[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Penyesalan Selalu Terlambat


..."Rencanamu kadang dihancurkan Tuhan, agar kau tidak hancur karena rencanamu."...


Brak!


Suara pintu yang terbuka dengan keras itu membuat Ratu tersentak, dan dengan spontan melepaskan pelukan Laras. Dia menubruk tubuh Cinta dan memeluknya erat.


Ya, Tahta tanpa sengaja mendorong pintu terlalu keras hingga membentur tembok. Semua orang menoleh ke arah Tahta dengan dahi berkerut.


"Ibu, apa maksud dari ucapan ibu barusan?" tanya Tahta dengan intonasi yang sedikit meninggi.


Kedua alis duda itu bahkan hampir menyatu satu sama lain. Jantungnya berdegup seolah baru saja selesai lari maraton.


Laras dan Cinta terlihat menegang. Mereka saling melempar lirikan saat menyadari bahwa pria yang tengah bersungut-sungut itu mendengar semuanya.


"Katakan!" seru Tahta yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.


Ratu dan Raja terjingkat mendengar suara Tahta yang terdengar menakutkan. Pria itu sedang marah besar pada mereka karena membuat masalah di pesta, pikir keduanya. Ratu semakin mengeratkan pelukannya dengan tubuh yang menggigil ketakutan. Dia menelusupkan wajah ke perut Cinta. Isakan kecil kembali terdengar dari gadis itu. Sepertinya Ratu benar-benar trauma atas kejadian yang menimpanya tadi. Pun dengan Raja, dia menggenggam pergelangan tangan Cinta saat dan dengan takut-takut menatap Tahta. Namun, ada ada amarah dari kilatan mata bocah laki-laki itu.


Cinta menyadari kondisi anaknya. Dia mendekap kedua anaknya dan mengelus lembut punggung Raja dan Ratu.


"Tahta!" Kini Laras yang menaikkan nada suaranya.


"Kau tidak melihat mereka sudah sangat ketakutan dengan sikapmu?" ujar Laras menunjuk ke dua bocah yang ada di pelukan Cinta.


Tahta membeku seketika. Lidahnya terasa kelu, saat netranya menangkap dua sosok yang terlihat ketakutan. Dia benar-benar tidak berpikir tindakannya akan membuat mereka bereaksi seperti ini.


"Ma–maafkan aku," ucap Tahta menatap Cinta yang tengah menatap tajam ke arahnya.


Cinta tak merespon. Dia mengalihkan pandangan dengan sinis dan kembali menenangkan putrinya.


"Ratu mau pulang, Mama. Ratu nggak mau di sini, orang-orang jahat," rengek Ratu yang masih enggan mengangkat wajahnya.


"Iya, Sayang. Kita pulang, sekarang Ratu diam dulu, ya. Raja akan sedih kalau lihat ratu seperti ini," jawab Cinta mengelus puncak kepala Ratu dan Raja yang juga memalingkan muka dari Tahta.


Tentu kejadian ini membuat kedua anak kembar itu sangat ketakutan. Ini adalah momen pertama mereka melihat pertengkaran dan mengalami tindak kekerasan. Bahkan sekalipun Cinta tak pernah meninggikan suara pada kedua buah hatinya.


"Ti–tidak, Sayang. Jangan pergi, oma mohon. Oma akan menghukum semua yang jahat pada kalian. Jangan pergi, oke?" bujuk Laras khawatir akan kembali ditinggalkan oleh cucu-cucunya.


"A–apa mereka anak–ku?" tanya Tahta lirih dan bergetar.


Cinta mendongak. Menatap tajam pria yang terlihat kacau dan memandang anak-anaknya dengan sendu.


"Apa kau pernah merasa memiliki anak denganku?" Cinta balik melempar pertanyaan dengan sinis.


"Tapi ... ibu bilang–"


"Dan kau percaya begitu saja? Hah!" Cinta mendengkus kesal.


Seketika jantung Tahta terasa tak berdetak. Tenggorokan pria itu terasa tercekat, hingga kesulitan untuk memompa oksigen dalam dadanya. Manik matanya bergerak ke kanan dan kiri bergantian mengamati Raja dan Ratu.


"Itu–itu tidak mungkin."


"Tidak ada yang tidak mungkin."


