![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Laras menepis tangan Zain dari wajahnya. Memalingkan muka dan melangkah mundur.
"Jadi, di mana kau menyembunyikan anak Reno?" tanya Zain sembari melonggarkan dasinya dan melempar jasnya ke sofa.
"Aku tidak menyembunyikannya. Dia yang memilih untuk pergi. Aku hanya membantunya keluar dari sini."
"Apa kau sudah memastikan mereka aman? Aku tidak mau kakek mengutukku di surga."
Laras tersenyum miring mendengar pernyataan suaminya. "Ternyata masih ada yang kau takuti, ya."
Laras melangkah maju. Menyentuh dada bidang suaminya dan mulai membantu melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya. Tangan Zain terulur menyentuh rambutnya yang tergerai sebahu. Tangan besar pria itu bermain-main di ujung rambut Laras. Sesaat, perasaan Laras menghangat. Matanya terasa pedih karena menahan tangis yang hampir tumpah.
Ingatan masa lampau masih melekat kuat di kepalanya. Dia menggunakan kekuasaan dan kekayaan ayahnya untuk mendapatkan Zain, karena rasa cintanya yang begitu dalam Laras tidak peduli apakah Zain mencintainya atau pun tidak. Tanpa dia tahu, pria itu juga seorang yang gila harta dan kekuasaan. Mereka menikah. Mereka mendapatkan keinginan masing-masing. Laras mendapatkan pria yang dia cintai, dan Zain mendapatkan kekayaan yang dia inginkan.
...----------------...
Pagi dengan embun tipis yang masih terlihat menutupi bukit di seberang area perkebunan sayur, membuat dua orang wanita yang tengah menikmati pemandangan tersenyum cerah. Mereka membuka kaca mobil sedan berwarna biru dengan tulisan taxi di bagian atas tersebut. Menghirup udara segar dengan rakusnya. Kedua wanita itu menatap nanar perkebunan di sana dengan binar bening matanya, seolah tengah bernostalgia.
Beberapa petani sayur dan buah-buahan di perkebunan menengok ke arah mereka saat taksi melintas di jalanan yang ramai dilalui pesepeda. Mulai dari anak-anak, hingga orang dewasa berlalu lalang dengan sepeda dan motor mereka. Di sekitar sana terlihat begitu menyenangkan, anak-anak bermain dan mandi di sungai kecil pinggir sawah dengan gembiranya, orang-orang bertegur sapa saat saling bertatapan muka. Momen seperti ini rasanya sudah sangat jarang mereka temui di tempat mereka tinggal sebelumnya.
"Kita sudah sampai di Jl.Cempaka, Neng. Di mana letak rumahnya?" tanya sopir taksi membuat kedua kakak beradik itu tersadar akan tujuan mereka. Ya, mereka sekarang tengah berada di Bogor. Kota kelahiran ibunya.
"Lurus saja kira-kira seratus meter, Pak. Nanti kanan jalan ada gerbang warna putih, rumah nomor satu dari sini," jelas Cinta sembari melihat sekitarnya.
"Yang ini, Teh?" tanya sopir taksi itu sedikit terkejut sembari menghentikan mobilnya.
Semua orang menatap ke arah bangunan yang dikelilingi oleh ilalang dan tanaman merambat. Rumah yang terlihat sudah lama ditinggalkan dan tidak terawat sama sekali. Nana bahkan sampai mengernyitkan kening melihat kondisi rumah almarhum neneknya tersebut.
"Iya, Pak. Terima kasih, ya Pak," ucap Cinta sembari menyerahkan sejumlah uang pada sopir taksi dan bergegas turun dari mobilnya.
Sopir taksi hanya bisa berdecak heran, dan pergi meninggalkan kedua gadis yang masih berdiri mematung di depan pagar berbahan kayu dan hanya sebatas bahu. Tanaman merambat juga memenuhi pagar rumah sederhana tersebut. Cat rumah pun sudah sangat kusam dan berjamur.
"Yakin mau tinggal di sini, Kak?" tanya Nana menatap ngeri ke arah rumah yang menghadap utara itu.
Matanya berkeliling menyapu area sekitar rumah. Hanya terlihat kebun kosong yang ditumbuhi tanaman liar dan perkebunan sayur di depan rumah. Jarak antar rumah di lingkungan itu masih saling berjauhan.
"Yakin lah, Na. Tinggal bersihin tanaman-tanaman ini nanti juga udah layak huni lagi," jawab Cinta sembari menyeret kopernya dan mulai membuka gerbang rumah yang hanya dikunci dengan kunci slot yang sudah berkarat.
Cinta berjalan dengan santai di antara ilalang-ilalang yang menyerempeti tubuhnya. Untungnya wanita itu mengenakan celana panjang dan sepatu sneaker yang menutupi seluruh tubuh bagian bawahnya. Sedangkan sang adik kesayangannya itu berjalan dengan gusar di belakangnya. Dia menepis tumbuhan liar yang mengenai tubuhnya dengan kesal seolah pohon itu bisa melukainya.
"Kenapa nggak beli rumah baru aja, sih Kak," keluh Nana saat sudah sampai di teras rumah. Lantainya terlihat sangat kotor. Bahkan warna dan motif keramik lantainya tidak bisa terlihat karena sudah tertutup sempurna oleh debu yang menempel.
