![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
..."Nyatanya, emosi tidak membuatmu lebih tenang, tapi justru bisa membuatmu kehilangan banyak hal."...
Cinta menengadahkan kepala, mengerjapkan mata beberapa kali, membendung cairan bening di pelupuknya yang tengah mencoba merangsek keluar. Dia tidak ingin air matanya yang berharga itu jatuh, meskipun hanya setitik. Dia tak ingin lemah seperti dulu. Dia bukan lagi Cinta yang dulu selalu mengemis cinta dari pria yang tengah berlutut di hadapannya itu.
"Maafkan aku, aku mohon maafkan aku. Tolong berikan aku kesempatan sekali saja. Tolong, sekali saja. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu lagi, hmm?" mohon Tahta menatap Cinta penuh harap.
Mata pria itu sudah begitu sembab. Namun cairan bening masih tetap setia mengalir menganak sungai di pipinya.
Cinta menatap nanar pria yang merupakan ayah dari anak-anaknya itu. Dia benar-benar tidak seperti Tahta yang dikenalnya dulu. Tahta yang penuh wibawa dan memiliki harga diri tinggi seolah telah hilang. Pria itu lebih terlihat seperti pengemis yang memohon untuk dikasihani. Pada akhirnya, pertahanan Cinta jebol. Tirta bening mengalir dari netranya. Tidak. Dia tidak ingin memaafkan pria itu, hanya saja hatinya terasa semakin sesak dan nyeri. Haruskah dia sejahat ini?
"Apa yang kau inginkan?" Cinta membuka mulut.
"Tidak. Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya akan memberikan seluruh hidupku pada kalian. Tolong jangan pergi dariku lagi," pinta Tahta dengan tulus dan bersungguh-sungguh.
Laras hanya menatap penuh iba pada putranya. Dia tidak akan membela putra sulungnya itu. Menebus dosa memang tidak mudah. Bahkan mungkin akan lebih menyakitkan dari dosa yang pernah dibuatnya dulu. Laras sadar betul dengan apa yang tengah dirasakan Cinta. Dia pernah mengalami kesakitan yang dirasakan mantan menantunya itu. Semua orang hanya bisa terdiam membisu. Tidak ada satupun yang berniat untuk menginterupsi.
Cinta membisu. Entahlah, hatinya sedang kacau saat ini. Dia ingin menjawab tidak, tapi rasanya akan sangat jahat untuk menjauhkan anak dan ayah. Jika dia mengiyakan, akan menjadi sulit baginya harus berhubungan lagi dengan pria yang pernah menghancurkan setengah hatinya itu. Matanya terpejam, dan air mata bergulir turun mengenai punggung tangan putranya.
Raja mendongak saat merasakan cairan hangat mengaliri kulit halusnya. Ibunya tengah menangis. Bocah laki-laki itu dengan cepat menoleh ke arah Tahta yang berada tepat di depan mukanya. Dia menatap nyalang pria dewasa itu dengan berani.
"Om jahat! Pergi! Jangan sakiti mama!" pekik Raja mendorong tangan Tahta yang ada di kaki ibunya.
Tahta kembali mematung. Dorongan bocah laki-laki itu tidak bertenaga dan tidak bisa menggerakkan tangan kekarnya. Namun, bisa dengan begitu mudahnya meremukkan hati Tahta. Pedih. Sangat pedih. Ucapan itu terdengar begitu menyesakkan. Om? Jahat?
Semua orang pun menatap keduanya dengan tatapan getir. Jika Gema hanya kehilangan satu ginjalnya, mungkin itu tidak lebih menyakitkan dari Tahta yang sekarang serasa kehilangan seluruh organ tubuhnya.
"Mama pulaang!!!" Ratu memekik keras hingga membuat semua orang tersentak. Tahta bahkan sampai memundurkan tubuhnya, menjauhi Cinta.
Cinta sampai mengernyit saat suara cempreng gadis kecil itu terasa memekakkan telinganya. Buru-buru dia mengelus lembut pipi putrinya.
"Iya, Sayang. Maafkan mama, ya?"
