![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Bimo sudah berada di rumah orangtuanya beberapa hari, dan beberapa hari itu pula dia mendapatkan sedikit informasi. Orang yang telah mengusik Kedamaian desa itu adalah Zain Mahardika. Dia ingin merebut lahan yang dimiliki oleh ayahnya dengan alasan ayah Bimo tidak memiliki berkas resmi atas kepemilikan tanah tersebut. Tentu saja pengusaha yang punya kuasa itu juga sudah bekerjasama dengan orang atas untuk merebut tanah tersebut dari keluarganya.
Bimo malam itu tengah mencoba menggali informasi sedalam-dalamnya tentang kepemilikan tanah sebelum berada di tangan ayahnya. Dia sibuk memainkan jari-jarinya di atas keyboard komputer, tapi aktivitasnya terhenti saat salah satu pegawainya membuka pintu dengan tergesa.
"Ada apa?" Bimo mengernyitkan dahi melihat pegawainya yang terlihat pucat dan gugup.
"Itu ... mo–mobil Pak Ihsan kecelakaan dan tenggelam di danau."
Deg!
Seketika itu juga jantung Bimo serasa berhenti berdetak. Tubuhnya menegang dan pupil matanya bergetar tak terkontrol. Dia segera berlari tergopoh, Bimo tidak akan percaya laporan tersebut sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri. Lidahnya terasa kelu saat tiba di lokasi kejadian.
Seluruh anggota keluarganya tidak ada yang selamat, termasuk adik kesayangannya. Ya, hari ini seharusnya menjadi hari bahagia untuk adiknya karena dia sudah berhasil lulus dari sekolah menengah dengan hasil yang memuaskan. Namun takdir berkata lain.
Bimo begitu murka, apalagi setelah polisi melakukan penyelidikan, kasus kecelakaan tersebut diputuskan bahwa murni kecelakaan tunggal. Sedang saat itu Bimo jelas mendengar seorang saksi berkata bahwa ada mobil lain yang membuntuti mereka, dan dia pun juga menemukan jejak roda lain di lokasi yang tidak jauh dari tempat kejadian. Sayangnya, dia dengan statusnya dan status orang yang dicurigainya tidak sebanding. Pria malang itu hanya bisa pasrah menerima putusan tersebut.
Setiap tahunnya, Bimo selalu mengunjungi danau buatan di desa kelahirannya tersebut. Danau kecil yang juga telah berhasil menenggelamkan seluruh anggota keluarganya. Danau yang dulu tempat dia menghabiskan waktu bersama adik kecilnya, bermain perahu bebek dan juga berlarian di pinggiran. Banyak kenangan yang membuat Bimo tidak akan mungkin rela untuk melepaskannya begitu saja pada keluarga Mahardika.
Bimo kembali dari lamunannya saat kuku-kuku tangan yang terkepal erat tersebut sudah hampir menancap ke dalam kulitnya.
"Proyek danau biru, yaa? Jangan harap kau bisa mendapatkan proyek tersebut dengan mudah." Seringai licik muncul di balik bibir yang jika tersenyum akan terlihat sangat manis tersebut.
...----------------...
Detik demi detik pun terlewati dengan aman untuk Tahta. Dia sudah mulai mendekatkan dirinya pada Cinta. Mencoba membuka pintu hati wanita itu lagi dengan sikap manis dan seolah bergantung padanya untuk setiap hal yang ada di apartemen tersebut. Tak jarang dia juga meminta Cinta untuk membantunya mencari barang pribadi, seperti jam tangan atau dasi di lacinya. Itu semua Tahta lakukan agar Cinta membuka tabir yang Cinta buat untuk hubungan mereka.
"Masak apa malam ini?" tanya Tahta yang baru saja masuk ke area dapur.
"Nasi goreng." Cinta yang tengah sibuk di depan kompor dengan api kecil tidak menoleh ke arah suaminya.
