[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Hubungan Toxic


"Dulu ibu yang memintanya untuk menikah denganku meskipun aku menentang, dan sekarang ... ibu juga yang mengijinkannya meninggalkanku begitu saja. Apa yang sebenarnya ibu inginkan? Apa ibu puas menghancurkan segalanya?" ujar Tahta sembari berusaha menekan emosinya hingga membuat wajah pria itu memerah.


"Yang ibu inginkan hanya agar kau sadar dari kebodohanmu, dan ibu juga memberikanmu seorang istri yang baik, yang sangat mencintaimu, tapi ternyata kau menyia-nyiakannya. Jadi ibu tak punya pilihan lain. Setiap orang berhak mencari kebahagiaan mereka masing-masing. Cinta juga berhak mendapatkan kebahagiaannya, dan itu ... dengan pergi menjauh dari sumber kesedihannya," tutur Laras dengan menekan kalimat terakhir dan menunjuk ke arah putranya.


Pria itu terdiam. Tanpa berkata apapun dia berbalik dan pergi meninggalkan ibunya dengan wajah suramnya. Dia harus segera mencari keberadaan istrinya, hanya itu yang ada di kepala Tahta saat ini karena dia tidak akan mungkin bisa mendebat ibunya.


Laras yang berekspresi datar sedari awal kedatangan putranya tiba-tiba menjadi sendu, menatap punggung Tahta yang semakin menjauh darinya. Dia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Laras mengeluarkan sebuah cincin. Tatapannya terlihat sedih saat teringat pertemuan terakhirnya dengan Cinta.


Siang itu di rumahnya, saat mentari tepat di atas kepala. Seorang wanita cantik menyapanya dengan senyum manis seperti biasa. Laras tidak berpikir aneh karena semua terlihat biasa dan baik-baik saja. Senyum tipis selalu menghiasi wajah ayu menantunya. Canda tawa juga menyatu dengan percakapan keduanya.


Sampai saat tatapan menantu satu-satunya itu berubah sendu dan berkata, "Ibu, maafkan aku."


Saat kalimat itu terlontar, saat itu pula pikiran buruk bergelayut di kepalanya. Laras mulai menegang. Bersiap mendengar perkataan Cinta selanjutnya yang masih dia gantungkan. Ada kegusaran dari air muka wanita muda itu. Dia bahkan sampai menggigit bibir bawahnya karena kegugupan yang menyergapnya.


"Kenapa, Nak?"


"Sepertinya ... hubunganku dengan Tahta sudah tidak bisa dilanjutkan lagi, Bu."


Laras membelalakkan matanya. "Ada apa? Bukankah hubungan kalian semakin dekat. Kenapa tiba-tiba ...."


"Bella hamil, dan–"


"Apa? Tidak mungkin. Itu pasti bukan anak Tahta. Itu. pasti anak selingkuhannya. Putraku tidak akan melakukan hal bejad seperti itu." Napas Laras memburu mendengar jawaban Cinta. Emosinya meledak seketika.


"Ibu, tenanglah dulu, Bu. Aku juga berpikir seperti itu awalnya, tapi setelah melihat perlakuan Tahta padanya ... aku pikir itu mungkin benar-benar anaknya," ujar Cinta sembari tersenyum getir.


"Dari mana kau yakin? Bisa saja wanita iblis itu menjebak putraku. Dua bulan lagi, Cinta. Bertahanlah dua bulan lagi. Aku akan mencari bukti tentang anak itu. Kita lakukan tes DNA sekarang juga."


Cinta membisu, menatap sendu ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu terlihat syok dan menatapnya penuh harap. Tanpa terasa air mata sudah menggenang di sudut netra coklat wanita itu. Dia memejamkan mata, mengusap bulir bening yang sudah bergelayut di pelupuk matanya.


"Maaf aku, Bu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Percayalah, Bu kebenaran akan menemukan jalannya. Cepat atau lambat. Jika anak itu benar-benar anak Tahta ... Ibu juga harus menerimanya. Bagaimanapun juga dia cucu ibu." Meskipun hatinya hancur. Meskipun terasa sakit seolah tertikam pisau, Cinta tetap berusaha tersenyum pada ibu mertuanya.


"Apa kau yakin, Nak?"


