dari awal perjumpaannya dengan Rudi dan alasan wanita itu memutuskan untuk menikah dengannya.


Laras menutup mulut dengan tangan kanannya saat mendengar cerita Cinta. Persendiannya terasa semakin lemas saat kata demi kata terangkai. "Cucuku ..." gumam Laras dengan mata yang sudah kembali berkaca.


Cinta berhenti berucap. Netranya menatap nanar Laras yang tak lagi fokus saat mengetahui kehamilannya setelah pergi dari rumah. Laras nampak syok. Entah perasaan kecewa atau bersalah yang tergambarkan, yang pasti wanita paruh baya itu seolah kehabisan kata.


"Anak-anak juga menjadi salah satu pertimbangan Cinta untuk menikah, Tante," ucap Cinta yang berhasil membuat Laras kembali fokus ke arahnya.


"Cinta tinggal di desa, di mana setiap hal akan menjadi pusat perhatian para tetangga. Cinta takut anak Cinta akan dicap anak haram, anak tak punya bapak, meskipun Cinta menjelaskan keadaan sebenarnya. Dan ... Cinta takut itu malah akan membuat mereka sakit hati, atau mereka akan merasa minder dengan teman-temannya. Pada akhirnya, Cinta berpikir memberikan mereka sosok ayah adalah pilihan terbaik saat itu."


"Anakku...." Laras terlihat begitu merasa bersalah. Tatapannya pada Cinta bahkan begitu penuh kepedihan.


"Jika saja saat itu aku bisa menahanmu sedikit lama. Jika saja saat itu aku bisa bergerak lebih cepat untuk membongkar kebusukan wanita itu. Kau—"


"Tidak, Tante." Cinta memotong ucapan Laras. Hal ini memang terasa kurang sopan, tapi dia tidak mau mendengarkan penyesalan yang sebenarnya bukan salah Laras.


"Jika saja saat itu aku masih bertahan, mungkin aku yang tidak akan bisa melihat anakku. Aku tidak akan mungkin sanggup untuk melihat Tahta dan wanita itu bersama, itu lebih menyakitkan, Tante."


...----------------...


Sementara itu di jalanan kota yang sama dengan Cinta, seorang pria tengah memacu mobil Land Rover Range Rover Sport warna merah dengan kecepatan tinggi. Seolah tengah berpacu dengan waktu, Tahta tidak peduli pada keselamatannya sendiri. Ucapan Hendra masih bergema di kapalnya berulang-ulang. Dia harus segera menemui wanita itu untuk memastikan kebenarannya. Tidak. Dia tidak akan menuntut apapun dari wanita itu, dia hanya akan meminta maaf terlebih dahulu. Begitu banyak kesan buruk yang telah dia torehkan, hanya karena keegoisannya. Pikiran Tahta benar-benar kacau saat ini, yang harus dilakukannya saat ini adalah menemui Cinta. Hanya itu saja yang bisa dia pastikan.


Mobil Tahta terparkir tepat di depan pintu sebuah gedung kecil di dekat rumah sakit. Ada papan bertuliskan 'Blooming Flower' di atasnya. Gedung itu hanya kecil dan sederhana, ukurannya tak lebih dari 10x10 meter. Namun tatanan bunga-bunga yang indah di bagian depan membuat gedung itu terlihat mencolok dan spesial dari bangunan yang lain.


"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang wanita yang berjaga di bagian depan.


"Aku ingin bertemu Ibu Cinta," jawab Tahta tanpa basa-basi.


"Maaf, Pak. Bu Cinta sedang tidak ada di tempat."


"Ah, si*l!" umpat Tahta pelan, tapi masih bisa didengar oleh pegawai wanita itu.


Tentu saja wanita berseragam lilac tersebut menatap heran dan takut-takut ke arah pria asing di hadapannya. Apa yang terjadi? Apa bosnya yang baik dan ramah itu tengah terlibat masalah dengan pria tampan ini? Rasanya tidak mungkin. Wanita itu hanya bisa diam menatap Tahta yang melenggang pergi sembari berkutat dengan pikirannya.


...Bersambung .......


...****************...


Haloo, Bestieee. Kali ini Simi minta tolong buat kasih Rating bintang lima pada cerita ini, ya Sayang. Please klik Rate di pojok kiri gambar bintang dan klik lima bintang agar novel ini tetap bertahan. Terima kasih banyak, My Shining Star. Lope lope sekebon buat kaliaaan.