![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Bacakan!" Tahta memberi aba-aba dengan gerakan kepala setelah Reza membuka berkas di tangannya.
Reza mengangguk. "Saya kira semua orang yang ada di sini sudah tahu tentang kasus proyek danau biru."
Deg!
Sepasang kekasih gelap membulatkan mata menatap Reza. Sementara itu para orangtua hanya menatap bingung mendengar ucapan asisten pribadi Tahta tersebut.
"Setelah melakukan penyelidikan, saya menemukan beberapa bukti bahwa Nona Bella telah mencuri data perusahaan dan menghapusnya."
Orangtua Bella terperanjat mendengar penuturan Reza.
"Jangan asal bicara, ya Anda. Saya akan menuntut Anda atas pencemaran nama baik dan saya pastikan Anda membusuk di penjara," seru Azam dengan amarah yang membuncah.
"Silahkan lihat bukti laporan pemeriksaan sidik jari ini. Di sini dengan jelas tertulis sidik jari Nona Bella ada di laptop dan flashdisk Pak Tahta. Dan satu lagi," ucap Reza sembari mengeluarkan beberapa lembar foto dari balik berkasnya.
Kini semua orang kecuali Tahta dibuat tercengang dengan beberapa foto yang ditunjukkan oleh Reza.
"Dari rekaman CCTV ini terlihat Nona Bella bertemu dengan Anda menyerahkan sebuah flashdisk dan tidak lama setelah itu Anda bertemu salah satu kaki tangan dari perusahaan HD dan Anda menjual flashdisk yang telah diberikan oleh Nona Bella. Dengan kata lain kalian berdua telah bersekongkol menjual data rahasia perusahaan Mahardika."
"Omong kosong!" pekik Azam dengan emosi menggebu.
"Dia istri Tahta, sudah sewajarnya jika sidik jari putriku ada di mana-mana, tidak mungkin putriku melakukan hal bodoh seperti itu. Perusahaan kita dan perusahaan Mahardika tidak ada masalah dan kami juga bukan pesaing bisnis. Jangan asal bicara Anda!"
"Kalau begitu, biarkan pihak yang berwajib menyelesaikan masalah ini," ujar Tahta dengan nada dingin sembari melirik sinis Bimo yang masih dalam cengkeramannya.
"Tidak!" seru Bella tiba-tiba membuat semua orang menoleh padanya.
Air mata mengalir menganak sungai, di tambah dengan wajahnya yang pucat pasi, membuat wanita itu terlihat begitu menyedihkan. Tubuh sintal itu menyusut, dengan kedua lututnya bertumpu di lantai, Bella duduk dan mengatupkan kedua tangan ke arah Tahta. Mata Bimo membola melihat aksi Bella.
"Tolong jangan lakukan itu, Tahta. Aku mohon ampuni kami. Kau bisa mengambil segalanya, aku akan mengganti semua kerugianmu, tapi aku mohon ... aku mohon jangan penjarakan Bimo dan aku. Tolong berikan kami kesempatan untuk membesarkan bayi kami, Tahta. Aku mohon." Wanita itu bahkan bersujud di bawah kaki suaminya.
Dia tidak lagi peduli pada rasa sakitnya pasca melahirkan. Bahunya berguncang seiring isakan tangis yang tak bisa dia tahan. Bimo bergerak berusaha melepaskan diri dari Tahta. Pria dengan mulut berdarah itu menatap nanar kekasihnya. Hatinya terasa lebih sakit melihat Bella seperti ini, daripada tubuhnya yang penuh lebam.
Tahta semakin mengetatkan rahang melihat sikap Bella. Lengan kekar itu menghimpit Bimo semakin kuat seolah ingin membunuhnya saat itu juga.
*Si*lan kau wanita j*lang, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Cinta. Aku telah membesarkan seekor ular betina yang sangat berbahaya. Bisa-bisanya kau di situasi seperti ini kau berlutut untuk b*jing*n ini.
Bug!
Sebuah tinju melesat kencang ke perut Bimo hingga pria yang sudah tak berdaya itu terkapar dan meringkuk kesakitan. Netra bak busur panah dengan nyala api di ujungnya itu melirik sesosok bayi yang terbaring dengan tenang. Jantung Tahta semakin berdegup tak beraturan. Ada sesuatu yang seolah hampir meledak di kepalanya. Kini ekor terarah pada Bella yang masih bersujud di hadapannya.
"Kau bersujud untuknya bukan? Hah!" Tendangan kakinya mendarat di punggung Bimo.
