![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Kak, apa Kakak yakin mau pergi ke sana? Bukankah tadi kakak lihat sendiri gimana sikap Kak Tahta sama Kakak?" tanya Nana dengan ekspresi khawatirnya.
Cinta hanya mengangguk perlahan sambil terus melipat bajunya. Koper besar berwarna ungu juga sudah siap menampung seluruh baju-baju wanita yang sudah berganti dengan dress berwarna peach tersebut. Terlihat dengan jelas rona kesedihan di wajahnya. Mata cantik berwarna coklat itu memerah dan berkaca-kaca. Andai saja dia sendiri, andai saja tidak ada adik yang harus dia yakinkan, mungkin saja sekarang tangisan itu sudah pecah. Cinta beberapa kali memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menghalau air mata yang sudah bergelayut manja di pelupuknya.
"Kau tidak apa-apa kan tinggal sendiri di sini?" tanya Cinta setelah selesai mengepak seluruh barangnya.
"Ingat untuk selalu mengunci pintu saat sudah gelap. Jangan pulang terlalu malam. Kau juga boleh mengajak teman perempuanmu untuk menginap jika kau mau," tuturnya dan mendapat anggukan lemah dari Nana yang juga tampak bersedih.
...----------------...
Sementara itu di tempat lainnya, di sebuah cafe dengan furnitur yang didominasi warna hitam dan putih, seorang pria duduk termenung sendirian. Dia menatap kaca jendela cafe, di luar sudah mulai gelap dan lampu-lampu jalanan juga sudah mulai menyala menggantikan cahaya matahari.
"Sayang, kau kenapa melamun terus?" seorang wanita yang baru saja datang menepuk bahunya lembut.
"Oh, Sayang. Apa kamar mandinya antre? Kenapa kau lama sekali?" tanya pria yang tidak lain adalah Tahta.
"Em ... lumayan."
Bella kembali duduk di kursinya dan melanjutkan menyantap makanan yang sudah tertata rapi di meja. Tahta hanya memandang kekasihnya dan tidak berniat untuk menyentuh makanannya sedikitpun.
Apa yang harus aku katakan pada Bella? Bagaimana aku harus menjelaskan tentang situasi ini padanya? Aku benar-benar pria brengsek, umpat Tahta dalam hati.
"Sayang?" Kembali Bella membuyarkan lamunan Tahta, kali ini diikuti dengan tatapan heran darinya.
"Kau kenapa? Aku perhatikan seharian ini kau banyak melamun?"
"Em ... itu ... sebenarnya aku–"
Belum sempat Tahta melanjutkan kalimatnya yang ingin menjelaskan tentang pernikahannya, ponsel Bella berdenting. Wanita berpakaian seksi itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah ponsel dan mengabaikan ucapan Tahta.
Bebi, kau benar-benar hebat tadi. Bagaimana mungkin kau bisa sebuas itu di kamar mandi. Kau semakin mengagumkan, Sayangku. Aku sangat merindukanmu sampai aku tidak bisa menahannya, ayolah temui aku. Senyum tipis terukir di bibir Bella saat membaca pesan dari kekasih gelapnya, Bimo.
"Ada apa, Sayang?"
"Ah, ini ayah memintaku untuk mengurus bisnis di hotelnya, dia ingin berkencan dengan Mama. Apa kita bisa pulang cepat hari ini, Sayang?" pinta Bella dengan nada manjanya.
"Ooh, iya tentu saja." Senyum simpul tercetak di kedua sudut bibir Tahta.
"Kau tadi tidak bawa mobil, kan? Akan ku antar kau pulang duluan, ya."
"Kau memang kekasih yang paling pengertian, Sayang." Sebuah kecupan Tahta sematkan di dahi Bella.
Mereka berdua melenggang pergi meninggalkan cafe langganannya. Tahta menggantikan posisi Bella di belakang kemudi. Sedangkan kekasihnya itu terlihat sibuk dengan ponselnya dan beberapa kali terlihat mengetik dengan cepat di atas layar benda pipih tersebut.
Setelah sampai di area apartemen Bella mengikuti Tahta naik ke atas. Sepertinya Tahta yang memintanya untuk ikut. Pria yang masih mengenakan setelan jas tersebut sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari Bella bahkan saat memasukkan password di depan pintunya. Mereka masuk dengan saling bergandengan dan melempar senyum selayaknya kekasih yang sedang kasmaran.
