![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Senyum getir terukir di wajah Cinta. "Ya, tentu saja yang kumau sangat banyak, tapi aku tidak yakin kau akan sanggup mengabulkannya."
Mata elang Tahta menatap nyalang ke arah Cinta seolah siap untuk mencabik musuhnya. Ada isyarat yang kurang bagus baginya dari perkataan tersebut. "Jangan bermain trik kotor padaku."
Cinta berdecih. "Ya, memang aku suka dengan yang kotor. Karena berani kotor itu baik. Daripada yang sok bersih tapi ternyata busuk di dalam," ujar Cinta dengan senyum sinis di akhir kalimat.
"Cinta!" seru seorang manager perusahaan tersebut. Emosinya sudah mulai tak terkontrol saat menyinggung tentang kekasihnya.
"Sudahlah, tidak usah menggunakan emosimu itu. Aku hanya ingin menawarkan perdamaian dan kerjasama di sini."
Tahta menyipitkan matanya. Perdamaian macam apa yang bisa diberikan orang semacam dia, pikir Tahta. Kecurigaan dan pikiran buruknya masih tetap bergelayut manja di kepala. Sulit untuk bisa mempercayai begitu saja ucapan seorang wanita yang sudah menjebaknya.
"Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Cinta sembari menatap aneh Tahta.
"Katakan."
"Aku bersedia bercerai denganmu, tapi ... berikan aku waktu enam bulan. Setelah enam bulan aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Tidak lama, kan? Setelah itu kau bisa bebas berhubungan dengan kekasihmu itu."
"Kenapa enam bulan?" Tahta semakin memicingkan matanya mendengar permintaan wanita yang menjadi istrinya tersebut.
"Ya ... karena aku berharap ada keajaiban di lima bulan ke depan." Senyum simpul terlukis di wajah ayu Cinta.
Cinta mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya. "Aku akan menandatangani surat ini di sini, dan akan aku serahkan saat waktunya tiba," ujarnya sembari membubuhkan tanda tangan di atas surat perceraian tersebut.
Tahta menelan salivanya seolah itu sesuatu yang mengeras di tenggorokan. Rasanya begitu aneh. Melihat Cinta yang dengan santai membubuhkan tanda tangan di surat perceraian itu membuat hatinya berdenyut. Kedua tangan kekar Tahta mengepal erat. Bukankah seharusnya aku senang melihat ini? Apa yang membuatku begitu kesal sekarang? Si*l.
"Lihat, aku sudah melakukan permintaanmu. Sekarang mari hidup dengan nyaman selama lima bulan ke depan. Anggap saja aku seorang penyewa rumah." Cinta kembali memasukkan kertas tersebut ke dalam tas dan beranjak dari tempatnya.
Tahta tetap tidak bersuara. Dia hanya menatap dalam-dalam ke arah Cinta, seolah banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang."
Cinta berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah ringannya. "Oh iya, terima kasih banyak sudah menjagaku semalam," ucap Cinta tiba-tiba dengan senyum yang begitu manis, dan langsung melenggang pergi begitu saja.
Netra hitam pria yang ada di seberang meja itu membulat sempurna. Tanpa dia sadari telinganya memerah. Si*l! Bagaimana mungkin dia bisa tahu. Jangan-jangan dia ... haah! batin Tahta sembari mengusap kasar wajahnya yang tampan.
...----------------...
Di sudut kota yang lain namun di waktu yang sama, seorang wanita dan pria yang sudah berumur tengah beradu argumen. Di sini pria itu ada seorang wanita yang terlihat lebih muda dan seksi bergelayut manja sembari tersenyum miring pada wanita yang ada di hadapannya.
"Heh! Apa bedanya denganmu? Kau bahkan tidak akan ingat untuk pulang saat bersama teman-temanmu itu. Lihat dirimu, kau sudah setua ini dan kau masih mabuk-mabukan saja. Menjijikkan."
