[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Panic attack


"Apa hubunganmu dengannya?" Tahta semakin memererat cengkramannya.


"A–aku ...." Wanita hamil tersebut semakin memucat. Tangannya yang bergetar mencengkram erat pinggiran sofa. Bella menegang.


Malam itu, angin yang berembus dari jendela seolah tak bisa menyentuh permukaan kulit Tahta. Udara di sekitarnya terasa panas membara. Namun, dengan mudah membekukan Bella. Wanita hamil itu tengah menggigil karena katakutannya yang tak terelakkan. Ini belum waktunya untuk meninggalkan Tahta, pikir wanita itu.


"Katakan!" Tahta menghempaskan tubuh Bella hingga bersandar pada sofa. Dia menekan rahang Bella, membuat wanita itu mendongak menatapnya.


"Aku hanya sedang mencari teman untuk menemani hariku. Apa kau pernah memerdulikanku? Kau pernah ada waktu untukku? Kau hanya sibuk dengan semua pekerjaan dan proyekmu itu, Tahta. Aku juga butuh kamu. Aku butuh perhatian darimu! Kau bahkan sama sekali tidak memerhatikan kehamilanku." Entah keberanian dari mana, hati Bella bergejolak saat kilatan netra suaminya terasa membunuh perlahan.


Kini wanita itu turut menatap nyalang Tahta. Detak jantungnya masih tak beraturan, bahkan suaranya terdengar berpacu dengan detikan jam di dinding. Bella menghempas tangan kekar pria di hadapannya tersebut.


Sementara itu, pria yang sebelumnya terlihat penuh emosi yang meledak-ledak, kini terdiam. Tatapannya menurun dan berubah sendu. Bukan karena istrinya, tapi ini tentang mantan istrinya. Ucapan Bella membawanya kembali pada kenangan bersama Cinta. Mantan istrinya itu sekalipun tak pernah mengeluh saat dia tidak menganggapnya ada.


Jika saja kau dulu mau mengeluh, kau meluapkan segala kekesalanmu seperti ini. Mungkin aku akan bisa lebih cepat memahami hatimu, batin Tahta dengan tangan yang sudah terkepal erat hingga buku-buku jarinya memucat.


Drrt ... drrt ... drrt ....


Getaran ponsel dari dalam saku celana hitamnya, mengembalikan kesadaran Tahta. Pria itu masih menatap lekat istrinya sebelum akhirnya mengangkat telepon.


"Ada apa?"


"Pak, saya tidak menemukan orang lain yang mencurigakan di sekitar Anda dan manager keuangan juga, saya yakin dia tidak terlibat dalam kasus ini," ujar Reza dari seberang telepon.


"Jadi?" Tahta masih merasa ucapan asisten pribadinya itu belum sampai pada kesimpulan yang dia inginkan.


"Saya .... Sepertinya ...." Pria muda itu menggantung kalimatnya. Nada suaranya terdengar ragu untuk berucap lebih lanjut.


"Katakan!"


"Hanya ada satu orang yang bisa mengakses barang pribadi Anda selain Tuan dan Nyonya."


Seketika pandangan Tahta tertuju pada Bella yang masih duduk diam di tempatnya. Pria itu menurunkan ponselnya dan menatap tajam Bella.


"Aarg!" Bella meronta saat lehernya dililit tangan kekar suaminya.


Bella meronta sekuat tenaga. Gerakannya tak bisa leluasa karena terganjal oleh perutnya yang membulat. Cengkeraman Tahta di leher itu bahkan sedikit demi sedikit membuatnya kehabisan napas dan tenaga.


Dia memohon, tirta bening mengalir sebagai wujud permohonannya yang tak bisa terucap. Namun sepertinya pria itu sudah kalap. Dia tidak peduli. Wajah pria di hadapannya itu telah memerah padam. Mata Tahta menggelap.


Apa hidupku akan berakhir? Apa aku harus mati seperti ini? Ditangan suamiku sendiri? Setidaknya tolong selamatkan anakku, pinta Bella dalam hati sembari terus memberontak memukul tangan berurat itu.


"Arg–a–an–nagh," ucap Bella bersusah payah.


Tahta tercengang hingga memundurkan tubuhnya. Aura gelap di matanya perlahan memudar berganti dengan keterkejutan. Dia mengarahkan pandangan pada perut Bella. Hampir saja dia menghilangkan dua nyawa. Kembali tatapan Tahta arahkan pada Bella yang masih terengah-engah.


Perasaan bersalah dan ketakutan tiba-tiba saja menghantuinya. Dia tidak mungkin bisa sekejam itu untuk menghabisi nyawa anaknya sendiri. Kini netranya semakin membelalak lebar dan sedikit bergetar saat menyadari ada cairan kekuningan yang mengalir di kaki istrinya.


Tubuh Tahta bergetar melihat cairan yang keluar itu semakin banyak dan bercampur warna merah hingga menggenang di lantai. Dia melangkah mendekati Bella yang masih tak berdaya.


"Bella? Bella? Bicaralah, kau kenapa? Bella!" seru pria yang semakin memucat itu sembari mengguncang bahu istrinya.


