[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Cara Menjelaskannya


Cinta duduk termangu di sofa ruang tengah. Televisi di hadapannya, sudah memutar iklan rokok dan alat pengaman untuk pasangan yang tengah dimabuk cinta. Iklan yang tidak boleh tayang di bawah jam sepuluh malam. Beberapa kali wanita berusia tiga puluh tahun itu menghela napas berat. Pikirannya terasa semakin kacau saat menatap anak-anaknya yang tertidur. Kejadian yang baru saja mereka alami, pasti akan begitu membekas.


Cinta mengusap wajahnya frustasi. Dia kembali menoleh ke arah jam yang ada di atas televisi. Entah sudah berapa kali dia menengok ke arah tersebut. Dari mulai pukul sepuluh, hingga kini sudah hampir pukul satu, tapi adiknya belum juga menampakkan batang hidungnya. Sudah beberapa kali Cinta menghubungi gadis itu, tapi tak juga ada jawaban. Pikiran Cinta benar-benar tengah kacau dan bercabang-cabang sekarang.


"Apa dia menginap di rumah Lala lagi? Tapi kenapa tidak memberi kabar?" gumam Cinta yang akhirnya memilih beranjak pergi menyusul anak-anaknya.


Dia tidak tahu harus mencari adiknya ke mana. Dia juga tidak memiliki nomor Lala ataupun kekasih adiknya, karena mereka tidak begitu dekat. Wanita itu memaksakan diri menutup mata dengan perasaan gelisah.


...----------------...


Di bawah siraman cahaya bulan yang begitu membulat sempurna, seorang pria tengah duduk di balik kemudi mobilnya. Pria yang mengenakan jas hitam dengan tampilan berantakan itu terus menatap rumah berlantai dua yang ada tepat di seberang jalan. Tatapan pilu, yang jika siapapun melihatnya akan merasa iba, dan ikut tenggelam dalam rasa sakit dari sorot mata coklatnya tersebut.


Tahta hanya bisa menatap Cinta dan anaknya dari balik dinding berwarna putih tersebut. Dia hanya mampu membayangkan ketiganya yang tengah tertidur saling memeluk penuh cinta. Andai saja dia bisa ikut merasakan kehangatan keluarga kecil itu. Ah, rasanya dia berangan-angan terlalu jauh.


Dia tidak tahu bagaimana bisa masalah hidupnya menjadi sekacau ini. Dia juga tidak tahu kekacauan ini bermula dari kapan. Apakah di saat dia bimbang dengan perasaannya dulu? Apakah di saat dia dijebak oleh Bella di villa? Atau di saat dia memutuskan menikah dengan Cinta sementara dia masih bersama Bella? Napas yang keluar dari mulut Tahta terasa begitu berat. Pundaknya serasa semakin ditekan dan dadanya terhimpit bongkahan batu.


Jika aku tahu akan seperti ini, apa aku dulu akan memilih untuk tidak menikahi Cinta? Atau aku akan memilih meninggalkan Bella?


Pria itu mengusap mengacak kasar rambutnya. Dia bertelungkup, menenggelamkan wajahnya di sela setir mobil. Tahta tidak tahu bagaimana untuk mengurai masalah yang seperti benang kusut ini. Yang dia tahu, dia dulu hanya mencoba untuk setia pada wanita yang telah menjadi kekasihnya. Tanpa disadari hal itu membuat wanita lain yang selalu ada di sisinya begitu hancur.


Dia terlalu buta akan cinta Bella dan terobsesi untuk menjadi pria setia. Dia tidak ingin menjadi seperti ayahnya yang telah berkhianat hingga membuat hidup Laras menderita. Namun, lagi-lagi tanpa disadari, dia malah dengan sukarela mengarahkan dirinya ke jalan yang dilalui ayahnya. Kisah hidup Zain pun terulang padanya. Dan lebih parah lagi, dia menyadari perasaannya setelah wanita itu pergi. Setelah wanita itu menyerah akan cintanya.


"Bagaimana caraku untuk menebus dosaku, Cinta? Tolong beri aku petunjuk. Aku mencintaimu, aku bersumpah aku sangat mencintaimu. Tuhan, tolong kembalikan Cinta-ku yang dulu. Tolong kembalikan Cinta-ku yang ceria dan penuh perhatian."


...----------------...


Cinta melangkah gontai, menyalakan lampu setiap ruangan rumah adiknya. Matahari belum begitu sempurna menampakkan diri, tapi wanita itu sudah terbangun karena perasaannya yang tidak bisa tenang.


Dia melangkah mendekati kamar adiknya. "Na? Nana?"


