[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Pillow Talk


Air langit malam ini turun begitu deras, hingga suaranya mampu membuat keheningan malam terpecah. Dingin juga menyergap tubuh siapapun bahkan serasa membekukan tulang-tulang sendi. Begitu pula dengan Tahta, pria yang sedang memainkan ponsel sembari bersandar di sandaran ranjang itu, sudah mengenakan piyama panjangnya untuk menghalau dingin. Penghangat ruangan pun sudah dia nyalakan, namun tidak banyak membantu.


Ceklek!


Tahta mengarahkan pandangan pada suara pintu yang terbuka. Seorang wanita dengan wajah kusutnya berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke arah tempat tidurnya. Wanita yang juga mengenakan piyama panjang tersebut meraih sebuah bantal di sisi Tahta dan selimut.


"Mau ke mana kau?" tanya Tahta saat wanita yang tidak lain adalah Cinta itu hendak berbalik.


"Tidur, di sofa."


"Tidak perlu. Tidur di sini," perintah Tahta sembari menepuk kasur di sampingnya.


Cinta berbalik menghadap Tahta dengan matanya yang membulat dan penuh tanya. "Apa kau yakin?"


"Apa aku terlihat sedang bercanda?"


"Tidak tapi ...."


"Apa kau takut aku akan memakanmu?"


Mata Cinta semakin melebar mendengar pertanyaan Tahta. Rona merah di pipinya bahkan menjalar hingga ke telinga. Wanita tersebut menghindari kontak mata dengan Tahta saat itu juga. "Baiklah, aku akan tidur di sini. Jangan mengeluh jika aku tidak bisa tenang saat tidur."


Pada akhirnya, Cinta memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan mereka. Dia berusaha menyamankan dirinya dan berbaring di samping Tahta. Netra coklat wanita cantik dengan rambut tergerai tersebut menatap lurus ke langit-langit kamar. Perasaannya benar-benar dalam keadaan yang kacau saat ini. Cinta sudah berusaha mati-matian untuk menghindar dan menghalau perasannya pada Tahta. Dia berusaha bersikap normal agar tidak meninggalkan kesan terburuknya saat berpisah nanti, tapi apa yang terjadi sekarang? Bukankah pria itu bersikap sangat aneh akhir-akhir ini?


Cinta memiringkan badan menghadap ke arah suaminya yang masih sibuk dengan benda pipih di tangannya. Wanita itu terus saja menatap lekat wajah Tahta. surai tipis yang berada di samping telinga pria itu, bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibirnya yang penuh. Semuanya terlihat begitu menarik dan membuat Cinta semakin tertawan.


Aku sadar dia adalah seseorang yang harus aku lepaskan sebentar lagi, tapi kenapa ... dia sangat tampan, dia benar-benar seperti ayah. Ini tidak baik, tapi Tahta benar-benar sangat tampan. Huh! Tanpa Cinta sadari jantungnya sudah berdegup sedemikian cepatnya. Seolah jantung itu beraksi begitu saja saat melihat Tahta, seolah jantung itu hanya berdetak untuk suaminya.


"Em ... Tahta, untuk surat perceraian itu–"


Cinta tercengang. Matanya kembali membeliak, entah kejutan apalagi ini. Akhir-akhir ini kehidupannya yang tenang berubah total. Semakin hari semakin banyak kejutan yang membuatnya sesaat seolah mati otak. Pertanyaan ini ... adalah cerita yang tentunya sudah bukan lagi rahasia. Cinta yang jatuh cinta pada Tahta, dan juga merupakan cinta pertamanya. Namun, itu semua hanya cinta yang salah. Cinta yang membawa keduanya dalam situasi yang sulit dan menyakitkan.


Cinta menurunkan pandangannya. Kepedihan terlihat jelas dari kedua manik mata wanita yang terbungkus selimut tersebut. Aku berkata tentang perceraian, tapi kenapa dia mengajukan pertanyaan seperti itu?


"Apa pertanyaanku membuatmu tidak nyaman?"


Tentu saja iya, tapi aku tidak bisa mengabaikannya. Karena ... akulah orang yang pertama mengejar dan mengatakan untuk menikahinya. Cinta terlihat sangat frustrasi saat mengingat kembali kejadian lalu. Kejadian di mana dia terlihat seperti seorang wanita yang tidak memiliki harga diri. Seorang wanita yang rela melakukan segalanya demi seorang pria.


Dia kembali mengangkat wajahnya, menatap Tahta. "Ini adalah pertanyaan yang memalukan. Kuakui, aku selalu mengatakan hal itu sebelumnya, tapi aku sudah tidak akan lagi menuntutmu untuk memiliki perasaan yang sama padaku. Dan ... aku sangat serius saat aku berkata tidak akan mengusik dan mengganggu kehidupanmu lagi. Percayalah dengan ucapanku kali ini."


Tahta menundukkan kepala dengan tatapan mata yang melemah. Sesaat dadanya terasa sesak seolah Cinta sudah meninjunya berkali-kali dengan kalimatnya. Ada desiran aneh yang terasa menyakitkan di hati pria tersebut. Tangannya mencengkeram selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Atmosfir di kamar yang cukup luas tersebut menjadi sedikit tegang. Ekspresi pedih dan kekecewaan terukir dengan sangat jelas di wajah keduanya.


Saat dia berjanji untuk tidak mengusik hidupku lagi, apa itu juga termasuk tidak akan menyukaiku lagi? Ya, memang benar awalnya akulah yang menolak dan memintanya untuk tidak mendekatiku lagi. Bersentuhan dengannya selalu membuatku merasa kurang nyaman, dan ... aku sama sekali tidak suka melihat tatapannya yang seolah terobsesi denganku. Aku merasa seperti barang yang sedang menjadi bahan taruhannya. Tapi, sekarang ....


Samar-samar terlihat ada rona merah tipis di pipi Tahta. Ingatan tentang sikap Cinta yang berubah padanya akhir-akhir ini kembali melintas di otaknya. Tentang surat perceraian yang dia tandatangani, tentang sikap acuhnya, dan ... tentang malam yang panas itu. Tahta masih mengingat dengan detail setiap jengkal tubuh wanita yang menjadi istrinya tersebut. Kulitnya yang lembut, rambutnya yang wangi, dan aroma tubuh yang seolah seperti candu baginya. Aroma manis dari tubuh Cinta seolah tertinggal di ujung hidungnya. Setiap kali melihatnya, ingin sekali Tahta mendekap tubuh ideal istrinya dan menghirup aroma yang menenangkan itu sepuasnya.


"Tidurlah, sudah larut," ujar Tahta sembari merebahkan tubuh dan membelakangi Cinta. Dia tidak mau terlalu lama menatap wanita tersebut. Tahta takut dia akan kembali lepas kendali dan benar-benar memangsanya hidup-hidup.


Baiklah, aku akan mencoba memperbaiki ini semua. Meyakinkan perasaanku, dan berada di sisimu sedikit demi sedikit. Besok, aku akan mencoba menjelaskan ini pada Bella.


Senyum tipis terlihat di sudut bibir Cinta saat matanya sudah terpejam. Mungkin ini adalah momen langka yang tidak akan didapatkannya lagi lain hari, pikir Cinta. Mereka berdua memejamkan mata dalam satu ranjang untuk kedua kalinya. Namun bedanya, kali ini Tahta dalam keadaan yang sepenuhnya sadar.



...Bersambung .......