[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Pupusnya Harapan


"Pak Tahta, saya menemukan keberadaan Nona Cinta." Seorang pria dengan setelan jas menyerahkan sebuah kertas pada Tahta yang duduk di ruang kerjanya.


Tahta membuka matanya lebar-lebar. Menatap tajam asisten pribadi yang baru saja menyodorkan sebuah kertas di hadapannya. Dengan cepat pria itu meraih kertas tersebut.


"Saya menemukannya saat ada yang melaporkan pendaftaran pernikahan atas nama nona. Jadi ...."


Braak!


Belum sempat Reza menyelesaikan ucapannya, Tahta sudah menggebrak mejanya dengan keras. Kedua tangan pria itu terkepal erat di atas meja. Semua harapan untuk bisa bertemu dan kembali lagi pada mantan istrinya telah sirna. Sudah hampir empat bulan dia melakukan pencarian. Laras menutup mulutnya rapat-rapat saat Tahta mencoba menggali informasi.


"Siapa pria itu?" tanya Tahta pelan, tapi tajam.


"Namanya Rudi Mahendra. Dia putra satu-satunya pemilik perkebunan di daerah Bogor."


"Heh! Jadi dia orang berada? Pantas saja tidak butuh waktu lama untuk wanita itu menerimanya," ucap Tahta dengan nada sinisnya.


Pria itu merem*s kertas laporan yang ada di tangannya hingga tak berbentuk. Jantung pria itu terasa berdesir nyeri mendapati kenyataan bahwa wanita yang pernah menjadi istrinya kini telah bersuami. Dia kecewa. Dia tidak terima dengan hal tersebut.


Reza memilih untuk undur diri tanpa suara melihat kondisi atasannya. Tatapan nyalang pria itu menunjukkan segalanya. Dia butuh waktu sendiri. Perasaan iba bergelayut di hati pria muda tersebut, tapi ... dia sadar ini bukan ranahnya untuk ikut campur.


Braak!


Sebuah benda melayang menghantam tembok. Asbak yang terbuat dari bahan kayu itu kini sudah terbelah menjadi beberapa bagian. Pria yang melemparkan benda itu seolah belum puas dengan hanya menghancurkan satu benda. Sekali lagi, Tahta mengangkat vas keramik kecil yang ada di ujung meja.


Praang!


Tepat saat benda itu menghantam tembok, seorang wanita dengan perut buncit membuka pintu. Wanita itu mematung di ambang pintu. Hampir saja benda yang hancur berkeping di bawahnya itu mengenai wajahnya. Jika meleset sedikit saja, entah apa yang sudah terjadi pada wajah cantiknya itu sekarang.


Tahta menatap tajam istrinya yang masih membeku, tapi sejurus kemudian dia memalingkan wajahnya dengan malas. Wanita yang tengah hamil tujuh bulan itu akhir-akhir ini selalu datang menemuinya di perusahaan. Bukannya senang dengan kedatangan istrinya, Tahta merasa istrinya itu sangat menggangu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Bella melangkahkan kaki perlahan menghindari pecahan keramik.


"Urusan kantor," jawab Tahta tanpa menatap Bella yang sudah berdiri di hadapannya.


"Apa kau yakin? Apa ada masalah besar?"


"Tidak. Ada apa?"


Bella mengerutkan kening menatap tajam suaminya. Dia benar-benar berubah, sikapnya semakin hari semakin dingin padanya semenjak hari pernikahan. Sepertinya benar-benar tidak ada harapan bagi wanita itu untuk tetap bertahan dalam hubungan ini. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan saat ini adalah segera menemukan berkas perkebunan dan kembali pada Bimo.


"Apa aku tidak boleh menemui suamiku? Anakmu selalu ingin berdekatan dengan papanya," ucap Bella mendekati suaminya dan bergelayut manja di pundak Tahta.


