[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Pray For ....


"Kak, apa Kakak baik-baik saja? Haruskah aku yang menuntut keadilan untukmu?" tanya gadis yang sudah dua hari absen dari rutinitasnya sebagai seorang mahasiswi.


Telapak tangan lembut dan terasa dingin menempel di punggung tangan gadis yang tengah memegang bahu kakak perempuannya. Dua wanita yang tengah saling beradu pandang melalui pantulan cermin rias itu memiliki rona yang berlawanan. Sang kakak terlihat begitu sayu, lemah, dan terkesan pasrah, sedangkan gadis muda yang berdiri di belakangnya nampak khawatir dan gelora emosi begitu kental.


"Tidak perlu. Aku sudah sangat senang kau mau bertahan bersamaku dan mengasuh Duo R," jawab Wanita yang tak lain ibu dari si kecil Raja dan Ratu itu sembari tersenyum simpul.


Cinta menoleh mengarahkan pandangannya pada jendela yang telah terbuka lebar. Di luar sana masih begitu gelap. Dari balik jendela itu, dia masih bisa menatap jelas bintang-bintang yang berhambur di angkasa, daun-daun padi yang masih hijau bergoyang mengikuti arah angin, dan merasakan embusan angin lembab yang menerobos menyapu permukaan kulitnya.


Cinta menatap nanar potret kehidupan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia hidup di pedesaan dengan segala permasalahan yang terasa semakin menghimpit dan mencekiknya perlahan. Wanita yang masih mengenakan daster bermotif bunga Daisy itu memutar kembali ingatan demi ingatan masa lalu yang masih terekam jelas di kepalanya.


Tuhan selalu mengirimkan pria br*ngs*k untukku atau ... aku yang selalu berlari ke arah pria-pria br*ngs*k itu? batin Cinta sembari tersenyum miris.


Suara alunan bacaan Quran yang begitu merdu menggema menyelusup masuk ke telinga Cinta dan Nana. Dua wanita itu secara bersamaan menoleh pada jam dinding.


"Sudah setengah lima, segeralah bersiap. Kakak juga harus menengok kebun hari ini," ujar Cinta sembari mengikat rambutnya.


"Kakak yakin bisa merawat Baby Twins sambil mengurus kebun sendirian?"


Cinta mengangguk dengan pasti. "Kau sudah tiga hari di sini. Kau tahu kan kakakmu ini adalah pejuang tergigih. Pergilah, kau akan ketinggalan kereta kalau kesiangan."


Nana menatap sendu Cinta sembari menarik kedua sudut bibirnya ke bawah membentuk lengkungan kesedihan. Gadis yang beranjak dewasa itu berhambur ke pelukan Cinta yang baru saja berdiri.


"Kakak harus baik-baik saja. Seberat apapun masalahmu, ingatlah kau harus tetap bernapas dan bergerak. Mengerti!" gurau gadis itu sembari menitikkan air mata.


"Yaa, aku tahu. Setidaknya dengan masih bernapas aku tidak akan menyita kebebasan masa mudamu untuk merawat dua perusuh itu, kan?" timpal Cinta menepuk perlahan pipi adik kesayangannya.


Cinta melambaikan tangan pada taksi yang perlahan hilang dibalik di balik pekatnya kabut pagi. Dia kembali melangkah masuk setelah mengambil napas panjang, melegakan dadanya yang terasa sesak. Beberapa ibu menunggangi sepeda tua menatap punggung Cinta sembari tersenyum simpul. Mereka adalah para pekerja kebun yang bersiap melaksanakan kewa beriringan dengan sinar matahari yang perlahan mencapai halaman rumah sang pemilik kebun.


"Sayang, hari ini temenin mama kerja, yaa. Mama minta maaf harus membuat kalian tidak nyaman sepagi ini," ucap Cinta sembari mengangkat Ratu yang masih tertidur ke dalam gendongannya.