"Apa kau bilang? Menjijikkan? Ini semua karenamu. Kau yang membuat aku menjadi seperti ini. Kau! Dan kau j*lang si*lan! Pergi kau dari rumahku! Pergi!"
Bella baru saja hendak menuruni tangga saat keributan itu menyapa indera pendengarannya. Dia melihat sepasang suami istri yang bertengkar seperti biasanya sembari menuruni anak tangga dengan langkah santai. Ya, mereka adalah orang tua Bella. Pertengkaran di antara keduanya sudah seperti hal yang lumrah bagi Bella. Wanita yang sudah terlihat rapi dengan dress berwarna merah itu melangkah melewati mereka begitu saja.
"Bella! Mau ke mana kau jam segini?"
"Bukan urusan, Papa," jawab Bella dingin dan melenggang pergi meninggalkan mereka.
Wanita bertubuh seksi tersebut melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia memperhatikan kaca spion dengan seksama. Ada sebuah mobil yang sedari tadi mengikutinya. Direm*snya kemudi mobil dengan kesal. Tidak ada ruang untuk bernapas baginya akhir-akhir ini. Bella menekan tombol berwarna hijau di ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo, lakukan sesuai rencana," perintahnya saat sambungan telepon terhubung. Senyum licik terukir setelah Bella mematikan panggilannya.
Tidak lama kemudian, sebuah sedan hitam di perempatan jalan tiba-tiba saja menyeberang setelah Bella berlalu. Tentu saja mobil yang mengikuti Bella tidak bisa menghindari sedan tersebut. Tabrakan pun tak bisa terhindarkan. Bella tersenyum puas menyaksikan kejadian di belakangnya dari kaca spionnya.
"Honey, aku menunggumu sangat lama," keluh seorang pria yang menyambut kedatangan Bella di sebuah vila mewah di pinggir kota.
"Ada beberapa masalah yang harus aku bereskan, Sayang," jawab Bella sembari memberikan kecupan mesra pada pria yang menjadi kekasih gelapnya tersebut.
"Aku sudah sangat merindukanmu, Honey." Bimo sudah mulai melancarkan aksinya. Tangan nakal itu sudah bergerilya di balik dress mini Bella yang ketat menampakkan seluruh tonjolan tubuhnya.
Malam mereka begitu panas. Melupakan semua kegaduhan dan keresahan yang telah mereka lalui setiap harinya. Ya, begitulah cara Bella mencari kasih sayang dan cinta yang selama ini dia rindukan. Memuaskan dahaganya atas kasih sayang yang tak pernah secuil pun dia dapatkan dari keluarganya.
Bimo adalah pria yang selalu mengulurkan tangannya saat Bella mulai lelah dengan keadaan. Pria yang begitu lembut dan perhatian. Pria yang begitu terkenal di universitas karena kepiawaiannya dan dikenalnya saat semester pertama. Dia begitu mencuri perhatian.
Saat itu Bella begitu frustasi dengan kehidupannya, dia menangis pilu di atas gedung universitas. Bella lelah dengan keadaan yang begitu kacau. Dia berusaha menenggak semua obat penenang yang ada di dalam botol. Beruntung Bimo melihatnya, pria itu segera merampas botol tersebut dan memeluk erat tubuh Bella yang bergetar karena tangisan. Sejak hari itu, Bella tidak mampu untuk mengalihkan pandangan darinya sedetikpun. Perhatikan Bimo sudah seperti candu baginya, dia rela memberikan dan melakukan segalanya jika itu untuk Bimo. Termasuk menjadi kekasih Tahta.
...Bersambung .......
...****************...
Alhamdulillah update lagi. Ngomong-ngomong nih, kalian sudah oke belum sih sama cover Bang Tahta? Atau mau ganti cover? Kira-kira kalau ganti konsepnya gimana, yaa? Kasih masukan buat Simi dong, teman-teman.
Oh iya, terima kasih banyak sudah mau menunggu dan mendukung Simi. Kalian pasti nunggu Bang Tahta jadi duren kualitas premium, yaa. Ciee ....