![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Reza melangkah lebar menuju ruangan bosnya. Ekspresi pria muda itu terlihat tegang dengan urat-urat yang seolah tertarik. Reza membuka pintu ruang kerja Tahta begitu saja tanpa memberikan salam. Ini masih sangat pagi untuk mengawali ketegangan, tapi pria itu seolah tak tahu waktu. Dan pria di hadapannya pun sama. Dia mendongak menatap asisten pribadinya dengan ekspresi serius.
"Pak, saya menerima informasi tentang John. Dia berangkat ke Indonesia semalam dan sepertinya dia berencana melakukan sesuatu pada istri adik Anda. Dari hasil laporan mata-mata, komplotan John melakukan pergerakan aneh di sekitar komplek tuan muda. Sepertinya mereka tengah mengintai."
Tahta mengetatkan rahang bawahnya mendengar laporan Reza. Tangan pria itu terkepal hingga memunculkan urat-urat berwarna kehijauan.
Si*l! Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku.
"Za, kau siapkan penerbangan ke Indonesia sekarang juga dan hubungi Tuan Ashar. Aku mau kasus ayah si*lan itu di proses hari ini juga."
Reza menunduk patuh. Pria itu melirik jam Rolex yang ada di tangan kanannya. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi bahkan kabut masih samar-samar terlihat di luar jendela gedung. Masih ada waktu untuk memburu tiket karena mengurus ijin terbang untuk jet pribadi tidak akan memungkinkan.
...----------------...
Sesuai instruksi Tahta, kini semua media berita di negeri Jiran itu tengah dipenuhi oleh wajah ayahnya. Saat tengah hari tiba-tiba sebuah akun anonim menyebarkan foto-foto dan video ayahnya yang tengah menghajar orang ataupun tengah bermain dengan wanita. Belum reda keterkejutan masyarakat dengan ulah salah satu kandidat calon pemimpin itu, mereka kembali dikejutkan dengan berita pembunuhan serta korupsi yang dilakukan oleh Zain Mahardika. Putra kandungnya benar-benar ingin menghancurkan ayahnya sendiri.
Sedangkan dalang dari kegaduhan itu sendiri tengah berada dalam pesawat menuju kota tempat adiknya tinggal dan menetap. Wajahnya terlihat datar, tapi jika ditelusuri lebih dalam, ada raut kekhawatiran di sana. Sesekali dia menoleh ke sisi jendela pesawat, menatap langit yang mulai memunculkan semburat merah kekuningan. Rasanya perjalanan ini memakan waktu lebih lama dari biasanya.
...----------------...
"Pak, saya sudah menemukan lokasi John. Untuk Tuan Ashar, dia sudah menyerahkan bukti keterlibatan Tuan Zain dalam kasus korupsi proyek danau biru dan permainan politiknya. Tuan Ashar juga menggunakan kekuasaannya untuk mempercepat penangkapan pada Tuan Zain."
"Pastikan orang tua itu tidak bisa menghubungi anjingnya lagi, Za. Aku akan segera menuju lokasi John untuk mengulur waktu sampai polisi datang. Tidak akan kubiarkan satupun dari mereka bisa lolos," ucap Tahta dengan sorot mata tajam penuh amarah.
Ya, dia baru saja menghubungi Sam setelah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Seperti yang sudah diperkirakan, John sudah mendapatkan targetnya. Namun, bukan hanya karena penculikan istri adiknya yang membuat Tahta murka, tapi anjing setia Zain itu turut membawa ibunya, Laras. Wanita yang selalu ingin dia lindungi dan bahagiakan kini berada di tangan anjing gila ayahnya. Tahta mencengkram kuat kemudi mobilnya dan menginjak pedal gas yang bahkan hampir mencapai batas kecepatan maksimal.
"Lepaskan mereka. Aku janji tidak akan melakukan apapun pada Zain, katakan itu padanya tapi aku mohon lepaskan mereka."
Menyaksikan wanita paruh baya yang sangat dicintainya itu memohon dengan sangat putus asa, Tahta mengepalkan tangan erat. Rahangnya menyatu sempurna hingga derit dari gesekan giginya samar-samar terdengar oleh Sam yang tengah mengintai dibalik semak bersamanya. Sigap Sam menangkap lengan pria muda itu saat kesabarannya sudah mulai terkikis dan hendak melesat keluar.
[Cerita penculikan Nara, Gema, dan Laras ini ada di novel TERJERAT PERNIKAHAN bab 'Malam Menyakitkan' jadi baca novel tentang Gema dan Nara juga agar lebih tahu detailnya ya, Sayang.]
"Kita harus menunggu polisi bersiap di lokasi, Tuan."
Tahta mendengus kesal. Dadanya tengah bergemuruh hebat dan darahnya seolah mendidih. Wajah pria berkulit putih itu kini menjadi semakin merah tatkala menyaksikan adiknya, Gema terkulai lemah di pelukan sang ibu.
"Kalian berdua, jaga mereka. Aku akan coba hubungi Tuan Zain." John beranjak dari sisi Gema sambil terus berusaha menghubungi atasannya.
Tahta dengan tidak sabar mengedarkan pandangannya ke sekitar hutan. Manik mata berwarna coklat itu terhenti pada sebuah pohon besar tak jauh dari lokasi John. Polisi sudah sampai. Segera dia melesat dari persembunyiannya tanpa menunggu aba-aba hingga membuat Sam tejingkat.
