[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Pertemuan Kembali


..."Meskipun segala kemungkinan bisa terjadi, tapi sejujurnya kemungkinan untuk mereka tidak kembali dipertemukan adalah satu-satunya kemungkinan yang dia harapkan."...


Cinta menjejakkan kaki menuju kediaman adik perempuannya. Rumah sederhana dengan dua lantai di tengah kota itu terlihat rapi dan cerah dengan gaya desain ala American Shabby Chick-nya.


"Anak-anak sudah tidur, Na?" tanya Cinta mengingat hari memang sudah begitu larut.


Wajah kusut dan tidak bersemangat senantiasa menemani Cinta sejak pagi hari hingga dia meneguk segelas air es malam ini.


"Sudah, Kak." Nana yang tengah sibuk memainkan ponselnya teralihkan melihat tingkah Cinta yang tidak seperti biasa. Dia bad mood.


"Capek banget, yaa?" tanya Nana memiringkan kepala ke arah Cinta yang sekarang sudah merebahkan tubuh di sandaran sofa.


"Capek! Capek ati," jawab Cinta asal-asalan.


Kembali Nana dibuat terheran. Kali ini bahkan sampai mengangkat satu alisnya. "Kenaaapa?"


"Tah—" Tiba-tiba ibu beranak dua itu menghentikan ucapannya dan menegakkan tubuh.


"Aaakh! Aku malas sekali menyebut nama pria br*ngsek itu!" erang Cinta frustasi dan kembali menghempaskan tubuh ke sandaran sofa.


"Pokoknya pria br*ngsek tukang selingkuh nggak tau diri itu benar-benar nggak punya hati!"


Melihat tingkah kakaknya itu benar-benar membuat Nana menggelengkan kepala. Apa kakaknya ada gejala stress? Eh, tunggu. Nana seolah baru menyadari sesuatu dan segera menatap tajam kakaknya.


"Tadi kakak bilang Tah— apa?" Nana mencoba memastikan bahwa sesuatu yang tengah dia pikirkan itu salah?


Masih dengan menyadarkan kepalanya di sofa tunggal di ujung kiri, Cinta melirik malas ke arah adiknya duduk. Dia berada di sofa panjang tepat menghadap ke arah televisi.


"Maksud Kakak ... Kak Tah-ta?" tanya Nana ragu, tapi malah mendapat anggukan kecil dari kakaknya yang juga merupakan pembenaran atas apa yang ada di pikirannya.


Saking terkejutnya, Nana sampai menutup mulut tak percaya.


"Jadi ... hari ini kakak ketemuan sama Kak Tahta? Kenapa? Kok bisa? Dia tahu tentang Raja dan Ratu?"


Cinta memutar bola matanya jengah dengan semua pertanyaan Nana yang terdengar menggelikan itu. Ya kali aku ngajak ketemuan.


"Dia pemilik hotel yang akan mengadakan grand opening tanggal dua puluh nanti. Dia juga kayaknya nggak ngerti apa-apa tentang kakak, jadi tenang saja."


Kini mendengar jawaban itu membuat Nana semakin tercengang. Oh, Tuhaaan. Takdir seperti apa lagi yang ingin Kau berikan padanya?


"Itu artinya selama dua puluh enam hari ke depan Kakak akan sering bertemu dengannya?"


"Tidak. Kakak hanya akan bertemu dua kali lagi untuk membahas desain penataan dan kesepakatan kerjasama, sisanya tim kakak yang mengurusnya."


Nana menghela napas lega. Ya, dia tidak ingin kakaknya itu berurusan dengan orang di masa lalunya. Dia tidak ingin kebahagiaan dan kedamaian yang bisa Cinta raih dengan susah payah ini dikacaukan lagi. Meskipun segala kemungkinan bisa terjadi, tapi sejujurnya kemungkinan untuk mereka tidak kembali dipertemukan adalah satu-satunya kemungkinan yang dia harapkan.


...----------------...


Tahta tengah duduk di kursi kebesarannya sembari membolak-balik lembar demi lembar berkas yang bertumpuk di hadapannya. Dia harus segera mengecek berkas-berkas tersebut jika ingin tetap melaksanakan peresmian hotelnya, seperti apa yang dituturkan Reza, jika tidak semua akan tertunda karena kinerja Tahta melambat setelah pertemuannya dengan Cinta. Lebih banyak waktu yang dia habiskan untuk melamun.


Reza yang tengah duduk di sofa ruangan bosnya sembari menata berkas yang sudah dicek Tahta mencuri pandang padanya. Memang, cinta itu seperti dua mata pisau.


Dia menatap lama ke arah kertas berwarna putih tersebut. Membaliknya perlahan, membaca dan melihat setiap detail gambar yang ada di dalamnya, itu adalah desain yang diajukan oleh sang owner saat rapat. Pada halaman terakhir, manik mata Tahta bergerak turun ke bawah. Dia melihat sebuah coretan tangan yang begitu familiar di pojok kertas tersebut. Jari-jari tangan Tahta terulur mengelus lembut coretan yang digunakan untuk mengesahkan dokumen tersebut. Aku merindukanmu.


Tahta meraih pena di sisi dokumen. Tanpa ragu ataupun mengoreksi, dia menanda tangani berkas dari Blooming Flower. Coretan tangannya itu menjadi penutup kerjanya di malam yang begitu dingin dan terasa sepi ini.


