[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Lebih Cocok Menjadi Aktor


Seorang wanita muda dengan riasan bold melangkah pasti menyusuri koridor sebuah hotel mewah bintang lima. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi urat halus kemerahan dapat terlihat di wajah yang putih tersebut.


Wanita yang tidak lain adalah Bella itu menghentikan langkahnya. Ekor matanya melirik ke arah belakang. Sepertinya ada sesuatu yang janggal.


Aku merasa ada yang memperhatikanku akhir-akhir ini, batin Bella sembari melirik ke area sekitarnya.


Dia kembali melangkah kali ini dia mempercepat ayunan kaki jenjangnya. Perasaan diikuti oleh seseorang itu semakin besar. Dia yakin ada yang terus memperhatikan setiap gerak-geriknya sedari tadi. Bella menatap penunjuk arah yang mengarahkannya ke arah toilet. Dengan segera wanita itu masuk ke dalam dengan perasaan gelisah.


"Si*l! Aku sudah menduganya, wanita tua itu pasti m ngirim mata-mata padaku," geram Bella.


Wanita berambut pendek sebahu tersebut segera menghubungi seseorang yang sudah menunggunya sedari tadi. Siapa lagi jika bukan Bimo, kekasih gelapnya. Mereka akan menyempatkan waktu bertemu secara pribadi di tengah-tengah acara pembahasan proyek. Hubungan mereka memang sangat dekat sejak di universitas. Jadi, keluarga Bella pun tidak berpikir bahwa keduanya memiliki hubungan yang mendalam. Bimo adalah pemuda yang piawai dalam pekerjaannya. Di usianya yang masih muda, dia berhasil menancapkan kukunya dengan mudah di rumah sakit terbesar di Malaysia tersebut. Rumah sakit yang juga menjadi rekan bisnis keluarga Bella.


"Halo, aku tidak bisa menemuimu sekarang. Ada seseorang yang mengikutiku," ujar Bella yang terlihat gelisah.


Siapa yang berani mengikutimu? Atau ini hanya alasanmu saja untuk menghindari dariku? Kau sudah terpikat oleh b*jing*n itu?


"Tidak, Bim. Aku bersumpah bukan karena itu. Aku benar-benar sedang diikuti sekarang. Kita bicarakan ini besok di villa keluargaku. Aku akan ke sana dengan Sharon, dia tidak akan mencurigaiku jika aku pergi bersama sepupuku." Bella segera mematikan sambungan telepon setelah mengatakan rencananya.


Wanita itu menatap pantulan wajahnya di kaca besar toilet. Menata rambut, dan memoleskan kembali lipstik di bibirnya agar terlihat lebih segar. Setelah menenangkan diri, Bella melangkah keluar dari kamar mandi. dengan wajah yang sudah kembali datar tanpa ekspresi. Dia bersikap seolah tidak tahu menahu tentang hal yang dilakukan seorang pria berpakaian kasual di belakangnya.


"Kau sudah kembali, Nak." Ayah Bella menyapa dengan senyum ramahnya.


Heh! Dia lebih cocok menjadi aktor yang meraih piala Oscar dibandingkan menjadi seorang pengusaha, gumam Bella dalam hati sembari membalas senyum ayahnya.


Bella melangsungkan kembali makan malam bisnis tersebut, tanpa masalah apapun. Sedangkan di tempat lainnya, kekasih Bella sedang terlihat panik di dalam apartemennya. Dia baru saja sampai rumah saat waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Pria itu menggeledah ruang kerjanya, membuka setiap laci satu persatu.


"Di mana aku menaruh flashdisk itu?" gumamnya saat tidak juga bisa menemukan benda yang dicarinya.


Dia memijit pelipisnya, mencoba mengingat kembali di mana dia meninggalkan benda yang harus dia gunakan untuk rapat besok lusa.Di dalamnya ada file yang sangat penting untuk proyek danau biru. Proyek yang digadang-gadang akan menjadi batu loncatan ayahnya untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. Sebuah proyek pembebasan lahan dan menjadikannya sebagai perkebunan dan pabrik pengolah bahan pangan, agar bisa memberikan pekerjaan bagi warga sekitarnya. Ini adalah proyek yang sangat diimpikan oleh Zain, dan Tahta sudah berjanji akan memenangkan proyek ini demi ayahnya.


