[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Fakta Kedua


Jantung wanita itu bahkan seolah berhenti berdetak dan darahnya terasa mendidih seketika. Napa Cinta memburu saat wanita itu terus saja memanggil nama suaminya. Rahangnya mengetat dan tangan Cinta sudah terkepal begitu erat seolah ingin menghantam apapun yang ada di hadapannya.


Bagaimana bisa wanita ini mengenal Rudi? Bagaimana bisa dia berbicara seakrab ini dengan Rudi? Dia bilang suaminya ... suaminya kecelakaan? Lalu apa urusannya Tahta dengan Rudi? Segala pertanyaan mengelilingi Cinta di tengah suara Bella yang menyerukan nama suaminya.


"Bella," ucap lirih Cinta dengan nada dingin.


"Ka–kau?" Bella tergagap saat menyadari bukan Rudi yang tengah dia ajak bicara.


"Di mana Rudi?"


"Rudi? Kau memanggilnya Rudi begitu saja? Berapa banyak pria yang sudah kau jadikan sasaran?"


"Hei! Aku tidak sedang bercanda. Tolong panggilkan Rudi sekarang juga."


"Apa Tahta sudah benar-benar bangkrut setelah menikah denganmu?" senyum miring tercetak di sudut bibir Cinta.


"Pria itu benar-benar sudah terlilit ular betina. Bahkan untuk membayar biaya kecelakaan pun wanitanya harus mencari pinjaman pada selingkuhan lainnya."


"Terserah apa yang kau pikirkan, sekarang tolong berikan panggilan ini pada Rudi."


"Heh! Jangan harap, Bella. Aku tidak akan membiarkan rumah tanggaku hancur untuk kedua kalinya di tangan wanita murahan sepertimu."


"Tutup mulutmu, Cinta! Aku tidak peduli apa kau masih membenci dan menyimpan dendam padaku atau tidak, yang pasti aku butuh bicara dengan Rudi! Dan jika kau berpikir saat ini aku membicarakan Tahta, kau salah besar. Suamiku Bimo. Buka telingamu lebar-lebar dan dengarkan aku. Tahta hanyalah target balas dendamku. Kau mengerti?!" jelas Bella dengan emosi yang menggebu.


"A–apa?" Cinta terperanjat hingga matanya membelalak sempurna.


"Ya. Kau mungkin bisa hidup bahagia dengan segala imajinasimu tentang Rudi, tapi apa kau ingin tahu sebuah rahasia?" tanya Bella memelankan suaranya.


"Karena aku ingin menjadi orang baik, aku akan memberitahumu dengan sukarela."


Jantung Cinta kini semakin berdegup tak beraturan. Salivanya seolah terasa menyakitkan untuk ditelan dan mengganjal di kerongkongan. Dalam ingatannya, hal baik yang dimaksud wanita itu adalah hal buruk baginya.


"Rudi, suami kesayanganmu itu. Dia adalah dalang utama di balik penderitaanmu."


Deg!


Jantung Cinta terasa dihantam benda yang begitu berat dan menyakitkan. Wanita itu bahkan sampai terhuyung saat rasa sesak menguasai dadanya.


"Omong kosong apalagi yang coba kau sampaikan, ha? Sudah berapa banyak orang yang menjadi korban sandiwara bod*hmu itu?" tanya Cinta dengan nada dingin sembari mencengkeram erat benda pipih tersebut.


"Kau tidak percaya padaku, kan? Ah ... aku akan mengirimkan hadiah padamu. Kirim kan saja nomor ponselmu padaku dan aku yakin kau akan sangat terpesona dengan hadiahku ini. Gara-gara otak busuk suamimu itu dan juga kau ... aku harus hidup menderita di pedesaan seperti ini. Dan Bimo, dia–dia harus kehilangan mimpinya. Kau mengerti, si*lan! Jadi sudah sepantasnya aku meminta bantuan Rudi karena dia ikut andil untuk penderitaan kami."


Cinta membeku. Kini lidahnya terasa kelu saat setiap kata yang begitu membingungkan keluar dari mulut Bella satu per satu. Nada yang penuh amarah itu seolah seperti isi hati yang sudah begitu lama Bella pendam.


Bola mata Cinta membulat saat mendengar suara pintu terbuka. Dia dengan reflek mematikan sambungan telepon dan mengetik nomor ponselnya. Jantungnya berpacu dengan kecepatan jemarinya untuk menghapus pesan yang baru saja dia kirim pada Bella.


"Sayang?" sapa Rudi yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Cinta tak bersuara. Wanita itu hanya menatap nanar Rudi yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih. Perasaan Cinta kini tak tertebak lagi. Segala tanya dan pikiran buruk membayanginya. Dia berharap segera mendapat hadiah yang dijanjikan oleh Bella.


