![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
..."Pada akhirnya sang penunjuk jalan tetap akan membawamu pada takdirmu. Entah itu takdir yang menyenangkan, atau ... menyedihkan."...
"Mama!" teriak seorang putri kecil sembari berlari masuk ke dalam rumah.
Kakinya yang masih kecil dan perawakan tubuh yang sedikit gembul itu membuatnya terlihat begitu lucu saat berlari. Gadis kecil itu baru akan berusia lima tahun dalam tiga bulan ke depan. Dengan tangannya yang kotor dipenuhi tanah dia mendekati dua orang wanita dan seorang bocah laki-laki yang juga seusianya.
Tiga orang yang tengah asyik menonton televisi, menoleh bersamaan saat mendengar teriakan bocah yang selalu aktif tersebut. Teriakan yang begitu bersemangat. Mereka sudah bisa menebak dari nada teriakannya, ada sesuatu yang dia inginkan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Cinta dan seketika menyipitkan sebelah matanya saat melihat kondisi Ratu.
Dress bermotif bunga berwarna pink yang dia kenakan sudah basah dan hampir dipenuhi lumpur dibagian bawah. Tangan dan kakinya kotor, dan dia memegang sebuah pot kecil berisi bunga aster berwarna ungu dan begitu cantik.
"Apa papa akan menyukai bunga ini?" tanya gadis kecil itu sembari memajukan pot yang dia bawa.
Cinta menaikkan sebelah alisnya mendengar pernyataan putrinya. Entah sudah berapa banyak bunga yang gadis kecil itu bawa setiap kali berkunjung ke makan Rudi. Dia akan selalu mencabut bunga-bunga yang Cinta tanam dan menanamnya ulang ke dalam pot kecil untuk dipersembahkan pada ayah sambungnya.
"Papa pasti akan menyukai apapun yang kau bawa, Cantik." Rumi berjalan mendekati Ratu dan mencubit gemas pipi gembul gadis kecil itu.
"Haa!" suara helaan napas dari seorang anak laki-laki membuat semua orang mengalihkan perhatian ke arahnya.
"Bunga itu akan mati dua hari lagi, dan kau hanya akan memenuhi makan papa dengan pot-pot kosongmu. Bahkan petugas kebersihan mungkin sudah bosan menyingkirkan pot kosong itu," ujar bocah laki-laki itu dengan ekspresi datar.
"Daripada kau, tidak pernah membawa apa-apa. Dasar pelit!" sungut Ratu pada kembarannya, Raja.
"Aku membawa doa."
"Aku membawa doa dan bunga."
"Papa tidak butuh bunga, hanya butuh doa."
"Makam papa akan terlihat lebih cantik dengan adanya bunga. Papa pasti bangga denganku."
Cinta hanya bisa memutar bola matanya malas menyaksikan keributan dari kedua anaknya. Dia kembali memusatkan perhatian pada tumpukan kertas di hadapannya. Rumi juga sudah kembali ke kursinya untuk melanjutkan menonton TV dan menghiraukan perdebatan kedua keponakannya yang begitu menggemaskan itu. Ya, Rumi memang masih sering berkunjung ke rumah kakak iparnya. Dia sesekali membantu menjaga kedua bocah yang berbeda karakter itu saat Cinta sibuk mengurus bisnis bunganya.
"Anak-anak jadi Kak Cinta bawa besok?" tanya Rumi sembari menatap Cinta.
Cinta mengangkat kepalanya. Dia terdiam sejenak menatap lurus ke depan dengan pandangan rumit sampai akhirnya mengangguk perlahan.
Rumi menipiskan bibirnya, mencoba mencari solusi agar tetap bisa membantu Cinta, tapi tidak ada solusi apapun di kepalanya. Saat panen tiba, waktunya hampir dia habiskan untuk mengurus kebun dan setelah itu pergi ke kota untuk mengirimkan hasil panen. Begitu pun dengan ibunya. Mereka akan berbagi tugas untuk mengawasi proses panen dan menemui calon pembeli.
