[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Kalimat Ambigu


Tengah malam di kota Kuala Lumpur itu bagaikan siang yang hanya diselimuti kegelapan. Aktivitas di jalanan masih ramai lalu lalang orang terlihat sibuk. Begitu pula di dalam apartemen mewah yang terletak di lantai sepuluh. Jam yang menempel di dinding apartemen tersebut sudah menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit, tapi si penghuni masih terlihat asyik menonton layar besar yang menempel di tembok sembari menyantap cemilannya.


Cinta begitu asyik menikmati tontonannya hingga tidak lagi mempedulikan jam yang terus berlalu begitu saja. Hingga dia bahkan tidak menyadari seorang pria muncul dari arah ruang tamu dan menatapnya dengan sedikit keterkejutan.


"Kau belum tidur?" tanya Tahta yang masih berdiri di samping tembok pemisah ruangan.


"Belum. Masih nanggung," jawab Cinta masih dengan menatap layar televisi berukuran tiga puluh inci tersebut.


Tahta menyipitkan mata. Melangkah maju agar bisa melihat ke arah benda berbentuk pipih yang sedang di tatap istrinya. Tahta mengembuskan napas kasar. Sebuh drama dengan aktor kenamaan Korea yang digandrungi oleh kalangan hawa sedang diputar istrinya.


"Ini sudah tengah malam."


"Iya, bawel, ah. Aku masih mau lihat Lee Min Hoo," ketus Cinta yang sedang fokus menyaksikan adegan Lee Min Hoo dengan Jun Ji Hyun yang sedang kasmaran.


Wanita itu tiba-tiba saja terkesiap seolah menyadari sesuatu. Matanya yang membulat perlahan diarahkan ke pria yang sudah berdiri dengan wajah suram di sampingnya. Tatapan tidak suka dan kesal jelas terlihat dari kedua netra pria tersebut.


"Kau ... pulang?" tanya Cinta dengan ragu-ragu dan ingin mengalihkan topik. Namun, tidak ada jawaban dari suaminya tersebut.


"Aku pikir tadi Nana, aku lupa. Maafkan aku," ujar Cinta sembari menundukkan kepalanya merasa bersalah.


Bagaimana bisa dia begadang sampai jam segini hanya demi pria yang tak lebih tampan dariku. Si*l, kenapa aku jadi kesal melihatnya menatap aktor, batin Tahta sembari mengembuskan napas berat.


"Kenapa kau masih di sini?"


Cinta dengan cepat kembali mengarahkan pandangannya pada Tahta, ada sedikit keterkejutan dari tatapannya. Dia pasti sebel lihat aku di sini menggunakan barangnya. Haish, ngapain sih pake pulang segala, biasanya juga kan nggak pernah pulang.


"Ah, itu ... sebenarnya itu karena laptopku rusak jadi aku tak bisa nonton drama dari laptop. Besok akan aku perbaiki, aku hanya meminjam televisi sehari ini saja."


Tatapan Tahta semakin tajam mendengar penjelasan dari Cinta. Pria yang masih mengenakan setelan jas lengkap itu melangkah lebar ke arah Cinta, membuat nyali Cinta semakin menciut. Tahta menyambar remot yang tergeletak di atas meja, dan menekan tombol power berwarna merah di pojok kiri tanpa berkata apapun.


Cinta menekuk wajahnya. Dia memalingkan muka dengan kesal sembari mengumpat pada Tahta di dalam hati.


"Tidur. Ini sudah malam." Tahta melenggang pergi tanpa meletakkan remote itu kembali. Dia membawa benda kecil tersebut bersamanya.


"Dasar pelit! Pelit, bos pelit. Nggak punya hati, bodoh, akhlakless. Hiih!" umpat Cinta dengan suara pelan namun penuh penekanan sembari meninju-ninju, dan merem*s bantal sofa di tangannya.