Beberapa kali dia mengetuk pintu, tapi tak juga ada jawaban dari si pemilik kamar. Cinta akhirnya memutar gagang pintu berwarna silver tersebut. Ruang berukuran 4x4 meter itu masih gelap tanpa cahaya sedikitpun.


"Dia tidak pulang?" tanya Cinta pada diri sendiri.


Dia merogoh kantong di celana piyama tidurnya. Mengeluarkan benda pipih berwarna putih kesayangan. Cinta mulai menekan tombol hijau yang ada di layar benda yang disebut ponsel.


"Halo, Na?" ucapnya dengan terburu dan sedikit lega karena akhirnya dia bisa menghubungi adiknya.


"Kamu nggak pulang, Na?"


"Aku langsung ke cafe, Kak."


"Kenapa? Kok nggak ngabarin kakak, sih?"


"Maaf, Kak. Ponsel Nana semalam di dalam tas, nggak denger kalau kakak telepon," ucap suara Nana dari seberang telepon.


"Kamu beneran nggak kenapa-kenapa, kan? Suaramu seperti habis nangis. Apa Alex jadi pergi keluar negeri?"


"Jadi, Kak. Tadi jam dua dia berangkat."


Cinta hanya ber-oh ria sambil mengangguk. Adiknya mungkin sedang sedih dan tidak ingin diganggu karena harus berpisah dengan kekasihnya. Cinta segera beranjak menuju dapur setelah Nana mematikan sambungan teleponnya. Gadis itu benar-benar terdengar tidak bersemangat.


"Aku harus melihatnya setelah menemui Tante Laras nanti," gumam Cinta yang tengah menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.


"Loh! Anak-anak mama sudah banguun," ujar Cinta yang segera menghampiri si kembar untuk memberikan kecupan selamat pagi.


Mereka mengangguk kecil dengan begitu lucu, membuat Cinta tersenyum dibuatnya. Dia terus menerus memperhatikan anaknya satu persatu sembari menghidangkan sarapan. Mata Ratu nampak masih bengkak. Sedangkan Raja menyandarkan kepalanya di meja.


"Mama, siapa Om jahat kemarin malam?" tanya Raja dengan nada datar sambil menatap lurus ke arah piring nasinya.


Mata Cinta membola. Dia bahkan belum menyiapkan penjelasan yang tepat untuk anak-anaknya tentang kejadian semalam. Wanita itu menipiskan bibir, mencoba merangkai kalimat dalam otaknya, sebelum dia lontarkan pada anak kembarnya tersebut.


"Kenapa om kemarin menangis, Ma? Emangnya om kemarin nakal, ya? Terus mama marahin om-nya?" tanya Ratu dengan wajah polosnya.


Belum selesai Cinta memikirkan jawaban atas pertanyaan Raja, kini Ratu-nya pun ikut melontarkan pertanyaan yang tak kalah sulitnya. Cinta menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal.


"Bagaimana kalau ...." Cinta menggigit bibir bawahnya. Dia ragu untuk melanjutkan ucapan yang sudah menggantung di ujung bibirnya tersebut.


"... kalau om itu ayah kalian?"


"Tidak mau." Raja menjawab dengan cepat.


"Mama mau menikah dengan om galak itu?" tanya Ratu dengan ekspresi terkejutnya.


"Tidak–tidak. Bukan begitu–"


"Tapi Rindu bilang dia punya papa baru setelah mamanya menikah lagi," sahut Ratu menanggapi jawaban panik dari ibunya.


Cinta menghela napas berat. Bagaimana cara menjelaskan pada anak-anak kecil ini? Apa mereka akan paham jika aku mengatakan bahwa dia ayah kandungnya? Pasti mereka setelah itu akan bertanya tentang Rudi, lalu bertanya kenapa aku bersama Rudi, lalu–lalu. aaah! batin Cinta yang begitu frustasi dengan situasi pagi ini.


"My Sweety, dia itu bukan om jahat. Om itu baik, hanya saja dia sedikit ...."


"Gila," sahut Raja masih dengan ekspresi datarnya.


"Raja, Nak. Kamu nggak boleh ngomong jelek kayak gitu," tegur sang ibu dengan tegas namun masih bersahabat.


"Emang dasar mulut Raja itu radak-radak, Mah. Dilakban aja udah."


Raja memutar bola mata jengah mendengar ledekan dari saudari kembarnya itu.


"Sudah-sudah. Hari ini kita ada janji dengan Oma Laras, kalian ingat, kan?"


Keduanya dengan kompak menoleh ke arah Cinta dengan mata berbinar.


"Robot!"


"Barbie!"


...Bersambung.......


...****************...


Maaf, ya Bestiee baru bisa update. Hari ini sibuk banget. See you soon. Lope lope sekebon buat kaliaaan, My Shining Star.