"Ada apa, Sayang?" tanya Rudi saat menyadari tatapan tidak biasa dari istrinya.


Cinta tak menampakkan reaksi apapun atas pertanyaan dan tatapan heran suaminya. Perhatian wanita itu teralihkan, saat suara pesan singkat masuk dalam ponselnya yang tergeletak di meja rias. Bergegas Cinta meraih benda pipih tersebut dan membuka sebuah pesan dari nomor asing.


Rudi masih menatap penuh tanya ke arahnya, sedangkan Cinta terlihat fokus menatap layar berukuran 6,7inch di hadapannya. Dada wanita itu terlihat naik turun semakin cepat. Hati Cinta terasa nyeri saat dia mulai membaca kata demi kata dalam pesan tersebut.


"Apa kau mengenal Bella?" tanya Cinta dengan ekspresi dingin.


Bak disambar petir di siang bolong. Pertanyaan yang tak terduga dari Cinta itu membuat Rudi membelalakkan matanya. Rudi melangkah lebar, menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Pria itu mulai mengecek setiap pesan dan panggilan yang masuk. Seperti dugaannya, ada sebuah nama yang dia hindari, berada di daftar paling atas panggilan masuk.


"Apa Bimo mengatakan sesuatu padamu?" tanya Rudi dengan wajah panik dan terlihat pucat.


"Tidak."


Pria itu menyipitkan mata mendengar jawaban Cinta.


"Sayang, ini–ini tidak seperti yang kau dengar. Aku–" Dengan cepat Cinta menghempaskan tangan Rudi yang coba menyentuh bahunya.


"Aku tidak sudi kau sentuh dengan tangan kotormu itu, Rud." Wanita itu menatap tajam Rudi dengan napas memburu.


"Aku tidak menyangka kau selicik itu. Di balik wajahmu yang seperti malaikat ini, ternyata ada iblis yang tengah bersarang di hatimu, Rud."


"Sayang, aku tidak–aku mencintaimu."


"Mencintai? Apa dengan cara seperti ini kau mencintaiku? Apa dengan cara kotor ini kau mencintaiku?" ucap Cinta sembari menunjukkan sebuah pesan yang baru saja dikirimkan Bella padanya.


Rudi mengambil ponsel dari tangan Cinta. Matanya seketika melebar saat membuka gambar tangkapan layar dari Bella. Itu adalah tangkapan layar dari pesan yang pernah dia kirim tiga tahun yang lalu pada Bimo.


Saat itu Rudi tengah sibuk memandangi foto-foto Cinta di dinding kamarnya saat sebuah panggilan mengalihkan perhatian pria tersebut. Dia mengangkat ponselnya, menyapa dengan ramah seseorang yang ada di seberang telepon.


"Bagaimana urusan lahan paman Pram?" tanya Rudi pada rekannya.


"Si*lan! Kau mengingatkanku. Pria itu sekarang sudah beristri dan sepertinya dia tidak tertarik lagi pada Bella," keluh pria yang tak lain adalah Bimo tersebut.


"Bukankah kau bilang dia cintai mati pada kekasihmu?"


"Awalnya seperti itu, tapi sepertinya dia mulai tertarik dengan wanita bernama Cinta itu."


Rudi membeliak. "Cinta? Kau bilang istrinya bernama Cinta? Apa dia wanita berusia sekitar dua puluh enam tahun dan berasal dari Indonesia?" Tanya Rudi dengan keterkejutannya.


"Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau mengenalnya?"


"Si*l*n! Selama ini aku mencari keberadaan wanita itu. Tetangganya bilang dia pergi ke Malaysia bersama pamannya," ujar Rudi sembari mengusap kasar wajahnya.


"No. She is married, Bro."


"Apa kau yakin laki-laki itu mencintainya?"


"Tidak juga. Dia bahkan masih berhubungan dengan Bella sampai sekarang, istrinya juga tahu suaminya punya kekasih lain."


"Baj*ngan!" Rudi mengepal erat dengan rahang terkatup rapat mengetahui fakta tentang pernikahan sahabatnya.


...Bersambung .......



...****************...


Alhamdulillah akhirnya Simi bisa update.


Maaf, ya kakak-kakak untuk minggu ini sepertinya aku tidak bisa menjanjikan update rutin karena besok Jum'at di rumah akan ada acara. Insyaallah Minggu depan baru mulai update rutin lagi. Jangan maraaah.


Oh iya, yang punya akun tiktok boleh banget follow akun Ismi Sima Simi, yaa. Lope lope sekebon buat kalian, My Shining Star.