Cinta mengangguk perlahan. Sorot matanya tidak bisa berbohong. Kepedihan jelas terlihat dari kedua manik mata yang berair itu. Namun, wanita itu tidak mau lagi menjadi keledai bodoh yang terjerembab dalam lubang yang sama. Dia ingin bergerak maju, entah apapun yang akan terjadi yang pasti, dia tidak mau terbelenggu dalam hubungan beracun ini.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Ibu tidak bisa lagi memaksamu. Kau berhak untuk mendapatkan kebahagiaanmu, Cinta." Meskipun berat, Laras melepaskan Cinta dengan senyum yang terlihat jelas sangat dipaksakan.


"Bolehkah aku meminta bantuan Ibu?"


"Tentu saja. Kau sudah berkorban banyak untuk wanita tua ini."


"Tolong bantu Cinta mengurus surat perceraian ini," pintanya sembari menyodorkan berkas perceraian yang sudah ditandatangani oleh Tahta dan dirinya.


"I–ini ...."


"Dasar anak kurang ajar itu. Bagaimana bisa dia melakukan ini padamu. Semoga dia menyesali perbuatannya itu. Kau tenang saja, Nak. Tuhan akan memberikan balasan setimpal untuk anak si*lan itu," geram Laras mengetahui putranya ternyata telah melayangkan gugatan cerai pada Cinta.


"Ibu, Ibu tidak boleh berkata seperti itu. Aku tidak apa-apa, Ibu jangan khawatir. Dan aku punya permintaan satu lagi. Tolong bantu Cinta dan Nana pergi dari sini. Kita ingin kembali ke Indonesia, tapi tolong jangan biarkan Tahta mengetahui kepergian kita," pinta Cinta dan direspon anggukan oleh ibu mertuanya.


Cinta menyerahkan berkas dari dalam tasnya. Ya, wanita muda itu sudah mempersiapkan seluruh berkas untuk kepindahan dia dan adiknya beberapa hari terakhir. Cinta bangkit dari duduknya setelah selesai menyampaikan keinginannya. Dia menatap nanar wanita paruh baya yang duduk menatap surat-surat di hadapannya itu.


"Ibu ...." Tanpa terasa bulir bening meluncur ke pipi mulusnya. Cinta berhambur memeluk Laras dari sisi kanannya. Menenggelamkan tangisnya di bahu wanita tua itu.


"Terima kasih banyak sudah menjaga kami, dan ... terima kasih banyak sudah memberiku kesempatan untuk memiliki ibu lagi, Bu. Izinkan aku memeluk dan memanggilmu ibu untuk terakhir kalinya."


Laras memejamkan matanya saat air bening menetes dari pelupuk mata wanita itu. Hatinya menghangat sekaligus berdenyut nyeri. Tangannya terulur memegang dan mengelus lembut lengan Cinta yang melingkar di dadanya. Dua wanita itu, saling melepas pedih, kekecewaan, kekesalan, dan amarah mereka.


Pada akhirnya, dia harus benar-benar melepaskan menantunya. Dia melambaikan tangan pada pesawat yang membawa pergi wanita muda bersama adiknya itu. Mereka menjadi penumpang gelap, tidak ada data diri dan catatan apapun tentang keduanya yang Laras tinggalkan. Dia berbalik pergi meninggalkan bandara di malam yang begitu dingin dengan menggenggam sebuah cincin yang Cinta tinggalkan.


"Nyonya," panggil Bi Sumi mengembalikan kesadaran Laras.


"Iya, Bi?"


"Tuan Zain sudah kembali."


Laras mengangkat kedua alisnya. "Bukankah harusnya dia baru kembali besok," gumamnya sembari beranjak untuk menyambut suami berhati dinginnya itu.


"Apa yang kau lakukan di luar sana," tanya Zain datar melihat kedatangan istrinya.


"Hanya mencari angin."


"Benarkah, atau merenungi kegagalanmu karena kehilangan menantu?"


Laras melirik sinis padanya. "Apa kau pulang lebih cepat karena ingin mengolok-olok ku?"


"Pemarah sekali istriku ini sekarang, ya," ujar Zain sembari memegang dagu Laras dan mengarahkan wajah Laras padanya.


...Bersambung .......



...****************...


Haiii, Kesayangan.


Uwuwuwuu, terima kasih banyak atas dukungan kalian. Aaah, aku terharu bangeeettt baca komentar2 kakak-kakak. Lope lope sekebon sehektar sekecamatan buat kalian, My Shining Star.