"Wah, kenapa Ibu bisa menyukai wanita judes sepertimu, ya?"
"Karena aku cantik tentunya. Baik hati, tidak sombong, dan yang pasti se–ti–a." Cinta menekankan kalimat terakhirnya dan berhasil membuat Tahta membisu. Pria tersebut sebenarnya tahu betul apa maksud dari Cinta, tapi dia benar-benar tidak ingin memulai perseteruan lagi dengannya. Dan lagi, tuduhan mereka tentang Bella juga belum terbukti kebenarannya.
Cinta sepertinya sudah terbiasa dengan perubahan sikap Tahta. Awalnya memang terasa aneh. Sudah lima hari sejak dia jatuh sakit, pria berhidung mancung itu terus saja menempel padanya. Dia juga tidak pernah lagi pulang lebih dari pukul tujuh malam. Sesekali dia juga menemani Cinta mengerjakan rangkuman untuk mengajar, sembari menonton drama Korea yang dibintangi aktor kesukaannya.
Risih memang, apalagi saat pria yang berstatus suaminya tersebut mulai bersikap manja dan minta dipersiapkan segala kebutuhannya. Rasanya ingin sekali dia menjitak kepala bulatnya itu agar bisa kembali normal seperti dulu.
"Mandi sana," ujar Cinta sembari berjalan ke arah meja membawa dua buah piring berisi nasi goreng.
Tahta memejamkan mata saat indera penciumannya membaui sesuatu yang membuat ususnya bergejolak. Dia menghirup aroma lezat tersebut sedalam yang dia mampu. "Baiklah. Tunggu aku," ucapnya sembari mengayunkan jari telunjuk.
Pria yang masih mengenakan setelan jas lengkap tersebut melenggang pergi dengan langkah lebar menuju kamarnya. Semenjak deklarasi perdamaiannya, Tahta benar-benar bersikap seperti saat sebelum pernyataan cinta wanita yang sekarang menjadi istrinya itu terucap. Dia menepati janji untuk memulai semuanya dari awal. Tidak ada kebencian, tidak ada demdam, dan merencanakan masa depan. Sayangnya ... belum sekalipun terucap kata pisah darinya untuk Bella. Dia ragu, atau ... lebih tepatnya dia takut kejadian malam itu akan terbongkar.
Tahta baru saja menyelesaikan ritualnya di kamar mandi saat mendengar suara getaran ponsel di atas meja nakasnya. Bergegas pria yang hanya mengenakan celana kolor pendek berwarna krem dan kaos putih polos yang lumayan tipis, meraih benda pipih tersebut.
Tahta, aku tahu kau sedang mencoba menghindariku. Bukankah kau sudah berjanji untuk selalu bersamaku, apa kau mulai tertarik dengan wanita ular itu? Apa kau sudah masuk ke dalam perangkap yang dia buat? Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai itu terjadi. Aku sudah menyerahkan segalanya untukmu, apa ini balasan yang aku dapat? Genggaman tangan Tahta mengetat dan matanya bergetar saat membaca pesan dari kekasihnya tersebut. Sudah hampir satu minggu dia tidak menemuinya, dan sudah satu bulan sejak kejadian itu dia juga mencoba menghindar dari kekasihnya tersebut.
Tahta berjalan lesu menghampiri Cinta yang sudah menunggunya sedari tadi. Tatapan aneh penuh tanya Cinta layangkan pada suaminya.
"Apa air mandi bisa mengubah mood juga?" tanya Cinta saat melihat kehampaan di wajah Tahta.
Tahta menarik piring mendekat ke arahnya sembari mengangguk perlahan. Mengambil sendok dan menyuapkan makanan ke dalam mulut dengan lesu. Sangat berbanding terbalik dengan tadi saat dia baru sampai.
