![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Langit hitam pekat dengan titik-titik air menyelimuti kota Jakarta. Bintang pun tak dapat mengintip sama sekali malam ini. Bau tanah yang terkena tetesan air juga menguar di udara. Sesekali kilatan cahaya putih nampak dari sela-sela awan hitam yang bergerombol di beberapa titik.
Seorang bocah kecil tengah melamun di pinggir jendela, menatap taman yang pagi tadi dia gunakan untuk berlarian bersama sang adik. Suara televisi samar-samar terdengar tengah memutar film Barbie kesukaan adik dari bocah yang melamun itu.
"Oma, kenapa mama nggak balik-balik?" tanya bocah laki-laki itu masih dengan menatap rintikan hujan.
Laras yang tengah menyuapi sang cucu pun menoleh. "Mungkin mama masih bantuin Aunty Nana, Sayang."
Tahta yang sedari tadi duduk di sofa, bangkit menghampiri putranya. Ruang keluarga berukuran besar itu memiliki jendela besar di sisi kenan yang langsung terarah pada taman tengah rumah. Ya, rumah mewah ini memiliki taman terbuka yang lumayan luas di area tengah. Ibu dari nenek si kembar, dulu sangat menyukai tanaman-tanaman hias.
"Kau khawatir dengan mama?" tanya Tahta sembari duduk di sampingnya.
Raja hanya mengangguk ringan. Langit memang begitu gelap, dan kilatan-kilatan petir juga terlihat menakutkan baginya. Saat di desa, mereka berdua biasanya akan langsung mendusel ibunya jika suara guntur sudah mulai datang. Awan pekat dan kilatan petir itu seolah sudah menjadi peringatan bagi mereka bahwa angin dan hujan lebat akan segera datang. Pohon-pohon di sekitar rumah mereka akan menari tak terkendali. Sangat mengerikan.
"Mama sebentar lagi akan pulang, Nak." Tahta mengelus lembut puncak kepala putranya.
Pria dewasa itu menatap sayang Raja yang terlihat gusar. Jari mungil itu terus menerus mengetuk daun jendela dan kepalanya bersandar di sisi kanan jendela.
Hatimu begitu lembut. Aku senang karena kau mewarisi kelembutan Cinta, Nak. Andai aku bisa melihat dan mendampingi pertumbuhan kalian. Jika saja aku selalu ada di saat-saat sulit kalian, apakah aku juga akan mendapatkan perhatian dan kekhawatiran seperti ini darimu? Maafkan papa. Maaf sudah membuat kalian tumbuh menjadi anak yang tidak bisa tenang dengan dunia kalian. Aku tahu pasti hari-hari kalian selama ini tidak mudah. Maafkan papa, Raja. Papa ingin kau tumbuh, bermain, dan berpikir sesuai dengan usiamu. Berhenti untuk terus memikirkan dan mengkhawatirkan orang lain. Kau harus menikmati hidupmu, Nak.
Sesuai prediksi Raja. Hujan semakin deras, bahkan suara hujan itu bisa menyamarkan suara televisi yang sudah disetel dengan volume tinggi. Ruangan yang memang sudah terang itu dibuat semakin terang oleh kilatan-kilatan petir yang diiringi suara gemuruh.
"Oma, Ratu takuuut," rengek gadis kecil yang meringsut pada wanita paruh baya di sisinya.
"Oh, Sayang oma. Kau takut petir? Tak usah takut, Oma di sini. Raja, ayo ke sini, Nak. Jangan duduk di dekat jendela, dingin. Nanti kamu masuk angin. Tahta, ayo bawa anakmu ke mari."
Kini Tahta mengalihkan pandangan pada putrinya yang tengah didekap oleh Laras. Dia sudah membujuk Raja untuk tidur di kamar, tapi bocah itu begitu keras kepala dan memilih untuk menunggu ibunya. Tahta mengangkat tubuh Raja dan mendudukkan bocah itu di sofa.
Tahta mendekati putrinya yang masih berada di pangkuan Laras. Mengelus lembut rambut hitam gadis itu dengan penuh sayang. "Sini gendong Papa, Sayang. Oma tidak akan mampu menahan tubuhmu yang tidak kecil ini," ujar Tahta sembari menarik pelan tubuh putrinya dari Laras.
Ratu hanya bisa menurut saat pria itu mengambil alih tubuhnya dari Laras. Dia tidak peduli siapa yang akan memeluknya, yang pasti dia tidak mau ditinggal sendirian. Dan lagi, pelukan Tahta terasa lebih nyaman baginya. Gadis kecil itu mengalungkan tangannya di leher Tahta, dan menenggelamkan wajahnya di pundak kekar papanya. Ada perasaan hangat yang menjalar di hati Tahta saat mendapat pelukan dari putri kecilnya itu.
"Kapan mama akan pulang, Om?"
Tahta memejamkan mata sesaat. Anak kembarnya itu masih belum mau memanggilnya dengan sebutan papa. Bahkan mungkin mereka masih belum mau menerimanya. Rasa sakit dengan senang hati menggerogoti hatinya saat kalimat sapaan 'Om' itu keluar dari mulut anak-anaknya.