"Kau tidak akan bisa menghubunginya, John." Suara bariton dari belakang mobil Gema itu menyita perhatian semua orang.
Dia berjalan dengan aura membunuh yang sangat kuat mendekati mereka. Jas hitam yang dikenakan itu membuatnya sedikit tersamarkan dalam kegelapan hutan. Tiga orang terpaku menatapnya dengan tak percaya. Ketiga orang tersebut tidak lain adalah Gema, Laras, dan John.
"Tuan... Tahta?"
"Kakak?"
"Putraku," ucap ketiganya bersamaan.
"Apa maksud Anda?" tanya John dengan menyipitkan sebelah matanya.
"Ayahku itu mungkin sekarang sudah berada di dalam penjara, jadi percuma saja kau menelponnya." Semua orang sekali lagi menatapnya dengan keterkejutan mereka.
"Bagaimana mungkin?!" John menatap tajam padanya.
"Si*l!" umpat John meremas ponselnya.
"Sekarang tinggal giliranmu yang harus mendapatkan ganjaran karena sudah menjadi anjing setia untuk ayahku, John. Oh iya, kau pasti bertanya-tanya bagaimana bisa aku tahu semua ini, kan? Untung saja aku punya orang yang sudah sedari tadi memegang ponsel ayahku dan dengan mudah aku bisa melacak lokasimu."
"Diam kau!" seru John menodongkan pistolnya pada pria itu.
Laras membelalak lebar. Nyawanya terasa hampir tercabut saat John mengangkat senjatanya tepat ke kepala Tahta.
"Hentikan!" pekik laras bersamaan dengan suara desingan peluru yang melesat secepat kilat.
Satu pria bertubuh besar sudah meringis kesakitan. Dia Jo. Jo tertembak di bagian lengan kanan hingga membuat senjata api dalam genggamannya terjatuh.
Setelah tembakan itu meletus terlihat beberapa pria dengan seragam coklat keluar dari balik pepohonan dan semak-semak.
"Aku hanya sedikit mengulur waktu, John. Kau gampang sekali terkecoh," ucap Tahta dengan seringai di wajahnya.
Nara, istri dari adik Tahta yang sedari tadi sudah menjadi sandra tidak menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Cengkraman Jo terlepas karena lengannya tertebak. Dengan cepat Nara berlari menghampiri Gema yang berusaha bangkit dibantu oleh Laras.
"Sandra sudah aman, Tuan Tahta," ucap Sam yang tiba-tiba muncul dari balik pohon besar di samping mobil Gema.
"Mas, kau tidak apa-apa? Bertahanlah, Mas," ucap Nara memeluk suaminya dengan khawatir.
"Brengs*k!" maki John yang terlihat ada kekhawatiran di wajahnya.
"Habisi mereka semua!"
Mendengar perintah atasannya ketiga pria yang ada disekitar John dengan cepat mengangkat senjata api mereka. Baku tembak di tempat itu tidak dapat terelakkan lagi. Suara desingan peluru saling sahut menyahut di antara rerimbunan pohon dan pekatnya malam. Nara bahkan sampai bergetar menahan ketakutan. Ini adalah malam terburuk yang pernah dia alami.
Tidak butuh waktu lama gerombolan penculik itu berhasil dilumpuhkan dengan bantuan Paman Sam yang juga ahli bermain senjata api. John yang tergeletak tak berdaya karena kedua kakinya tertembak itu menatap tajam ke arah Laras. Polisi sudah berlari ke arahnya, tapi tiba-tiba dengan sangat cepat tangan pria itu terangkat. Dia menarik pelatuk pistol itu begitu saja ke arah Laras.
Sekali lagi suara senjata api menggema, tapi kali ini diiringi oleh suara teriakan yang begitu memilukan.
Brug!
Sesosok tubuh terkapar bersimbah darah di hadapan mereka.
Tidak berselang lama kembali suara tembakan terdengar begitu jelas. Polisi mengarahkan pistolnya pada John yang juga sudah terkapar.
"Tahta. Tahta putraku! Bangun, Nak. Ibu mohon bangun...."
Laras menempatkan kepala Tahta di pangkuannya. Tubuh wanita paruh bayu itu bergetar karena tangisannya yang memilukan. Hati Laras hancur melihat kondisi putranya yang bersimbah darah.
Nara memapah Gema mendekati kakaknya. Air mata juga tak henti-hentinya mengalir di wajah mungil itu.
"Kakak. Kakaaak!" Gema menggoyangkan lengan kakaknya dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Tolong selamatkan dia Tuhan, jika sampai sesuatu terjadi padanya, aku tidak akan pernah memaafkan diriku seumur hidup. Kekacauan ini terjadi karenaku. Ibu, Ayah, Yana tolong bantu kakak, tolong.... Nara menundukkan kepalanya dalam-dalam berharap semuanya akan baik-baik saja. Berharap malam menyakitkan ini akan segera berakhir dan orang yang ada di hadapannya ini selamat.
"Nyonya, kita harus segera membawa Tuan Tahta ke rumah sakit," ucap Paman Sam yang baru saja menghampiri mereka.
...Bersambung.......