![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Jangan berkata begitu, Bim. Sudah sewajarnya aku membantuku karena kau juga sudah sangat berjasa padaku," ujar Rudi sembari tersenyum simpul pada temannya tersebut.
Kini wanita yang tengah berdiri di belakangnya semakin tercengang. Matanya membulat sempurna. Napas Cinta memburu. Sekecil inikah dunia? begitulah yang terlintas di kepalanya.
"Aargh," rintih Cinta sembari memegang perutnya yang kembali terasa mulas.
Rudi terperanjat saat mendengar rintihan dari belakangnya. Seketika pria itu mematikan sambungan teleponnya dan menoleh ke arah sumber suara. Dia membelalakkan mata mendapati Cinta sudah meringis kesakitan.
"Ci–Cinta?"
Cinta terus merintih kesakitan hingga terduduk di lantai teras. Wajahnya memucat dan kepalanya terasa berputar. Di tengah rasa mulas dan nyeri yang terasa mencengkeram area pinggangnya, tubuh Cinta tiba-tiba terasa melayang. Wanita itu membuka mata, kini tubuhnya sudah berada dalam dekapan Rudi yang terlihat panik.
"Ibu! Ibu, Cinta mau melahirkan!" seru pria itu sembari meletakkan tubuh Cinta di kursi belakang mobil.
Mira lari tergopoh menghampiri keduanya. Wanita paruh baya itu bergegas masuk mendekat pada Cinta yang terus saja merintih. Rudi sudah duduk bersiap di kursi kemudi.
"Ibu belum bawa barang-barangnya, Rud."
"Biar diantara Rumi nanti, yang penting kita bawa dulu Cinta ke klinik, Bu," ujar Rudi sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Malam menegangkan itu berlangsung hingga dini hari. Suara tangisan dan rintihan Cinta menggema di seluruh ruangan. Ya, itu hanyalah klinik kecil yang terletak di perbatasan desa. Hanya ada seorang dokter kandungan paruh baya dan dibantu tiga asistennya. Namun, pelayanan mereka begitu mengagumkan.
Dengan sabar dan telaten dokter membimbing Cinta. Meskipun wanita muda itu terus saja berteriak kesakitan, namun tidak ada kata-kata yang kurang menyenangkan keluar dari tim medis. Mereka memaklumi. Memang begitulah rasa sakit yang harus dirasakan seorang ibu untuk memperjuangkan anaknya.
Matahari akhirnya mengintip di ufuk timur seiring tangisan bayi yang menggema. Namun, kelahiran bayi itu belum membuat orang-orang bisa bernapas lega. Cinta masih merintih dan Rudi masih terus berdoa sembari menggenggam erat tangan istrinya. Sebuah dorongan yang begitu kuat kembali muncul dari dalam perut Cinta.
Dokter dengan segera memberi aba-aba untuk Cinta kembali mengejan. Seorang bidan muda membantu memberikan dorongan di perutnya karena tenaga Cinta yang sudah mulai melemah.
"1...2...3 dorong!"
"Aaaaghh!" erang Cinta hingga seluruh urat di lehernya menonjol.
"Alhamdulillah ...." Kini semua orang pun melantunkan rasa syukur. Dua nyawa yang sangat dinantikan telah terlahir di dunia.
Rudi mencium lembut punggung tangan Cinta. Air mata sudah menganak sungai di pipinya saat melihat wanitanya merintih kesakitan.
"Kamu hebat, Sayang. Kamu ibu terbaik," ucap Rudi mengecup kening Cinta yang masih terbaring lemah tak berdaya.
Wanita itu 'tak merespon Rudi. Dia memalingkan muka dari suaminya yang nampak kecewa. Banyak tanya berputar-putar di kepala Cinta dan tidak mungkin untuk dia utarakan saat ini. Perasaan takut akan pengkhianat kembali menyergap hatinya. Pria di sampingnya itu terlihat begitu tulus, seolah tak ada celah sedikitpun untuk bisa meragukan ketulusan Rudi. Namun, kenyataan bahwa pria itu mengenal kekasih Bella mematahkan rasa percaya dirinya akan cinta.
Pada akhirnya semua gundah itu melebur bersama rasa sakit dan kebahagiaannya. Cinta meraih tubuh mungil putranya. Sembari memberikan ASI pertamanya, wanita itu sesekali melirik putrinya yang ada di gendongan Mira. Tirta bening kembali luruh di sudut mata Cinta. Dia tidak tahu harus mendahulukan kecewanya atau bahagianya.