Cinta menyipitkan mata menatap heran pada Tahta. Rasanya dia semakin tidak bisa memahami suaminya. Sikapnya benar-benar bisa berubah hanya dengan satu kedipan mata. Wanita yang tengah mengenakan setelan piyama pendek itu mengerdikan bahu dan memilih untuk menyantap makan malamnya. Mereka menikmati hidangan malam dalam diam. Sesekali pria dengan rambut setengah basah itu melirik istrinya. Ada sendu yang seolah menelusup dalam hatinya saat menatap wanita yang ada di hadapannya tersebut.
Cinta bangkit meninggalkan Tahta sembari membawa dua piring yang sudah kosong ke wastafel. Namun, ada perasaan aneh yang mengganggunya. Sepertinya ada mata yang terus mengawasi setiap gerak-geriknya. Ekor mata Cinta mencoba melirik ke belakang, tapi tentu saja tidak bisa menjangkau ke tempat Tahta berada.
Greb!
Cinta sedikit terjingkat kaget saat sebuah tangan kekar tiba-tiba saja melingkar di pinggangnya. Sembari bergerak dan mendorong untuk melepaskan diri, dia memutar kepala mencoba melihat seseorang yang sudah berani memeluknya dari belakang tersebut.
"Jangan banyak gerak," bisik suara yang berat dan seksi tepat di telinga Cinta.
Cinta menggulung kedua bibirnya saat rasa geli menjalar ke sekitar telinganya. Rona merah di pipi Cinta menjalar hingga ke daun telinga saat pria tersebut menempelkan tubuhnya dan mengeratkan pelukannya.
"Ada apa?" tanya Cinta lembut. Kali ini dia tidak berani bergerak lagi.
"Aku merindukanmu," ujar Tahta lembut sembari menciumi kepala Cinta dan menghirup aroma wangi dari rambut istrinya. Ada keraguan dan kesedihan dari nada suaranya.
Deg!
Cinta membeku. Tangannya terkepal saat desiran rasa sakit menjalar di hatinya. Kenapa baru sekarang? Kenapa setelah aku memilih untuk melepaskanmu? Dan sekarang ... kau kembali membuatku berharap. Apa kali ini aku bisa mempercayai ucapanmu? Tidak, aku tidak mau lagi tersakiti.
"Kau merindukanku ... atau tubuhku?" tanya Cinta yang berhasil membuat Tahta tersentak. Pria itu melebarkan matanya melihat ekspresi datar di wajah Cinta.
"Saat aku pikir-pikir lagi, kau bersikap aneh setelah kejadian malam itu. Apa kau minum anggur beracun?"
"Kau yang beracun. Ya, kau benar aku begini setelah malam itu karena mungkin malam itu kau juga telah meracuni otakku."
Cinta mengangkat kedua alisnya mendengar jawaban yang tak masuk akal tersebut. Dia bahkan sudah berusaha menjauhinya agar tidak lagi membuatnya marah, dan sekarang dia yang dituduh beracun.
"Kau membuatku tidak bisa melupakanmu. Tatapan kecewa itu membuatku seolah menjadi pria paling jahat di dunia ini. Bukankah seharusnya aku senang saat kau mulai menghindariku, tapi kenapa aku terganggu dengan itu? Kenapa aku tidak suka melihatmu mengabaikanku? Kenapa?" Tahta menyandarkan kepalanya pada Cinta yang masih diam mematung.
...Bersambung .......
...****************...
Haloo, Kesayangan. Maaf kemarin Simi sedang kurang enak badan jadi tidak bisa update. Hari ini Simi udah update panjang, lohh kasih komentarnya doong. Kak Lie Naa, Efbe, Aqila Riawan, LAJ, Rahma, Riyan, Susan, dan bebebh-bebebhku semuanya, boleh bangettt kalo mau komentar sebanyak-banyaknya, looh. He-he-he
Aku tunggu like dan 20 komentar dari kalian, ya Bebh. See you soon. Lope lope sekebon buat kalian.