[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Semua Pria Sama Saja


Cinta tengah asyik menyesap secangkir latte di food court salah satu mall terbesar bersama rekan-rekannya. Mereka begitu antusias saling melempar candaan tanpa peduli dengan keramaian di sekelilingnya. Para wanita-wanita yang sudah dewasa itu bertingkah seolah ABG yang sedang asyik nongkrong dan lupa dengan usianya. Pelayan hilir mudik mengantarkan makanan di sekitar mereka tanpa kenal lelah. Meja-meja terlihat penuh akan pengunjung melakukan berbagai macam aktivitas, terutama memainkan ponselnya.


"Aku mau ke kamar mandi sebentar, ya," pamit Cinta yang kemudian setengah berlari karena sudah menahan buang air kecil.


Wanita yang mengenakan blouse berwarna coklat dengan celana krem tersebut, merapikan kembali tampilannya setelah melegakan kandung kemihnya. Cinta memoles tipis bibirnya dengan lipstik berwarna merah bata. Namun, sorot matanya menajam tatkala manik coklat itu menangkap sesosok wanita yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Wah, ternyata dunia begitu sempit, yaa," ucap wanita tersebut sambil menyibakkan rambut di samping Cinta.


Wanita yang mengenakan dress melekat ketat pada tubuhnya tersebut menatap pantulan wajah Cinta dari dalam cermin. Sorot mata wanita itu syarat akan kebencian dan persaingan.


Sementara itu Cinta sudah menetralkan ekspresinya. Bersikap acuh seolah tidak peduli dengan lolongan serigala betina di sampingnya tersebut. Cinta merapikan tatanan rambutnya tanpa mengindahkan tatapan sinis dari orang di sebelahnya.


"Ya, aku maklum kalau kau berlagak mengabaikanku. Memang dari awal juga kau sudah bersikap tak tahu malu." Senyum sinis dan sangat beracun muncul di sudut bibirnya.


Bella mengalihkan pandangannya pada cermin dan merapikan make up-nya. "Bagaimana bisa seseorang mengatakan orang lain berkhianat, sedangkan yang berkata itu tidak lebih dari seorang pencuri? Pelakor." Dia menekan kalimatnya yang terakhir.


"Ya ... untuk sekarang kau adalah pelakornya, karena secara hukum dia adalah milikku dan kau hanya seorang simpanan," ujar Cinta sembari mengedipkan satu mata pada Bella.


Cinta hendak berbalik pergi meninggalkan wanita yang saat ini tengah geram dengan dirinya. Ada senyum puas terlukis di bibir Cinta saat membalikkan badannya. Untuk sekarang, dia merasa sudah punya cukup kekuatan untuk melawan wanita di hadapannya tersebut. Dia bukan lagi istri yang diabaikan.


"Heh. Apa yang bisa dibanggakan dari status istri tapi tidak mendapatkan orangnya? Kau bahkan terlihat seperti istri yang menyedihkan." Bella melangkah mendekat ke arah Cinta dengan ekspresinya yang seolah mengejek.


"Apa jangan-jangan kau tidak bisa memuaskan dahaganya di atas ranjang, jadi dia mencari si simpanan ini setiap malam?" bisik Bella tepat di samping telinga Cinta.


Kali ini Cinta sedikit menegang. Sorot matanya berubah tajam dan nyalak. Mana mungkin, bukankah dia bilang akan meninggalkan wanita ini? pikir Cinta.


"Ah ... kau tidak percaya dengan ucapanku, ya? Lihatlah sendiri hadiah yang kubawa. Aku bukanlah orang sepertimu, yang datang tanpa bukti," ucap Bella sembari menyodorkan sebuah amplop kecil berukuran 6x10cm pada Cinta.


Cinta dengan cepat membukanya. Meski jantungnya saat ini tengah berpacu, namun wanita itu mencoba untuk bersikap setenang mungkin. Ada perasaan tak enak dan aneh menjalar di hatinya. Dia tahu betul ini adalah sesuatu yang tidak baik. Cinta mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalamnya.


Mata wanita itu membeliak. Rasa seperti disambar petir di siang bolong menjalar dalam tubuh Cinta. Manik matanya bergetar dan ujung meta wanita itu terasa panas. Segera dia memasukkan kembali lembaran-lembaran foto suaminya yang dicumbu, dan di dekap mesra oleh wanita yang menjadi kekasihnya tersebut. Cinta memejamkan matanya, menepis bulir bening yang hampir lolos dari sana.


