[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Pekerjaan yang Menyiksa


Cinta menaiki anak tangga dengan langkah lesu diikuti oleh Rudi tepat di belakangnya. Di luar sana masih terdengar suara musik dan orkes yang bergema meskipun malam telah begitu terkenal larut. Para tetangga masih asyik berbincang sembari menonton biduan yang tengah bergoyang di atas panggung berukuran 6x6m. Di desa itu memang sudah menjadi hal lumrah jika menggelar hajatan di rumah hingga tengah malam. Bahkan terkadang ada yang menyewa lapangan desa agar bisa menampung lebih banyak orang.


Sedang kedua mempelai, sudah terlihat lelah untuk menjamu para tamu. Cinta bahkan sudah tidak sanggup untuk berdiri menyalami para tamu dan memilih untuk duduk, hingga akhirnya Rudi mengusulkan agar mereka istirahat lebih dulu. Membiarkan ketiga wanita yang sudah menjadi satu keluarga itu menghandle acara, dan dibantu oleh beberapa karyawan perkebunan kepercayaannya.


Rudi menyalip Cinta saat di ujung tangga. Pria itu bergegas membukakan pintu kamarnya yang juga digunakan Cinta untuk berias pagi tadi. Wanita yang tak bisa berjalan cepat karena mengenakan kebaya tersebut tersenyum simpul pada Rudi.


"Pasti sangat lelah, ya?" tanya Rudi menyusul Cinta yang sudah duduk di sofa.


Cinta yang tengah menyandarkan kepalanya di sofa, menoleh dan mengangguk perlahan pada Rudi dengan ekspresi memelas. Rudi mengambil tempat duduk di sisi istrinya. Tangan beaar pria itu terulur menyentuh lembut pipi Cinta yang masih berbalut make-up. Rudi mengelus pipi Cinta penuh kasih, dan wanita itu membiarkannya. Dia terlihat nyaman dan menikmati belaian lembut dari pria yang telah menjadi suaminya tersebut.


Wanita yang tengah hamil itu akhir-akhir ini memang lebih manja dari biasanya. Dia tidak merasa canggung oleh sentuhan-sentuhan Rudi. Mungkin karena hampir setiap hari mereka bersama, mungkin karena mereka adalah sahabat lama yang sudah begitu dekat, atau mungkin karena ketulusan Rudi yang membuatnya enggan untuk menolak perhatiannya.


"Maafkan aku. Mau harus menahan lelah demi menuruti keinginan ibu," ucap Rudi menatap sendu pada Cinta.


"Tidak apa-apa, Rud. Aku tahu ibu pasti sangat bahagia karena putranya yang tampan ini akhirnya doyan wanita," ledek Cinta sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Kau pikir aku ini belok? Hmm? Hmm...." Rudi menekan pipi Cinta dengan kedua tangannya hingga bibir wanita itu mengerucut.


"Apa kau tidak ingin ganti baju. Aku kasihan sama Bubu di dalam pasti tertekan oleh kain ini," ujar Rudi sembari menarik kecil kain batik yang membungkus tubuh Cinta. Bubu adalah nama janin yang diberikan oleh Rudi tiga minggu yang lalu. Dia suka memberikan nama janin Cinta Bubu karena terinspirasi oleh film Baby's Day Out.


Cinta mengangguk perlahan. Sebenarnya sudah sedari tadi dia merasa tidak nyaman. Pakaiannya terlalu ketat, bahkan membuat wanita itu sedikit kesulitan bernapas. Dia beranjak dengan malas menuju kamar mandi. Netra Rudi tak sedetikpun lepas dari istrinya yang bertubuh sintal tersebut. Lekuk tubuhnya begitu jelas, berbalut kain jarik dan kebaya dengan payet yang semakin jarang di bagian atas.


"Begitu indah ciptaan Tuhan yang satu ini," gumam Rudi dengan senyum tipis terukir di wajahnya.


"Rud." Rudi terperanjat saat mendengar panggilan Cinta dari dalam kamar mandi.


Pria itu bergegas mendekati pintu yang ada di dekat almarinya. "Kenapa? Ada masalah?"


"Aku tidak bisa melepas kancing kebaya ini. Tolong panggilkan seseorang," pinta Cinta dengan suara memohon.


Rudi mengembuskan napas lega setelah mendengar jawaban wanita di dalam kamar mandi tersebut. Tiba-tiba pria yang masih mengenakan jas itu melebarkan matanya dan menarik tipis sudut bibirnya. Sifat jail Rudi sedang dalam mode aktif. Dia memutar perlahan gagang pintu. Mengintip dari balik pintu yang sudah sedikit terbuka. Istrinya tengah sibuk meraih kancing baju yang melekat di punggung dan berjajar bak gerbong kereta.



Rudi melangkah perlahan ke arah Cinta. Wanita yang tengah sibuk itu tidak menyadari pemilik kaki yang berjalan mendekat. Saat suara langkah kaki itu semakin jelas terdengar, Cinta berbalik spontan. Netra wanita itu membulat sempurna dan mulut yang tadinya hendak berucap kini hanya ternganga.


"Mana orang yang kamu panggil?" tanya Cinta setelah kembali dari keterkejutannya.


"Nggak ada orang. Semua sibuk. Sini aku bantu," tawar Rudi dengan entengnya.


