[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Mari Akhiri Ini.


Hai, Tahta ....


Aku tidak yakin kapan kau membaca surat ini, tapi jika surat ini sudah berada di tanganmu artinya hubungan ini telah sampai di titik baru. Tak ada lagi kita, hanya ada aku tanpamu dan kau tanpa aku.


Aku tidak pernah mengira akan mengakhiri semuanya dengan cara seperti ini, tanpa lambaian tangan atau menikmati tatapanmu yang dalam untuk terakhir kali. Namun, pilihanku menggunakan surat ini adalah yang terbaik. Aku tidak memintamu membalasnya karena aku pun tidak mengharapkan jawaban. Mulai saat ini, kuanggap tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita. Kuanggap semua berakhir mulai detik ini, termasuk hubungan kita.


Kukira, cinta adalah satu-satunya solusi dalam setiap masalah di hubungan ini. Tapi, ternyata aku salah. Tidak semudah itu mengatasi masalah dalam hubungan kita. Banyak hal yang harus kita berdua korbankan karena keegoisanku. Mungkin selama ini aku telah salah mengambil keputusan. Aku memaksa semua orang masuk dalam permainan ini dan pada akhirnya banyak hati yang harus terluka.


Maaf, maaf karena sudah menjadi penghalang untuk mimpimu. Kau benar, aku hanya sebuah beban di sini. Tidak ada seujung kuku ku pun yang pantas berada di sini. Jadi, mari akhiri semua ini. Mari kita berpisah.


Aku pikir waktu enam bulan itu akan sangat cepat, tapi ternyata aku salah. Bahkan sekarang baru empat bulan dan aku juga yang sudah mengingkari janjiku. Tidak apa, bukankah sesuatu yang buruk itu semakin cepat diakhiri akan semakin baik?


Hubungan kita adalah sebuah kesalahan sejak awal, termasuk cinta yang tumbuh di antara kita, meski kuakui itu indah dan akan selalu menjadi yang terindah.


Aku melihat sosok ayahku dalam dirimu, hingga akhirnya aku terobsesi untuk memilikimu, dan kau ... kau hanya merasa bersalah padaku, entah kau menyadarinya atau tidak. Tidak ada esensi dalam hubungan ini.


Terima kasih karena pernah menjadikanku rumah untuk kau singgahi. Walau dalam waktu yang begitu singkat. Terima kasih karena sudah berlabuh walau tujuanmu tidak untuk menetap. Setidaknya aku pernah menjadi tujuanmu walau dalam waktu yang begitu singkat. Bagaimana bisa seorang keponakan menulis selancang ini? Bodoh sekali aku.


Aku sudah meminta ibu untuk mengurus perceraian kita. Tenang saja, surat yang kau berikan itu sudah aku tanda tangani dengan sempurna. Semoga kau bahagia dengan keluarga barumu dan ... ah, iya. Selamat atas kehamilan Bella. Semoga kalian selalu berbahagia.


Jangan khawatirkan aku. Aku akan berusaha selalu berbahagia dan tak akan pernah putus mendoakan kebahagiaanmu juga.


Selamat tinggal, Tahta. Semoga kita tidak pernah saling bertemu kembali. Jika pun Tuhan mempertemukan kita, mari jangan saling jatuh cinta!


Istrimu,


Cinta Aulia Mahardika


*Sekali lagi maaf, izinkan aku menyematkan nama Mahardika untuk terakhir kalinya di surat ini sebelum kutanggalkan sepenuhnya dan kembali menjadi Cinta Aulia Mirza.


...------------------...


Brak!


Sebuah kursi makan yang terbuat dari kayu terhempas menabrak dinding. Seorang pria dengan tubuh bergetar dan tangan terkepal erat menatap nyalang sebuah kertas putih di tangannya. Di hadapannya, di meja makan berbentuk persegi panjang tersaji berbagai macam jenis masakan kesukaannya. Namun, semua terlihat sudah dingin dan nasi yang mengering.


Praang!


"Aakh!" teriaknya sembari menarik taplak meja makan tersebut dan membuat makanan berhamburan ke lantai. Dia meninju dengan sekuat tenaga meja kayu berwarna putih itu hingga membuat jari dan punggung tangannya memar.


Tahta menyangga tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada meja. Dia menunduk, menenggelamkan wajahnya. Bahu kekar Tahta berguncang seiring dengan bulir bening menetes pada kertas yang tergeletak di antara kedua tangannya.


"Harusnya dulu aku bakar saja surat si*lan itu. Kenapa aku melupakan hal sepenting itu. Bod*h!" Tahta kembali menggebrak meja hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.


