![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
..."Tuhan terkadang membuatmu jatuh. Bukan karena ingin kau terlihat rapuh, tapi hanya ingin kau belajar cara untuk bangkit."...
Cinta mengedarkan pandangan ke area sekitar. Dia tidak mendapatkan apapun. Kedua anaknya menghilang dari pandangan.
"Apa mereka hilang?" tanya Laras yang baru datang dengan wajah khawatir. Dia bahkan belum pernah melihat cucunya. Bagaimana cara untuk menemukan mereka diantara kerumunan orang-orang dewasa ini.
"Mereka selalu menghilang saat ada pesta, Tante," jawab Cinta sembari tersenyum simpul menenangkan Laras.
"Seperti apa ciri-ciri mereka, Kak? Aku akan mencari mereka." Nara tak tinggal diam. Meskipun usia kandungannya sudah enam bulan, istri Gema itu masih terlihat energik di tengah pesta.
"Mereka berusia lima tahun, memakai gaun dan jas, warnanya seperti punyaku," jawab Cinta dengan mata masih berkeliling mencari keberadaan mereka. Bukan dia tidak menghargai lawan bicaranya, karena tidak menatap Nara, tapi dia benar-benar tengah khawatir.
Nara mengangguk. Ketiga orang disekitar Cinta mulai mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Cinta tiba-tiba mengunci pandangannya pada beberapa orang yang tengah bergerombol di samping meja tempat kue-kue mini dipajang. Dia sempat melihat ujung gaun putrinya mengintip dari balik tubuh wanita, yang tengah mengenakan gaun merah.
Cinta melangkah lebar mendekati kerumunan tersebut. Matanya terbelalak lebar saat dia sudah melewati satu orang yang menghalangi pandangannya dari kerumunan tersebut. Putrinya tengah terduduk di lantai bersimbah air mata, sembari dipeluk oleh putranya. Anak laki-laki itu tengah melindungi adiknya dari ketiga wanita yang berdiri di depan mereka.
Cinta setengah berlari menuju ke kedua anak kembarnya. Tepat saat Cinta mendekat, wanita dengan dress merah dan rambut tergerai bergelombang itu mengangkat tangan dan bersiap mengayunkan tangannya ke arah Raja.
Reflek Cinta yang ada dibelakangnya mendorong wanita itu hingga terhuyung ke samping. Cinta memeluk kedua anaknya yang tengah ketakutan di antara banyak mata yang menatap mereka.
"Kurang ajar!" geram wanita yang kini tengah menatap nyalang, ke arah ibu yang tengah menenangkan anak-anaknya tersebut.
"Beraninya kau mendorongku, dasar wanita si*lan! Ah, kau ibu dari anak-anak kurang ajar ini, ya. Ternyata ibu dan anak sama saja, ya. Lihatlah apa yang sudah dilakukan anakmu pada gaun mahalku," ucap wanita itu dengan congkak, sembari menunjukkan gaun yang terdapat noda coklat di bagian depan.
Cinta menatap tajam wanita yang terlihat seusianya itu. Rasanya ingin sekali dia menjambak rambut berwarna coklat itu hingga rontok. Cinta mengalihkan pandangannya pada Ratu yang tengah memeluknya erat.
"Apa benar Ratu yang melakukan itu?" tanya Cinta dengan nada yang paling lembut.
Ratu menggeleng. "Tadi Ratu hanya makan roti coklat di sini, tapi Tante itu tiba-tiba datang sambil bercanda dengan temannya dan menabrak Ratu," jawab gadis kecil itu disela isakan tangisnya.
Kini Cinta kembali mengarahkan tatapan sinis yang seolah siap untuk mencabik tubuh wanita di hadapannya itu. "Anda sudah mendengarnya kan, Nona? Atau saya perlu bertanya pada teman di samping Anda ini?" tanya Cinta sembari melirik tajam ke arah wanita lain di depannya.
"Itu tidak akan terjadi kalau anakmu itu tidak berkeliaran mengemis makanan di pesta. Ooo ... atau jangan-jangan kau membawa anak-anakmu ke pesta agar bisa merasakan makanan enak di sini, kan?"