...----------------...


Wanita yang tengah mengendarai mobil Jazz berwarna merah itu memacu kendaraannya membelah lautan kendaraan di kota Jakarta. Mobil itu kini sudah terlihat mulus. Tidak seperti satu minggu yang lalu, di mana terdapat beberapa goresan di salah satu sisi bodynya.


Cinta memarkirkan mobilnya setelah sampai dan bergegas menuju lift di area parkiran. Kali ini dia tidak perlu menutupi wajahnya karena sengatan matahari, dan memastikan dia tidak terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan.


Tok-tok-tok!


Petugas hotel yang mengantarkan Cinta mengetuk pintu kayu yang ada di lantai tiga sisi paling kanan hotel. Hal itu tak luput dari perhatian Cinta yang sedari tadi mengedarkan pandangannya ke semua sudut. Sepertinya memang gedung paling kanan ini digunakan untuk pegawai dan kegiatan administrasi, ini terpisah dari kamar-kamar hotel dan tepatnya juga lebih tenang. Tidak terlalu banyak orang berwara-wiri.


Tidak ada sahutan dari dalam, tapi pegawai wanita itu tetap membuka pintu tersebut. Sepertinya memang ini hal yang biasa, dan mengetuk pintu hanya untuk kode saja, pikir Cinta yang kemudian dipersilahkan untuk memasuki ruangan.


Cinta sedikit menegang tatkala menyadari siapa pemilik ruangan yang baru saja dia masuki, tapi dengan cepat dia kembali menetralkan ekspresinya sebelum si pemilik ruangan menyadari.


Tahta mengangkat kepala, menatap wanita yang tengah berdiri di hadapannya dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"Selamat siang, Pak Tahta," sapa Cinta dengan senyum profesionalnya meskipun sebenarnya dalam hati dia tengah mengutuk pria itu.


"Ah, ya. Silahkan duduk."


Cinta melangkah, mengambil tempat duduk di sofa panjang berwarna coklat tersebut, sedang Tahta duduk di sofa tunggal yang ada di ujung kanan. Cinta sudah berusaha untuk tidak terlalu dekat dia mengambil jarak aman dengan berada di tengah sofa. Tahta menatap lekat setiap pergerakan Cinta hingga membuatnya merasa risih.


"Jadi Blooming Flower akan bertanggung jawab untuk menyuplai bunga segar sebagai bahan dekorasi dan juga pajangan hotel ini?" tanya Tahta dengan nada profesional khas seorang pebisnis.


"Benar, Pak Tahta. Sesuai konsep yang Anda minta, kami sudah merangkum beberapa jenis bunga yang akan cocok dengan tema hotel ini, salah satunya adalah bunga hortensia. Bunga ini memiliki berbagai macam warna yang elegan dan juga masa hidup yang cukup panjang setelah dipotong dari tangkainya. Untuk bagian lobi karena konsepnya mewah dan elegan kita bisa menggunakan tulip ataupun mawar. Lavender juga bisa menjadi daya tarik untuk kamar tamu karena aromanya yang cukup menenangkan."


Cinta melakukan presentasinya untuk proyek kerjasama ini sembari sesekali membalik berkas di hadapannya. Dia tidak terlalu fokus pada Tahta hingga tidak menyadari ada mata yang dipenuhi oleh kilat kekaguman dan rasa rindu menyatu dan menyorotnya tanpa henti. Cinta juga tidak menyadari ada sudut bibir seseorang yang tertarik tipis ke samping saat wanita itu tengah mengoceh tentang bunga-bunganya.


"Bagaimana, Pak Tahta?" Tahta tersadar dan sedikit menaikkan alisnya mendengar pertanyaan Cinta.


"Ah, iya. Itu, saya tidak terlalu paham nama-nama bunga yang Anda sebutkan. Hanya beberapa bunga yang bisa saya mengerti."


Hah! Merepotkan sekali. Aku sudah tidak tahan di sini. Tenggorokanku sudah kering, gerutu Cinta dalam hati.


Dengan terpaksa wanita itu menggeser duduknya dan agak mendekat ke arah Tahta. Apa boleh buat, aku harus segera mengakhiri pertemuan ini, menandatangani kontrak, dan pulang.


Dia kembali membuka berkas di tangannya ke halaman depan. Cinta menunjukkan gambar-gambar bunga dan menyebutkan namanya satu persatu agar pria dihadapannya ini segera paham. Kali ini jarak mereka hanya tersisa tiga jengkal.


Bukannya menyimak, Tahta kembali hanya mencuri pandang pada mantan istrinya. Aroma mawar dari tubuh Cinta menyeruak menyentuh ujung hidung Tahta. Pria itu dengan diam-diam menghirupnya dalam-dalam. Rasanya ingin sekali dia lebih mendekatkan diri ke arah Cinta, menghirup aroma yang begitu menenangkan itu serakus yang dia bisa.


"Jadi itu ...." Cinta berhenti berucap saat wajahnya dia hadapkan pada Tahta. Entah sejak kapan, tapi jarak antara kedua semakin terkikis dan kini hanya menyisakan dua jengkal tangannya.


Cinta terdiam membeku. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup semakin kencang dan tak beraturan. Pria yang sudah menjadi mantan suami itu kini tengah menatapnya lekat tanpa berkedip sedikitpun. Tatapan yang dipenuhi kerinduan dan juga penyesalan.


...Bersambung.......