[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Berikan Kesempatan


Cahaya lampu ruangan itu membuat segalanya terlihat jelas. Cinta sempat mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba saja terasa menusuk retinanya. Wanita itu membeliakan matanya lebar-lebar saat sebuah lukisan seorang wanita, berukuran besar terpampang nyata di hadapannya.


"I–itu ...?" Cinta menoleh pada Mira yang masih berdiri di samping pintu.


"Iya, kau lihat sendiri, itu adalah dirimu," jawab Mira dengan senyum tipisnya.


Cinta kembali terpaku pada potret dirinya yang terlihat masih begitu muda dan ceria. Senyumnya begitu cerah dengan memamerkan barisan gigi putihnya. Wanita itu melangkah lebih dekat. Sejak kapan? Hanya kalimat itu yang ada di otak Cinta saat ini.


"Kau pasti terkejut melihat fotomu yang sebesar baliho itu terpajang di sana. Rudi sepertinya sudah tidak bisa melihat wanita lain selain dirimu dalam hidupnya. Dia sudah dua puluh tujuh tahun, tapi belum pernah sekalipun berhubungan dengan seorang wanita. Bahkan orang-orang berpikir putra tante itu seorang gay," ujar Mira sembari tersenyum miris.


Wanita paruh baya itu sudah merasa risih saat harus pergi melakukan perkumpulan dengan para ibu-ibu. Apalagi saat ada arisan RT. Mereka selalu mempertanyakan tentang kejantanan putranya. Gosip perihal Rudi yang tak doyan dengan wanita pun menjadi bahan gosip yang paling digemari oleh mereka. Namun, Mira tak bisa berbuat banyak. Dia tahu betul putranya bukan penyuka sesama jenis, tapi memang benar Rudi tak pernah sekalipun menggandeng wanita.


Saat Cinta sudah berada di sisi ranjang kamar yang ternyata milik Rudi tersebut, wanita itu kembali dikejutkan dengan pajangan yang tertutup lemari sebelumnya. Sebuah papan yang cukup besar dan dipenuhi oleh foto-fotonya berukuran kecil terpanjang tepat di depan ranjang Rudi. Sedangkan foto berukuran besar tersebut berada di sisi kanan, hingga saat seseorang membuka pintu, bisa dengan jelas melihatnya. Wanita itu mengingat dengan jelas, itu adalah potret dirinya yang ada di social media.


"Tante tahu Rudi kemarin melamarmu, dan Tante merasa kau akan menolaknya. Benarkan?" tanya Mira yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban.


Cinta menoleh menatap sendu pada wanita yang sudah berusia setengah abad tersebut. Tebakan Mira memang benar. Cinta masih ingin menata hatinya kembali. Dia tidak ingin jatuh begitu saja saja karena kata-kata manis seorang pria. Bagi Cinta sudah cukup rasa sakit yang ditinggalkan oleh Tahta. Dia ingin hidup tenang bersama buah hatinya.


Namun entah kenapa hati Cinta bergetar. Matanya memanas hingga genangan air mata meluncur begitu saja. Dia tersentuh. Dia seolah tengah bercermin pada masalalu, saat hari-harinya hanya disibukkan dengan mengejar pria yang sama sekali tidak memandangnya.


"Jika itu mungkin, tante berharap kau bisa memberikan kesempatan pada putra tante, Cinta. Dia menunggumu, sudah sangat lama."


"Tapi ... saya ...." Cinta memainkan jari-jarinya. Merem*snya sembari menarik napas dalam-dalam.


"Kau hamil," timpal Mira dengan tenang.


Wanita yang tengah gusar itu mengangkat kepala, membelalakkan matanya menatap Mira. Bagaimana dia bisa tahu? Hal ini dia sembunyikan dengan sangat baik, bahkan Rudi pun tidak dia beritahu, pikir Cinta.


"Nana memberitahu tante. Bukankah kau tahu adikmu itu tidak bisa menjaga mulutnya," jelas Mira seolah bisa membaca pikiran Cinta.