Apa kau ingin membuat ibumu ini selalu mengingatnya seumur hidup, Sayang? Kalian tidak adil sekali pada ibu, harusnya wajah ibu yang kalian tiru, batin Cinta sembari mengelus lembut hidung mancung putranya.
"Ibu Cinta, nanti sering-sering belajar menyusui dua bayi sekaligus, yaa. Nanti akan didampingi Bidan Dewi, kalau sudah terbiasa pasti akan lebih mudah dan menghemat waktu," ujar dokter mengalihkan perhatian Cinta.
Ya, dia sudah beberapa kali mencoba menyusui anak kembarnya secara bersamaan, namun gagal. Pada akhirnya sang adik harus mengalah agar kakaknya yang sudah terlihat kehausan bisa meny*su terlebih dahulu.
Wanita itu mengangguk perlahan. Senyum mengembang di bibirnya saat dokter dan perawat berpamitan. Kini ketiga orang dewasa itu saling beradu pandang dalam keheningan. Mira memicingkan mata saat melihat interaksi antara putra dan menantunya. Rudi terlihat gusar menatap istrinya yang tengah menunduk menatap bayinya dengan ekspresi datar.
"Cinta, apa kau sudah siapkan nama untuk mereka?" tanya Mira mencoba membuka percakapan.
Cinta menoleh menatap ibu mertuanya. Dia sedikit melirik ke atas dengan menarik kedua sudut bibirnya ke samping. Alisnya berkerut seolah tengah memikirkan beban negara akibat korupsi yang tiada hentinya.
"Raja dan Ratu. Cinta ingin mereka bisa sekuat dan setegar seorang pemimpin meskipun dikelilingi oleh cinta dan pengkhianatan," ujar Cinta sembari melirik Rudi yang berdiri di samping Mira.
"Aku juga ingin menyematkan nama ayah di belakang nama mereka. Apa ibu setuju?"
Mira mengangguk dengan senyum hangat. "Tentu saja ibu setuju. Ayahmu pasti sangat senang memiliki cucu setampan dan secantik mereka."
"Untuk nama tengahnya biar Rudi yang mencarikan, atau ibu juga boleh." Cinta tersenyum tulus pada Mira. Dia memang kecewa dengan sikap Rudi yang merahasiakan tentang Bimo darinya. Namun, dia masih tetap menghargai kebaikan yang sudah mereka lakukan. Terutama pada Mira yang rela menerima anak-anaknya selayaknya seorang cucu kandung.
Rudi hanya bisa menatap pasrah dengan sorot mata yang begitu sayu. Ya, dia yakin istrinya itu sudah mendengar percakapannya dengan Bimo. Kini rasa takut akan kemarahan Cinta telah menghantuinya. Dia menggigit kecil bibir bawahnya, menatap Cinta yang sedari tadi menghindar dari tatapannya.
"Raja Ravindra Mirza dan Ratu Raina Mirza. Aku menyematkan do'a terbaikku untuk keduanya. Raja dan Ratu, anak papa yang terhebat," ujar Rudi sembari membelai lembut pipi Ratu yang tertidur di samping Cinta.
Cinta mengangkat kepala menatap lekat Rudi yang masih membelai bayinya. Hati wanita itu bergetar saat melihat betapa tulus tatapan mata pria itu. Apa yang menjadi alasannya untuk mencurigai Rudi? Mungkin itu memang hanya sebuah kebetulan bahwa mereka berteman, pikir Cinta. Namun dengan segera Cinta menepis pemikirannya. Tidak ada yang bisa dipercaya jika itu menyangkut tentang Bella dan kekasih gelapnya.
...Bersambung ......
...****************...
Maaf, ya Bebh updatenya telat. Agak sibuk hari ini.
Oh, iya Simi mau ngucapin spesial thanks untuk kakak-kakak yang sudah masuk daftar Top Fans Minggu kemarin. Wooow, Simi terharu....
Terima kasih banyak untuk kakak-kakak di atas dan terima kasih banyak juga untuk kakak-kakak yang lain yang sudah berkenan memberikan dukungan dan semangat kalian untuk aku. I love you, My Shining Star.