[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Dendam Lama


Cinta merebahkan tubuhnya di samping Tahta. Dia berusaha mengatur napasnya yang terengah setelah berhasil mengganti pakaian suaminya. Sebuah pengalaman yang tidak akan mungkin terlupakan begitu saja dalam beberapa hari ke depan. Cinta menatap langit-langit kamar Tahta. Otaknya kembali memutar ucapan Reza yang sudah terekam secara detail di kepala.


Cinta memutar tubuhnya menghadap Tahta. "Apa kau benar-benar merasa bersalah padaku?" Sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban keluar dari mulutnya. Wanita yang terlihat lelah itu memandangi wajah yang sangat dipujanya. Menatap mata tertutup yang selalu mengingatkan pada almarhum ayahnya. Senyum tipis terukir. Perlahan tapi pasti, mata Cinta ikut terpejam, menyisakan keheningan malam yang penuh tanya dan harapan.


Bulan begitu terburu berpetualang di atas cakrawala. Ia memutari belahan dunia hanya serasa sekejap mata. Kemudian mengizinkan sang surya menempati posisi dan memudarkan keberadaannya yang sudah di ujung barat. Cahaya alam itu perlahan menyelusup masuk melalui celah-celah jendela dan atap yang dilewatinya, termasuk apartemen Tahta.


Tahta mengerjap saat kamar yang biasanya gelap tersebut terasa lebih terang. Saat baru saja dia membuka matanya, pria yang sudah mengenakan piyama berwarna hitam polos itu kembali mengerjapkan mata hingga beberapa kali.


"Apa aku sedang bermimpi?" gumam Tahta lirih. Dia memfokuskan kembali pandangannya pada sesosok tubuh yang sedang tertidur di sampingnya. Seorang wanita yang sangat Tahta kenal dan rindukan, sedang membaringkan tubuhnya di sana.


Tahta mengubah posisinya, menghadap Cinta dan memposisikan diri agar wajah mereka bisa sejajar. Pria itu menatap lembut wanita yang masih tertidur pulas tersebut. Tangan kekarnya terulur, menyentuh surai lembut yang ada di samping telinga Cinta. Merapikan rambut halus yang menutupi wajah istrinya. Tahta merasa ini adalah pagi terdamai yang pernah dia lalui. Entah mengapa melihat keberadaan wanita yang pernah dia benci setengah mati itu membuatnya tersenyum dan merasa nyaman.


Tahta mengangkat kepala mendekatkan wajahnya pada Cinta. Sebuah kecupan pagi yang hangat dan manis didaratkan di permukaan kening Cinta yang semulus perosotan.


"Ehm ...." Cinta yang merasa terusik bergerak, merenggangkan tubuhnya dengan mata yang masih tertutup. Aksinya yang cukup menggemaskan bagi Tahta tersebut berhasil mengundang senyum lebar di bibir Tahta.


Cinta dengan cepat membuka mata saat merasakan embusan napas hangat yang tentu saja bukan miliknya.


"Ah!" Dia melonjak kaget saat mendapati dirinya tengah tertidur di samping Tahta yang sedang menatapnya dengan senyum.


Wanita yang hanya mengenakan gaun tidur berwarna pink itu ingin bergegas bangkit dari tidurnya. Namun dengan cepat Tahta menahan tubuh Cinta hanya dengan satu tangannya. Dia melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Cinta dan membawa wanita tersebut ke dalam dekapan hangatnya.


Cinta tidak bisa berkutik. Dia mendongakkan wajahnya menatap Tahta yang diam tanpa kata. Cinta pun turut diam tanpa suara. Dia merasa suaminya itu sedang berusaha mencari ketenangan hati dan pikiran lewat dekapannya. Dia menatap nanar wajah Tahta yang terlihat damai, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia senang karena pria di sisinya itu tidak lagi membuat batasan untuknya, tapi dia juga takut ini hanya mimpi yang sewaktu-waktu akan menghilang.


"Ada apa?" tanya Cinta memberanikan diri untuk membuka suara. Dia memasrahkan diri pada kehangatan yang diberikan oleh suaminya.


Tahta menurunkan pandangannya. Menatap lekat manik mata istrinya yang terlihat cerah dan berkilau. Hatinya serasa terkoyak menatap sorot mata yang begitu tulus tersebut. Ini kali pertama Tahta mendapatkan tatapan yang begitu tulus. Selama dua tahun hubungannya bersama Bella, dia merasa tak sekali pun pernah mendapat tatapan semenenangkan ini.


"Percayalah padaku," tutur Tahta dengan nada lemah.


"Apa yang harus aku percaya darimu?"


Tahta terdiam. Dia ingin Cinta memercayai segala hal dari dirinya. Namun Tahta tak mampu berucap. Rasanya sungguh tak pantas dirinya menuntut sebesar itu setelah semua perbuatan dan perkataannya dulu.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Cinta dengan tatapan seolah sudah mengetahui dengan pasti jawabannya.


