[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Kutukan Hari Ulangtahun


Setiap hari, setiap kali aku merasa lelah dengan semua tugas-tugasku, aku bisanya hanya mengeluh saja pada Kakak. Aku tidak pernah bersemangat, aku tidak peduli dengan orang-orang yang berada di sekitarku, dan aku tidak suka untuk beraktivitas. Setiap bangun di pagi hari, yang aku pikirkan adalah hanya tentang bagaimana melalui hari ini dengan cepat. Pagi cepat berganti, dan malam cepat berlalu, sehingga aku tumbuh dewasa dan pergi dari sini.


Tanpa aku sadari, ada banyak luka yang dia simpan rapat sendirian. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa kusadari tapi selalu kuabaikan. Dia kesepian. Dia hanya memendam perasaan dan rindunya pada ayah dan ibu sendirian. Selama ini aku selalu berpikir bahwa akulah anak yang paling menyedihkan, tapi ternyata aku salah. Sangat salah. Kakak sendirian, berusaha selalu kuat dan selalu ada untukku. Sedangkan aku ada dia. Aku menyadari itu siang ini.


Nana duduk termangu di teras apartemennya. Ingatan tentang bagaimana perlakuan Tahta pada kakaknya masih teringat jelas di kepalanya. Sorot mata Cinta yang penuh kekecewaan dan kesedihan juga tergambar tanpa cela di sana. Nana mengusap wajah frustasi. Dia mengalihkan pandangan dari langit malam yang penuh bintang, ke arah cangkir putih bertuliskan 'NA' yang tergeletak di meja. Benda berbahan keramik itu mengingatkan Nana di hari ulangtahunnya yang ke dua belas tahun.


"Nana, Ayah dan Ibu punya hadiah buat kamu," seru seorang pria dengan wajah sumringahnya.


"Apa?" Nana masih menatap datar dan ragu dengan ucapan pria dewasa tersebut.


"Jeng ... jeng ... jeng ...." Dia mengeluarkan kotak seukuran keramik lantai.


"Kalian tidak pernah memberiku kado," protes Cinta yang sedang membaca buku di dekat Nana.


"Benarkah? Coba kita lihat setelah Nana membukanya."


Dengan wajah cerianya bocah dua belas tahun itu membuka hadiah pertamanya dari sang ayah. Cinta juga terlihat penasaran dengan kado ayahnya. Entah ada angin apa hingga membuat mereka berbaik hati mengingat hari ulang tahun adiknya. Biasanya kedua orang itu terlalu sibuk dengan kegiatan sosial mereka, hingga lupa bahwa anaknya lebih membutuhkan mereka daripada teman-teman sosialitanya.


"Ini apa?" Nana terlihat mengernyit heran melihat isi kotak hadiah tersebut.


Cinta memajukan kepalanya agar bisa melihat dengan lebih jelas. Di kotak itu berisi dua buah cangkir keramik berwarna putih yang terlihat elegan. Namun, yang membuat kakak adik itu mengerutkan keningnya adalah tulisan yang terukir di atas cangkir tersebut. Satu cangkir bertuliskan 'CI' dan satunya lagi bertuliskan 'NA, dan saat mereka membacanya bersamaan akan berbunyi 'CINA'


Pandangan mata kedua putri yang usianya terpaut delapan tahun itu dialihkan ke kedua orangtuanya. Ibu mereka melemparkan senyum garing saat sorot mata anaknya tertuju padanya.


"Kalian membeli ini dari Cina?" tanya Cinta.


Ibu Yeni mengulum senyumnya saat mendengar pertanyaan Cinta. "Bukan. Itu adalah hadiah dari sahabat ayah. Dia adalah seorang pembuat tembikar yang terkenal, lalu ayah memintanya menuliskan nama kalian di sana."


"Nama kami?" Nana semakin tidak mengerti dengan penjelasan dari ibunya.


"Itu kan nama kalian. CI, Cinta .NA, Nana. Jadi satu untuk Cinta, satunya untuk Nana. Itu cangkir mahal loh. Satunya saja bisa jutaan harganya," jelas ayah dengan bangganya.