"Kau sudah pulang?" ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik tembok pemisah ruangan.
"Aku istrimu, tentu saja sudah menjadi kewajibanku untuk mengurus rumah suamiku," jawab Cinta dengan santainya.
Ucapan Cinta itu tentu saja membuat Bella tercengang. Matanya membulat sempurna dan wajahnya memerah bak kepiting yang baru saja keluar dari panci. Wanita itu melemparkan tatapan tajamnya ke arah Tahta menuntut penjelasan dari kekasihnya.
"Sayang, ini–"
"Apa benar kalian menikah?"
"Itu ...."
"Kalian sudah menikah?" tanya Bella kembali dengan nada tinggi.
Tahta hanya bisa mengangguk pasrah. "Sayang, ini ... ini tidak seperti yang kau pikirkan."
"Tega kau, Tahta. Aku benar-benar kecewa padamu," ucap Bella lalu berbalik pergi meninggalkan mereka berdua dengan tangisnya.
Tahta melemparkan tatapan tajam dan menyeramkan pada Cinta sebelum akhirnya pergi menyusul Bella. "Bella!"
Cinta terduduk lemah setelah dua orang itu meninggalkan ruangan. Dia menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya. Menunduk dalam-dalam dengan air matanya yang meluncur begitu saja. Hati Cinta terasa perih, tercabik selayaknya kertas yang sudah terpotong dan berhamburan. Bukan hubungan seperti ini yang sebenarnya dia inginkan. Bukan cinta seperti ini juga yang ingin dia jalani, tapi takdirnya berkata lain. Dia tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuat dua orang itu tidak bisa bersama sesuai keinginan Lars.
"Aku bisa. Aku pasti bisa melewati ini," gumam Cinta menyemangati dirinya sendiri.
Wanita itu mencoba bangkit dan menyeka air matanya. Namun, saat dia ingin berbalik pergi kembali ke dapur, tangan kekar seseorang mencengkeram lengannya dengan kuat. Cinta berbalik dan mencoba membebaskan diri. Namun, nihil. Kekuatannya tak seberapa untuk bisa menghempaskan tangan berotot itu.
"Apa yang coba kau lakukan sekarang, ha?" geram Tahta dan mendorong tubuh Cinta hingga membentur dinding.
"Kau belum puas mengacaukan hidupku dengan pernikahan bodoh itu, dan sekarang kau ingin menghancurkan kedamaianku, iya?"
Cinta sampai memejamkan matanya saat mendengar suara keras Tahta. Seumur hidupnya, baru kali ini dia melihat dan mendengar kemarahan pria yang dikaguminya itu. Ini adalah sisi lain Tahta yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya.
"Aku mencintaimu, Tahta. Aku berani bersumpah hanya akulah wanita yang tulus mencintaimu."
Tahta menghempaskan tubuh Cinta hingga wanita itu tersungkur. "Cih! Bermimpi saja kau, Cinta. Ternyata selama ini aku sudah membesarkan seekor ular, jika saja aku tahu, aku sudah pasti akan membunuhnya sejak awal sebelum dia bisa menggigit."
Pria itu melenggang pergi meninggalkan Cinta yang masih membeku di lantai. Meninggalkan wanita dengan luka hatinya.
Apa yang harus aku lakukan supaya kau mau menatapku lagi, Tahta?
Bahu Cinta terguncang karena isakan tangisnya. Dia mencengkeram ujung dress-nya. Jika saja hatinya terbuat dari keramik, mungkin saja saat ini sudah hancur berkeping-keping. Kenyataan yang dia terima saat ini ternyata lebih menyakitkan dari apa yang sudah dia bayangkan sebelumnya. Cinta mencoba berdiri dengan memegangi dinding di sebelahnya. Berjalan tertatih menuju kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Saat membuka pintu kamar, samar-samar telinganya menangkap suara benda-benda yang berjatuhan. Ya, itu sudah pasti Tahta yang sedang berusaha menghancurkan kamarnya. Untuk saat ini wanita itu tidak bisa melakukan apa-apa, dia masih terlalu syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
...Bersambung .......