![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Laras terhuyung, dengan segera tangannya meraih meja Tahta yang berada di sampingnya. Netra wanita paruh baya itu menatap kosong ke arah foto yang terpanjang di dinding ruang direktur tersebut. Foto dua pria yang selalu mengisi ruang hatinya. Pria yang selalu dia harapkan kasihnya, ya. Mereka ada ayah dan anak. Foto seorang direktur utama dan direktur yang begitu gagahnya memimpin perusahaan, tapi nol besar dalam membina hubungan rumah tangga.
Perlahan air bening menetes dari sudut matanya. Hatinya sakit. Hancur berkeping saat mendapati putranya, putra satu-satunya itu sudah berani melawan dan menentangnya hanya demi seorang wanita murahan. Di sudut yang lain, Reza masih berdiri mematung. Menatap iba pada ibu atasannya tersebut.
"Bu Laras, apa tidak sebaiknya Anda ikuti mereka ke rumah sakit dan melakukan tes DNA di sana," saran Reza yang tidak mau tinggal diam melihat kekacauan di hadapannya.
Laras menegakkan kepalanya. Menatap Reza seolah mendapat sebuah pencerahan. "Kau benar. Aku harus menyusulnya."
Sedang di ruang yang di depan bertuliskan Poliklinik Kebidanan Dan Kandungan, seorang wanita tengah berbaring lemah di sana. Seorang dokter baru saja selesai memeriksanya. Layar monitor untuk USG juga masih menampakkan foto janin di dalam perutnya. Wanita berbalut dress berwarna merah itu, tidak melepaskan genggaman tangannya dari pria berbadan tegap yang terlihat gugup menatap dokter dan suster di hadapannya.
"Bagaimana kandungannya, Dok?" tanya Tahta dengan tidak sabar.
"Dari hasil pemeriksaan, tidak ada sesuatu yang serius. Detak jantung janin dan tekanan darah ibu juga normal. Saya rasa ini karena faktor kelelahan dan stress. Sebaiknya untuk kehamilan trimester pertama, ibu kurang-kurangi kegiatannya."
Tahta bisa bernapas lega mendengar penjelasan dari dokter muda tersebut. Tanpa dia sadari ada seorang pria berpakaian berjas dokter dan mengenakan masker menguping pembicaraan mereka dari luar ruangan. Dia memejamkan mata dan menghela napas juga saat dokter selesai memberikan penjelasannya.
"Kalau begitu sa–"
"Tunggu!" sela seorang wanita yang tiba-tiba membuka pintu ruangan melewati dokter yang berdiri sambil menunduk dalam-dalam di samping pintu.
Tak–tak–tak!
Langkah kakinya semakin mendekat ke arah ranjang yang ditempati Bella. Semua mata tertuju padanya dengan penuh tanya kecuali Tahta. Dia memasang ekspresi waspada melihat kedatangan ibunya.
"Dokter, saya ingin Anda melakukan tes DNA pada janin itu sekarang juga!" perintah laras tanpa basa-basi.
Mata mereka seketika membulat sempurna. Bella bahkan menggigit bibir bawahnya untuk menutupi kegugupannya. Dia sudah berakting agar bisa lari dari wanita tua itu, tapi sekarang tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Dokter wanita yang terlihat baru berkepala empat itu menatap Laras dan Bella bergantian. Pria yang masih berdiri di balik pintu ruangan itu pun juga terlihat mengepalkan tangannya erat hingga urat-urat yang menjalar menonjol ke permukaan.
"Ibu!" Tahta berusaha menegur Laras namun wanita itu seolah tak mengindahkan tatapan tajam putranya.
"Lakukan sekarang juga. Bukankah kau tahu aku siapa." Laras semakin mempertegas ucapannya.
Dokter wanita itu kembali melemparkan tatapannya pada Bella dengan gusar. Dia benar-benar dibuat pusing menghadapi situasi ini, kedua wanita di hadapannya yang berbeda usia itu sama-sama orang penting untuk tempatnya bekerja.
"Tapi untuk tes DNA ini tidak bisa sehari jadi, Bu Laras. Kita harus menunggu setidaknya tiga hari," jelas dokter bernama Siti tersebut.
"Tidak masalah. Tiga hari, aku akan menunggunya. Aku tidak akan membiarkan seekor j*lang merusak rumah tangga putraku," geramnya sembari menatap nyalang ke arah Bella.