Tahta melangkah perlahan mendekat pada Cinta. Mengikis jarak yang bertahun-tahun ini Cinta jaga dengan baik. Kini Tahta berdiri tepat di hadapan Cinta yang tengah memangku Ratu dan Raja yang tengah memeluk pinggang ibunya. Pria itu menjatuhkan diri, duduk bersimpuh beralaskan lutut untuk mensejajarkan dirinya dengan mereka bertiga.


"Kau berbohong padaku, kan?" tanyanya sambil menatap Cinta penuh harap.


"Tidak."


Kembali, Tahta dibuat bungkam dengan jawaban Cinta. Pria itu menundukkan pandangannya dengan lesu. Malam ini benar-benar malam yang begitu berat baginya. Otaknya buntu, Tahta tidak tahu harus bersikap bagaimana dan berkata apalagi setelah mendapatkan penolakan berulang kali dari cintanya itu. Dia hendak mengangkat wajahnya kembali, dan tepat saat itu Raja menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu. Sangat dekat. Setelah beberapa detik membeku, Raja kembali membuang muka.


Netra Tahta membola saat itu juga. Entah kenapa, setelah menatap anak laki-laki itu, Tanta merasa apa yang ada dipikirannya adalah kebenaran.


"... tapi mereka begitu mirip denganku," ucap Tahta kali ini dengan sedikit keyakinannya.


Cinta dengan cepat menunduk menatap Tahta. Jantung wanita itu sudah hampir meledak rasanya. Darah ditubuhnya berdesir. Bagaimana cara untuk menghindari situasi ini. Sepertinya ini sudah sangat terlambat. Dia sudah tidak bisa lagi menghindar. Apa rahasia yang telah tersimpan rapat itu akan terbongkar hari ini? Bagaimana caranya menjelaskan hal ini pada anak-anaknya nanti? Apa mereka akan membencinya setelah ini? Semua pikiran itu tiba-tiba saja menghantui Cinta. Dia mengeratkan pelukannya pada Ratu dan Raja.


"Itu karena aku sangat membecimu saat mengandung mereka."


"Hah!" Tahta menghela napas berat. Ya, itu sudah pasti jika mantan istrinya itu membencinya setengah mati, tapi alasan itu tidak bisa menutupi kegugupan yang tercetak jelas di wajahnya.


Tangan kekar Tanta terulur memegang lutut Cinta. Dia menunduk dan menempatkan keningnya di lutut wanita itu seolah tengah memohon pengampunan.


"Kenapa kau selalu berbohong padaku?"


Cinta memandangi kepala Tahta yang masih tertunduk di hadapannya. Hatinya terasa nyeri, rasa sakit itu terasa menjalar hingga membuat bulu halusnya meremang.


"Tidak. Kau yang tidak pernah percaya dengan kejujuranku dan memilih percaya pada kebohongannya."


Deg!


Tahta menekan jarinya yang masih ada di lutut Cinta. Dia menunduk semakin dalam. Cairan bening meluncur jatuh tepat di atas kaki Cinta. Tahta tahu betul maksud dari ucapan Cinta. Dahulu, sudah sering kali Cinta mengungkapkan kebenaran, tapi dia lebih memilih untuk mempercayai Bella. Hingga akhir, dia tetep mempertahankan Bella di sisinya. Merawat kebohongan Bella hingga terlahir, dan tanpa sadar menelantarkan anak-anaknya sendiri. Bahu Tahta berguncang menahan isakan tangisnya. Baru kali ini pria itu merasa benar-benar hancur dan begitu bodoh.


"Maaf ... maafkan aku." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Tahta saat ini.


Begitupula Cinta. Dia tak kalah hancurnya dari Tahta saat dipaksa untuk kembali mengorek luka lama yang bahkan belum sepenuhnya sembuh. Dia harus kembali teringat disaat pria itu tidak mengakuinya sebagai istri demi menjaga perasaan Bella. Saat suaminya tidak mau menepati janji makan malamnya karena harus menjaga kekasihnya. Ingatan itu benar-benar menciderai perasaan Cinta. Meskipun sekarang dia tahu itu adalah jebakan Bella dan kekasihnya, tapi itu tidak bisa mengubah kenyataan bahwa Tahta pernah mengabaikannya demi wanita lain.


...Bersambung.......