Cinta mencium kening Ratu. Perasaan bersalah menguasai hatinya saat melihat kedua anaknya. Seharusnya mereka tidak berada di situasi seperti ini. Anak-anak itu belum waktunya untuk mendengarkan percakapan yang menyedihkan ini.
"Ah, Sayang .... Kalian tadi pengen makan kue coklat, kan? Tante punya kue coklat, looh. Ada es krim rasa vanilla dan strawbery juga," bujuk Nara untuk membuat kedua bocah itu tetap tinggal. Dia melihat kegelisahan di wajah Laras. Nara tidak tega melihat ibu mertuanya itu harus kembali bersedih ditinggalkan oleh cucu-cucunya.
Kedua bocah kembar itu tak bergeming. Dia masih memeluk ibunya tanpa mau menatap siapapun.
Tahta menatap pilu punggung putranya. Ya, dia sudah meyakini bahwa kedua anak kembar itu adalah anak-anaknya. Tidak ada sanggahan lagi dari Cinta, dan ibunya juga memberikan anggukan samar saat pertanyaan tadi dia lontarkan. Tahta dengan ragu mengulurkan tangan, menyentuh tangan Raja dengan ujung jarinya. Namun sayang, anak itu dengan cepat mengibaskan tangannya tanpa menoleh, hingga membuat tangan Tahta terhempas. Pada akhirnya, Tahta hanya bisa menggenggam udara dengan hati yang hancur berkeping.
Laras menghela napas berat. Putranya kini terlihat sangat menyedihkan, pun dengan mantan menantunya. Mereka tengah menahan kepedihannya masing-masing. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Namun sedikit saja, meskipun hanya setitik, dia ingin membantu putranya.
"Sayang oma, oma punya motor polisi kecil, lohh. Oma juga punya robot Transformer yang bisa berubah jadi mobil. Raja nggak mau lihat?" Kini Laras yang beraksi untuk membujuk keduanya.
"Oh, iya. Ada rumah barbie besar, juga ada alat make up-nya. Ratu pasti suka makan coklat di dalam rumah barbie, kan?"
Mendengar kata robot membuat bocah laki-laki itu dengan takut-takut menoleh pada Laras. Pun dengan Ratu. Keduanya terus menatap Laras yang tersenyum cerah pada keduanya. Laras mengangguk cepat, meyakinkan keduanya bahwa dia tidak berbohong.
Pada dasarnya mereka memanglah anak kecil pada umumnya, yang akan dengan mudahnya masuk ke dalam perangkap manis. Mereka mengalihkan pandangan pada Cinta, meminta pertimbangan dari sang ibu. Cinta hanya mengerdikkan bahu sembari menarik sudut bibirnya ke bawah.
Si kembar kembali mengarahkan pandangan pada Laras setelah mendapat respon dari ibunya. Ya, mereka tahu, mereka diberikan kebebasan untuk memilih oleh ibunya. Mereka sudah memiliki ikatan batin yang kuat sejak lahir, terbukti saat keduanya menanggapi ajakan laras. Mereka secara bersamaan menggeleng. Cinta bahkan sedikit tertegun dengan jawaban mereka. Mereka menolak sesuatu yang sangat mereka sukai, ini momen langka.
"Jangan sedih, Tante. Mereka hanya butuh waktu saja, dan juga ini sudah terlalu malam, pasti mereka tidak akan semangat bermain," ucap Cinta yang melihat raut kecewa di wajah keriput Laras.
Cinta kembali melirik jam dinding di pojok kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit. Anak-anak juga sudah terlihat menguap beberapa kali. Biasanya mereka sudah bermain di pulau kapuk di jam ini.
"Jangan pergi," pinta Tahta yang masih berlutut. Dia mengumpulkan semua keberaniannya untuk menahan Cinta.
Cinta kembali melempar tatapan sinis padanya. "Apa kau ingin mereka menangis semalaman karena takut padamu?"
Tahta menggeleng tanpa daya. Ya, dia sudah memberikan kesan pertama yang sangat buruk pada anak-anaknya. Entah kenapa dia selalu terjebak pada situasi yang buruk setiap kali bertemu orang-orang yang paling penting dalam hidupnya itu.