Wanita yang tengah kesal karena kesenangannya diusik tersebut berjalan dengan kesal menuju kamarnya. Dia baru saja mendapatkan rekomendasi beberapa drama Korea dari adiknya untuk mengisi waktu luang. Namun, karena rasa penasaran dan keseruannya, dia sampai lupa waktu bahkan rela begadang demi memandangi artis-artis Korea yang begitu mempesona baginya.


...----------------...


Pagi dengan awan yang terlihat menghitam menyapa kota. Ini sudah hampir di penghujung musim penghujan, tapi intensitas hujan dan angin masih tinggi. Bahkan rintik gerimis sudah mulai membasahi permukaan tanah di sekitar apartemen Tahta.


Sabtu pagi ini begitu nyaman jika bisa Cinta gunakan untuk bermalas-malasan sembari menonton drama Korea kesukaannya. Namun itu semua tidak mungkin dia lakukan untuk saat ini. Wanita yang sudah berdandan cantik dengan dress berwarna putih bermotif bunga-bunga kecil itu sibuk menyiapkan sarapan, itu mungkin tidak lagi bisa disebut sarapan karena sekarang sudah hampir jam sembilan.


Cinta sudah hampir satu jam duduk termenung di kursi makan, menunggu sang pemilik rumah keluar dari peraduannya. Namun, nihil. Tidak ada tanda-tanda aktivitas di lantai dua.


Pagi ini Tahta masih terlelap di kamarnya. Sebuah ruangan dengan nuansa coklat dan cahaya yang remang, dengan bedcover berwarna hitam. Sangat nyaman untuk melepaskan penat di cuaca yang mendung seperti ini. Pria yang sedang menelungkup di atas ranjang tersebut sesekali menggaruk kepalanya, masih dengan mata terpejam.


Tok–tok–tok!


Beberapa kali pintu kamarnya diketuk, tapi pria yang masih menikmati waktu liburnya tersebut enggan membuka mulut.


"Tahta!" seru wanita yang sudah beberapa kali mengetuk pintu kamarnya.


"Emm ...."


"Aku mau pergi."


"Kemana? masuk saja," jawab Tahta dengan suara parau khas bangun tidur.


Cinta mengangkat kedua alisnya. Apa alkohol kemarin benar-benar sudah merusak otaknya? pikir Cinta. Ini kali pertama dia diijinkan untuk menginjakkan kaki di kawasan pria pujaan hatinya tersebut. Dengan ragu Cinta membuka pintu dan perlahan masuk mendekati Tahta yang masih terbungkus oleh selimut.


"Aku sudah membuat sarapan untukmu. Aku mau pergi ke rumah ibu. Bi Sumi tadi telpon, katanya ibu kurang enak badan, aku mau menjenguknya," jelas Cinta yang berdiri di samping ranjang Tahta.


"Kau dengar?" Wanita itu kembali memastikan bahwa suaminya sudah terbangun.


"Hmm ...." Kembali Tahta menjawab masih dengan mata tertutup.


"Jenguklah ibu jika kau sempat. Ya sudah aku pergi," ujar Cinta dan berbalik. Namun tiba-tiba lengan mungilnya digenggam oleh Tahta yang masih tengkurap di ranjang. Dia menarik wanita tersebut hingga terduduk di sampingnya. Cinta menarik tangannya, tapi Tahta menggenggamnya semakin erat.


"Aku akan mengantarmu."


Cinta memicingkan sebelah matanya. "Apa kau mabuk lagi?"


Tahta membuka matanya yang langsung terarah pada kedua netra Cinta. Tatapan mata itu terlihat tegas dan penuh arti. "Ya, aku mabuk. Aku mabuk setiap waktu karenamu. Aku mabuk sampai tidak bisa menghilangkan bayangan wajahmu dari otakku."


Deg!


Kalimat itu terdengar begitu ambigu di telinga Cinta. Apalagi sekarang? Apa salahnya kali ini? Cinta pun ikut menatap tajam ke arah Tahta.


"Aku? Apalagi yang sudah aku lakukan? Aku bahkan sudah tidak menggangumu lagi." Cinta dibuat tak habis pikir dengan ucapan Tahta.


...Bersambung .......



...****************...