![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Cepat kumpulkan semua rekaman CCTV orang-orang yang keluar masuk ke ruanganku," perintah Tahta dengan wajah merah padam.
"Saya sudah mengeceknya, Pak dan tidak ada yang datang ke ruangan ini dalam dua minggu terakhir selain saya dan manager keuangan." Reza menyerahkan sebuah flashdisk berwarna merah gelap pada atasannya.
Tahta terdiam, otaknya yang terus bergelut dengan segala kemungkinan yang terlintas di kepalanya. Pria itu mengarahkan ujung netranya pada benda pipih berwarna hitam yang menancap di sisi laptopnya. Ingatannya kembali pada saat pertemuan dengan si pemilik tender proyek danau biru. Hari yang sudah lama dia nantikan. Di mana dia rela begadang dan menghabiskan waktu di depan komputer demi memersiapkan kompetisi ini.
Dia harus mempresentasikan gagasannya untuk proyek tersebut di hadapan owner dan perusahaan HD–saingan terberatnya dalam proyek ini. Namun, saat tiba waktunya pria itu maju untuk presentasi, datanya hilang.
Seluruh audience terlihat sedikit riuh saat file yang dia buka malah menampilkan tips perawatan bayi. Kecuali dua orang yang ada di seberangnya, ya. Dia adalah direktur perusahaan HD berserta asisten pribadinya. Sebuah senyum yang terlihat licik sekaligus meremehkan.
Tahta mulai nampak panik saat satu flashdisk cadangannya pun tidak bisa mendeteksi keberadaan file tersebut. Tangannya terkepal erat dan rahang bawah pria itu mengetat hingga urat-urat di lehernya menampakkan diri. Pada akhirnya, perjuangannya selama tiga tahun ini, gagal. Dia tidak bisa memenangkan tender yang seharusnya bisa menjadi pembuktian kepiawaiannya pada Zain.
Emosi Tahta semakin membuncah tatkala melihat presentasi dari perusahaan HD. Rencana proyek mereka, hampir delapan puluh persen mirip dengan miliknya. Jantung Tahta tidak baik-baik saja, rasanya detakkan dan desirannya bisa merontokkan seluruh tulang rusuk pria itu. Bukan hanya kekalahan telak yang dia dapatkan, tapi juga rasa malu.
"Baj*ngan!"
Braak!
Tahta menggila. Dia menyapu bersih permukaan meja dengan kedua tangannya. Seluruh kertas yang sebelumnya bertumpuk dan bahkan laptopnya terhempas ke lantai dengan keras. Semuanya hancur. Lantai berwarna putih tulang itu kini dipenuhi oleh kertas-kertas yang berhamburan. Reza yang masih berdiri mematung di depan meja hanya bisa menelan salivanya dengan berat. Dia sudah berusaha mencari backup data saat rapat masih berlangsung. Namun sayangnya, tidak ada jejak yang tertinggal.
"Berani sekali dia mempermalukanku. Jika sampai aku menemukannya, aku bersumpah akan membunuhnya dengan tanganku," geram Tahta sembari mengepalkan tinjunya.
"Apa kau yakin bisa membunuhnya?" Suara pintu yang terbuka diiringi pertanyaan dari seorang wanita itu menyita perhatian Tahta dan Reza.
"Apa maksud, Ibu? Tentu saja aku tidak akan membiarkan seekor ular lolos," jawab Tahta dengan yakin.
"Bagaimana jika ular itu adalah istrimu sendiri?" Pertanyaan Laras menohok hati Tahta.
Sebenarnya, meskipun kecil, dia juga menaruh curiga pada Bella. Namun, pria itu tidak punya alasan tepat untuk menuduh istrinya sendiri. Apalagi mengingat hubungan mereka tidak sebentar. Sudah tiga tahun lebih mereka saling menaruh hati. Mana mungkin wanita yang sangat mencintainya itu menjatuhkannya? pikir Tahta.
"Aku tahu ibu membenci Bella, tapi aku harap ibu tidak lagi menjadikan istriku tersangka," elaknya sembari menatap Laras seolah tengah memberik peringatan.
