[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Secret


"Kau tunggulah di sini. Aku akan membeli sesuatu untuk makan malam," ucap seorang pria yang tengah berpamitan pada istrinya dari balik jendela mobil.


Sang istri mengangguk perlahan dengan senyum manis memabukkan menghiasi bibir cantik nan menggoda. Dia menatap punggung suaminya yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu sebuah restoran dengan perasaan berbunga. Matanya melirik ke arah spion mobil memerhatikan lalu lalang orang yang datang dan pergi dari tempat itu. Cinta masih merasa kehidupan pernikahan ini seperti mimpi. Mertua yang menyayanginya, suami yang pengertian dan perhatian. Benar-benar seperti yang dulu dia khayalkan.


Cinta menaikkan kaca mobil tersebut saat angin malam berembus menyapu permukaan kulit dan berhasil meremangkan bulu kuduknya. Lampu tamaram, dan malam yang sunyi dalam kesendirian. Cinta bosan. Dia memainkan hiasan-hiasan boneka kecil pada dashboard mobil, tapi tak juga dapat mengusir kebosanannya.


"Lama sekali. Apa sih yang dia beli, menu satu restoran?" gerutu Cinta sembari membuka dan menutup penghalang sinar matahari di atasnya.


Mata Cinta beralih pada sebuah tempat yang belum terjamah olehnya. Laci dasboard. Tangannya terulur ke arah tempat berwarna hitam tersebut dan perlahan menekannya. Laci pun terbuka menampakkan isi dalamnya yang terlihat berjajar beberapa kertas yang penempatannya sedikit berantakan.


Jari lentiknya mulai meraih kertas-kertas tersebut dan menatanya bertumpuk agar lebih rapi. Namun, kegiatan wanita itu terhenti saat pandangannya tertuju pada sebuah kertas yang ada di pojok dengan posisi rapat ke dinding laci. Ada lambang sebuah rumah sakit beaar yang terlihat jelas di pojok.


Apa Tahta sakit? Kok dia nggak bilang kalau habis dari rumah sakit, batin Cinta sembari meraih kertas putih tersebut.


Perlahan cinta membuka lipatan kertas tersebut. Matanya menajam. Napasnya memburu dan napasnya seolah tercekat di tenggorokan saat wanita itu mulai membaca surat tersebut. Tanpa sadar tangan Cinta terkepal, meremas kertas yang ada kertas yang ada di tangannya. Ujung mata wanita itu memanas. Tatapannya tajam seolah hendak menerkam apapun yang ada di hadapannya.


Cinta memejamkan mata. Bulir bening meluncur dari sudut netranya. Desiran rasa sakit mengalun dalam hatinya seolah tengah meremukkan seluruh bagian tubuh wanita itu. Cinta menelan salivanya dengan berat seolah batu kerikil tengah mengganjal kerongkongannya.


"Hah!" Dia menghela napas berat.


"Jadi wanitamu itu sudah hami. Hebat sekali kalian," gumamnya sembari tersenyum sumir. Senyum yang terlihat miris dan penuh luka.


Cinta melirik jam yang melekat di tangannya. Sudah hampir satu jam, tapi pria yang menjadi suaminya itu tak kunjung kembali juga. Wanita itu menyeka dan membersihkan bekas air mata di pipinya. Menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Dia tengah mengatur emosinya agar tidak mempermalukan diri saat berhadapan dengan pria pembohong itu. Setidaknya Cinta tidak ingin terlihat dengan emosi yang meledak-ledak. Dia harus terlihat elegan dan tenang seperti biasanya.


Wanita itu turun dari mobil dan memilih untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi pada suaminya hingga membuatnya begitu lama. Cinta melangkah elegan memasuki area restoran. Matanya berkeliling menatap satu persatu pengunjung. Jarak meja dalam restoran tersebut tidak begitu rapat, jadi dia tidak perlu bekerja keras untuk menemukan pria yang tengah mengenakan kaos berwarna coklat tersebut.


Netra coklat Cinta seketika terfokus pada sekumpulan orang di ujung ruangan dekat jendela. Suaminya tengah bergurau bersama kelima pria tersebut. Cinta melangkah menuju meja tersebut. Dia sudah tidak tahan lagi dan ingin segera kembali. Namun langkahnya terhenti, ada seorang wanita yang tertutup badan suaminya. Wanita yang dengan manja bergelayut di lengan Tahta sembari bercanda tawa dengan kelompoknya.


Jantung yang baru saja bisa dikendalikan itu kini kembali berpacu. Tangan Cinta terkepal erat hingga buku-bukunya memutih pucat. Wajah Cinta pias. Tanpa terasa setitik air mata bergelayut manja di ujung netranya. Cinta segera menyeka buliran bening tersebut sebelum meleleh jatuh menyentuh pipinya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan untuk saat ini. Kembali dia langkahkan kaki dengan pasti menuju sekumpulan orang di hadapannya.


"Tahta," ucap Cinta tepat di samping suaminya.


Tahta terkesiap. Matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka. Ini benar-benar kejutan besar. Dia melupakan istrinya saat bertemu kawan-kawan lamanya. Tahta yang menyadari arah pandang Cinta dengan perlahan menepis tangan Bella. Tanpa dia sadari seorang pria yang duduk di samping Bella tersenyum licik. Dia menggenggam tangan Bella yang berada tepat di sisi kursinya.


"Ci–cinta?"


"Siapa, Ta? tanya salah satu teman Tahta yang berada tak jauh dari Cinta. Pria berkacamata itu menatap Cinta dengan seksama seolah tengah meneliti wanita di hadapannya tersebut.