"Tutup mulutmu, Nona Rebecca!" Gema yang baru saja masuk ke dalam kerumunan tak tinggal diam. Pria itu menatap tajam wanita yang menjadi rekan bisnis di perusahaan IT miliknya.
Rebecca tercengang. Dia tidak menyangka Gema yang selalu terlihat bersahabat, kini tengah menatapnya dengan emosi.
Laras merangsek membelah kerumunan di depannya. Dia memeluk raja yang tengah menatap penuh dendam pada Rebecca.
"Ayo kita pergi dari sini, Nak. Kasihan anak-anak," ucap Laras mengelus lembut punggung Raja.
Cinta masih ingin sekali membuat perhitungan dengan wanita yang disebut Rebecca ini, tapi melihat putrinya yang ketakutan dan Raja yang emosi, sepertinya dia tidak bisa berlama-lama. Cinta takut kejadian ini akan merusak psikis si kembar.
"Ada apa ini?" Suara bariton dari arah belakang Gema membuat semua orang menoleh.
Tahta melangkah mendekat. Tepat saat itu pula Cinta berdiri sembari menggendong Ratu yang masih terisak, dan menggandeng Raja yang wajahnya sudah bersemu merah. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menjalar di hatinya saat mendengar isakan tangis Ratu. Terlebih melihat raut wajah Cinta yang begitu merah menahan emosi.
"Kau." Tahta menatap tajam Rebecca.
"Bukankah kau dari perusahaan Kencana? Apa yang sudah kau lakukan pada anak kecil? Sangat tidak bermoral. Sepertinya saya harus memikirkan ulang untuk bekerjasama dengan perusahaan Anda."
"Ta–tapi, itu mereka yang–"
"Dan sepertinya saya juga harus mempertimbangkan kerjasama kita, karena rasanya tidak mungkin perusahaan saya bekerjasama dengan perusahaan yang dipimpin oleh seseorang yang tidak bisa menghargai orang lain," sahut Gema dan berbalik pergi tanpa mendengar tanggapan Rebecca.
"Za, urus baju murahannya itu," perintahnya pada Reza yang sedari tadi mengikuti atasannya.
Pada akhirnya sang pemilik acara ikut pergi, menyisakan Reza dan Hendra yang bertugas untuk mengurai kekacauan. Ya, sepertinya Reza dibayar memang untuk menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh Tahta dan keluarganya.
Rebecca yang ditinggalkan begitu saja hanya karena wanita yang dia dia anggap rendahan itu, hanya bisa menatap kesal. Tubuhnya bergetar saat dia mengepalkan kedua tangannya erat. Rebecca berbalik pergi dengan kesal, meninggalkan temannya yang masih diam membeku. Termasuk orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, mereka saling berbisik. Sebagian menanyakan tentang identitas Cinta, sebagian lagi merasa kasihan sekaligus geram dengan sikap Rebecca.
...----------------...
"Di mana dokter itu? Lama sekali dia datangnya," gumam Laras menatap Cinta yang tengah meniup luka di tangan Ratu.
"Ini hanya luka kecil, Tante. Tidak perlu memanggil dokter."
"Tapi itu bisa infeksi, Kak. Memang seharusnya ditangani dengan baik. Lihatlah anak Kakak masih menangis karena sakit," ucap Nara yang tengah duduk mengelus lembut rambut Raja. Anak laki-laki itu nampak khawatir melihat Ratu yang masih sesenggukan.
"Mereka sudah biasa terjatuh, Ra. Mereka hanya ketakutan saja karena tidak pernah dibentak."
Bep!
Suara kunci pintu elektronik yang terbuka itu, membuat semua penghuni ruangan menengok. Gema datang bersama seorang dokter yang sudah paruh baya.
"Cepat obati lukanya, Dok." Laras dengan tidak sabar menunjuk ke arah Ratu.
Pria tua itu mendekat. Mengamati luka yang ada di tangan mungil Ratu. Gadis kecil itu menangis semakin kencang saat dokter sudah mulai membersihkan darah dan mengoleskan salep pada area kulitnya yang mengelupas.
"Ini hanya luka parut ringan, Bu. Dalam beberapa hari ke depan akan segera kering. Oleskan salep ini secara rutin agar tidak meninggalkan bekas," jelas dokter tersebut sambil menyodorkan dua buah salep berukuran kecil pada Cinta.
