[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Luka Tak Harus Berdarah


"Tante, Bella bawa hadiah kecil untuk tante," ucap Bella dengan mengulurkan sebuah paper bag pada Laras.


Laras yang hendak berjalan menoleh ke arah wanita yang sedang bergelayut manja pada putranya. Tatapan tajamnya tertuju pada tangan berhias cat kuku berwarna merah tua yang ada di lengan atas Tahta. Lalu pandangan Laras beralih pada paper bag yang berlogo huruf G tersebut.


"Terima kasih. Taruh saja di meja," jawab Laras dingin dan kembali meneruskan langkahnya tanpa tersenyum sedikitpun.


Sementara Zain sudah melenggang pergi lebih dulu, Cinta masih terpaku di tempatnya. Dia mengernyitkan dahi melihat respon Laras. Wanita paruh baya itu memang tak tersentuh, tapi juga tidak biasanya bersikap seangkuh itu pada orang asing. Cinta menggeleng kecil menyadarkan dirinya. Dia tidak mau ikut campur dalam urusan mereka. Setidaknya inilah satu-satunya cara agar rasa di hatinya tidak semakin bertumbuh. Wanita cantik itu melenggang menyusul dua orang paruh baya yang sudah siap di meja makan.


Sama halnya dengan Tahta. Dia tidak habis pikir dengan sikap ibunya. Ingin sekali dia menegur sikap arogansi yang ditunjukkan oleh Laras. Namun, hal itu tidak mungkin dia lakukan sekarang. Setidaknya dia tidak ingin membuat suasana semakin kacau.


Apa yang sebenarnya terjadi pada ibu? Bukankah kemarin dia terlihat baik-baik saja saat aku bilang akan membawa Bella kemari?


"Ayo, Sayang." Tahta menarik lembut tangan Bella menuntunnya ke ruang makan.


Bella tersenyum lembut pada kekasihnya, seolah tak mempermasalahkan sikap ibu pria dengan raut wajah khawatir tersebut. Namun, tanpa sepengetahuan Tahta mimik mukanya menjadi sangat sinis dan seolah siap menerkam mangsanya. Mata tajamnya beralih pada punggung Cinta yang berada tepat beberapa langkah di hadapannya. Mata berhias softlens itu menyipit dan tangan kirinya menggenggam erat.


Kau pasti wanita benalu yang diceritakan oleh Tahta. Lihat saja kalau sampai alasan ibunya tidak menyukaiku karena dirimu. Akan aku buat kau menyesal seumur hidup, batin Bella.


Acara makan malam keluarga Mahardika dan dua wanita muda itu diselimuti dengan kecanggungan. Apalagi bagi Cinta yang seperti orang asing di sana. Ekor matanya beberapa kali melirik ke arah Tahta dan Laras bergantian. Hatinya bergemuruh melihat kemesraan yang tersaji di depan matanya. Mereka seolah tidak peduli dengan suasana yang tidak baik-baik saja ini. Cinta memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Mencoba menekan keegoisan dan perasaannya.


Laras yang tidak berselera makan itu melirik sinis ke arah dua orang yang ada di hadapannya.


Dasar j*lang, bagaimana bisa kau bergelayut pada putraku di sini dan berciuman dengan pria lain di luar sana.


Rahang wanita paruh baya itu mengeras. Dia menggenggam sendok di tangannya dengan erat seolah ingin mematahkan benda pipih tersebut saat itu juga. Detak jantung Laras saat ini sudah seperti atlet yang sedang melakukan perlombaan.


"Ini sudah malam, ibu merasa sangat lelah. Ibu mau ke kamar dulu." Laras mengelap mulutnya dan bergegas pergi tanpa menunggu jawaban Tahta.


Zain m ngangkat alisnya melihat Laras yang pergi begitu saja dengan kesal. Dan dengan santainya seolah tidak terganggu sedikitpun, dia melanjutkan kembali makan malamnya.


"Kalau sudah selesai sebaiknya kau segera antar dia pulang, ini sudah malam. Ibumu lelah karena seharian menyiapkan makan malam bersama Cinta. Aku ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan," ucapnya dan melenggang pergi.


Kebingungan Tahta semakin menjadi. Pertemuan antara kekasihnya dan orangtuanya tidak berlangsung sesuai rencana. Harusnya hari ini dia membicarakan tentang lamaran pada mereka, tapi malah sebaliknya. Tidak ada satupun dari keduanya yang mau menanggapi dirinya dan Bella.


"Tahta, aku pulang dulu, ya. Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua, kau juga sangat cantik." Cinta mencoba tersenyum setulus hati pada keduanya sebelum akhirnya meninggalkan sepasang kekasih yang sedang kebingungan tersebut.


Tahta menatap nanar pada Cinta yang mulai menghilang di balik tembok pemisah ruangan. Ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya saat wanita yang sudah seperti adik baginya itu pergi dengan wajah yang tak biasa.


"Tahta, apa-apaan ini?" seru Bella yang tidak terima dengan sikap keluarga Tahta.


"Aku juga tidak tahu, mereka baik-baik saja kemarin. Mungkin ibu memang sedang kurang enak badan, Sayang. Tolong kau maklumi mereka, ya," bujuk Tahta dengan menggenggam jari jemari tangan Bella.


Pria berwajah oval itu membelai lembut pipi Bella. "Aku antar kamu pulang dulu, oke? Besok aku akan coba bicara pada ibu."


...Bersambung .......


...****************...


Haisssh, akhirnya Simi bisa update lagi.


Terima kasih banyak untuk kakak-kakak yang sudah setia menunggu update dari Simi.


Aku. ingin tumbuh dan berkembang bersama kalian yang sudah dengan senang hati mensupport Simi dan selalu membersamai Simi di sini.


Semoga kita semua selalu bahagia. Salam sayang untuk kalian my sunshine.