[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Satu Sandiwara Terungkap


Sore ini, langit jingga telah menyapa sebelum gelap menelannya. Seorang pria terlihat tengah meminum sekaleng bir sembari menatap benda pipih berwarna hitam yang menggantung di jarinya. Pakaian formal yang dia kenakan bahkan sudah sangat berantakan dan lusuh. Rumah yang ada di kawasan apartemen itu mulai meremang, tapi sepertinya dia tidak ada niat sedikitpun untuk beranjak dari sofa.


"Akhirnya. Akhirnya aku bisa membuatmu merasakan kegagalan, Tahta. Akhirnya aku bisa menghancurkan rencana busuk ayahmu itu, si*lan! Aku tidak akan pernah rela tanah itu jatuh ke tanganmu," rancau pria mabuk tersebut dengan menggebu.


"Setelah ini, mari kita hidup bahagia bersama anak kita, Bella," sambungnya sembari menatap nanar foto dirinya dan Bella yang tergantung di dinding ruang kerjanya.


Potret dirinya yang terlihat masih sangat muda dan tengah mengenakan jas almamater itu membawa ingatan Bimo ke masa lampau. Masa di mana dirinya dan Bella masih asyik menikmati kehidupan anak kampus yang penuh tawa.


Hingga saat Bella mulai mengajukan sebuah pertanyaan, "Bim, kapan kamu mau kenalin aku sebagai kekasihmu?"


Bimo yang saat itu tengah asyik mengunyah makan siangnya di kantin seketika terdiam. Dia meneguk segelas air putih di hadapannya untuk membersihkan mulut dan tenggorokan yang penuh makanan.


"Bebi, bisakah ... kau mengerti posisiku. Kau anak pengusaha kaya dan orangtuamu salah satu pemilik kampus ini. Jika sampai mereka tahu kita berkencan ... yah, kau pasti tahu sendiri apa yang akan terjadi padaku," jawab Bimo dengan nada putus asa.


Bella menatap sendu kekasihnya. Ujung netra wanita berdress biru itu memerah dan tirta bening menggenang di pelupuknya. Sudah dua tahun lebih keduanya menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih, tapi tidak seorangpun yang tahu. Bimo memintanya untuk menyimpan rapat-rapat rahasia ini. Bella mencoba untuk mengerti, memahami setiap kehendak pria yang amat di cintai tersebut.


Bimo hanya seorang pria desa. Dia bekerja keras agar bisa mendapatkan beasiswa untuk meraih mimpinya menjadi seorang dokter bedah terbaik. Sebagai seorang kekasih, tidak seharusnya dia menempatkan Bimo dalam posisi sulit, bahkan mungkin bisa saja dia gagal meraih mimpinya jika sampai ayahnya tahu, pikir Bella.


"Tapi apa kau tahu? Aku dengar dari orang-orang, Tahta sedang mengejarku. Bahkan beberapa kali dia mengirimiku hadiah setelah aku menolongnya dulu."


"Bukankah itu hal biasa. Bahkan aku rasa seluruh pria di kampus ini juga sedang berusaha mencari perhatian darimu. Kau adalah dewinya kampus. Wanita baik hati yang selalu ringan tangan, siapa yang tidak akan jatuh cinta padamu? Bahkan aku merasa menjadi orang paling beruntung di dunia ini karena bisa menarik perhatianmu."


Bella selalu luluh oleh kata manis yang menyegarkan dari kekasihnya tersebut. Tidak ada yang bisa dia ragukan lagi dari diri Bimo. Segala hal yang ada di diri Bimo adalah miliknya. Waktu, uang yang tidak lebih banyak dari miliknya, perhatian, bahkan keluarga Bimo pun seolah telah menjadi keluarga kedua bagi Bella.


Hingga saat tragedi mengerikan itu meluruhkan segalanya. Kehangatan keluarga, perhatian, bahkan tawa. Semuanya lenyap tersapu angin. Hanya dendam dan kebencian yang kini berkuasa di hati Bimo. Dia lupa cara untuk mencintai, yang terbesit di kepalanya hanya cara untuk membenci. Mengirim Bella untuk melakukan misi balas dendam pada pria yang pernah berusaha merebut perhatian kekasihnya.


"Aku pikir hanya butuh satu tahun untuk menghancurkanmu, ternyata aku harus membiarkan dewiku berada di sisimu selama ini. B*jing*n!" geram Bimo sembari melemparkan kaleng bir berwarna hijau ke arah televisinya.


Layar berukuran 32inch yang tengah menampakkan gambar tentang anjloknya saham perusahaan Mahardika itu retak. Senyum licik mengembang di sudut bibirnya. Senyum yang terlihat mengerikan sekaligus puas dengan apa yang dia lihat.


...----------------...


Langit kota Kuala Lumpur kini telah menggelap seiring hilangnya hamburan warna jingga di sudut barat. Namun, jalanan kota tetap saja terang. Lampu-lampu jalanan siap membiaskan cahayanya saat terang tak lagi benderang. Begitu pun lampu-lampu koridor apartemen yang telah siap mengisi kekosongan cahaya di sekelilingnya, agar para penghuni bisa melangkahkan kakinya dengan leluasa.