"Baik, Dokter. Terima kasih banyak."
Dokter itu pun berbalik pergi meninggalkan ruangan yang dipenuhi oleh suara isakan tangis Ratu.
"Sudahlah, Sayang ... ini hanya luka kecil. Lihatlah, darahnya sudah tidak keluar lagi." Cinta mencoba menenangkan anaknya. Tangisan Ratu-nya itu membuat Laras tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya.
"Ratu minta maaf, Mama. Ratu sudah nakal dan membuat masalah," ucap gadis kecil itu penuh penyesalan.
"Raja juga minta maaf, Mama. Raja tidak bisa menjaga Ratu dengan baik sampai Ratu harus terluka," timpal Raja dengan raut wajah yang sama menyesalnya dengan Ratu.
"Ini bukan salah kalian. Anak mama anak baik, kalian tidak nakal. Bukankah tadi Ratu bilang Ratu tidak menabraknya?" tanya Cinta dan diangguki dengan cepat oleh putrinya.
"Mama percaya pada Ratu, dan itu artinya Ratu tidak salah. Raja juga tadi sudah melindungi Ratu saat adiknya mau dipukul, kan. Kalian anak-anak Mama yang hebat. Benar kan?" Kembali dua bocah itu mengangguk dengan isakan tangis yang masih setia menemani.
"Sayang-sayang Oma ... maafkan Oma, Sayang." Laras mendekap tubuh kecil Ratu. Gadis kecil itu bahkan sedikit bingung mendapat pelukan dari orang asing secara tiba-tiba.
"Anda siapa?" tanya Raja penasaran saat melihat Laras memeluk adiknya. Mereka memang kembar, tapi raja lahir tujuh menit lebih awal dari Ratu.
"Panggil O–ma," pinta Laras dengan nada lembut.
Ratu dan Raja menatap Cinta. Mereka seolah bertanya dan meminta persetujuan dari sang ibu. Cinta pun mengangguk sembari tersenyum kecil.
"Oma," ucap keduanya lirih dan terasa canggung.
"Iya, Sayang. Aku Oma, aku oma kalian. Oma senang bisa bertemu kalian. Terima kasih." Tangisan haru telah menguasai Laras. Dia kembali membawa Ratu dalam pelukannya dan beberapa kali mengecup puncak kepala gadis itu. Nara dan Gema yang menyaksikan hal itu pun tak bisa membendung air matanya. Siapa sangka mereka sudah menjadi bibi dan paman sejak lama. Mendengarkan permintaan maaf dari dua bocah itu saja sudah bisa merontokkan hati mereka, apalagi mengetahui keduanya ternyata masih bagian dari keluarga mereka. Hidup seperti apa yang mereka jalani selama ini? Bagaimana bisa bocah yang belum genap berusia lima tahun itu, terpikir untuk menjaga adiknya yang seumuran sedangkan dia sendiri juga dalam bahaya.
Di balik pintu yang sedikit terbuka itu, ada Tahta yang tengah berdiri mematung. Dia sudah berada di sana sedari tadi. Mendengarkan setiap percakapan yang membuat hatinya terasa dihantam dan dicabik-cabik hingga tak tersisa. Tangan pria itu terkepal erat hingga memunculkan urat-urat berwarna kehijauan yang menjalar. Dada bidang Tahta terlihat naik turun dengan cepat saat merasakan sesak yang semakin menghimpitnya. Apa yang terjadi? Apa maksud dari ucapan ibunya tadi? Tubuh Tahta terasa tak bertenaga, hingga punggung pria itu menabrak tembok di belakangnya.
Tidak. Bukan waktunya dia bersikap lemah seperti ini. Dia harus segera menanyakan maksud dari ucapan ibunya itu. Tahta merangsek masuk ke dalam ruangan.
...Bersambung.......
...----------------...
Udah double up, niih. Gimana senang nggak? Senang kan? Senang dooong, masak enggak sih. Demi nyai', nih aku kerja sambil ngetik. Kalau udah senang kasih like, vote, terutama komen, yaa.
Suwer, Simi tuh nggak bohong kalau bilang penyemangat Simi karena dapet like dari kalian, dapet vote, bacain komen kalian, Bestieee. Lope lope sekebon buat kaliaaan, My Shining Star.