![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
..."Nyatanya, benci dan cinta itu memiliki jarak yang begitu dekat."...
"Na, apa yang terjadi?" tanya wanita yang baru saja membuka pintu ruangan penuh bau obat-obatan tersebut.
Nana yang tengah terbaring setengah duduk di brankar rumah sakit sedikit terkejut melihat kakaknya yang tiba-tiba membuka pintu dengan cepat. Pun teman Nana yang tengah duduk di sampingnya sedikit terjingkat. Mereka berdua menatap wanita dewasa di hadapannya itu dengan mata melebar. Sedangkan indra penciuman Cinta langsung menangkap bau obat-obatan yang menyeruak saat pintu berkaca kecil dibagian atas itu terbuka.
Cinta baru saja sampai di kota metropolitan ini satu jam yang lalu, sedangkan Nana sudah terbaring di ruangan yang penuh bau obat-obatan tersebut hampir 24 jam. Begitu mendapat kabar bahwa adik satu-satunya itu pingsan dan masuk rumah sakit, Cinta segera berangkat menyusul Nana dan menitipkan dua malaikat kecilnya pada Rumi. Ya, meskipun Rudi sudah meninggal lebih dari dua tahun lalu dan membongkar fakta menyakitkan, hubungan antara keluarganya dan Cinta tidak merenggang. Cinta lebih memilih untuk berlapang dada, karena nyatanya mereka adalah orang-orang yang benar-benar tulus menyayanginya dan juga si kembar.
"Santai, Kak. Nana cuma kecapekan aja~" ujar Nana dengan santainya menghiraukan ekspresi panik yang tercetak jelas di wajah kakaknya.
Cinta akhirnya bisa menghela napas lega setelah mendengar nada bicara adiknya yang slengean tersebut. Setidaknya tidak ada sesuatu yang parah. Dia adalah satu-satunya saudara dan keluarga selain si kembar yang Cinta miliki. Cinta sudah berjanji akan menjaga dan menggantikan tugas orang tuanya setelah mereka menjadi yatim piatu. Jadi begitu dia mendapat kabar adiknya sakit dari sahabat adiknya itu, dengan dengan panik berlari ke sini.
"Gara-gara kamu, nih La kakakku jadi kek mayat hidup," sambung Nana menepuk lengan sahabatnya yang bernama Lala.
"Yaa, aku kan juga panik kemarin liat kamu pingsan di cafe. Untung kemarin aku dateng, kalau enggak udah kebakaran itu cafe," jawab Lala dengan sedikit menyombongkan aksinya.
Malam itu cafe yang didirikan Nana memang baru saja tutup. Nana yang memang terkadang menghabiskan waktu untuk menciptakan resep baru di cafe tengah asyik mengolah bahan hingga saat dia merasakan nyeri yang tak tertahankan di kepalanya. Kapala gadis itu terasa semakin lama semakin berputar-putar dengan cepat, bahkan untuk meraih ponsel yang ada di tengah meja pun dia tak sanggup.
"Iya-iyaa, kamu memang yang terbaik," sahut Nana sembari mengacungkan dua jempolnya pada Lala yang seperti malaikat penyelamatnya. Dia tiba-tiba saja muncul pada tengah malam itu di cafenya. Mereka memang telah bersahabat sejak Nana pindah ke kota tersebut. Tidak ada yang meragukan kedekatan keduanya, bahkan sering kali orang menganggap mereka adalah anak kembar karena beberapa kemiripan di antara mereka. Bahkan nama mereka pun begitu mirip.
"Terima kasih banyak, ya La," ucap Cinta dengan tulus dan berjalan menghampiri adiknya.
"Sama-sama, Kak Cinta. Ngomong-ngomong aku sering dengerin bualan Nana tentang Kak Cinta yang katanya cantik meskipun sudah tua. Aku pikir itu hanya omkos, ternyata emang cuantek banget, looh. Kek seumuran kita, Kak," garau Lala yang mulutnya juga tak kalah lemes dari Nana.