Wanita yang sudah tidak punya tenaga itu mengabaikan panggilan Tahta. Bella meringis menahan sakit di perutnya yang semakin menjalar ke punggung. Dia hanya bisa bersandar pasrah dan bahkan tidak berucap sepatah kata pun. Tidak ada tenaga sedikitpun yang tersisa. Napasnya hampir putus di tangan Tahta dan tenaganya sudah habis untuk melawannya. Namun rasa sakit itu benar-benar tak tertahankan.


"Aaah," pekik Bella saat perut dan punggungnya teras dicengkeram dengan kuat.


"Bella!" Kini kepanikan menggusur semua emosi pada diri Tahta.


Dia meraih tubuh Bella. Menggendongnya keluar dari apartemen. Banyak mata menatap keduanya saat dia harus melewati lorong untuk menuju lift. Seorang ibu dengan cekatan membantu Tahta membuka pintu lift. Tetesan air ketuban bercampur darah menambah kepanikan putra sulung Laras itu. Dia setengah berlari tergopoh menuju parkiran.


Rintihan yang keluar dari mulut Bella membuatnya seolah mati otak. Tubuh Tahta menegang, hanya kaki dan tangannya yang bekerja, mengarahkan mobil ke rumah sakit terbesar di Kuala Lumpur.


Aku mohon selamatkan anakku, Tuhan. Aku akan menjadi orang paling berdosa jika sampai terjadi sesuatu pada mereka, batin Tahta sembari menambah kecepatan laju mobilnya.


Bella mencengkeram erat lengan Tahta saat keranjang rumah sakit yang dia tempati di dorong menuju ruang persalinan. Erangan dan rintihan terus saja keluar dari mulutnya. Dia meracau sembari mencakar tangan Tahta seolah tengah mengeluarkan kekesalannya di sela rasa sakit.


Di luar ruangan, seorang ibu tengah gelisah. Tangannya terkatup di depan bibir yang terus saja berkomat-kamit tanpa henti. Di tengah kegelisahannya, ekor mata wanita berpakaian formal itu melirik pria yang duduk tenang di kursi belakang.


"Apa kau sama sekali tidak mengkhawatirkan keadaan putrimu, Zam?" tanyanya dengan nada dingin.


Pria yang dia panggil Azam itu hanya menatapnya sekilas, dan kembali fokus pada ponselnya. Sikap tak acuhnya sangat jelas terlihat. Wanita paruh baya tersebut pada akhirnya hanya bisa menghela napas berat. Tidak ada yang bisa dia harapkan dari ayah putrinya itu. Tidak ada yang normal dalam hubungan mereka. Hanya sebatas simbiosis mutualisme.


Tak–tak–tak


Langkah kaki yang terdengar stabil mendekat ke arah mereka. Maya menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita yang berusia hampir sama dengan dirinya berjalan dengan elegan dan tanpa basa-basi mengambil tempat duduk di ujung.


"Apa Anda datang sendiri?" tanya Maya yang terlihat heran akan ketenangan besannya itu.


"Menurutmu?"


Senyum sumir tersungging kecil di bibirnya. "Dia terlalu sibuk untuk hal yang tidak terlalu penting ini."


Mata Maya membeliak mendengar jawaban yang terasa menusuk telinganya. "Apa maksud Anda tidak penting? Nyawa anak saya sedang dipertaruhkan di dalam sana!"


Laras menajamkan tatapannya. Rahangnya mengetat dan napasnya memburu saat keinginan untuk mencabik-cabik mulut wanita di hadapannya itu merasuki pikirannya.


Ceklek!


Perhatian ketiga orang itu teralihkan saat seorang pria berpakaian dokter membuka pintu ruangan. Pria yang sudah mengenakan pakaian operasi lengkap berserta masker dan penutup kepala itu menoleh. Dia menundukkan kepala pada Azam sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan.


Laras menautkan kedua alisnya. Dia sedikit memiringkan kepala seolah mencoba mengingat sesuatu.


Pria itu ... bukankah dia dokter yang juga ada di depan ruang dokter obgyn waktu itu? Alis dan mata itu ... sepertinya aku tidak asing.


...Bersambung .......


...****************...


Haloo, everyone.... Selamat ulang tahun ke-76 untuk Indonesiaku tercinta.


Apa kabar teman-teman? Semoga sehat selalu yaa meskipun negerinya sedang sakit. uups....


Oh iya, Simi mau ngucapin Spesial thanks untuk Top Fans Minggu kemarin. Terima kasih banyak untuk :



LAJ


Watilaras Risky


Elfana Arisandi


Lie Naa


Siti Nuzula


Le riviera


Sujanti Hindarto


Ivanka Anata


Hana


Efbe


Aqila Riawan


Marimar


Susan Line


Ra Gaming


Agus Agu


Fernando


Riyan


Google


Susan Lagi


Susan


Rahma


Victrrr



Terima kasih banyak untuk kakak-kakak di atas dan kakak-kakak yang lainnya, sudah mau berbagi dukungan untuk Simi. Sekecil apapun dukungan dari kalian, itu sangat berharga untukku. Aku bukan apa-apa dan siapa-siapa tanpa kalian, Kesayangan. Semoga berkah dan kebahagiaan selalu menyelimuti kita semua.


Lope lope sekebon, My Shining Star.