"Tenang saja, nanti kakak kan tinggal sama Nana. Kau tahu kan Nana bisa diandalkan untuk menjaga anak-anak," ujar Cinta menyadari ada kegelisahan di wajah Rumi. Rumi dan Bu Mirna sudah sangat banyak membantunya, Cinta tidak mau merepotkan mereka terus menerus. Setidaknya dia harus belajar untuk mengurus kebun, bisnisnya dan juga anak-anak secara mandiri.
"Memangnya berapa hari Kak Cinta ke Jakarta?"
"Mungkin satu minggu. Ada pertemuan dengan beberapa calon pembeli bunga. Tim marketing kakak di bilang ada dua hotel yang minta dikirim bunga untuk acara besar mereka."
Rumi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Kakak iparnya memang dikenal pekerja keras dan murah hati. Dia bahkan terkadang mengadakan kelas gratis bagi orang-orang yang ingin belajar berwirausaha terutama di bagian perkebunan. Kadang saat senggang dia juga membuka kelas gratis bagi anak-anak yang ingin belajar bahasa Inggris. Rumi mengalihkan pandangannya pada kedua bocah yang sedang berebut stik PS di hadapannya. Tanpa sadar bibir gadis muda itu tertarik ke samping. Menggemaskan.
...----------------...
Hari masih pagi, terlihat dari jarum pendek jam yang mengarah pada angka delapan, tapi sinar matahari sudah terasa menyengat. Cinta yang tengah mengenakan pakaian formal menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.
Cinta menarik napas panjang, entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Apa dia mulai terkena gejala serangan jantung? Beberapa kali dia menarik dan mengembuskan napas untuk mengurangi kegugupannya. Cinta bergegas masuk menuju lobi hotel. Hotel tersebut terlihat masih sepi, hanya ada pegawai hotel yang sibuk menata barang-barang dan membersihkan hotel. Dua orang, pria dan wanita yang sedari tadi mengikuti Cinta mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan bernuansa cream keemasan tersebut.
Mereka nampak kagum melihat area dalam gedung yang begitu mewah. Mereka adalah tim marketing Cinta di Jakarta. Sebagai tim marketing, tentu saja tugas mereka menawarkan barang yang mereka jual. Seperti halnya saat mendengar akan ada hotel baru yang akan dibuka, mereka dengan gesit datang dan menawarkan jasa dekorasi gedung dengan bunga segarnya, atau sekedar menyuplai bunga segar sebagai pajangan. Dengan kemampuan marketing dan komunikasi keduanya, akhirnya penanggung jawab hotel menyetujui tawaran mereka. Sekarang, mereka tinggal membawa sang boss untuk membahas kerjasama lebih lanjut.
"Selamat pagi," sapa Cinta pada petugas lobi yang dibalas dengan senyuman ramah.
"Kami dari Blooming Flower. Ada janji bertemu dengan manager hari ini."
"Oh, mari ikuti saya, Kak."
Cinta melangkah dengan pasti mengikuti seorang pegawai wanita berseragam hitam di depannya menuju ruang pertemuan. Perasaan gelisah kembali menyergapnya tatkala mendengar suara langkah kakinya sendiri yang menggema di koridor. Entahlah, biasanya dia tidak akan segelisah ini saat melakukan pertemuan bisnis.
Cinta memelankan langkah kakinya saat melihat pemandu jalan yang berjarak tidak lebih dari tiga meter darinya itu berhenti di depan ruangan di ujung lorong. Cinta mendekat dan berdiri tepat di belakang wanita itu bersama dua orang timnya. Pintu perlahan dibuka, nampak beberapa orang sudah duduk di meja besar berbentuk persegi panjang. Dua pasang mata yang ada di luar dan di dalam ruangan, saling beradu pandang bersamaan dengan pintu yang terbuka sempurna. Mata mereka sama-sama melebar, sesaat jantung Cinta serasa berhenti berdetak. Pun dengan orang yang ada di dalam ruangan, tanpa sadar pria itu berdiri dengan tatapan masih terfokus pada Cinta.
"Tah ... ta," guman Cinta pelan yang hanya bisa didengar olehnya.
...Bersambung.......