Dasar adik kurang ajar. Bagaimana bisa dia menyebarkan berita seperti ini begitu saja, batin Cinta mengeratkan gigi-giginya.


"Tante, saya tau Tante dan Rudi adalah orang baik, sangat baik. Itu sebabnya saya merasa, saya tidak pantas untuk mendapatkan Rudi. Saya seorang janda, dan bahkan sekarang saya hamil. Bagaimana mungkin saya bisa menerima pinangan dari Rudi," ujar Cinta dengan ekspresi sayu.


"Kau tahu kenapa Rudi terburu-buru ingin melamarmu? Karena dia tahu kau hamil. Dia tidak ingin melihatmu melewati masa sulit ini sendirian."


Wanita itu kembali dibuat terkejut dengan ucapan Mira. "Ru–Rudi sudah tahu? Tapi dia ...."


Ucapan Mira berhasil membungkam Cinta. Wanita itu menatap Mira dengan netranya yang bergetar. Kembali sebuah kenyataan yang dilontarkan orang lain berhasil menohoknya. Cinta kembali berbalik menatap nanar kumpulan potret dirinya yang tengah tertawa lepas dan segala aktivitasnya. Senyum kecil tersungging tatkala netranya menangkap sebuah tulisan tangan di pojok papan. My Shining Star begitulah coretan kapur di atas papan berwarna hitam tersebut dilengkapi dengan gambar bintang di sekitarnya.


"Ibu rasa dia hanya ingin menunggumu selama yang dia bisa. Ibu sangat berharap kau mau memberikan kesempatan Rudi, Nak," ujar Mira sebelum akhirnya pergi meninggalkan wanita yang tengah mematung di depan papan tersebut.


Click!


Cinta menoleh saat mendengar suara pintu yang tertutup. Bulir bening di sudut mata yang sedari tadi coba dia tahan, pada akhirnya luruh juga. Wanita itu melangkah mendekati potret dirinya yang bahkan lebih tinggi dari lemari pakaian Rudi. Dia mengitari kamar Rudi. Banyak foto kenangan masa kecil mereka di sana.


Perhatian Cinta tertuju pada sebuah foto yang berada di dalam bingkai dan diletakkan di sisi ranjang. Kertas dengan potret dirinya dan juga Rudi saat masih duduk di bangku SMP. Dua anak remaja yang terlihat dekat dan tersenyum penuh arti. Dia mengambil benda pipih berlapis kaca tersebut. Mengusapnya dengan lembut saat bulir air mata tanpa sengaja membasahi permukaannya.


Kau jangan takut pada siapapun, aku akan selalu menjagamu di sini, kilasan balik tentang ucapan Rudi berkelebat di kepalanya.


"Rud, apa yang harus aku lakukan? Bukankah kau terlalu baik untuk wanita bodoh sepertiku?"


Cinta duduk termangu di bibir ranjang Rudi. Bau maskulin pria itu menyelusup masuk ke indera penciuman Cinta. Aneh. Semenjak kehamilannya, dia begitu sensitif terhadap wewangian, tapi kali ini berbeda. Aroma khas yang dimiliki Rudi itu terasa menenangkan baginya. Wanita itu mengusap lembut bantal yang tertata rapi di ujung ranjang. Namun, tanpa sengaja tangan Cinta menyenggol sebuah kertas yang terselip di bawah bantal tersebut.


...Bersambung .......


...****************...


Halooo, Gaes.


Gimana kabarnya hari ini? Alhamdulillah kalo semuanya masih sehat. Selalu jaga kesehatan, yaa. Soalnya aku nggak bisa jagain kamu yang lagi jauh di mata tapi dekat di hati. Eaaa ....


Oh, iya. kita vote judul, yuk.


Kalian lebih suka judul :


THE ESSENCE OF LOVE atau CINTA, TAHTA, & DUDA?



Kasih pendapatnya di bawah, yaa...


Love you so much, My Shining Star.