![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Tahta!" sebuah tepukan kecil di bahu menyadarkan seorang pria dari lamunannya.
"Eh, iya?" Tahta menoleh menatap istrinya yang ternyata sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Kembali Tahta terdiam menatap sendu pada Cinta yang tengah asyik menonton drama ditemani oleh keripik kentang kesukaannya. Sorot matanya seolah mengisyaratkan banyak beban yang tengah dia sembunyikan. Netranya tak sedetikpun teralihkan dari wanita berhidung mancung, dengan rambut digulung ke atas membentuk sebuah sanggul kecil tersebut.
"Kamu kenapa? Aku lihat sudah seminggu ini ngelamun terus? Ada masalah? Mau aku bantu?" tawar Cinta masih dengan menatap layar televisi yang tengah menayangkan drama Ji Chang Wook.
Cinta memutar kepalanya saat tidak juga ad jawaban dari pria yang duduk di sampingnya. Matanya menyipit. Menatap menyelidik pada suaminya yang seolah tak mendengar apapun. Tatapan pria itu terfokus padanya, tapi pikirannya pergi entah ke mana.
Cinta menggeser posisi, mendekatkan diri ke arah Tahta. Namun pria itu tetap tak bergeming. Dicondongkannya tubuh seksi yang hanya berbalut daster tersebut ke arah Tahta.
Cup!
Sebuah kecupan manis mendarat dengan mulus di bibir Tahta, membuat sang pemilik terkesiap. Tahta bahkan sampai sedikit terjingkat karena serangan mendadak dari istrinya tersebut. Dia menatap Cinta dengan keterkejutannya.
"Makanya jangan suka ngelamun, entar kesambet. Aku tahu akutu cantik banget, tapi nggak usah ngeliatin sampe segitunya," ujar Cinta dengan penuh percaya diri.
Sudut bibir Tahta tertarik membentuk sebuah lengkungan tipis mendengar suara renyah yang menggelitik hatinya tersebut. Namun, rasanya berat untuk mempertahankan senyuman itu saat kembali teringat akan tanggungjawabnya.
Malam yang berselimut awan hitam pekat itu seolah tengah mewakili perasaan Tahta. Gelap dan tanpa cahaya. Beragam pertanyaan berputar-putar di kepalanya. Belum ada satupun solusi yang bisa dia pikirkan saat ini. Dia tidak akan mungkin membiarkan Bella dengan kehamilannya, juga tidak akan sanggup melepaskan Cinta yang sudah mulai mengisi sudut hatinya.
"Aku besok akan keluar mungkin pulang malam," ujar Cinta sembari menyenderkan kepala di bahu suaminya.
Pria itu sedikit menoleh, menghirup aroma mawar dari rambut yang menempel padanya, dan satu tangannya mengelus lembut helaian rambut hitam Cinta.
"Ke mana?"
"Siang ke rumah ibu. Sudah lama tidak berkunjung ke sana, Bi Sumi bilang ibu baru pulang dari Indonesia."
"Hmm ... lalu?"
"Malamnya aku mau ngajak Nana makan malam. Besok hari kelulusan Nana, setidaknya aku harus memberi ucapan selamat padanya, kan?" Cinta menoleh menatap Tahta yang juga menatapnya.
Pria itu sedikit memajukan bibirnya diiringi dengan anggukan kepala tanda persetujuan darinya.
"Apa istriku ini tidak mau minta suaminya menemani?"
Cinta mengangkat kedua alisnya. "Apa kau bisa? Bukankah kau selalu sibuk dan selalu pulang malam setiap hari. Aku saja sampai heran kenapa hari ini kau sudah pulang jam segini," ujar Cinta sembari melirik sinis ke arah suaminya.
Tahta membisu menatap istrinya dengan secuil kegugupan yang tak dapat dia sembunyikan. Pria perlahan sedikit menjauh dengan menegakkan kepalanya dan mengalihkan pandangan. Sejak kabar kehamilan kekasihnya itu dia ketahui, Tahta selalu menemui Bella setiap hari. Memastikan bahwa wanita itu tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Meyakinkan kekasihnya tersebut agar mau menunggu sedikit lebih lama.
"Proyek danau biru sedang ada sedikit kendala. Beberapa informasi bocor, jadi aku harus segera menanganinya."
"Aku mengerti," ujar Cinta sembari tersenyum manis pada suaminya. Dia tidak mau menambah beban pada Tahta. Dia juga pernah mengalami, dan melihat bagaimana ayahnya sangat tertekan karena keadaan perusahaan mereka tidak stabil. Kali ini dia hanya ingin memberikan kenyamanan dan support bagi Tahta, melupakan kenangan pahit dan masalalu kelam keduanya.
"Berhubung besok hari Minggu, apa suamiku ini mau m ngantarku?" tanya Cinta sembari menaik turunkan kedua alisnya dengan centil.