Pria itu kembali menatap sendu surat yang cinta tinggalkan di atas meja makan, bersama semua hidangan yang sengaja dia siapkan untuk makan malam mereka. Harusnya semalam menjadi momen yang krusial dalam pernikahan mereka, tapi Tahta dengan bodohnya melewatikannya begitu saja. Beranggapan bahwa semua bisa teratasi di hari berikutnya. Dia terlalu percaya diri. Dia masih saja menjadi orang yang sama. Orang yang menganggap segala hal berpusat pada dirinya.


"Ibu!" seru Tahta sesaat setelah membuka pintu rumah mewah orangtuanya.


Di luar sana, terik matahari sudah terasa membakar permukaan kulit siapapun yang terpapar. Sangat panas, seolah tengah mencerminkan perasaan Tahta. Dia terbakar. Terbakar oleh sikapnya sendiri. Terbakar karena ketidakmampuannya untuk tegas bersikap dan mengambil keputusan.


"Ibu, di mana surat itu. Tolong kembalikan surat yang Cinta berikan padaku," pinta Tahta pada ibunya yang tengah menikmati secangkir teh di teras belakang.


Laras meletakkan cangkir teh yang ada di tangannya. Mengangkat kepala dengan elegan seolah tak peduli dengan kepanikan putranya.


"Kenapa? Kau menyesal? Atau kau ingin memprosesnya sendiri?" tanya Laras tanpa menatap lawan bicaranya.


"Di mana surat itu?"


"Aku sudah menyerahkannya dan sudah diproses. Kau ... berhenti merongrong kebahagiaannya," ujar Laras sembari menatap tegas pada Tahta.


"Ibu, tolong beritahu aku di mana Cinta? Aku akan menjelaskan segalanya padanya."


"Heh! Penjelasanmu sudah tidak ada gunanya. Dia sudah pergi."


"Kau tak perlu mencarinya," ucap Laras dingin tatkala melihat putranya hendak berbalik pergi.


"Apa maksud, Ibu?" Tahta menatap tajam ibunya. Perasaan tidak enak bergelayar di hatinya. Dia tahu ini tidak akan menjadi hal yang mudah.


"Bukankah kau tahu kekuatan keluarga Mahardika? Aku bisa mengirimnya ke mana saja tanpa sepengetahuan siapapun. Jadi, meskipun kau mengecek seluruh penerbangan atau pelabuhan di negara ini, kau tidak akan bisa menemukannya."


Pria itu membeku dan menatap lekat ibunya. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memucat. Detak jantung Tahta pun semakin meningkat, dan napasnya memburu. Kegelisahannya membuncah seiring netranya yang terasa semakin memanas.


Dia membenci dirinya, menertawakan kebodohannya sendiri. Bukan karena dia tidak mendapat surat itu, bukan karena dia tidak mendapatkan petunjuk sedikitpun dari ibunya. Bukan juga karena dia tidak mampu menemukan istrinya. Dia mampu, bahkan ke ujung dunia pun dia akan mencarinya. Namun, yang menjadi sesalnya adalah kenangan pahit yang dia tinggalkan di pertemuan terakhir mereka. Di saat dengan bodohnya dia tidak mengakui Cinta sebagai istrinya hanya demi menjaga perasaan Bella dan teman-temannya.


Harga diri dan hati wanita itu sudah pasti sudah hancur berkeping. Bahkan mungkin kata maaf yang diucapkannya seumur hidup pun tak akan mampu menebus dosanya pada Cinta. Hal itu selalu berputar-putar di kepala Tahta, sejak hari di mana kakinya melangkah keluar dari pintu restoran malam itu.


...Bersambung .......


...****************...


Haii, Bebebh.


Aku update dua kali spesial buat kalian dan pengen curhat sama kalian, nih. Sedih banget novel udah sepanjang ini belum juga dikasih level sama NT, nggak bisa kontrak, nggak bisa dapat penghasilan 🤧. Padahal kalian sudah berusaha sepenuh hati untuk mendukung Simi dan berusaha menaikkan popularitas novel ini, tapi sepertinya ngadmin NT lagi sensi. Please, kasih semangat ke Simi biar nggak kena mental breakdance, kawan-kawan.🥺


Karena dukungan dari kalian satu-satunya alasanku untuk tetap melanjutkan novel ini di sini. Aku takut mengecewakan kalian kalo harus memindahkan novel ini ke tempat lain.😘


Lope lope sekebon buat kalian, Kesayangan 💜