Kembali Tahta hanya terdiam seribu bahasa. Kali ini ada sedikit reaksi yang ditunjukkan. Manik mata pria itu bergetar. Keraguan sedang menyergapnya. Hatinya sangat ingin menjawab iya secepat yang dia bisa, namun logikanya tidak sejalan. Dia sadar masih ada hati yang harus dia jaga. Tahta tidak mau serakah dengan mengakui cinta yang masih diragukannya, saat masih menjalin hubungan dengan wanita yang lain pula di luar sana.


Cinta memutar bola mata dengan acuh melihat reaksinya pria yang tengah mendekapnya tersebut. "Aku harus segera menyiapkan sarapan. Jangan membuatku kelaparan."


Wanita itu tidak ingin membiarkan keheningan dan kecanggungan menguasai keduanya terlalu lama. Dia mendorong tubuh kekar Tahta dan beranjak dari ruangan yang seolah membatasi oksigen yang dihirupnya.



...----------------...


"Bersabarlah sedikit lagi, Bebi. Aku akan memberikan semua yang kau inginkan setelah semua rencana kita berhasil," ujar seorang pria yang terlihat tengah menelepon seseorang dengan ponsel bergambar apel miliknya.


Pria yang tengah mengenakan jas dokter di sebuah ruangan yang bernuansa putih terlihat santai di sana. Ada banyak buku yang tersimpan di rak-rak ruangan berukuran 10x10meter tersebut.


Pria itu memainkan bolpoin yang ada ditangannya. Senyum licik juga mengembang di ujung bibir dokter muda tersebut.


"Bukankah ini sudah terlalu jauh, Bim? Aku merasa kau semakin terobsesi dengan tujuanmu dan melupakan hubungan kita," protes wanita yang ada di seberang telepon dengan nada yang terdengar menuntut.


"Kalo begitu segera dapatkan file itu, aku akan mengakhiri segalanya saat semua data itu ada ditanganku, Bebi. Percayalah padaku, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu."


"Baiklah." Nada pasrah terdengar begitu jelas sebelum akhirnya wanita tersebut mematikan sambungan teleponnya terlebih dahulu.


"Si*l! Aku tidak boleh membiarkan Bella mundur. Tanah itu milikku. Milik keluargaku. Aku tidak akan membiarkan b*jing*n si*lan itu menguasainya," geram Bimo. Tangannya merem*s kertas yang ada di bawah tangannya hingga tak berbentuk.


Pria berkulit sawo matang, namun terlihat begitu berkarisma dan berwajah elok itu menatap nanar foto yang terpanjang di dinding ruangannya. Ada dirinya bersama dua orang paruh baya dan seorang gadis cantik berdiri sembari tersenyum lebar ke arah kamera. Bimo mengepalkan tangan hingga kuku-kuku jarinya memutih saat teringat memori kelam kehidupannya.


Dia adalah pemuda yang tinggal di sebuah desa kecil di perbatasan kota. Bimo memiliki keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan satu adik perempuannya yang begitu cantik dan manis. Saat lulus sekolah menengah, dia harus pergi jauh dari keluarganya untuk bisa kuliah di Kuala Lumpur. Keluarga Bimo cukup terpandang di desa tersebut, ayahnya adalah pemilik lahan yang disewakan pada beberapa warga sekitar. Namun Bimo tidak ingin terkurung di lingkungan pedesaan terus menerus, dia ingin mengejar impiannya menjadi seorang dokter bedah terbaik.


Hingga saat hari impiannya tercapai, Bimo memutuskan untuk kembali ke kediaman orangtuanya. Namun, keadaan sudah kacau. Dua orang pria berpostur tinggi dan tegap dengan pakaian preman, tengah mencekal lengan ayahnya yang sedang berusaha menghentikan seorang pria berjas hitam menggeledah ruang kerjanya.


"Berhenti!" seru Bimo menyingkirkan dua orang pria yang tengah menahan gerak ayahnya tersebut.


"Keluar kalian dari sini! Saya akan panggil warga untuk mengusir kalian jika tidak pergi sekarang juga!"


Pria berpakaian rapi yang menggeledah lemari ayah Bimo menatap nyalak ke arah pria muda tersebut. Dia merapikan jasnya dan berjalan mendekati pria paruh baya yang berdiri di samping Bimo.


"Saya akan segera menemukan bukti bahwa lahan itu bukan milik Anda. Tuan saya akan mengambil alih semua secepatnya. Persiapkan dirimu," ujarnya lalu melenggang pergi meninggalkan ke dua pria yang diselimuti emosi tersebut.


...Bersambung ......


...****************...


Akan Simi update setelah ada 20 komentar di bawah, oke Bebh. Yuk banyak-banyakin komentarnya. Salam sayang dari Simi untuk kalian semua. Semoga sehat dan bahagia selalu, My Shining Star.