"I–ini ...." Tahta terlihat ragu masih dengan menatap Cinta yang mematung di sana menatapnya.


"Wah, selingkuhanmu, ya. Wah ... wah ... wah, apa sekarang kau tengah kepergok. Bella bagaimana ini? Calon suamimu nakal," celetuk pria yang duduk bersebrangan dengan Bella.


"Bukan begitu. Dia–"


"Dia keponakan yang pernah kau ceritakan itu?" ucap Bimo memotong ucapan Tahta.


Tahta menoleh menatap pada Bella. Tatapan mereka bertemu. Mata Bella sudah mulai memerah menatap Tahta seolah tengah menuntut. Tatapan yang terlihat sangat menyedihkan. Pria itu kembali mengalihkan pandangan pada Cinta yang masih berdiri sembari menatap nanar ke arahnya.


"Di–dia keponakan ibuku," ujar Tahta terbata sembari menatap manik mata Cinta dengan mata yang bergetar.


Deg!


Rasanya dunia Cinta runtuh detik itu juga. Semua mimpi, harapan, dan kebahagiaan sudah hancur seiring dengan desiran tombak yang seolah menghunus jantungny. Pria yang berstatus suaminya ini memilih untuk berada di sisi kekasihnya. Bahkan kenyataan ini lebih menyakitkan dari mengetahui tentang kehamilan Bella. Semua rasa sakit berkumpul mencabik-cabik perasaan Cinta hingga terkoyak layaknya cuilan-cuilan kertas yang berserakan.


Sedangkan wanita yang sudah sukses berakting di hadapan semua pria itu terlihat puas. Dia menarik tipis satu sudut bibirnya melihat ketidakberdayaan Cinta. Sekali lagi wanita itu bergelayut manja pada Tahta yang masih terlihat gugup. Rona wajahnya berubah pucat dengan jantung yang serasa mau melompat dari tempatnya.


"Woah, cantik juga keponakan kamu. Kenapa nggak pernah dikenalin ke kita-kita. Sini gabung sama kita," tawar pria yang berada di dekat Cinta.


Cinta kembali menghela napas, menepis rasa sesak yang seolah menekan tubuhnya dan tidak memberikan ruang untuk berpikir. Dia melemparkan senyum dan ikut duduk bersama mereka.


Aku akan mengikuti permainan ini, Tahta. Setidaknya mari kita bermain sebentar meskipun ini pasti akan sangat melelahkan.


"Tadi aku pikir kau ke sini mau melabrak Tahta. Aku sudah menduga itu tidak mungkin. Dia bahkan sudah bersusah payah untuk mendapatkan Bella. Bisa stress kali dia kalo ditinggal bella, ujar Aris rekan Tahta yang berada di seberang Cinta dengan gelak tawanya. Pria dengan gaya rambut cepak dan wajah bulat itu memang terkenal dengan mulutnya yang ceplas-ceplos. Semua kata keluar dari bibir tipisnya tanpa ada penyaringan.


Pria-pria itu tidak paham dengan situasinya. Mereka saling melontarkan candaan, menggoda Tahta dan Bella. Sedangkan teman yang mereka goda itu tidak berkutik sedikitpun. Dia benar-benar dalam situasi sulit saat ini. Di sebelahnya ada istri yang baru saja dia sanggah statusnya, dan di sebelahnya lagi ada kekasih yang tengah mengandung anaknya. Dia juga tidak bisa membuat Bella sedih dan melakukan hal yang tidak-tidak pada janin tersebut, pikir Tahta.


"Aku akan ke kamar mandi sebentar," pamit Cinta dan beranjak dari tempatnya.


Wanita itu berdiri menatap pantulan dirinya yang terlihat menyedihkan di kaca besar kamar mandi. Harusnya sekarang dia makan malam dengan bahagia bersama adiknya, tapi bagaimana bisa dia berakhir dengan makan malam bersama kepedihan ini. Dia berniat untuk memberikan kejutan pada Nana, tapi ternyata anak gadis itu sudah keluar bersama teman-temannya.


Bukankah seharusnya aku tadi pulang saja? Seharusnya aku tadi tidak perlu datang ke tempat terkutuk ini. Jantungku sudah hampir meledak mendengarkan bualan-bualan sampah itu.


Ceklek!


Pintu kamar mandi itu terbuka dari luar membuat Cinta menetralkan ekspresinya kembali. Wanita yang baru saja masuk itu berjalan dengan congkak mendekatinya. Cinta sudah memasang tatapan sinis saat melihat musuh mendekat. Tidak ada hal baik yang akan terjadi saat wanita itu berada di sekitarnya. Dia benar-benar seekor serigala berbulu domba yang nyata.


"Halo, calon keponakan," sapa Bella dengan menekan kalimatnya.


...Bersambung .......


...****************...


Halo, Kesayangan. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga sehat selalu, yaa. Jangan lupa tersenyum untuk membangun aura positif pada dirimu.


Simi selalu mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan kalian selama ini. Tidak ada yang lebih berarti selain mengetahui bahwa kalian selalu menanti kelanjutan kisah ini, My Shining Star. I love you so much.


Simi hanya ingin berpesan pada kawan-kawan yang ingin menyebarkan atau merekomendasikan kisah Bang Tahta, tolong untuk membuat kata yang sopan dan enak di baca, yaa. Jangan sampai kita melukai hati orang lain hanya karena meninggikan orang lainnya. Harus saling menghargai dan mendukung. Oke.


Lope lope sekebon buat kalian.