[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Senyuman Dalam Tangisan


Ketukan langkah kaki Cinta terdengar begitu lemah menggema di ruangan yang sudah nampak gelap. Wajah pucat itu tertunduk lesu karena bayang-bayang Tahta bersama Bella, wanita cantik yang terus bergelayut manja di lengan pujaan hatinya itu terus terbayang di benaknya.


Suara pintu terbuka saat Cinta sudah menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk yang ada di ruang tengah. Menengadahkan wajahnya ke langit-langit apartemen bernuansa putih dengan tatapan sayu.


"Kakak darimana saja tengah malam baru pulang?" tanya Nana dengan suara parau khas bangun tidur.


Cinta menoleh ke arah gadis berpiyama hitam dengan gambar kucing putih tersebut.


"Aku membuatmu terbangun, ya?" tanya Cinta masih dengan kepala yang tersandar di sofa.


"Hanya jalan-jalan saja. Sudah lama aku tidak melihat suasana tengah malam di kota ini. Kalau kau libur, akan ku ajak menikmati pemandangan malam. nanti," tawarnya dengan senyum simpul yang terkesan dipaksakan.


"Sudahlah, aku bisa pergi sendiri kalau aku sudah lulus SMA. Tidurlah, aku tahu kakak sedang patah hati," ucap Nana dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu meninggalkan wanita yang sedang merana dan gundah gulana dengan semua pemikiran yang menggerogoti hatinya. Cinta menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba menghapus ingatan tentang pertemuan tadi. Namun nihil, kehangatan Tahta pada wanita bernama Bella itu sudah tergambar jelas di kepalanya.


Dia memang sangat cantik. Saat mereka berdua duduk bersama ... terlihat serasi. Senyum getir muncul dari kedua sudut bibirnya yang berukuran medium tersebut–Bibir yang tidak terlalu tipis maupun tebal, alias berukuran medium dengan area cupid’s bow yang tak bergaris jelas, tetapi juga tidak samar-samar. .


Oh Tuhan, apa Kau benar-benar tidak mengijinkan hambamu ini untuk memiliki pria itu? Jika memang tidak, tolong hapus rasa ini dari dalam hatiku, Tuhan. Aku tidak sanggup jika harus seperti ini, tidak sanggup.


Buliran air mata berjatuhan dari pelupuk matanya yang terpejam. Hati Cinta begitu nyeri. Rasanya lebih menyakitkan saat dia kehilangan harta bendanya.


Sementara itu, di tempat lain di jalanan ibukota Malaysia. Seorang pria dengan wajah tegangnya menekan pedal gas mobil dengan kecepatan tinggi. Sepertinya dia sedang terburu-buru dan memikirkan hal yang sangat serius. Dahinya dengan sangat jelas berkerut membentuk gelombang-gelombang yang beraturan.


Pria yang tidak lain adalah Tahta itu memarkirkan mobilnya dengan sembarang di halaman rumah dan bergegas masuk. Dia memelankan langkahnya saat mengetahui lampu rumah sudah gelap. Pria bermata coklat dengan sorot tajam menatap kamar orang tuanya yang ada di lantai dua. Dari bawah tangga, dia bisa melihat dengan jelas pintu kamar Laras sudah tertutup rapat.


Aku harus segera bertanya pada ibu besok pagi. Mungkin ada sedikit kesalahpahaman antara ibu dan Bella saat pertemuan tadi, batin Tahta yang mengurungkan niat untuk menemui Laras.


Tahta menaiki anak tangga satu per satu dengan tidak bersemangat. Beberapa kali dia mengusap wajahnya yang lesu. Merebahkan tubuhnya di kasur empuk berwarna hitam dengan kasar. Dia terlentang dengan netra menatap langit-langit kamarnya.


Bayangan tentang kekasihnya, Bella yang tadi menangis membuat perasaannya tak karuan. Ingatannya kembali pada saat dia mengantarkan Bella pulang dua jam yang lalu.


"Tidak begitu, Sayang. Mereka tidak berniat seperti itu." Tahta mencoba membujuknya agar bisa lebih tenang.


Suasana malam yang hening, ditambah mereka sedang berada di dalam mobil sedan yang tidak besar, membuat isakan tangis Bella terdengar jelas. Tahta menarik tubuh seksi Bella ke dalam dekapannya. Mengelus rambut berwarna agak kemerahan itu dengan lembut.


"Aku akan bicara pada mereka secepatnya. Aku pastikan hubungan kita akan baik-baik saja termasuk dengan orangtuaku."


"Kau janji?" tanya Bella menyandarkan kepalanya di dada bidang Tahta.


Tahta mengangguk perlahan dengan senyum mengembang di bibir. Senyum yang begitu manis dan menenangkan.


"Sekarang masuklah ke rumah, aku tidak akan pergi sebelum kau masuk."


Bella mengecup sekilas pipi Tahta sebelum akhirnya melenggang pergi dengan senyum centilnya.


Apapun yang terjadi kau akan tetap menjadi milikku, Tahta. Aku tidak akan pernah kalah dari siapapun. Kau berada di bawah kendaliku sekarang dan selamanya, batin Bella sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Tahta kembali menutup wajah dengan lengan kekarnya setelah beberapa saat pikirannya melayang. Dia mencoba memejamkan mata dan berharap malam panjang ini segera berlalu. Tahta tidak ingin mengecewakan wanita yang sudah bersamanya selama dua tahun ini. Namun, dia juga penasaran pada sikap ibunya yang seolah memasang tembok besar untuk Bella.


...Bersambung .......


...****************...


Alhamdulillah, akhirnya novel ini terupdate kembali.


Maaf sudah membuat kalian menunggu lama teman-teman. Simi akan berusaha mengupdate kembali novel ini secepat yang Simi bisa.


Tetap jaga kesehatan untuk kalian semua. Semoga hari kita selalu menyenangkan, My Shining Star.