![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Mereka bilang kebetulan itu tidak akan terjadi dua kali, tapi nyatanya ... itu terjadi berkali-kali padaku." — Cinta
Cinta melenggang pergi meninggalkan gedung dengan dua puluh satu lantai itu, tanpa berucap apapun pada semua orang yang dia temui. Rasanya wanita beranak dua itu begitu berat untuk membuka mulut saat ini. Dia tak menghiraukan orang-orang yang menyapa ataupun sekedar melempar senyum ramah ke arahnya. Biarlah hari ini dia dianggap sebagai wanita angkuh oleh pegawai mantan suaminya itu, yang pasti dia ingin segera melarikan diri dari tempat yang menyesakkan ini.
"Dasar pria laknat, br*ngsek, tak bermoral, kadal buntung, katak bizer. Awas saja kalau mulut laknatnya itu masih berani bicara omong kosong lagi, aku pastikan giginya akan kucabuti semua," gerutu wanita itu sembari melangkah pasti menuju mobilnya.
"Cinta?!"
Cinta menghentikan langkahnya, memutar kepalanya ke arah kiri saat suara yang begitu familiar memanggil namanya. Wanita cantik itu melemparkan senyum ramah saat netranya menangkap sosok yang tak asing berjalan ke arahnya. "Selamat siang, Tantee."
"Cinta," ucap wanita paruh baya tersebut dengan suara sedikit bergetar. Tanpa membalas senyum ramah mantan menantunya, Laras menubruk tubuh wanita muda itu, dan memeluknya erat seolah takut untuk terlepas kembali.
Cinta sempat terkejut saat mendapati dirinya dipeluk oleh sosok ibu yang begitu dia rindukan itu. Tubuhnya menegang, namun dengan cepat dia menguasai kesadarannya, saat merasakan basah di bagian bahu hem putihnya. Air mata. Dia mengulurkan tangan dengan ragu, membalas pelukan hangat wanita yang pernah dia panggil mama tersebut.
"Apa kau sama sekali tidak pernah merindukanku, Nak?" tanya wanita itu sembari melepaskan pelukannya dan memegang bahu Cinta. Dia menatap mantan menantunya dengan penuh kerinduan.
"Aku sangat merindukan, Tante," jawab cinta dengan senyum tulus. Tangan kanannya mengelus lembut punggung tangan Laras, yang masih bertengger di bahu kirinya.
"Kenapa kau tidak pernah menghubungi wanita tua ini? Jika kau marah pada putraku, kenapa kau juga harus menghukum wanita tua ini? Apa yang akan aku katakan pada ayah dan ibumu nanti? Aku bahkan mungkin tidak punya muka untuk menemui mereka jika mereka masih hidup." Laras menunduk sendu.
Cinta memejamkan mata sesaat. Entah kenapa hatinya terasa nyeri melihat wanita di hadapannya ini menangis. Perasaan ini, perasaan yang sama seperti saat dia melihat ibunya menangis karena kebangkrutan. Itu adalah satu-satunya tangisan yang dia ingat dari almarhum ibunya. Cinta sama sekali tak pernah melihat wanita yang tidak bisa lagi dia temui itu menangis, karena sebagian besar waktunya, dia habiskan untuk berkumpul dengan teman sosialitanya, kecuali setelah hari kebangkrutan itu.
Namun, wanita di hadapannya sekarang ini berbeda. Dia dengan tulus menyayangi Cinta dan adiknya sejak pertama kali bertemu. Saat mereka masih kecil sampai saat mereka memutuskan untuk menjemput keduanya. Meskipun awalnya dia terasa dingin dan canggung, tapi Laras selalu mengawasi dan memastikan mereka tidak kekurangan apapun selama di Malaysia. Mungkin begitulah cara laras menyayangi orang lain. Seperti halnya dengan apa yang dia lakukan pada Gema, putra sambungnya.
"Tante, maafkan Cinta." Cinta merengkuh tubuh Laras. Kali ini matanya terasa memanas, hingga cairan bening meluncur dari pelupuk matanya.
Pertemuan mengharukan itu terjadi begitu tiba-tiba tanpa terprediksi sedikitpun oleh Cinta. Dia berpikir setelah pertemuannya dengan Keluarga Mahardika di rumah sakit itu, dia tidak akan mungkin bertemu mereka lagi. Jakarta begitu luas, dan dia menetap di Bogor. Tidak ada dua puluh persen kemungkinan yang dia pikirkan untuk mereka bisa bertemu lagi. Namun nyatanya, sekarang dia tengah memeluk penuh rindu pada mantan mertuanya.
"Sudah kubilang tutup mulutmu jika itu tidak bermutu." Reza berbisik geram pada manager baru yang ada di belakangnya.
"... tapi itu, kan—"
"Bu Cinta memang pernah menjadi janda, dan pelakunya adalah bos kita."
Kini Hendra semakin dibuat linglung oleh ucapan Reza. Dia melemparkan pandangan aneh sekaligus tidak percaya ke arah Tahta dan Reza bergantian. Sedangkan pria yang tengah mereka gunjingkan terlihat acuh tak acuh, dan masih berkutat dengan pikirannya.
Sedikit demi sedikit, Hendra bisa memahami situasinya. Pria yang tengah frustasi itu adalah mantan suami Cinta, owner Blooming. Bosnya itu tahu Cinta sudah menikah lagi, dan sekarang berstatus sebagai istri orang. Begitulah kesimpulan yang bisa ditarik oleh Hendra dari setiap potongan-potongan kalimat yang didengarnya.
Ah, mungkin Tuhan sedang memberikan jalan untuknya mendapatkan bonus bulan ini, pikir Hendra dengan seringai bodohnya. Ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan tempat spesial seperti Reza. Tidak. Dia tidak sedang memikirkan hal keji. Dia hanya ingin mengamankan jabatannya saja.
"Tapi memang Bu Cinta sudah menjadi janda. Suaminya meninggal dua tahun yang lalu karena penyakit kanker," celetuk Hendra dengan suara yang sengaja sedikit ditinggikan.
Dia berhasil. Dua pria di hadapannya itu dengan kompak menoleh ke arahnya. Terutama si target utama, Tahta. Dia bahkan sampai menekuk dahi, memperlihatkan kerutan di area pertengahan alisnya.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" Kali ini Reza menatapnya serius.
"Tentu saja. Adik saya teman dekat adik Mbak Cinta, itu sebabnya saya menerima Blooming Flower sebagai rekan kerjasama kita," ucap Hendra dengan yakin.
...Bersambung.......
...****************...
Haloo, Bestieee. Maaf baru bisa update malam, yaa. Hari ini hari Senin, kalian tau kaaan hari senin itu hari yang panjaaang. Banyak banget kerjaan. Sampai bertemu lagi besok. Please beri Simi Like, Komen, dan Vote-nya, yaa. Lope lope sekebon buat kaliaaan, My Shining Star.