![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
..."Jika kata maaf bisa dengan mudahnya menghapus kesalahan, lalu apa gunanya diciptakan kata perjuangan?"...
Tahta mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja ruang kerjanya. Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Pikirannya masih terus berpusat pada Cinta, padahal ini adalah hari penting untuk bisnisnya.
Entah kenapa mengingat penuturan Nana beberapa minggu yang lalu membuatnya kesal, tapi juga merasa bersalah secara bersamaan. Dia juga ingin Cinta bahagia seperti keinginan Nana, itulah sebabnya dia menekan egonya dan berhenti mencari Cinta, meskipun dia harus menahan derita karena rindu dan perasaan bersalahnya.
Ceklek!
Tahta melirik ke arah pintu yang terbuka. Asisten pribadinya berada di ambang pintu, sudah terlihat rapi dan sedikit berkeringat.
"Apa semua sudah siap?"
"Sudah, Pak. Beberapa tamu juga sudah mulai berdatangan. Anda harus segera menemui mereka."
Tahta terdiam sejenak. Matanya menerawang ke depan seolah tengah menelisik sesuatu. Dia mungkin tidak akan mau datang lagi, seperti rapat terakhir.
'Ck!' Tahta berdecak pelan. Dia bangkit dan melangkah pergi melewati Reza yang masih menunggui pintu.
...----------------...
Tempat pesta ini berada di area restoran dengan sedikit penataan dan dekorasi, membuat ruangan itu terlihat lebih ramai dan berbeda dari sebelumnya. Banyak bunga yang menghiasi setiap sudut dan setiap meja makan, terutama bunga mawar merah. Ada kubah bunga mawar juga bertengger di langit-langit ruangan.
Panitia sedikit mengosongkan area tengah pesta, membiarkan orang-orang saling bertemu dan bercengkrama di tengah. Panggung di area depan sudah terlihat meriah dengan pertunjukan musik dari musisi lokal yang ternama. Di setiap sisi area kosong itu terdapat meja yang berjajar memanjang bersamaan dengan berbagai hidangan di atasnya. Sedangkan di area sudut-sudut ruangan dan area belakang, mereka menempatkan kursi untuk tamu yang mungkin ingin menikmati pesta sambil duduk santai. Ya, mereka membuat konsep senyaman mungkin untuk para tamu undangan.
Kita beralih ke sudut kanan paling belakang di ruangan itu. Seorang wanita tengah duduk bersama kedua anaknya. Wanita ini memakai gaun berwarna navi, dengan rambut di sanggul kecil ke bawah dan riasan sederhana, namun terlihat elegan. Anak perempuannya juga mengenakan dress pesta tanpa lengan dan mengembang di bagian bawah juga berwarna navi. Begitu pula dengan anak laki-lakinya. Dia mengenakan setelan jas yang sangat pas dengan tubuh kecil yang sedikit berisi itu. Bak pangeran dan seorang putri.
"Sayang, mama harus menyapa orang-orang seperti biasa. Ratu, kau tidak boleh ke mana-mana. Duduk dengan tenang di sini dan makan makanan yang ada di atas meja. Dan Raja, kau awasi adikmu. Jika dia membuat ulah lagi, segera cari Mama di area tengah," ucap Cinta sambil menunjuk ke arah Laras dan Gema yang tengah sibuk menemui para tamu.
"Siap, Mama," jawab keduanya dengan senyum mengembang.
Ini adalah momen yang paling ditunggu oleh Ratu, tapi momen yang paling menyebalkan bagi Raja.
Cinta beranjak pergi, sesekali dia melirik Ratu dengan sorot memperingatkan gadisnya. Mendapat respon anggukan dari anaknya, Cinta akhirnya tidak lagi menoleh. Tamu sudah mulai ramai berdatangan. Dia benar-benar khawatir anaknya itu membuat ulah di tempat asing ini.
Cinta melangkah pasti ke arah Laras. Dia ingin segera menyapanya dan kembali duduk mengawasi kedua anaknya. Namun, langkah Cinta terhenti saat melihat sosok pemilik hotel juga melangkah ke arah yang sama dari sisi kiri. Mereka kembali dipertemukan takdir melalui ketidaksengajaan di tengah area pesta.
Netra Tahta sedikit bergetar saat melihat wanita yang dirindui itu tengah berdiri di hadapannya. Cantik, batin pria itu dengan tatapan yang semakin melembut.
Demi kesopanan, Cinta melangkah mendekati Tahta. Menelan salivanya dengan berat dan mengulurkan tangan ke arah pria yang masih mematung menatapnya.
Tahta menatap sendu tangan Cinta yang terulur padanya. Perasaannya kembali berkecamuk.
Harusnya akulah yang mengulurkan tangan padanya, batin Tahta yang tengah mencoba menetralisir debaran tak karuan di jantungnya. Pria itu dengan ragu turut mengulurkan tangan, menjabat dengan lembut tangan mungil yang seolah akan remuk hanya dengan cengkraman ringannya.
"Selamat atas peresmian hotel Anda. Semoga sukses dan berjaya di masa depan," ucap Cinta tulus sembari tersenyum simpul.
Tahta masih membisu, menatap penuh rindu pada wanita yang terlihat ayu itu. Dia menahan tangan Cinta yang hendak di tarik oleh si pemilik tangan yang telapaknya terasa sedikit kasar tersebut. Tentu saja telapak tangan Cinta tak semulus seorang putri. Dia seorang single parent yang harus bekerja keras di kebun bunga. Terkadang duri mawar bahkan melukai kulit tipis itu. Netra Tahta terasa memanas, tubuh pria itu bahkan sedikit bergetar saat menyadari kondisi tangan Cinta yang tak semulus dulu.