"Besok Cinta akan membawa mereka menemui, Tante. Tante tak perlu khawatir," ujar Cinta beralih pada Laras.
"Apa kau serius?"
"Tentu saja, Tante." Cinta tersenyum lembut pada mantan mertuanya itu.
Kini dia kembali melirik sinis pada Tahta. "Berdirilah. Aku tidak bisa berdiri kalau kau tetap duduk di situ."
Tahta dengan berat bangkit dari duduknya. Menatap Cinta yang terlihat kesusahan untuk berdiri sambil menggendong putrinya yang tidak lagi kecil. Sementara itu Raja sudah terlebih dulu turun dari kasur dan berdiri di sisi Cinta. Anak laki-laki itu benar-benar bersikap dewasa. Dia tidak merengek sedikitpun karena harus berjalanz, sementara Ratu selalu dalam dekapan Cinta. Dia tahu betul adik perempuannya itu sangat cengeng dan penakut.
"Aku akan membantumu menggendongnya," tawar Tahta dengan ragu.
Cinta menatap sangsi dengan ucapan Tahta barusan. "Coba saja kalau kau bisa," jawab Cinta sembari sedikit memajukan tubuh Ratu yang melekat kuat ke tubuhnya.
"Om jahat, jangan sentuh Ratu!" Raja menatap sengit Tahta yang akhirnya membuatnya tertunduk lesu. Entah, sudah berapa kali hatinya diruntuhkan oleh anak yang belum genap lima tahun itu.
"See? Kamu bahkan tak bisa menyentuh mereka," ujar Cinta meremehkan.
Cinta melangkah dengan Ratu di dalam gendongannya, dan Raja memegangi tangan kirinya. Dia berhenti tepat di sisi Tahta.
"Bukan aku yang melarangmu, tapi anakmu sendiri yang menolakmu," bisik Cinta dengan senyum sinis sebelumnya akhirnya benar-benar melangkah meninggalkan mereka berempat.
Wanita itu tidak peduli dengan Laras ataupun Gema saat bersikap angkuh pada Tanta. Dia yakin mereka berdua tidak akan menyalahkannya ataupun membencinya. Mereka semua sudah pasti berada di sisinya. Cinta ingin membuat Tahta merasakan bagaimana rasanya diabaikan, bagaimana rasanya ditinggalkan, dan bagaimana rasanya dijauhi oleh orang yang dia cintai.
Pada akhirnya Laras harus merelakan kedua cucunya dibawa pulang oleh sang ibu. Berat, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan.
Sementara itu Tahta Tahta masih membatu. Bisikan Cinta yang tepat di samping telinganya itu seolah merasuk dan menghipnotisnya. Perasaan berkecamuk.
Anakku... Cinta mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa mereka anak-anakku. Bibir Tahta berkedut saat hatinya membatin ucapan Cinta. Kenyataan yang tiba-tiba muncul ini benar-benar seperti mimpi. Ada perasaan bahagia bergelayar di sudut hatinya. Tapi apakah dia bisa bahagia di tengah penolakan anak-anaknya?
"Nak, kau harus kembali ke aula. Tamumu sebentar lagi akan pulang," ujar Laras menepuk bahu putranya pelan.
Tahta mengangguk pelan. Pria itu berbalik dan melangkah lesu.
"Kau harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan mereka kembali. Ibu percaya kau pasti bisa, Tahta."
Langkah Tahta terhenti di ambang pintu. Dia kembali menoleh menatap Laras. Senyum kecil mengembang di sudut bibirnya diiringi dengan anggukan kecil. Tahta kembali melangkah melewati pintu, meninggalkan ruangan yang telah mengukir sejarah baru dalam hidupnya itu.
Ya, aku akan berusaha untuk mendapatkan kalian lagi. Tunggu papa, Sayang. Papa harap kalian masih mau menerima papa yang sangat buruk ini. Bahkan nyawa pun akan papa berikan, jika itu bisa membuat kalian mau menerima papa lagi."
...Bersambung.......