Seorang pria tengah berjalan dengan langkah lebarnya di bawah cahaya lampu putih yang berjajar di langit-langit koridor apartemen. Rambutnya acak-acakan dan baju formal yang dia kenakan terlihat kusut bersama dasi yang telah melonggar. Segera dia menekan tombol angka di depan pintu setelah sampai di unit miliknya.


Ceklek!


Dengan cepat pintu terbuka lebar. Nampak seorang wanita tengah duduk berselonjor sembari mengelus perut buncitnya di atas sofa sembari menonton sinetron.


"Sayang, kau sudah pulang," sapa wanita hamil tersebut pada pria yang baru saja melangkah masuk.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, pria itu menatapnya lekat. "Apa yang kau lakukan hari ini?"


"Yaa, seperti biasa. Aku hanya rebahan, nonton TV, dan makan. Kau tahu kan perutku ini sudah sangat besar, tidak ada satu bulan lagi dia sudah waktunya keluar," jawab Bella dengan senyum mengembang.


Wanita itu masih belum bisa membaca situasi, dia berpikir Tahta tengah menanyakan aktivitas dan keadaan bayinya seperti hari-hari sebelumnya.


Tangan kekar pria yang masih berdiri di sisi sofa itu mengepal erat, dan tatapannya semakin menajam. Rahang Tahta mulai mengetat saat menyadari wanita di hadapannya itu sekarang tengah berbohong.


"Apa kau tidak bertemu siapapun?" Kembali sebuah pertanyaan yang terdengar seperti dakwaan terlontar.


Bella yang sedari tadi sibuk mengelus perutnya yang bergejolak seketika menatap Tahta. Kini dia menyadari ada hal yang tidak beres pada tatapan suaminya. Jantung wanita itu tiba-tiba berdegup tidak karuan. Netra hitam di hadapannya seolah tengah mencekik dan menenggelamkan kewarasannya.


Bella menurunkan kakinya perlahan. Menegakkan badannya dengan kaku. Kini seluruh tubuhnya terasa kesemutan karena tatapan mengerikan itu.


"A–ada apa?"


"Sudah berapa kali kau membohongiku?"


Kini tidak hanya jantung Bella yang hampir melompat dari tempatnya, tapi bola matanya pun begitu. Dia menelan salivanya seolah tengah menelan duri besar yang mengganjal.


"Apa ma–maksudnya?"


"Apa hubunganmu dengan Bimo?"


Deg!


Napas Bella serasa tercekat di tenggorokan mendengar pertanyaan suaminya. Bagaimana mungkin pria itu tiba-tiba menanyakan tentang Bimo? Dia tahu betul bahwa mereka bersahabat baik dan tidak pernah memermasalahkan hal itu sebelumnya.


"Kita bersahabat. Bukankah kau tahu sejak dulu?"


"Bullsh*t! Apa persahabatan kalian sedekat ini?" tanya Tahta sembari melemparkan sebuah amplop coklat pada Bella.


Bella sempat terjingkat saat kertas berwarna coklat itu jatuh dengan kasar di pangkuannya. Bergegas dia meraih dan membukanya. Mata Bella membelalak lebar. Darah di tubuhnya terasa berdesir semakin cepat saat membuka isi amplop tersebut.


"Da–dari mana foto-foto ini?" tanya Bella dengan sorot mata penuh ketakutan dan keterkejutan.


Tahta semakin menatap nyalang istrinya saat melihat wajah Bella yang semakin memucat. Dia tidak mungkin setakut ini jika tidak melakukan kesalahan, pikirnya.


Pria itu melangkah mendekati Bella. Ketukan langkah kakinya terdengar begitu menyeramkan bagi Bella. Tangan kekar berotot pria itu mencengkeram kuat rahang bawah Bella. Wanita itu tersentak. Foto di tangannya jatuh berserakan. Terlihat potret dirinya dan Bimo yang sedang berpelukan, dan pipi kirinya yang tengah dicium oleh kekasih gelapnya itu di dalam mobil.


Tahta melirik sekilas pada selembar foto yang terjatuh di bawah kaki Bella. Darahnya terasa mendidih seketika, saat melihat gambar wanita hamil itu dirangkul temannya sendiri masuk ke dalam villa. Kilatan netranya bahkan membuat jantung Bella serasa berhenti berdetak.


"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Tahta pelan tapi tajam.


...Bersambung .......



...****************...


Haloo, Kesayangan.... Apa kabar kalian? Sehat, kan? Sehatlah jangan sakit-sakit, oke.


Maaf banget, yaa dua hari ini Simi nggak bisa update karena sedang ada urusan di rumah mertua. Kangen, yaa udah ngaku aja nggak usah gengsi.... Aku juga kangen banget kok. Lope lope sekebon buat kalian, My Shining Star.