Netra coklat Cinta terpejam. Hatinya menghangat. Semua gundah seolah berlalu begitu saja saat dekapan hangat Tahta membungkus tubuhnya.
...----------------...
Matahari telah berada tepat di ujung kepala saat Cinta sampai di rumah mertuanya. Senyum hangat dan pelukan seorang ibu menjadi sebuah hal yang begitu dia nantikan. Meskipun Laras adalah seorang wanita tegas dan sedikit bicara di luar sana, tapi itu tidak berlaku untuk Cinta. Dia selalu menyambut hangat wanita cantik itu semenjak menjadi menantunya. Dia mengerti betul bagaimana hari-hari berat yang harus dilalui wanita muda itu demi membantunya.
Mereka duduk dengan nyaman di ruang keluarga. Saling bertanya kabar dan melempar obrolan, kecuali satu orang yang duduk di ujung kursi. Pria berbadan tegap itu hanya diam menyimak obrolan kedua wanita di hadapannya. Sesekali dia merubah posisi karena merasa tidak nyaman saat ibu kandungnya sesekali melirik sinis ke arah Tahta.
"Apa ayah tidak di rumah lagi, Bu?" tanya Cinta saat mertua laki-lakinya tidak juga menampakkan diri setelah beberapa lama dia berada di sana.
"Kau tahu sendiri dia orang tua yang sibuk. Baginya waktu adalah uang."
Cinta mengangguk perlahan, paham dengan apa yang dimaksud Laras. "Apa ibu bertemu Gema di Indonesia? Bagaimana kabar anak itu?"
Ekspresi Laras seketika berubah. Wajah yang sebelumnya dipenuhi oleh senyum-senyum tipis, kini menjadi datar. Dia menegapkan posisi badannya dan menatap lurus, menghindari tatapan Cinta.
Laras menghela napas berat. "Ya ... seperti biasa. Dia selalu membuat keributan di sana-sini. Paman Sam bahkan sudah beberapa kali harus mengeluarkannya dari penjara.
"Namanya juga anak muda, Bu. Dia sedang mencoba mencari perhatian, dan masih berusaha untuk mengontrol emosi. Dulu terakhir kali Cinta ketemu dia sekitar empat tahun yang lalu, masih anak SMA labil dan hobi manjat pager sekolah," kenang Cinta dengan bibir tersenyum tipis, saat mengingat bagaimana dia menjewer telinga remaja yang merupakan adik tiri suaminya tersebut.
"Sepertinya kalian cukup dekat."
"Enggak juga. Cinta hanya sesekali bertemu dia saat masih kuliah dulu, itu pun keseringan nggak sengajanya, Bu."
"Ibu selalu berharap dia bisa berguna setidaknya sedikit saja, itu sebabnya aku selalu bersikap keras padanya. Pria tua itu tidak akan melepaskannya kalau sampai terjadi sesuatu," ungkap Laras dengan sorot mata menerawang jauh ke depan.
Cinta meraih tangan kana ibu mertuanya. "Ibu tenang saja. Meskipun Gema seperti itu, aku yakin dia anak yang baik dan bertanggungjawab. Suatu saat dia pasti akan mengerti ibu sebenarnya juga sangat menyayanginya."
Dua orang wanita itu saling melempar senyum. Senyum yang seolah sebuah kekuatan yang mereka tukar satu dengan lainnya. Di sudut yang lain, ada pria yang menatap nanar interaksi keduanya. Saat nama adiknya di angkat menjadi topik pembicaraan, saat itu pula perhatian Tahta tersita.
Dulu dia bak dewa pelindung setiap kali adiknya itu mendapat masalah. Namun sayangnya, ayah mereka akan menjadikan Gema sebagai tempat pelampiasan kemarahannya saat Tahta mendapat masalah. Sejak saat itu pula keduanya saling menjaga jarak. Mereka sama-sama berpikir bahwa merekalah penyebab masalah bagi saudaranya.
...Kau sekarang pasti sudah menjadi pria tangguh dan tidak mudah di bully, ya. He, senyum tipis dan sangat samar muncul di bibir Tahta....
...Bersambung .......
...****************...
Cieee yang nungguin Bang Tahta mengudara. Awas yaa habis ini kalo hati kalian jadi jedag-jedug tak karuan. By the way any many busway ... terima kasih buanyaaakkk atas dukungan kalian, Sayang-Sayangku.... Terima kasih banyak juga untuk mawar-mawar yang berhamburan dan vote-vote yang bertebaran.
Lope lope sekebon, My Shining Star.
Iya kalian adalah My Shining Star kuu, bintangku yang selalu bersinar. Bintang yang selalu menerangi kegelapan malam ku. Jadi, teruslah bersinar di mana pun dan kapan pun. Bayangkan jika langit malam itu tanpa bintang, bukankah itu akan seperti sego kucing tanpo karet. Ambyar, Sayang.