Kini Cinta menatap tajam Tahta saat genggam tangan Tahta terasa semakin kuat.
Tahta mendekat satu langkah ke arah Cinta, tak menghiraukan tatapan tamu yang tengah memperhatikan keduanya. Mencondongkan tubuh dan mendekatkan wajahnya di samping telinga wanita itu.
Cinta menegang. Rasanya seperti ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dengan kaku Cinta sedikit menoleh pada Tahta.
"Kau pasti sangat membenciku. Aku juga tahu kesalahanku sebelumnya begitu besar, tapi kumohon maafkan aku yang bodoh ini."
Tahta menarik tubuhnya dan kembali berdiri tegak di hadapan Cinta. Namun, tatapannya terarah ke bawah, dia tak berani menatap mantan istrinya itu.
Cinta tak bergeming. Dia masih belum mempercayai pendengarannya. Wanita ini menatap Tahta dengan sorot mata yang begitu rumit.
"Siapa wanita itu?"
"Entahlah, aku juga baru melihatnya."
Cinta tersadar saat mendengar bisikan beberapa tamu yang ada di sekitarnya. Dia segera menarik tangannya dan berdehem singkat untuk menetralkan pikirannya.
"Sekali lagi selamat atas pembukaan hotel Anda. Saya permisi dulu," pamit Cinta tanpa menanggapi ungkapan Tahta.
Pria itu kini hanya bisa menghela napas berat. Ungkapan penyesalannya itu dengan spontan terucap dari mulutnya saat menatap manik mata Cinta. Perasaan bersalah telah menghantuinya selama beberapa tahun terakhir. Dia tidak mau mengulur waktu lagi untuk menyatakan penyesalannya. Dan sekarang pun dia tidak menyesal karena telah diabaikan. Dia bisa a mencobanya lagi lain waktu, begitulah yang Tahta pikirkan. Suasana hatinya sudah sedikit membaik.
Cinta bergegas menuju Laras, orang yang menjadi alasannya datang ke acara ini. Mengabaikan beberapa orang yang masih menatap penasaran padanya.
Laras menyambut kedatangan Cinta dengan senyum mengembang. Dia juga melihat interaksi Tahta dan mantan menantunya itu dari tempatnya berdiri, tidak begitu jauh dari mereka.
"Tante, selamat atas bisnis baru putra Tante," ucap Cinta sembari memberikan ciuman hangat di kedua pipi Laras.
"Terima kasih sudah menyempatkan untuk datang, Nak." Laras membalas ciuman itu dengan sebuah pelukan hangat.
"Dan kau Gema, bagaimana bisa kau sudah membuat ini, sedangkan aku belum mendapatkan undangan pernikahanmu? Apa kau melupakan kakak yang cantik ini?" Cinta sedikit geram dan membulatkan mata, sambil menunjuk ke arah Gema dan perut buncit Nara bergantian. Dia hanya tengah bercanda, tapi itu menyenangkan untuk menggoda pria yang dulu kekanakan dan suka membuat onar ini.
Gema yang ada di samping Laras dan Nara yang tengah menggandeng tangan suaminya itu hanya bisa menipiskan bibir menahan senyum dengan canggung. Ekspresi wajah Cinta benar-benar tidak cocok untuk wajah lembutnya itu.
"Aku takut bola matamu itu akan lepas jika kau seperti itu, Kak," gurau Gema membuat Cinta semakin mendelik.
"Mereka belum mengadakan resepsi, Nak. Rencananya setelah Nara lahiran baru akan kita adakan resepsi untuk mereka," jelas Laras yang dibalas dengan anggukan oleh Cinta.
"Apa anak-anak tidak kau ajak kemari? Aku ingin sekali bertemu cucuku," ucap Laras lirih dan memelan di kalimat terakhir, tapi masih bisa didengar ketiga orang tersebut.
"Mereka ikut, Tante, Mereka ada di ...." Cinta menoleh sembari menunjuk ke arah duduknya tadi. Namun seketika gerakannya terhenti. Jari telunjuk yang sebelumnya teracung pun dia masukkan ke dalam genggaman. Ah, si*l! Lagi-lagi dia kehilangan Ratu-nya.
Sementara itu, senyum di wajah Gema memudar. Cucu? Bukankah Tahta dan Cinta belum memiliki anak saat mereka menikah? Apa ini anak dari pernikahan Cinta dan suami barunya, dan ibunya menganggap mereka seperti cucu sendiri? pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala Gema itu terhenti saat Cinta tiba-tiba saja melenggang pergi.
"Aku harus mencari anak itu sebelum berbuat onar," ujar Nara sembari melangkah lebar. Langkahnya sedikit terganggu karena dress yang terasa sempit di bagian paha tersebut.
Laras yang tidak paham, dan Gema yang masih kebingungan pun memilih mengikuti Cinta. Sementara Tahta yang sedari tadi memperhatikan mereka, menatap bingung karena Cinta pergi dengan terburu-buru dan diikuti oleh ibu dan adiknya.
Cinta menuju tempat duduk yang ada di ujung. Tempatnya dan anak-anak sebelum dia tinggal pergi. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Cinta menepuk pelan dahinya. Hal yang dia khawatirkan terjadi, anaknya tengah berburu. Cinta mengedarkan pandangan ke area meja tempat camilan dipajang. Ya, dia biasanya akan dengan mudah menemukan Ratu di spot-spot tersebut.
...Bersambung.......
...****************...
Bestieee, menurut kalian kalau judul novel ini aku ganti gimana? Ada masukan nggak? Atau udah cucok ini aja?
See you soon, My Shining Star.