"Ck ... ck ... ck, aku tahu di sini banyak terjadi dan banyak aku temui pergaulan bebas, tapi aku belum pernah menemui yang tidak memiliki malu sepertimu. Aku tidak peduli dengan hubungan masa lalu kalian, yang pasti sekarang dia adalah milikku. Kau ingin tau buktinya?" ujar Cinta berjalan satu langkah ke arah Bella.


Bella tercengang. Matanya membulat sempurna dan jantungnya seolah siap meledak saat itu juga. Tangan wanita itu terkepal erat hingga membuat buku-buku jarinya memucat. Cinta tersenyum puas melihat reaksi saingan terberatnya itu. Dia menepuk bahu Bella dan melenggang pergi meninggalkan wanita yang masih mematung dengan segala amarahnya.


"Bagaimana bisa wanita itu ... tidak. Dia pasti hanya ingin membuatku kesal. Aku harus menanyakan tentang ini pada Tahta. Dasar pria si*– ukh!" Ucapan Bella terhenti saat perutnya serasa diaduk.


Dia berlari menuju wastafel dan mengeluarkan isi perutnya yang sudah bergejolak. Sudah tiga hari ini dia merasa kurang enak badan dan rasa mual selalu menghampirinya setiap saat.


...----------------...


Cinta melangkah lunglai masuk ke dalam kamarnya, lebih tepatnya kamar Tahta karena mereka sekarang memilih untuk tidur bersama. Sudah dua minggu semenjak deklarasi perdamaian itu, hubungan keduanya berjalan semakin baik dan manis. Tahta juga menepati janjinya untuk berubah dan membangun keluarga yang ideal untuk Cinta. Pria itu memang tidak lagi keluar malam ataupun pulang malam, tapi Cinta sudah menduga bahwa suaminya itu belum memberi kepastian pada kekasihnya.


Dia duduk termenung di bibir ranjang dan menatap nanar foto-foto suaminya. Hatinya serasa remuk tercabik-cabik hingga tak berbentuk lagi. Desiran rasa sakit menjalar semenjak pertemuannya dengan Bella. Setiap hal yang ditelannya seolah berubah menjadi duri-duri yang menyakitkan.


Cinta tak kuasa. Bulir bening meluncur dari sudut netranya. Tidak ada suara. Namun kepiluan jelas terasa menyelimuti ruangan itu.


"Aku tahu ini sudah lama berlalu, tapi hatiku tetap sakit. Aku percaya kau akan menjaga ucapanmu, Tahta. Aku hanya bisa mempercayainya. Aku memilih untuk percaya padamu." Suara Cinta bergetar karena tangis yang berusaha dia tahan.


Cinta melemparkan amplop di tangannya ke dalam laci. Dia tidak ingin lagi melihat gambar-gambar wanita dan pria telanjang itu. Perasaan jijik menggelayut dan membuat bulu kuduk wanita itu meremang.


"Si*lan. Dasar jal*ng bajing*n. Pria mesum, pasangan tak tahu malu. Awas saja kau Tahta, aku tidak akan mau memberikan jatah lagi. Dasar semua pria sama saja!" Cinta tidak tahan untuk mengumpati keduanya. Dia mengeluarkan semua emosi yang hampir membuatnya meledak itu dengan meninju dan membanting bantal di sampingnya.


...Bersambung .......


...****************...


Fuhh ... akhirnya part-part menyebalkan akan segera hadir. Aku jadi gemes sendiri ngetiknya.


Kemarin dapat surat cinta yang panjangnya luar biasa dari Kak LAJ, aduhh ... rasanya hatiku bergetar dan bibirku tertarik ke samping tanpa henti.


Terima kasih banyak atas support dan sarannya, Kak. Tenang ajaa, novel ini akan tetap berlanjut di NT sampai tamat demi kalian, Bebh.


Maka dari itu Simi butuh support dari Sayang-Sayangku di sini biar selalu semangat lanjuuut. Meskipun Simi jarang bisa balesin komentar satu-satu, tapi pasti aku intip-intip loh. Lope lope sekebon buat kalian.