"Aku akan mencarinya di rumah," ujar Tahta dan segera berbalik pergi menuju rumah orangtuanya.


Pria itu terburu masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan para asisten rumah tangga yang berusaha menyapanya. Mereka terlihat sedikit tertegun saat tuan mudanya itu datang ke rumah malam-malam begini. Sudah sejak perseteruannya dengan Laras, Tahta tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah besar tersebut.


"Tidak, Bi. Saya hanya ingin mencari flashdisk, mungkin ketinggalan di kamar," jawab Tahta dan melangkah menaiki tangga, begitu juga Bi Sumi bergegas pergi dengan nampannya di tangannya.


Tahta bergegas menggeledah almari dan lacinya di dalam kamar, dan benar saja. Flashdisk berwarna hitam dengan garis merah di bagian samping tersebut tergeletak di laci kamarnya. Mungkin tertinggal saat dia terburu-buru pergi kemarin, pikir Tahta. Pria yang hanya mengenakan kaus oblong berwarna hijau lumut dan celana cargo tersebut memasukkan barangnya ke dalam saku. Saat hendak membuka pintu, dia teringat akan barang yang dibawa oleh asisten rumah tangga kepercayaan ibunya.


"Tadi Bi Sumi bawa mangkok isinya air sama handuk, kan? Apa Ibu sakit?" gumam Tahta dengan dahi berkerut.


"Coba aku lihat saja, setidaknya dia masih ibuku."


Tahta melangkahkan kakinya menuruni anak tangga sembari mengedarkan pandangannya. Dia mencari seseorang yang bisa menjadi narasumber baginya, untuk mengulik info tentang apa yang terjadi di rumah tersebut. Hingga akhirnya netra hitam pria tersebut menangkap sesosok wanita yang dicari-cari olehnya keluar dari sebuah kamar.


"Bi Sumi." Tahta membuat wanita yang sudah berusia senja itu sedikit terjingkat kaget karena tiba-tiba berdiri dibelakangnya yang hendak menutup pintu.


"Tuan Muda ngagetin Bibi saja," keluhnya sambil memegang dada yang jantungnya berdebar kencang tersebut.


"Siapa yang make kamar ini? Ada yang sakit, Bi?"


Bi Sumi terlihat sedikit gugup saat mendengar pertanyaan Tahta. "Itu ...."


"Ibu sakit?" sela Tahta yang tidak sabar menunggu jawaban.


Tahta melewati Bi Sumi dan merangsek masuk ke dalam kamar yang sedianya untuk tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Sangat aneh jika ibunya sakit dan menempati kamar tersebut, pikir Tahta. Pria itu mengerutkan kening, saat melihat Laras tengah duduk di pinggir ranjang, sembari membolak-balik handuk basah di tangannya.


Laras menoleh saat mendengar suara pintu yang tiba-tiba saja terbuka. Wanita paruh baya tersebut sedikit tercengang menatap pria yang tengah berdiri mematung di depan pintu.


Pria dengan rambut sedikit berantakan tersebut, mengarahkan pandangan pada seorang wanita muda yang terbaring lemah di atas kasur. Dia memperhatikan dengan seksama wajah pucat yang terlihat gelisah dalam tidurnya tersebut. Wanita yang sangat familiar baginya, yang sudah dua hari ini tidak menampakkan batang hidungnya di rumah. Ternyata dia sedang terbaring tak berdaya di rumah orangtuanya. Ini kali pertama Tahta melihat Cinta yang lemah dan kesakitan.


...Bersambung .......


...****************...


Tolong dukung selalu karya ini dengan memberikan Like, Komentar, dan Vote agar Simi selalu semangat juga untuk update ya, Sayang. Insyaallah Simi akan selalu berusaha menyelesaikan setiap karya yang sudah aku mulai. Lope lope sekebon buat kalian.