Cinta terkekeh kecil mendengar pernyataan Lala. Dia juga sering mendengar cerita tentang Lala dari adiknya itu. Gadis muda di hadapannya itu sering membantu adiknya dalam segala hal. Mulai dari saat Nana kebingungan mencari tempat usaha, saat merintis usaha pun dia dengan sukarela membantu Nana bahkan tanpa imbalan, dan masih banyak lagi.
Cinta bersyukur adiknya memiliki seseorang yang bisa diajak berbagi cerita dan mengisi kesendiriannya. Setidaknya dia tidak seperti Cinta yang tak punya siapa-siapa. Saat muda dia terlalu fokus pada masalah orangtuanya. Saat orang tuanya pergi, dia terlalu fokus pada Tahta hingga mengabaikan orang lain disekitarnya, dan untuk sekarang, dia kembali harus fokus pada dua malaikat kecil dan usahanya agar bisa tetap mencukupi kebutuhan.
"Hanya kelelahan, Kak. Kena gejala tipes. Aku kan sering begadang, nih terus makan nggak teratur, ditambah kadang minum kopi karena harus membuat resep dan mencoba rasa-rasa baru."
Cinta mendengkus kesal. "Sudah kakak bilang kamu nggak perlu berlebihan, kakak masih sanggup untuk mencukupi semua kebutuhanmu. Lagian kan kamu udah lulus kuliah, udah nggak perlu banyak biaya lagi."
"Maka dari itu, Kak. Aku kan udah lulus kuliah, jadi sekarang waktunya untuk aku lebih mandiri dan aku juga ingin mengembangkan usahaku. Ada harga yang harus dibayar, kan untuk mencapai kesuksesan?"
Kali ini Cinta hanya menghela napas pasrah. Dia tahu sifat Nana yang sangat keras kepala itu. Sama seperti dirinya, saat sudah membuat keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya.
...----------------...
Seorang pria dengan wajah sayu tapi tetap terlihat gagah menatap langit sore dari balik jendela apartemennya. Sudah tiga minggu sejak pertemuannya dengan sang mantan istri. Hari terus berlalu, tapi perasaan gundahnya tak berkesudahan. Ada rasa menyesal yang menyeruak di dalam hatinya. Jika saja saat itu dia punya keberanian untuk sekedar menyapa wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Jika saja dia bisa memberikan kesan baik, bahkan jika itu sedikit saja. Sedikit saja. Apakah wanita itu akan mau memberikan sedikit maaf juga untuknya.
Ahh, dia pasti sangat membenciku saat ini, bantin Tahta sembari mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Tapi kenapa dia di sana? Apa dia sedang sakit?" Sesaat Tahta mengerutkan dahinya.
"Atau ... suaminya yang sakit? Ya, mungkin suaminya, dia terlihat sangat terburu-buru. Beruntung sekali pria itu bisa memiliki istri sebaik dan seperhatian Cinta." Pria itu lupa bahwa dia pernah sekali diberi kesempatan, tapi dengan bodohnya dia sia-siakan begitu saja.
Ya, mereka, Tahta dan Laras sudah tidak mencari informasi tentang Cinta lagi setelah mereka tau wanita itu telah berkeluarga kembali. Bukan karena mereka tidak memperdulikannya lagi. Bukan. Justru mereka sangat peduli hingga memutuskan untuk membiarkan Cinta menjalani hidup sesuai keinginannya. Dia tidak mau mengusik dan tidak mau terusik saat harus mendengar informasi betapa bahagianya Cinta bersama pria lain. Mengetahui fakta bahwa mantan istrinya lebih bahagia dengan pria lain, itu sudah cukup menyakitkan bagi Tahta.
"Begitu bodohnya aku. Apa yang masih kuharapkan. Bukankah ini hukuman yang harus aku jalani? Seperti dulu saat dia menjalaninya. Apakah dia dulu merasakan sakit yang seperti ini juga?" batin Tahta sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan menerawang jauh ke langit-langit kamarnya.
...Bersambung.......