[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Terpuruk Dan Terkejut


...Ingat, jangan pernah mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya....


Tahta hancur. Kini hatinya tak hanya retak, tapi remuk. Pria itu duduk di lantai bersandar pada ranjangnya. Dengan kedua kaki menekuk, dia menenggelamkan kepala di antara keduanya. Tangan yang terlihat memar di bagian punggung itu tak henti-henti memukul dan menjambak rambutnya.


Kamar yang semakin lama semakin meremang itu seolah tengah merepresentasikan keadaan Tahta. Hidupnya terasa suram. Seluruh cahaya yang dulu benderang mengelilinginya, kini meredup. Bahkan hilang. Lilin-lilin kecil di sekitarnya, kini telah terbakar habis. Barang yang berserakan di sekelilingnya, kaca dan segala hal yang terpecah belah, seolah seperti lelehan lilin, yang menegaskan ketidakberdayaannya.


"Jika saja saat itu aku mempercayaimu, jika saja saat itu aku memilih untuk menjadi suami yang bertanggung jawab atas hubungan yang telah terjalin. Aku pasti tidak akan kehilangan wanita terbaik sepertimu, kan ... Cinta," gumam Tahta menatap penuh luka potret mantan istrinya.


Tirta bening meluncur, membasahi foto seorang wanita yang tengah tersenyum manis tersebut. Dengan ibu jarinya, pria itu menyapu permukaan kertas tepat di bagian wajah Cinta. Rasa nyeri terus saja menjalar menggerogoti hatinya.


Pria itu menarik napas dalam-dalam saat dadanya terasa sesak dan napasnya tercekat di tenggorokan. Tangis tak lagi bisa dia redam meskipun rahangnya sudah mencapai batas kerapatan untuk menahan isakan.


Dia patah hati. Bukan karena ditinggal oleh istrinya, namun karena segala yang dia lalui hari ini mengingatkan tentang luka yang Cinta tahan selama ini.


"Aku mencintaimu, Sayang. Aku bodoh karena tidak pernah mendengarkanmu. Kau mungkin tidak akan percaya saat aku mengatakan ini, aku ... merasa sangat senang saat tahu dia bukan anakku. Apa aku sangat jahat? Aku berharap kau ada di sana saat itu, tapi ... kau–kau sudah–aaakh!"


Braak!


Pria itu berteriak sembari melayangkan tinjunya pada meja kayu di sebelahnya. Darah segar sudah memenuhi punggung tangan Tahta. Entah sudah berapa banyak dan berapa kali kulit itu tergores, hingga membuatnya tak lagi berwarna putih.


"Kau benar saat berkata aku akan menyesali keputusanku. Ini adalah hukumanku, kan? Ini adalah hukuman yang kau berikan padaku, Sayang. Aku akan menjalani hukuman ini untukmu. Aku hanya akan hidup seperti ini. Kau bilang akan berusaha bahagia, jika itu dengannya ... aku rela. Berbahagialah, Cinta. Aku akan hidup dengan kenangan kita. Hanya aku, dan bayanganmu. Selamat tinggal, Sayang dan selamat tinggal juga untukmu wanita si*lan." Tahta menyalakan api, membakar foto pernikahannya dan Bella.


...----------------...


3 Minggu kemudian....


Seorang wanita hamil terlihat berjalan dengan memegangi pinggangnya. Sesekali dia juga meringis saat perutnya menegang dan rasa sakitnya menjalar hingga ke bagian belakang. Cinta terus berlalu lalang di ruang tengah. Besok adalah hari perkiraan kelahiran bayinya. Namun, sudah tiga hari dia merasa sakit perut yang seolah anaknya sudah ingin keluar saat itu juga.


"Apa kita ke klinik sekarang saja, Nak?" tanya Mira dengan wajah khawatir melihat menantunya semakin pucat.


"Sakitnya belum terlalu sering, Bu'. Mungkin hanya kontraksi palsu. Rudi di mana, Bu'?"


"Di depan, sepertinya sedang teleponan sama temennya."


Cinta mengangguk perlahan sembari mengelus perutnya yang membulat. " Aku mau nyusul Rudi ya, Bu'" pamit wanita itu dan melangkah perlahan ke halaman.


Cinta perlahan membuka pintu berwarna putih itu. Angin menyapu permukaan kulit mulus Cinta, membuat bulu halus di sekujur tubuhnya meremang. Dia merapatkan kain yang menutupi sebagian tubuhnya dan melangkah ke luar. Bulan sabit terlihat di ujung barat bersama beberapa bintang yang mengelilingi benda bercahaya tersebut. Senyum kecil tersungging di bibir tipis Cinta.


Kini tatapannya beralih pada Rudi yang belum menyadari kehadirannya. Dia berdiri di teras, sesekali coba mengintip orang yang ada di layar ponsel suaminya, tapi tak juga nampak. Dia memutuskan untuk lebih mendekat. Tidak biasanya pria itu menjauh darinya saat menjawab telepon. Hal itu tentu saja membuat seorang istri sangat penasaran dengan percakapan mereka.


"Aku sudah transfer tujuh ratus juta. Maaf karena tidak bisa mengirim lebih, tapi semoga itu bisa sedikit membantu."


Cinta memicingkan mata saat mendengar ucapan Rudi.


Kenapa dia menransfer uang sebanyak itu? Apa dia punya hutang? Kenapa tidak bilang padaku? batin Cinta sembari menatap Rudi penuh tanya.


"Terima kasih banyak, Rud. Maaf sudah merepotkanmu. Aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa," ujar kawan Rudi yang suaranya terdengar tidak asing di telinga Cinta. Logat Melayu yang begitu kental.


Kini perasaannya menjadi tidak karuan. Rasa ingin tahunya semakin meningkat. Wanita hamil itu melangkah sedikit ke samping agar layar berukuran 6,7inc itu terlihat.


Deg!


Napas Cinta serasa tercekat di tenggorokan saat akhirnya dia bisa melihat wajah lawan bicara Rudi. Dia bergetar. Perlahan tangannya terkepal kuat hingga uratnya menonjol. Dada wanita itu terlihat naik turun semakin cepat. Pikirannya masih terasa mengambang di udara, tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Ekor mata Cinta melirik tajam pada suaminya.


...Bersambung.......



...****************...


Cieee, dari bau-baunya ada yang mau protes, nih.


"Gantung banget sih, Sim."


"Please, ya Simi jangan ngedramaaa lagi sama Cinta+Rudi!" (sambil ngasih emot kepala meledug)


Ha-ha-ha, jadi mbah Jambrong aku sekarang.


Nantikan kelanjutan kisah mereka ya, Sayang. See you soon.