"Nggak–nggak usah, nunggu Nana atau Rumi aja," tolak Cinta sembari mundur satu langkah ke belakang.


"Kenapa? Aku kan suamimu."


"Ta–tapi ... aah, keluar, keluar. Jangan mesum ya kamu," ucap Cinta menatap galak dan mendorong tubuh berotot Rudi.


"Enggak mesum, ya Tuhan. Positif thinking dulu, dong. Aku cuma mau bantuin, Cintaku ... kasian Bubu di dalam perut udah ketekan," jelas Rudi sembari menahan dorongan tangan Cinta.


Wanita itu berhenti mendorong tubuh suaminya. Ekor matanya melirik sinis Rudi yang membalas dengan senyum manis. Kamar mandi bernuansa putih itu kini menjadi hening dan terasa sedikit mencekam karena tatapan mata wanita hamil tersebut. Rudi bahkan sampai menelan salivanya mendapati tatapan mematikan dari Cinta.


"Kau yakin?"


"Sumpah," jawab pria itu sembari mengangkat dua jarinya.


Rudi membalasnya dengan senyum simpul. Mana berani dia macam-macam dan melanggar janji di hari pernikahannya. Pria itu mulai melepaskan kancing kecil berbentuk bulat tersebut. Pria itu sedikit kesusahan karena tidak memiliki kuku untuk meraih tali yang melingkari benda kecil tersebut.


Ya Tuhan, kuatkan hambamu ini, batin Rudi saat bagian belakang kebaya tersebut sudah tersingkap separuhnya.


Entah sudah berapa kali pria itu menelan saliva dengan susah payah. Punggung mulus seputih susu itu terlihat begitu menggoda baginya. Dia pria normal, tentu saja dia merasakan getaran yang menjalar saat kulit mereka bersentuhan. Jantung pria itu terasa hampir meledak setiap kali detakannya terasa.


Cinta yang tengah duduk di kursi rias berusaha melirik ke belakang, saat embusan napas semakin sering menyapu permukaan kulitnya. Bulu halus wanita itu meremang saat napas hangat terasa menyapu punggungnya yang sudah tak berbalut kain. Rona wajah wanita itu sudah memerah bahkan hingga ujung telinganya. Namun Cinta mencoba untuk bersikap tenang. Dia akan menghadapi situasi seperti ini lebih sering lagi kedepannya, pikir wanita tersebut.


"Alhamdulillah ..." seru Rudi sembari merebahkan diri ke kasur di sebelahnya setelah menyelesaikan semua tugas yang menyiksa tersebut.


"Capek, ya kan udah kubilang, cari bantuan orang, Rud."


"Masak manggilnya nama, sih. Panggil aku Aa'," ucap Rudi masih dengan posisi berbaring.


"Iihh, kita seumuran. Cuma selisih sepuluh bulan aja," jawab Cinta yang masih sibuk memegangi bagian depan kebayanya.


"Tapi aku sudah jadi suamimu, Cinta. Jadi harus mesra dikit, dong," protes pria itu dan mendudukkan dirinya menatap Cinta.


"Itu kamu juga manggil aku pake nama."


"Mana ada. Aku manggil kamu cinta padanan kata dari sayang, bebebh, bebi, honey, istriku tercinta."


Cinta menarik satu sudut bibirnya dengan kesal mendengar jawaban Rudi. Ucapan Rudi sulit untuk dia mentahkan lagi. Wanita itu akhirnya memilih untuk beranjak dari tempatnya dan melangkah kesal menuju kamar mandi.


"Akan aku pikirkan nanti," ucap Cinta sebelum akhirnya menutup pintu.


Senyum Rudi mengembang. Pria itu kembali melemparkan tubuh ke ranjang dan membekap wajahnya dengan bantal. Ada sesuatu yang terasa meletup-letup di hati. Bila dia menutup mata, seolah kupu-kupu tengah berterbangan dan bunga-bunga mekar di sekitarnya. Rudi sudah jatuh pada Cinta berkali-kali. Setiap saat, setiap senyum yang muncul dari sudut bibir wanita itu membuatnya jatuh, dan rasanya sudah tidak mungkin untuk bangkit lagi.


...****************...


"Pak Tahta, saya menemukan keberadaan Nona Cinta." Seorang pria dengan setelan jas menyerahkan sebuah kertas pada Tahta yang duduk di ruang kerjanya.


Tahta membuka matanya lebar-lebar. Menatap tajam asisten pribadi yang baru saja menyodorkan sebuah kertas di hadapannya. Dengan cepat pria itu meraih kertas tersebut.


"Saya menemukannya saat ada yang melaporkan pendaftaran pernikahan atas nama nona. Jadi ...."


Braak!


Belum sempat Reza menyelesaikan ucapannya, Tahta sudah menggebrak mejanya dengan keras.


...Bersambung .......



...****************...


Halooo, Bebebh-bebebhku.


Nggak tau lagi mau nulis apa, Simi selalu berharap kalian sehat-sehat selalu dan berbahagia selalu. Cuma mau mengingatkan saja, untuk yang belum vote silahkan vote dengan cara klik gambar tiket di pojok kanan bawah, yaa.


Lope lope sekebon buat kalian, My Shining Star.