Setelah hari itu, hubungan mereka menjadi lebih baik. Ayah lebih sering mengajak mereka berbicara saat senggang, dan ibu juga sesekali menanyakan tentang kegiatan mereka sehari-hari. Rasanya momen-momen tersebut adalah momen yang paling membahagiakan bagi keduanya. Dari hari itu juga mereka menyadari bahwa ayahnya sangat menyayangi mereka. Dia hanya tidak tahu cara untuk mengekspresikannya. Namun, kehangatan itu tidak berlangsung lama. Saat ulang tahun Cinta yang ke dua puluh tiga tahun, keluarga itu berencana untuk mengadakan makan malam bersama.


Cinta yang memang senang dan pandai memasak sengaja menyiapkan acaranya sendiri. Dia menyiapkan hidangan yang disukai oleh kedua orangtuanya. Senyum terus saja mengembang di sudut bibir wanita yang baru lulus kuliah tersebut. Potongan-potongan sayur, dia masukkan ke dalam panci dengan perasaan yang berbunga-bunga. Aroma sedap dari masakannya menambah kebahagiaan tersendiri bagi Cinta. Hingga hidangan tersebut tertata rapi di atas meja makan, semuanya masih berjalan dengan lancar sesuai rencananya. Hingga saat menjelang matahari tenggelam, dan telepon rumah mereka berbunyi dengan lantangnya.


"Haloo, dengan keluarga Mirza," ucap Nana yang bertugas mengangkat telepon.


Cinta memperhatikan Nana dari ruang makan. Wanita itu mencium gelagat aneh dari anak yang sebentar lagi menginjak usia lima belas tahun tersebut. Nana terlihat mematung di tempatnya dengan bibir yang bergetar. Dengan pikiran tidak karuan, Cinta menghampiri adiknya dan mengambil alih telepon dari tangan Nana.


"Halo, iya saya putrinya," jawab Cinta saat si penelepon menanyakan tentang keluarga ayahnya.


"A–Apa? Orangtua saya kecelakaan?" Bulir air mata meluncur dari pelupuk matanya seiring dengan remuknya hati wanita itu.


Tangis keduanya pecah mengiringi pemakaman kedua orangtuanya. Cinta memeluk erat adiknya, mencoba menguatkan bocah yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dari orang terkasihnya.


"Tidak apa-apa, masih ada kakak di sini. Kakak akan selalu ada di sisimu. Kakak berjanji kau tidak akan kehilangan apapun. Jangan menangis, kakak akan menjagamu selamanya."


Itu adalah ucapan yang selalu terngiang di kepala Nana beberapa hari terakhir. Gadis berpiyama hitam itu mengambil cangkir yang sedari tadi ditatapnya sambil mengenang masa lalu. Dia menyeruput teh dari cangkir penuh kenangan tersebut dengan air mata yang menganak sungai. Rasanya akan lebih menyakitkan saat kau menangis sambil menyantap hidanganmu, begitulah yang Nana coba lakukan. Dia ingin merasakan pil pahit yang setiap hari harus ditelan oleh kakaknya. Kakak yang selalu menganggap hari ulang tahunnya adalah sebuah kutukan, dan menikahi pria yang membencinya, juga di hari ulangtahunnya.


Ingin sekali gadis itu menghubungi kakaknya dan sekedar mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Namun, hal itu tidak akan mungkin bisa. Cinta tidak pernah lagi merayakan atau dirayakan saat ulangtahunnya tiba. Dia akan menghindar dari siapapun. Diam-diam, Nana selalu memperhatikan Cinta menangis dalam diam saat hari ulangtahunnya tiba.


Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri seperti ini, Kakak? Kau berhak mendapatkan pasangan yang lebih baik. Kau berhak untuk bahagia. Kau membuat hari ulangtahunmu menjadi sebuah kutukan yang nyata kali ini.


...Bersambung ........


...****************...


Terima kasih banyak sudah menunggu, Kesayangan. Mohon tinggalkan komentar dan like untuk mendukung karya Simi. Love you.