Anak, kata itu adalah satu-satunya kelemahan Tahta menghadapi istrinya saat ini. Dia punya tanggungjawab moral yang harus diemban. Pria itu tidak pernah membenci ataupun menyesali kehadiran anak di rahim Bella, tapi dia selalu berpikir, jika waktu bisa diputar mungkin tidak ada lagi cerita yang sama tentang malam yang dia lupakan itu. Pada akhirnya pria itu melunak, m membiarkan ular wanita itu mendampinginya di ruangan yang telah dia targetkan.


...----------------...


"Malam, Caca. Apa kau baru kembali dari Indonesia? Kau menemui anak berandalan itu lagi?" tanya wanita itu sembari meletakkan cangkir kopinya.


Wanita yang dipanggil Caca itu mengangguk dengan penuh semangat. Senyum tak lepas dari bibirnya yang terlihat penuh dan sensual. Bahkan pelayan dan pengunjung restoran yang melintas di sekitarnya tak bisa memalingkan pandangan dari wanita berlekuk tubuh bak biola tersebut.


Caca adalah putri dari rekan bisnis keluarga Mahardika. Gadis yang masih berusia dua puluh dua tahun itu begitu dekat dengan Laras. Bahkan kedua keluarga besar tersebut telah membuat kesepakatan untuk menikahkan Caca dengan Gema, putra kedua Zain. Tentu saja Caca tidak mau menolak kesempatan emas tersebut. Dia sudah menaruh hati pada pria yang berkarisma tersebut.


"Apa anak itu membuat ulah lagi?" tanya Laras menatap kosong pada pantulan dirinya di dalam cangkir.


"Yaa, seperti biasa. Dia kan memang biangnya keributan, Tante," gurau Caca dengan senyum manisnya untuk mengurai ketegangan Laras.


"Sebenarnya sebelum berangkat ke Indonesia, Caca ingin menemui Tante, tapi papa buru-buru. Jadi Caca baru bisa menemui Tante sekarang."


"Tidak apa-apa. Tante juga kemarin masih sibuk dengan urusan rumah."


Caca mengangguk perlahan sembari menyeruput latte yang baru saja tiba. Gadis itu menatap nanar Laras. Dia mengatupkan bibir dan sedikit memainkannya seolah ada sesuatu yang ingin lolos dari bibir tersebut, tapi enggan dia sampaikan.


"Apa Tante masih sedih karena kepergian Kak Cinta?" tanya Caca memberanikan diri.


"Akan bohong jika tante bilang tidak, tapi mau bagaimana lagi. Cinta juga berhak atas hidupnya, adiknya pun sudah beranjak dewasa. Jadi Tante sudah tidak punya alasan lagi untuk menahan mereka."


"Lalu istri baru Kak Tahta ... apa dia benar-benar mencintai Kak Tahta?" Caca terlihat ragu mengucapkan kalimatnya. Seperti ada hal yang mengganjal dalam pikirannya yang ingin segera mendapat jawaban.


Laras mengangkat kepala menatap lekat gadis di hadapannya. "Apa kau menemui tante untuk ini?"


"Emm ... itu sebenarnya ... Caca pernah melihat istri Kak Tahta bersama pria lain sebelum berangkat ke Indonesia. Mereka kelihatan sangat dekat," ujar gadis itu menuntaskan rasa penasarannya.


Laras tersenyum miris setelah mendengar ucapan Caca. Dia menghela napas panjang, memejamkan mata dengan hati yang seolah tengah teriris pedang tajam. Wanita paruh baya itu, mencoba mengontrol diri. Dia sudah berjanji tidak akan peduli lagi dengan kehidupan putranya. Dia tidak mau tahu lagi dengan hal baik ataupun buruk yang dialami Tahta karena keputusannya memilih wanita ular tersebut.


"Dia benar-benar tidak tahu malu. Sudah menjebak Tahta dengan kehamilannya dan masih berhubungan dengan pria lain di tempat umum."


"Tapi Tante ... aku mendengar pria itu berkata anakku pada istri Kak Tahta." Ucapan Caca seketika membuat Laras membeliakan matanya lebar-lebar.


Tangannya mengepal hingga urat-urat tipisnya menonjol. