[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Tolong Lupakan


"Apa yang akan kau lakukan? Siapa yang akan kau pilih? Apa kau akan menyingkirkan mereka?"


Cinta menatap tajam manik mata yang sudah memerah di hadapannya. Ada rasa bersalah dan juga sedih melihat tampang mantan suaminya yang frustasi itu, tapi rasa penasarannya lebih tinggi dari simpatinya. Cinta bukannya tidak tahu, dia tahu semuanya dari Rudi. Dia tahu Tahta tidak pernah menyentuh wanita yang pernah menjadi istrinya itu. Cinta juga tahu anak yang dikandung Bella buka anak Tahta. Namun, saat kembali mengingat momen menyakitkan di masa lalu, membuat Cinta sekuat tenaga menekan rasa yang sudah lama ingin dia hilangkan itu.


"Kau," sahut Tahta cepat seolah dia tidak membutuhkan otaknya untuk berpikir ulang.


"Tentu saja aku akan memilihmu dan hanya akan mengambil anaknya."


Cinta semakin memicingkan mata. Dia mengalihkan pandangan acuh sembari membuang napas jengah. "Dasar pria breng*k," gumam wanita itu lirih, tapi masih bisa didengar oleh Tahta.


"Aku minta maaf, Cinta. Saat itu aku benar-benar takut Bella melakukan tindakan nekad. Dia mengancam akan bunuh diri, dan yang terburuk dia mengancam akan membunuh anaknya. Aku tidak tahu harus bagaimana, wanita itu benar-benar gila," terang Tahta yang tampak frustasi. Pria itu semakin mempererat genggaman tangannya.


"Heh. Iya, kau benar. Kalian berdua benar-benar gila."


"Iya. Aku gila, aku memang brengs*k. Aku bahkan tidak pantas untuk meminta maaf padamu, tapi aku mohon jangan membenciku seperti ini, Sayang. Aku mohon .... Aku menyayangimu. Aku menyayangi kalian bertiga. Aku berjanji, bahkan bersumpah seumur hidupku hanya akan ada satu wanita yang akan aku cintai. Hanya kau. Tolong jangan membenciku seperti ini, Sayang."


Cinta menoleh, menatap kembali pada mantan suaminya saat merasakan pria itu tengah menempelkan bagian wajahnya di tangannya. Jantung Cinta berdebar semakin kencang saat bibir lembut tahta menempel di telapak tangannya. Rasa hangat tiba-tiba muncul dari telapak tangan dan menjalar mengusik hati wanita beranak dua itu.


Dia tidak membencinya. Benar-benar tidak membenci pria yang pernah menjadi separuh hatinya itu. Bahkan hingga saat ini, rasa cinta untuk pria itu masih menempati sudut hatinya. Meskipun waktu telah berlalu, tapi perasaan yang coba Cinta hilangkan itu tak kunjung mau beranjak meninggalkannya. Namun, rasa kecewa sudah terlanjur menguasai egonya. Dia tahu pria di hadapannya ini juga korban, pun juga seorang pelaku untuk kesedihan yang selama ini dia alami. Seharusnya, aku memperlakukannya sama seperti Rudi, kan? Bahkan, jika dipikirkan lagi ... Rudi ...


"Hah! Entahlah!" seru Cinta frustasi sambil menarik tangannya dari genggaman Tahta.


"Kau. Cepatlah tidur. Besok pagi kau harus segera kembali. Aku tidak mau, ya kalau sampai aku digrebek Pak RT gara-gara menampung pria tukang selingkuh sepertimu," ucap Cinta sengit dengan telunjuk tangan mengarah ke dada bidang Tahta.


"Sayang...." rengek Tahta dengan wajah memelas bersamaan dengan Cinta yang beranjak dari duduknya.


"Sayang-sayang palamu peyang!" sungut wanita itu sembari berbalik pergi ke arah dapur.


"Iish! Iyuh banget. Udah jadi cengeng, kayak bocil, banyak mau lagi. Dulu ... aja, kayak yang paling paling aja sedunia. Mulutnya kalau ngomong nggak pakai saringan. Huh, sama aja itu ayah sama anak.'" Dengan suara rendah, mulut Cinta sibuk merutuki kelakuan suaminya, sedang tangannya sibuk menggosok piring dan gelas yang ada di wastafel.