Tahta duduk menyusul putranya, dengan Ratu yang masih berada di pangkuan sambil memeluknya erat. Tangan kekarnya terulur ke samping memeluk Raja. Dia mengelus putranya dengan lembut dan mencium puncak kepala putrinya penuh sayang.
"Mungkin sebentar lagi, Sayang. Nanti akan papa tele–"
Belum selesai Tahta berucap, pintu sudah terbuka lebar dan seorang wanita dengan pakaian sedikit basah melangkah ke arah mereka. Wanita itu jelas terlihat sangat khawatir dan terburu-buru. Namun, dia akhirnya kembali bernapas lega saat melihat kedua anaknya tidak menangis dan telah berada dalam dekapan papanya.
"Kau kehujanan, Nak?" Laras segera bangkit menyambut Cinta.
Cinta melangkah mendekati si kembar dan Tahta yang juga menatapnya khawatir. "Sama papa dulu, ya Mama bajunya masih basah," ucap Cinta saat anak-anak itu hendak beranjak untuk memeluknya.
"Bagaimana Nana? Apa kau sudah menemuinya?"
"Sudah, Tante. Dia masih terlihat lesu, sepertinya karena ditinggal Alex ke luar negeri. Dia juga tidak mau banyak bicara dan menghabiskan waktu untuk mengurus cafenya," jawab Cinta dengan tatapan sendu karena kembali teringat wajah sayu Nana.
Laras hanya mengangguk maklum. Nana masih begitu muda dan Cinta bilang ini adalah kisah cinta pertama gadis itu. Memikirkan harus berpisah dengan kekasihnya selama beberapa tahun, mungkin membuat Nana begitu frustasi.
"Malam ini menginaplah di sini, Nak. Hujan sangat lebat dan cucu-cucuku juga takut petir. Akan sangat berisiko mengemudi di cuaca seperti ini dan membiarkan mereka duduk di belakang sendiri," bujuk Laras yang sebenarnya sangat berharap cucunya bisa terbiasa tinggal bersamanya.
Cinta melirik keluar dari jendela besar di sampingnya. Hujan memang sangat lebat, bahkan tadi dia sedikit kesulitan untuk melihat jalanan saat mengemudi. Wanita itu kemudian melemparkan pandangan pada kedua anaknya, mereka masih berada dalam dekapan Tahta.
"Baiklah, Tante. Maaf sudah merepotkan Tante lagi."
"Ah. Tidak. Tidak sama sekali, aku justru sangat senang kalau kalian mau menginap di sini. Mbok Parmi akan mengantarmu ke kamar, di lemari ada beberapa pakaian lama Tante, kau bisa menggunakannya," tutur Laras lembut namun penuh kebahagiaan.
"Aku akan mengantarmu," sahut Tahta yang sedari tadi hanya memperhatikan Cinta.
Pria itu bangkit sembari mengangkat Raja dalam gendongannya. Kini kedua bahu pria itu membawa beban. Dua bocah yang tidak lagi ringan. Satunya tengah bergelung manja sembari melingkarkan tangannya di leher. Sedangkan bocah laki-laki yang baru saja diangkat itu hanya diam tanpa ekspresi.
Sementara itu, Cinta hanya bisa membuntutinya dengan ekspresi malas. Dia masih merasa kesal padanya. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Dia jengkel karena pria itu seharian tidak mempedulikannya, bahkan tidak memperhatikannya sama sekali, dan hanya fokus pada si kembar.
Apa aku sedang cemburu pada anakku sendiri? Apa aku gila? Tidak-tidak. Aku pasti hanya kesal karena tidak melihat dia lebih menderita dariku, tapi ... saat melihat Ratu yang manja padanya dan tatapan Raja padanya ... Aahk! Cinta menghela napas panjang. Mencoba mengurai kekusutan di otaknya.
"Aah." Cinta meringis saat kepalanya membentur benda keras yang tiba-tiba ada di depannya.
Wanita yang tengah tenggelam dalam pikiranya itu tidak fokus saat berjalan, dan berakhir menubruk punggung Tahta yang tengah berhenti di depan pintu.
"Apa kau baik-baik saja? Apa itu tadi sakit?" tanya Tahta yang berbalik menatap khawatir mantan istrinya. Dia ingin sekali mengelus dahi Cinta, tapi tidak bisa. Kedua tangannya tengah menopang tubuh anak-anaknya.
"Kalau mau berhenti itu bilang-bilang," ketus Cinta sembari mengusap dahi yang sebenarnya tidak terlalu sakit.
"Makanya kalau jalan jangan sambil melamun, Sayang," balas Tahta lembut dan penuh kasih.
Cinta bergidik geli mendengar kata sayang dari mantan suaminya itu. Dia memutar gagang pintu di depannya sembari melirik sinis pada Tahta yang tengah tersenyum lembut. Senyum yang jelas dipenuhi oleh rasa cinta dan kasih.
...Bersambung........
...****************...
Halo, Bestieee. Maaf, ya kalau selama lebaran ini updatenya nggak teratur. Tapi aku selalu berharap dukungan dari kalian, dengan like, vote, sekuntum mawar atau kopi, dan yang pasti komentar kalian. Meskipun aku belum bisa balas satu-satu, aku pastikan aku akan baca semua komentar kalian. Lope lope sekebon, My Shining Star.