"Tahta?" Bella menatap memohon pada kekasihnya. Rasa iba tiba-tiba saja bergelayar di sanu bari Tahta. Wanita hamil di hadapannya itu sedang dalam tekanan berat, dia tidak mungkin berdiri dan membiarkan itu terjadi begitu saja, pikir Tahta.
"Ibu, bukankah ibu tahu ini sama saja dengan membahayakan janinnya? Setidaknya tunggulah sampai anak ini lahir."
Tahta terperangah. Matanya membeliak mengingat wanita yang menjadi istrinya itu, ya. Dia bahkan belum menjelaskan apapun padanya. Malam ini mereka membuat janji, Tahta berniat akan menjelaskan segalanya dan mencari solusi bersamanya. Dia tidak mau mengambil keputusan tanpa persetujuan dari wanita yang sudah mencuri sebagian ruang di hatinya itu.
"Aku melakukan ini demi Cinta. Setidaknya sekali ini saja, biarkan aku membuktikannya sendiri," ujar Laras menatap tajam putranya.
Tahta membisu. Dia melempar pandangan pada Bella yang masih menatapnya dengan mata berkaca. Namun, seolah tengah terhipnotis. Pria itu menganggukkan kepalanya perlahan diiringi dengan senyum kepuasan dari ibunya.
Pada akhirnya tindakan pun dilakukan. Bella hanya bisa pasrah karena dokter sudah menyatakan hal itu bisa dilakukan karena kehamilan Bella yang dirasa aman.
Dokter Siti dibantu dengan dokter lainnya mulai melakukan pemeriksaan jaringan plasenta (CVS). Prosedur ini dapat dilakukan pada usia kehamilan 12 minggu dengan mengambil cairan dari vili chorialis. Lalu akan dilakukan analisis dan perbandingan profil DNA dengan profil DNA orang tua. Tak lupa Laras juga berdiri tak jauh dari tempat tersebut untuk menyaksikan langsung proses pengambilan sampel.
Dokter muda itu akhirnya bisa menelan salivanya dengan mudah dan bernapas lega setelah prosesnya berjalan dengan lancar. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika sampai kandungan itu bermasalah karena tes DNA pada janin sangat beresiko.
"Kita akan menghubungi Ibu Laras jika hasilnya sudah keluar," ucap Dokter Siti setelah kembali ke meja kerjanya. Laras bergegas pergi dari tempat itu dan disusul oleh Bella dan Tahta di belakangnya.
Wajah Bella nampak pucat pasi. Dia memainkan jari-jarinya selama dalam perjalanan. Hal itu tak luput dari perhatian Tahta yang tengah memegang setir kemudi.
"Ada apa? Apa kau tidak nyaman?"
"Perutku masih terasa sakit, apalagi setelah pemeriksaan tadi. Bisakah kau menemaniku malam ini?"
"Tapi ... aku dan Cinta ...."
"Tolong, Sayang. Aku tidak mau sesuatu terjadi pada anak kita. Aku akan membenci kalian berdua selamanya kalau sampai terjadi sesuatu pada anakku. Aku bahkan akan menuntut ibumu atas pemaksaan yang dilakukan pada kami!" ancam Bella.
"Baiklah-baiklah. Aku akan menemanimu." Mobil sport Lamborghini Veneno milik Tahta melesat menuju vila keluarga Bella. Dia tidak mau memperpanjang urusan hari ini dan akan meminta maaf dengan tulus pada istrinya esok hari. Akan terjadi masalah yang lebih buruk dan mengerikan jika sampai media mencium berita ini. Ayahnya juga pasti tidak akan melepaskan dia dan ibunya jika kekacauan terjadi.
Malam semakin larut. Bulan terlihat bulat sempurna di langit bersama ribuan bintang yang menemani dan mempercantik kehadirannya. Rasanya sangat indah jika malam ini bisa menatap langit malam bersama orang terkasihnya. Namun sayangnya, Cinta sendiri, sepi, dan berbalut lara hati.
Wanita itu duduk termangu, menatap langit malam dari teras apartemen Tahta. Hanya air mata yang selalu setia menemani malamnya yang kelam. Dia tersenyum getir, memalingkan wajah seolah bulan baru saja mengoloknya. Malam ini adalah puncak mimpi terburuk dalam hidupnya. Bahkan tangis pun tak bisa mengurangi sedikit dari rasa sakit yang menghujam jantungnya. Cinta melirik jam yang melekat di lengan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
...Bersambung .......
...****************...
......Kadang kala seseorang memutuskan untuk menjauh bukan karena dia membencinya, tapi dia sedang mencoba melindungi dirinya dari luka.......