Cinta terjingkat saat tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggang dan perlahan bergerak mendekap perutnya. Dia bergerak ingin memutar tubuhnya, tapi pria pemilik tangan itu sudah lebih dulu merapatkan tubuh keduanya hingga Cinta tak dapat lagi merubah posisi.


Tahta yang sedari tadi mendengar setiap celotehan yang keluar dari mulut mantan istrinya itu hanya bisa mengepal erat. Hatinya serasa diremas oleh setiap kalimat-kalimat yang dirapalkan Cinta. Begitu banyak kesalahan dan rasa sakit yang sudah dia torehkan di hati wanita itu. Awalnya dia gemas mendengar gerutuan Cinta yang protes dengan sikap manjanya, tapi saat wanita itu mulai mengenang dan mengulang setiap kalimat yang dulu pernah dilontarkannya itu, hati Tahta bak disambar petir. Wanitanya masih mengingat semuanya dengan jelas, mulutnya begitu fasih mengucap kalimat demi kalimatnya.


Dengan reflek kaki Tahta bergerak ke arah wanita yang tengah sibuk menggosok kasar gelas yang sudah lebih dari lima belas menit berada di tangannya. Tahta meraih pinggang rampingnya dan membawa wanita itu ke dalam dekapan hangatnya. Wanitanya memberontak, tapi sekuat tenaga Tahta menahan gerakan tubuh Cinta. Sekali saja, hanya kali ini dia ingin egois. Dia ingin memeluk tubuh rapuh itu. Jika memungkinkan, dia ingin menghapus kenangan buruk di hati Cinta dan memenuhinya dengan beribu-ribu kebahagiaan.


Pada akhirnya Cinta menyerah. Dia mengalah karena menyadari tenaganya tidak begitu besar untuk melawan pria berbadan atletis ini. Dalam kebingungan, Cinta membiarkan Tahta mendekap erat dirinya. Pria itu menyandarkan kepala di bahu Cinta, dengan wajah yang menatap langsung ke ceruk lehernya. Cinta bahkan bisa merasakan hangatnya hembusan napas Tahta di leher jenjangnya.


Jantung Tahta tidak aman, debarannya mungkin saat ini bisa dirasakan Cinta dengan jelas. Begitu dekat dengan wanitanya membuat perasaan Tahta tak karuan. Dia menarik napas dalam-dalam, menghirup dengan rakus aroma yang sangat dirindukannya ini.


"Semua kalimat yang kau ucapkan tadi ... aku minta maaf. Tolong jangan mengingatnya lagi. Tolong hapus semua kenangan buruk yang pernah aku berikan. Aku berjanji akan memberikan semua kebahagiaanku, hartaku, dan bahkan hidupku untukmu. Tolong, lupakan rasa sakit itu."


"Aku tahu hari-harimu begitu sulit karenaku. Aku juga tahu bahkan seumur hidupku pun tak akan bisa menebus semuanya, tapi aku mohon jangan menjauh. Aku bisa gila, Sayang." Tahta semakin mempererat pelukannya saat menyadari napas Cinta semakin memburu. Apakah dia sudah menggores kembali luka lama wanitanya? Apakah dia membuat rasa benci Cinta semakin dalam? Semua pikiran buruk berputar-putar di kepalanya.


"Apa yang kau tahu tentangku? Kau selalu berkata tahu, tapi apa? Apa yang kau tahu, Tahta? Apa kau tahu apa yang paling membuatku menderita?" Tangan Cinta mencengkeram sisi wastafel dengan netra yang mulai memerah dan berkaca.


Bersambung....


___________________


Halo, Gees. Gimana kabarnya? Simi Alhamdulillah sehat. Agar Simi semangat lanjut nulisnya, please, klik like, kasih vote, dan komentar, yaa. Sumpah, seneng banget kalau bacain komentar dari kalian.


Kalau mau baca kelanjutan, klik tombol merah "minta update" di paling bawah, yaa.


Lope-lope sekeboon buat kalian, My Shining Star.