![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Aku? Apalagi yang sudah aku lakukan? Aku bahkan sudah tidak menggangumu lagi." Cinta dibuat tak habis pikir dengan ucapan Tahta.
"Kau tidak marah padaku," ujar Tahta sembari mendudukkan tubuhnya dan bersandar di sandaran ranjang.
Cinta tidak menyahuti pria yang hanya mengenakan koas tipis berwarna putih tersebut. Dia malah melayangkan tatapan aneh dan penuh tanya ke arah suaminya.
"Kenapa kau tidak marah padaku? Seharusnya kau marah. Aku sudah memaksamu. Aku sudah membuatmu kesakitan. Bukankah sudah seharusnya kau marah?"
Cinta membuang napas kasar. Sekarang dia paham dengan apa yang dimaksud oleh pria tersebut. Cinta menarik satu sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan tipis.
"Aku tidak merasa punya apapun yang harus aku sesali. Terkadang ada ayam yang ingin mencoba terbang karena berpikir dia punya sayap. Namun nyatanya, dia hanya akan merasa lelah dengan harapannya. Akhirnya, ayam itu memutuskan untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan kemampuan dan tugasnya." Senyum simpul tercetak di sudut bibir Cinta membuatnya terlihat begitu memesona.
Tatapan Tahta perlahan berubah menjadi sendu. Hatinya berdenyut dan terasa nyeri mendengar penuturan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya sejak dua bulan yang lalu itu. Entah perasaan apa yang sedang menggerogoti kewarasannya. Tahta merasa sudah sangat bersalah dan ingin sekali membawa wanita di hadapannya itu ke dalam dekapannya.
"Sudahlah, Tahta. Kau tidak perlu merasa bersalah atau apapun. Perjanjian itu akan tetap berlaku. Aku tidak akan memberatkanmu hanya karena masalah tersebut. Percayalah." Cinta menepuk punggung tangan Tahta perlahan untuk meyakinkannya.
Meskipun dia harus menelan pil pahit karena membohongi dirinya sendiri, Cinta tidak bisa menunjukkan sisi buruknya lagi kali ini. Dia sudah cukup banyak menyusahkan pria yang selama ini sudah selalu membantu dan berada di sisinya. Hanya karena keegoisannya, hanya karena dia merasa tahu segalanya, dia menempatkan Tahta di dalam keadaan yang menyulitkan.
Cinta beranjak dan kembali menarik tangan kirinya dari genggaman Tahta. Namun pria yang tatapannya tidak beralih sedetikpun dari Cinta tersebut kembali menarik lengannya.
"Akh!" seru Cinta saat tubuhnya terhuyung dan mendarat tepat di dada bidang Tahta. Tangan kekar Tahta melingkar di pinggang Cinta dengan satu tangan lainnya berada di bagian kepala.
"Jangan samakan manusia dengan ayam. Ayam melakukan segala hal dengan sesuka hati, tapi manusia memiliki tanggung jawab yang harus dijalani."
"A–apa maksudmu?"
Tahta menempelkan pipinya pada kepala Cinta dengan lembut. "Mari kita perbaiki semuanya. Beri aku waktu untuk memperbaiki kekacauan ini, dan kita mulai lagi dari awal."
Cinta cukup tercengang dengan cara Tahta memperlakukannya. Hati wanita itu menghangat begitu saja. Ingin sekali dia membalas pelukan pria yang sudah menjadi suaminya tersebut. Namun akal sehat dan logikanya menolak. Segera Cinta mendorong tubuh Tahta menjauh darinya dan beranjak dari samping Tahta.
"Tidak perlu. Segeralah bersiap, aku akan menunggumu di bawah." Bergegas Cinta pergi dari hadapan Tahta. Dia tidak sanggup lagi berlama-lama dalam situasi seperti ini. Jika tidak, mungkin hatinya akan kembali jatuh dan semakin remuk redam jika kembali dikecewakan.
Sedang Tahta, dia masih duduk di pinggir ranjang sembari memegangi kepalanya yang terasa berat. Dari wajah tampannya tercetak jelas perasaan putus asa dan kebingungan. Tahta mencengkeram selimut di sampingnya. Bayangan tentang dua wanita yang selalu mengusik hatinya tersebut terus berputar-putar di kepala.
Ucapannya tulus untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia tidak bisa lepas tangan begitu saja setelah melakukan hal itu, tapi dia juga belum yakin dengan apa yang dilakukannya. Di sisi lain, ada Bella. Wanita yang sudah dua tahun mengisi hati dan harinya. Wanita yang sudah membuatnya merasakan cinta dan mengajarkannya tentang cinta.
Dulu kau sendiri yang mendorong dirimu padaku, dan sekarang kau juga yang menolak uluran tanganku. Aku tidak tahu apa kau benar-benar sudah berhenti berharap, atau kau sedang bermain denganku, batin Tahta sembari mengusap wajah bangun tidurnya.
Di tengah kegundahannya, suara ponsel yang ada di atas meja membuat Tahta kembali tersadar dari lamunannya. Dia meraih ponsel berwarna hitam tersebut dan segera membuka pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya.
Bella : Kau di mana, Sayang. Kenapa kau tidak menjawab teleponku dan tidak menemuiku?
Tahta : Maafkan aku, Sayang. Banyak pekerjaan yang harus segera aku selesaikan.
Bella : Aku nggak mau tau, pokoknya aku mau ketemu sekarang.
Tahta : Besok aku berjanji akan menemuimu. Hari ini ibuku sakit dan aku harus menjenguknya.
Bella : Baiklah, aku akan datang ke rumah dan kantormu, dan membuat keributan jika kau ingkar janji lagi kali ini.
Tahta melemparkan benda pipih tersebut ke kasur dan beranjak dari sana. Rasanya semua masalah sedang menekan pria tersebut dari segala arah. Tidak ada sedikitpun ruang baginya untuk bebas bergerak dan bernapas dengan lega. Tahta tidak tahu harus menjelaskan apa ke Bella jika sampai hubungannya dengan Cinta tidak segera dia akhiri. Pria tersebut tidak mau menjadi seperti ayahnya yang dengan mudahnya mempermainkan perasaan seorang wanita. Cukup ibunya saja yang menjadi korban.
...Bersambung ......
...****************...
Hai, Dear. Apakabar kalian? Sehat kan? Sehatlah, jangan sakit-sakit ....
Kalian tau nggak sih apa yang membuat aku excited setelah mengupdate cerita ini? menunggu kemunculan komentar kalian, Dear. Iya, komentar yang muncul dari kalian itu mood booster bangeet. Lope-lope sekebon buat kalian.