![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
..."Cinta bukan hanya tentang memiliki, tapi juga tentang melepaskan."...
Cinta sedang asyik mengobrol dengan Laras dan Zain sibuk dengan korannya saat pintu utama rumah mereka tiba-tiba saja terbuka. Semua orang menatap ke arah pintu di mana Tahta sudah berdiri di tengahnya. Tidak berselang lama seorang wanita dengan rambut sedikit bergelombang muncul dari balik punggung lebar pria tersebut.
Cinta menatap sendu wajah Tahta yang terlihat berbinar. Dia sudah berusaha untuk mengikhlaskan perasaannya. Dia sudah berusaha untuk tetap tegar saat harus melihat pria yang dicintainya itu menggandeng wanita lain. Namun sekuat apapun dia berusaha membendung perasaannya, sekuat itu pula perasaan tersebut menghancurkan tamengnya. Dia memaksakan diri untuk tersenyum meski dengan kehancuran hatinya.
"Selamat malam, Om, Tante?" sapa Bella dengan senyumnya yang mengembang.
Tahta menggandeng tangan Bella, membawanya masuk untuk duduk bergabung dengan ketiga orang yang masih terdiam itu. Hanya Cinta yang menyunggingkan senyum simpulnya. Laras dan Zain, mereka masih membatu di tempatnya dengan arah pandang tertuju pada Bella.
Laras mencoba mengingat-ingat sesuatu. Dia sangat familiar dengan wajah dan penampilan yang sangat mencolok wanita itu. Pikirannya melayang-layang. Aroma lavender yang tiba-tiba menyeruak menusuk hidung Laras itu membawa ingatannya pada kejadian dua bulan lalu.
Laras bersama Zain sedang berada di kota Putrajaya untuk urusan bisnisnya. Banyak tempat-tempat yang harus mereka kunjungi saat itu. Begitulah kebiasaan Zain sebelum melakukan kerjasama dengan perusahaan lain, dia akan turun melihat kondisi perusahaan. Termasuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Putrajaya tersebut.
Mereka berdua sedang asyik mengamati lalu lalang pengunjung yang memang begitu ramai. Mata Zain berkeliling ke setiap sudut bangunan. Dia terlihat puas dengan desain modern yang ditampilkan. Namun, kesenangan mereka terganggu oleh suara teriakan seorang wanita muda yang berbeda tak jauh di belakang Laras. Wanita yang sudah berumur tersebut menoleh ke arah sumber suara.
Seorang wanita sedang memarahi seorang anak kecil yang tanpa sengaja menabraknya. Seolah tidak peduli dengan kata maaf yang sudah disampaikan ibu anak tersebut berkali-kali, wanita itu terus saja membentaknya sambil membersihkan es krim yang menempel di dress seksinya.
"Sudahlah, Beby. Aku akan membelikanmu pakaian baru yang lebih mahal," ucap seorang pria yang berada di sampingnya.
"Makanya lain kali kalo jalan pake mata," geramnya pada anak berusia sepuluh tahun itu.
Pria dan wanita muda yang arogan itu berlalu begitu saja mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya sinis. Pria yang tidak kalah tampan dari putranya itu merangkul dan menciumi wanita tersebut sambil melenggang pergi.
Pandangan Laras tak sedetikpun beralih dari wanita yang sekarang menjadi kekasih putranya itu. Dia mengelus dada melihat tingkah anak muda jaman sekarang.
"Tante." Satu tepukan kecil di pundak Laras berhasil membuyarkan lamunannya.
"Eh, iya, Ta?"
"Tante, kenapa?" bisik Cinta yang berada tepat di samping Laras.
Bagaimana mungkin kau bisa bersikap setenang ini? Anakmu yang baru kali ini jatuh cinta sudah dikhianati. Apa harus aku yang menendang wajah gadis itu? batin Laras dengan menatap tajam ke arah suaminya.
"Bukankah kau anak satu-satunya di keluarga Almar?" tanya Zain yang mencoba membuka percakapan.
"Iya, Om." Senyum simpul mengembang di bibir yang terlihat seperti di olesi darah tersebut.
"Bagaimana usaha keluargamu? Aku dengar mereka akan buka cabang di Johor."
"Jika tidak ada halangan mungkin tahun depan, Om. Perusahaan semakin berkembang, papa bahkan sudah sangat kualahan sekarang."
"Baguslah kalau begitu," pungkas Zain menatap ke arah putranya.
Laras mengembuskan napas berat. Bagaimana mungkin aku berharap dia peduli dengan hal ini. Dia saja tukang selingkuh, baginya yang penting uang dan kekuasaan.
Tidak ada percakapan berarti di ruang tamu yang cukup besar itu. Semua sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bella yang duduk berjajar dengan Tahta menggenggam erat tangan kekar kekasihnya. Bukan karena dia grogi bertemu calon mertua, tapi karena kekesalannya pada situasi ini.
Apa-apaan ini? Mereka mengabaikan ku? Nenek sihir itu bahkan terlihat jelas tidak mau melihat mukaku. Awas saja kalian, geram Bella dalam hati.
Ujung netra Cinta melirik sendu ke arah tangan Tahta yang berada dalam genggaman Bella. Rasa nyeri itu kembali menyeruak memenuhi dadanya. Dia hanya bisa menelan salivanya dengan bersusah payah. Napasnya serasa tercekat di tenggorokan dan mata itu semakin lama semakin pedih. Dengan cepat wanita dengan rambut terurai itu menoleh ke arah lain, mendongakkan wajahnya ke atas untuk mencegah air mata itu agar tidak merangsek keluar.
"Ayo kita makan malam," ucap Laras datar dan berlalu lebih dulu.
...Bersambung .......
...****************...
Haloo, teman-teman.
Terima kasih banyak atas dukungan kalian pada novel Simi.