[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
All In Lose


Tiga malam berlalu dengan kehampaan. Tiga malam yang terasa seperti tiga bulan. Tiga malam tanpa bisa memejamkan mata dengan tenang. Ada seseorang yang tengah menanti kepulangan orang terkasihnya, dan di sisi lainnya ada orang-orang yang tengah menanti fakta tentang seorang nyawa yang baru saja dilahirkan ke dunia.


Cinta yang sudah sangat gelisah menanti kedatangan suaminya sedari pagi, berhambur memeluk Rudi yang baru saja turun dari mobilnya. Pria itu pun menyambutnya dengan senyum manis yang memabukkan.


"Apa kau sangat merindukanku?"


"Aku mengkhawatirkanmu?" jawab Cinta masih menyandarkan kepala dengan nyaman di dada bidang Rudi.


Tatapan pria itu tiba-tiba saja berubah sendu. Dia mengecup lembut puncak kepala istrinya. Cinta mendengar dan merasakan detak jantung Rudi yang semakin memburu.


"Ayo kita masuk," ajak Cinta sembari melangkah pergi, diikuti oleh Rudi. Sementara mobil sudah kembali melaju untuk mengantarkan Rumi.


...----------------...


Di belahan bumi lainnya, dua keluarga tengah berkumpul di sebuah rumah sakit dengan kelas VVIP. Ruangan yang begitu luas dengan fasilitas lengkap, lebih terlihat seperti kamar pribadi.


Seorang wanita terlihat duduk bersandar di ranjang rumah sakit, dan di sisinya terdapat box bayi dengan nyawa kecil yang tengah tertidur pulas. Sementara itu, suami, kedua orangtuanya, dan ibu mertuanya tengah duduk di sofa. Suasana begitu dingin mencekam. Saling membuang muka tanpa mau bertutur walau hanya secuap kata.


Ceklek!


Gagang pintu yang diputar dari luar dan menimbulkan bunyi itu menyita perhatian mereka semua. Seorang wanita yang sudah ditunggu-tunggu sedari pagi Akhirnya menampakkan diri.


"Silahkan masuk, Dokter Yuli," ucap Laras sembari tersenyum simpul.


Dokter yang sudah berumur itu berjalan dengan tenang. Mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang ada di dekat Laras, dia mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya.


Bella menelan salivanya. Kali ini dia tidak bisa berkutik. Segalanya sudah tamat. Cengkraman tangan pada selimutnya bahkan tidak bisa mengurangi ketegangan dan perasaan takut di hatinya. Netra wanita itu bergetar menatap bayinya.


Maafkan mama, Sayang. Kau harus menghadapi hal buruk seperti ini di hari pertama kelahiranmu, batin Bella dengan setitik air mata menetes di pahanya.


Maya melirik putrinya seolah tengah mencari kebenaran sebelum benda berwarna coklat itu dibuka. Sudah tiga hari dia mendesak Bella untuk mengatakan kebenarannya, tapi wanita itu membungkam mulutnya rapat-rapat.


Yuli perlahan membuka klip pengunci amplop dan mengeluarkan isi dari dalamnya. Tahta menatap tajam kertas berwarna putih fi tangan Yuli. Dia memainkan ibu jarinya yang saling bertaut. Ekspresi pria itu tak kalah tegang dengan Bella yang berada sedikit lebih jauh dari mereka. Dia tak paham dengan pemikiran ibunya. Mereka sudah pernah melakukan ini hasilnya pun sudah dipastikan akurat.


Aku berharap kali ini ibu bisa menerimanya, bahwa dia harus memiliki cucu dari Bella. Aku tahu ibu masih tidak terima dengan kenyataan ini, tapi ... kenapa aku berharap hasilnya negatif. Apa aku adalah ayah yang jahat? Aku berharap bisa membawa bukti dan menunjukkan ketidakbersalahanku pada Cinta. Heh, aku juga belum bisa menerima kenyataan ini. Senyum miris tercetak di sudut bibir Tahta. Pria itu tengah menertawakan dirinya sendiri. Mengasihani nasib buruk yang dia ciptakan sendiri.


"Baiklah, saya akan membacakan hasilnya, tapi sebelum itu saya ingin meminta maaf jika hasil ini nantinya akan mengecewakan salah satu pihak. Saya pastikan tidak ada kecurangan dalam tes ini, karena dari kedua belah pihak juga sudah menempatkan orang kepercayaan masing-masing dan diawasi dengan ketat," jelas Dokter Yuli menatap bergantian empat orang di hadapannya yang terlihat gusar.


Bella sudah terlihat pasrah memejamkan mata dengan tirta bening mengalir di pipinya. Segalanya berakhir, dia tidak tahu lagi nasibnya dan juga Bimo setelah ini. Detak jantungnya bahkan serasa telah mengoyak dada wanita itu.


"Jadi, dari hasil tes laboratorium putri Ibu Bella dan Bapak Tahta tidak ada kecocokan antara keduanya."


Jedar!


Bak petir yang menyambar di siang bolong. Semua orang tercengang, kecuali Laras. Wanita paruh baya itu tersenyum puas. Manik coklatnya tertuju pada Bella yang semakin memucat.


Wanita yang baru saja melahirkan itu semakin gemetar saat mendapati tatapan mematikan dari suaminya. Ya, muka Tahta bahkan kini sudah merah padam. Otot-otot di lengannya mengembang seiring genggaman tangannya yang semakin erat. Pria itu melesat, menekan leher Bella hingga terhempas ke ranjang.


"Anak siapa? Katakan dia anak siapa!" teriak Tahta penuh amarah.