Ratu sudah begitu segar dengan celoteh-coletahannya yang mulai jelas. Sedangkan Raja, dia masih belum sepenuhnya terbangun saat Cinta meraih dan menaikkannya ke dalam gendongannya. Ya, ibu muda itu menggendong dua batita sekaligus. Tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin untuk membawa stroller bayi ke area kebun, dan tidak mungkin juga meninggalkan mereka.


Perlahan wanita itu memasukkan Raja ke dalam gendongan instans. Dia begitu berhati-hati agar tidak mengenai putrinya yang sudah berada di gendongan sisi kanan.


Walaupun harus berbagi tempat dengan saudaranya, kedua bayi itu tetap merasa nyaman dalam dekapan Cinta. Kain gendongan ergonomis yang lebar dibagian bawah dan dapat menopang kaki hingga ke lutut itu, tidak membuat kaki keduanya tergantung. Mereka begitu menempel pada ibunya hingga bisa dengan nyaman bersandar pada Cinta.


Begitupun dengan Cinta. Meskipun harus menopang berat tubuh bayi kembarnya yang tidak ringan, tapi dia masih terlihat nyaman. Bantalan tebal gendongan di bagian bahu itu meminimalisir rasa sakit, serta membuat tangannya lebih leluasa untuk bergerak.


"Ayo berangkaaat."



"Heh! Dia bahkan sama sekali tidak berusaha menemui atau menghubungiku," gumam wanita itu saat melihat beberapa pekerja kebun sibuk menyemprotkan pupuk di sawah milik Rudi.


"Astaga, Neng ... kok anak-anak dibawa ke kebun? Nanti gatal-gatal kena bulu, Neng," seru seorang ibu paruh baya.


"Terpaksa, Bu Win. Di rumah nggak ada yang jagain dan hari ini ada orang dari kota mau lihat bunga."


"Wahh, pasti repot banget, yaa ngurusin dua bayi sendirian. Aku pikir kemarin Neng Cinta ikutan ke kota."


"Ke kota? Kemarin?" Cinta sedikit tercengang mendengar ucapan tetangga ibu mertuanya tersebut.


"Adik saya baru berangkat ke kota tadi pagi, Bu ...."


"Loh, bukan Nana ... kemarin malam, kan Ceu Mira ke kota sekeluarga. Neng Cinta nggak tau?"


Cinta menggeleng perlahan dengan tatapan penuh tanya. Dia mengalihkan pandangan ke sawah Rudi. Para pekerja masih beraktivitas seperti biasanya. Otaknya mulai memikirkan segala kemungkinan alasan yang membuat keluarga suaminya itu pergi tanpa ada sepatah katapun yang keluar untuknya. Dia bahkan mengabaikan lirikan aneh dari wanita yang disebutnya Bu Win tersebut.


Cinta terperanjat saat Raja merengek dan menendang ke sembarang arah. Wajah bayi berusia dua tahun itu sudah mulai memerah menahan kesal.


"Permisi dulu, ya Bu Win. Raja sepertinya sudah mulai bosan," pamitnya dan berlalu pergi dengan perasaan yang semakin kacau.



...----------------...


Haiii, Sayang-Sayangkuuu. Sudah sangat lama kita tak bersua.


Bagaimana kabar kalian? Aku sangat rindu....


Apa ada sahabat Simi di sini yang terdampak erupsi Semeru? Aku sangat berharap kalian dan keluarga baik-baik saja. Stay safe, yaa My Shining Star 🌟


Aku update hari ini spesial untuk menanyakan kabar tentang teman-teman Simi, terutama yang tinggal di area gunung Semeru. Dan untuk sahabatku yang dari daerah lain, mari sama-sama kita doakan semoga warga Lumajang selalu dalam lindungan Tuhan, semoga diberikan ketabahan, dan semoga yang telah berpulang ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Aamiin.


See you soon. I love you dan sehat-sehat selalu, yaa.