"Tentu saja aku akan mengambil apa yang harus aku ambil darimu. Za, suruh j*lang itu menandatangani berkasnya."
Reza melangkah mendekati Bella. Menyodorkan sebuah kertas dan bolpoin pada wanita itu. "Ini berkas perceraian dan ini adalah surat pemindahan aset. Silahkan Anda tandatangani."
"A–apa maksudnya? Tahta! Jangan keterlaluan kau. Bagaimana bisa kau mengambil aset putriku?" Azam menatap nyalang menantunya.
"Ayah dari cucu Anda membusuk di penjara?" sambung Tahta menekan setiap kata dari kalimatnya.
"Tidak! Aku akan menandatangani ini. Aku akan melakukan apapun, tolong lepaskan kami," pinta Bella dan bergegas membubuhkan tandatangan di setiap halaman berkas tersebut.
Maya membulatkan mata saat putri satu-satunya menorehkan tinta di atas kertas yang akan menghancurkan masa depannya itu.
Plak!
Bella tersungkur saat sebuah tangan mendarat di pipinya diiringi dengan suara teriakan Maya. Sementara Tahta, dia berlalu pergi begitu saja setelah mendapatkan tanda tangan Bella. Sebelum melangkah keluar pintu, sekali lagi dia memberikan hadiah terakhir pada Bimo. Sebuah tendangan yang kembali membuat pria itu tersungkur.
"Kau gila, Bella. Ayah bekerja keras untuk memberikanmu segalanya, tapi demi pria brengs*k itu kau lepaskan segalanya. Apa yang sudah dia berikan padamu, ha?"
"Dia sudah memberikan segalanya," sahut Bella dengan nada tinggi.
"Dia memberikan apa yang tidak aku dapatkan darimu. Dia memberikan apa yang sangat aku butuhkan dan kalian tidak pernah beri padaku."
Plak!
Azam kembali mendaratkan tamparan keras pada putrinya. Bella menyembunyikan wajahnya, memegang pipi yang terasa semakin memanas.
"Berani sekali kau berkata begitu padaku! Anak kurang ajar! Tinggalkan dia. Tinggalkan pria miskin tidak berguna itu," ujar Azam sembari menunjuk ke arah Bimo.
"Tidak! Dia ayah putriku. Aku tidak akan pernah meninggalkannya!"
Azam kembali mengangkat tangannya mengambil ancang-ancang untuk memukul ibu muda itu, namun sekuat tenaga Bimo mendekati Bella. Membawa tubuh Bella yang dingin ke dalam dekapannya.
Maya melangkah menahan lengan suaminya yang hendak memukul Bimo. Azam melirik Maya yang menatapnya seolah memohon pengampunan untuk mereka. Pria paruh baya itu pada akhirnya menurunkan tangan dengan kesal. Menatap Bimo dengan tatapan membunuhnya.
"Hiduplah sesukamu. Mulai hari ini kau bukan putriku. Aku tidak peduli kalian hidup miskin ataupun jadi gelandangan. Tidak akan aku biarkan kau menyentuh harta yang sudah susah payah aku kumpulkan," ucap Azam sebelum akhirnya berlalu pergi dengan penuh amarah, diikuti oleh maya yang juga melirik sinis pada Bimo.
Tangis Bella pecah setelah ruangan itu sepi. Tangis kekasihnya yang kini terdengar begitu jelas terasa menikam hati Bimo. Dekapannya semakin erat. Bulir air mata yang coba dia tahan pada akhirnya luruh juga.
Mata hitam itu melirik putrinya. Maafkan Papa, Sayang. Papa tahu kesalahan Papa tidak akan termaafkan, tapi Papa berjanji akan melakukan yang terbaik untuk kalian. Setelah ini, Papa berjanji tidak akan membiarkan kau dan Mama bersedih lagi."
"Maafkan aku, Sayang. Aku sangat bodoh. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Benar kata Tahta, aku pria b*jing*n. Tolong maafkan kebodohanku."
Angin telah membawa kata yang ingin keluar dari mulut Bella. Hanya isakan tangis yang sudah bisa menjelaskan segalanya tanpa harus dia berkata. Pada akhirnya senja itu hanya sementara. Kini pekatnya malam telah menyelimuti keduanya.
...Bersambung .......
...****************...
Haloo, Everyone.
Akhirnya bisa terupdate setelah beberapa hari gagal dan tidak juga lolos riview dari admin. Terima kasih banyak sudah menunggu, Kesayangan.
Lope lope sekebon buat kalian, My Shining Star.