"Tahta! Lepaskan! Lepaskan anakku!" pekik Maya sembari menarik pria yang netranya sudah menggelap dibantu suaminya.


Tahta ditarik menjauh oleh Azam dengan sekuat tenaga. Dia menghempaskan tubuh mertuanya hingga jatuh terduduk, melangkah lebar menuju Bella. Namun langkahnya terhenti seketika saat Maya mendekap erat tubuh Bella yang menggigil ketakutan.


"Tolong ... tolong maafkan putri saya. Tolong!" Maya memohon. Tangis wanita berumur menggetarkan hati semua orang. Bella bahkan sampai menatap nanar pada ibunya. Ini kali pertama wanita itu menunjukkan kepeduliannya. Air mata semakin deras mengalir menganak sungai dari keduanya.


"Katakan padaku, dia anak siapa?" tanya Tahta pelan tapi tajam.


Bella menunduk dengan tangan gemetar. "Dia ... dia ...."


Braak!


"Bi–Bimo?" Bella tergagap dan membeliakan mata melihat pria yang ingin dia lindungi kini malah datang ke ruang persidangan.


"Tahta, aku mendapat laporan dari beberapa perawat ada keributan di sini. Aku minta, tolong jangan bikin keributan di rumah sakit," ujar Bimo dengan tegas.


"Heh!" Pria yang sudah diselimuti amarah itu hanya tersenyum miring pada Bimo.


"Kau ingin melindungi sahabatmu ini? Atau jangan-jangan selama ini kau juga tahu tentang perbuatan kotornya itu?"


"Tentu saja dia sangat tahu. Silahkan lanjutkan penjelasannya, Dokter," sahut Laras dengan tatapan tajam ke arah Bimo.


Kini, Dokter Yuli kembali mengambil selembar kertas lagi dari dalam amplopnya. Kertas dengan logo yang sama. Bimo menyadari ada yang tidak normal dari tatapan wanita paruh baya itu. Dia menautkan kedua alisnya saat dokter mulai mengangkat kertas di tangannya.


"Dengan bantuan asisten Dokter Bimo, Nyonya Laras meminta saya untuk melakukan tes padanya juga, dan hasilnya 99% cocok."


Belum juga reda dari keterkejutannya, mereka kini disuguhi dengan fakta lain yang lebih mencengangkan. Orangtua Bella bahkan sampai membeliakan matanya menatap Bimo.


"Si*lan!"


"Papa!" pekik Bella saat Azam dengan sekuat tenaga melayangkan tinjunya di rahang Bimo.


"Apa kalian berdua syok?" tanya Laras dengan ekspresi penuh kepuasan.


Tahta masih mematung menatap nyalang wanita yang masih resmi menjadi istrinya tersebut. Napas pria itu memburu dan tangannya terkepal erat seolah siap menghantam Bimo sekarang juga. Kini tatapan dia layangkan pada Bimo. Tahta melangkah lebar ke arah pria yang masih berdiri di dekat pintu tersebut.


Bug!


Braak!


Kepalan tangannya melayang tepat di ulu hati Bimo. Pria yang masih terkejut itu terhuyung, tapi dengan sekejap Tahta menyusulnya dengan hantaman di rahang. Pria yang sudah diliputi amarah itu menghajar Bimo membabi buta. Sekuat tenaga Bimo menahan serangan Tahta, namun sayangnya lawannya itu tidak seimbang. Kekuatannya terlalu besar untuk dimentahkan oleh Bimo.


"Tahta! Tahta, tolong hentikan! Tolong jangan sakiti Bimo lagi. Hentikan ...." Bella turun dari ranjang, berusaha menghentikan kemurkaan suaminya.


Kini pria yang sudah babak belur itu dihimpitkan ke tembok, dengan lengan Tahta mengganjal lehernya. Ujung netranya melirik Bella yang tengah berurai air mata di belakangnya.


Tahta tersenyum miring pada Bella. "Kau tahu? Aku juga punya kejutan lain untukmu. Sebenarnya aku ingin menunggu waktu yang tepat untuk hal ini, tapi sepertinya waktu itu datang lebih cepat."


"Za, serahkan berkas itu padanya," perintah Tahta pada Reza yang sudah menunggu di luar ruangan.


"Apa lagi ini? Apa lagi yang kau lakukan anak si*lan?!" seru Azam yang sudah tidak tahan dengan kekacauan yang terjadi.


"Bacakan!" Tahta memberi aba-aba dengan gerakan kepala setelah Reza membuka berkas di tangannya.



...Bersambung .......


...****************...


Halo, Bebh. Apa kabar kalian hari ini? Semoga sehat selalu, yaa.


Kalian ngerasa ceritanya makin nggak seru dan mbulet, yaa? Maaf, ya bukannya mau bikin berbelit-belit dan ribet, tapi outline dan kerangka cerita untuk novel ini sudah tersusun sampai endingnya. Jadi tidak mungkin ada perubahan untuk jalan ceritanya, Sayang.


Semoga kalian masih berkenan mengikuti jalan ceritanya, yaa. Untuk cerita satu ini mungkin memang konfliknya agak lebih lebar dari novel-novel Simi sebelumnya karena tentu saja untuk latihan membuat dark romance dan konflik berat. Tapi ... insyaallah bab-nya tidak akan sampai 200, mungkin sekitar 150. Jadi anggap ini puncak masalah atau All in lose untuk Tahta.


Maaf, yaa jika mungkin sedikit mengecewakan ekspektasi kalian. Lope lope sekebon buat kalian, My Shining Star. See you soon.