"Bukankah kau tahu kakak tidak mengambil kompensasi apapun dari keluarga Tahta. Satu-satunya harta yang kita punya itu aset peninggalan ayah dan itu sudah kakak jual semua sebelum perceraian. Hasil penjualannya pun hanya dapat sekitar dua miliar, jadi kita harus berhemat. Bukankah kau bilang ingin kuliah manajemen?"
"Yaa, tentu saja. Aku pengen bikin perusahaan atau kerja di kantoran biar nggak kepanasan."
"Itu sebabnya kita harus berhemat. Lagian rumah ini juga masih bagus, bangunannya masih kuat, dan baru kosong lima tahun sejak kematian nenek."
"Baiklah-baiklah, terserah kakak saja. Tapi beneran berani tinggal di sini sendiri? Asal Kak Cinta tau, yaa Nana udah ngajuin beasiswa ke Universitas Jakarta. Gimana kalo tiba-tiba adaa..." ujar Nana dengan ekspresi jailnya.
"Kakak lagi galau, mana bisa diganggu. Udah ayo cepetan masuk. Dibantuin bersih-bersih nggak, nih?"
Kedua bersaudara itu akhirnya bergotong royong membersihkan rumah sederhana neneknya yang terletak di perbatasan desa. Cinta sudah memutuskan untuk mencari ketenangan di desa yang pernah dia jadikan tujuan liburan setiap tahunnya sejak kecil. Desa dengan seribu kenangan kebahagiaan. Dia mulai memotong tanaman-tanaman liar di halaman, sedang Nana bertugas membersihkan area dalam rumah. Tentu saja karena anak gadis itu tidak mau kulitnya yang mulus tersengat matahari dan gatal-gatal karena tanaman.
"Loh, ini ...." Tiba-tiba seorang pria berperawakan sedang menunjuk ke arahnya di luar pagar saat Cinta tengah membersihkan tanaman di bawah pagar.
Cinta berdiri menatap pria dengan celana olahraga dan kaos oblong berwarna putih yang basah oleh keringat itu. Dia memiringkan kepala sembari menatapnya semakin lekat.
"Cinta, kan?" tanya pria dengan gaya rambut belah samping tersebut.
Pria itu memiliki garis rahang yang tegas, alis tidak terlalu tebal, bibir penuh, dan sorot mata yang meneduhkan. Senyumnya saat menatap Cinta juga begitu tulus dan semanis madu hingga membuat lawan bicaranya tidak tahan untuk tidak ikut tersenyum bersamanya.
"Anda ...?" Cinta masih nampak bingung dengan kehadiran sesosok pria yang seolah mengenalnya tersebut.
"Aku Rudi, yang suka kamu ajak keliling desa naik sepeda."
"Wah? Rudi? Kok beda?" seru Cinta dengan matanya yang sudah membulat sempurna.
"Makin ganteng, yaa?"
"Iya, sumpah. Terakhir ketemu, kan waktu nenek meninggal, itu pun sebentar banget. Mari masuk, Rud," ujar Cinta sembari membukakan pagar untuk tamu tak terduganya.
Mereka pun akhirnya saling bertukar cerita, mengenang masalalu, dan kembali mengakrabkan diri seperti sebelumnya. Mereka memang teman kecil yang sudah akrab. Setiap kali Cinta liburan ke rumah neneknya, Rudi adalah teman setia yang seolah menjadi pemandu wisata bagi Cinta. Keluarga Rudi juga tak kalah akrabnya dengan Rudi. Mereka bahkan sering mengirim makanan pada kakek dan nenek Cinta semasa hidup.
Dengan bantuan Rudi, dalam waktu satu hari, rumah itu sudah kembali bersih dan layak untuk ditinggali. Pria itu memanggil enam karyawan perkebunannya untuk membantu Cinta membersihkan rumah. Tak ayal hal itu disambut gembira oleh Nana yang memang sudah lelah dengan perjalanan mereka.
Mereka bertiga duduk di teras depan. Tidak ada hidangan apapun di meja kayu bulat itu selain air putih yang dibeli oleh Rudi tadi siang. Cinta tidak punya bahan apapun untuk bisa menyuguhkan sesuatu pada tamunya. Kursi kayu yang mereka duduki pun juga terlihat kusam karena warna pliturnya mulai rusak.
"Makasih, ya Kak Rud udah meringankan beban hidup Nana," ucap Nana sembari tersenyum hingga menampakkan deretan gigi putihnya.
"Sama-sama. Mana tega aku lihat cewek-cewek bersihin rumah sekotor tadi hanya berdua aja," ujar Rudi melirik Cinta yang duduk di kursi seberangnya.
Nana menyadari tatapan Rudi pada kakaknya. Gadis cantik dengan rambut berantakan itu mengulum senyum melihat Rudi yang tengah menatap kakaknya penuh arti.
...Bersambung .......
...****************...
Halo, Kesayangan....
Maaf, yaa kalo updatenya kadang agak telat. Soalnya Simi sedang mengerjakan novel yang insyaallah akan naik cetak. Doakan semoga lancar semua novel-novel Simi yaa bebebh-bebebhku....
Kira-kira ada yang kepo nggak ya novel yang akan dicetak temanya tentang apa. Insyaallah nggak kalah keren dan ramah di kantong.
Tapi jangan sedih novel ini akan tetap rutin Simi update demi kalian, kakak-kakak terkereen. Terima kasih banyak atas dukungannya. Lope lope sekebon, My Shining Star 🌟