"Hah!" senyum miris tercetak jelas di sudut bibir wanita paruh baya tersebut.
Dia melangkah, menginjak segala sesuatu yang berserak di lantai dengan high heels berwarna hitam. Mendekati putranya yang terlihat kacau. Wanita paruh baya itu menatap lekat Tahta sembari mengangkat ponsel yang ada di genggamannya. Kedua pria di sekitar Laras hanya bisa menatapnya penuh tanya.
"Halo, Caca?" sapa Laras saat panggilan videonya telah tersambung.
"Halo, Tante. Apa Tante mau aku memperlihatkannya sekarang?" tanya Caca dengan entengnya di seberang telepon.
Layar ponsel berukuran 6,5inch dengan logo apel yang sebelumnya dipenuhi oleh gambar diri Caca, kini perlahan bergeser. Caca memfokuskan kameranya pada area di balik punggungnya.
"Apa yang ingin kalian pertontonkan padaku kali ini?" tanya Tahta saat hanya melihat punggung waiters di layar itu.
"Tunggu sebentar, Kak. Masih iklan," jawab Caca dengan santai.
Waiters itu melangkah pergi setelah selesai menyajikan pesanan pelanggannya. Riuh suara piano yang tengah melantunkan lagu cinta menyelusup masuk ke indera pendengaran Tahta. Nampaklah sesosok pria dan wanita yang tengah asyik bercengkrama di balik punggung Caca.
Mata pria itu membelalak lebar tatkala dia menyadari siapa sosok wanita yang ada dalam video. Dress biru dan perutnya yang membuncit sudah membuat Tahta semakin yakin dengan penglihatannya. Netra Tahta kemudian terfokus pada pria yang ada di hadapan wanita hamil itu.
Kini jantungnya berpacu dengan suara piano yang semakin menggema. Pria yang sangat familiar dengannya, kini tengah tertawa lebar bersama istrinya di luar sana. Darah di dalam tubuhnya seolah mendidih saat tangan pria itu menyentuh pipi Bella.
Tidak, tidak ada yang terjadi. Mereka adalah sahabat dan rekan kerja, jadi sudah sewajarnya mereka bertemu dan terlihat dekat, batin Tahta menyangkal semua pikiran buruk di otaknya.
Tahta mengalihkan pandangan dari benda pipih tersebut. "Mereka bersahabat, sudah sewajarnya mereka bertemu," ujarnya berusaha setenang mungkin.
Laras mencengkeram ponsel seiring rahangnya yang mengetat. Dia mematikan sambungan teleponnya dengan Caca. Menatap nyalang Tahta yang masih enggan untuk melihatnya. Wanita paruh baya itu pada akhirnya hanya menghela napas berat.
"Baiklah, Ibu tidak peduli dengan urusanmu dan j*lang itu. Ibu hanya ingin memberikan hadiah atas kegagalanmu kali ini," ucap Laras sembari meletakkan sebuah amplop coklat berukuran kecil di atas meja.
Braak!
Tahta menoleh saat pintu kayu berwarna coklat itu ditutup dengan kasar oleh ibunya. Dia mengacak kasar rambutnya. Segala masalah dan pikiran buruk seolah tengah menghimpit, dan tidak mau memberi sedikitpun ruang baginya untuk bernapas. Dia kacau. Masalah yang menimpanya bak benang kusut yang bahkan tidak terlihat di mana ujungnya.
"Za, cepat selidiki siapapun yang mencoba mengakses dan mendekati benda pribadiku. Tanpa terkecuali," perintah Tahta pada asistennya, dan segera mendapat anggukan dari Reza.
Kini ruangan yang sudah tak beraturan itu kembali sunyi. Netra Tahta tertuju pada amplop coklat yang ditinggalkan oleh ibunya. Tatapan pria itu kini semakin menggelap seolah tengah membakar kertas itu dengan sorot matanya. Tidak ada hal baik yang bisa dia harapkan dari kata hadiah tersebut.
...Bersambung .......
...****************...
Ramein kolom komentar, ya Bebebh.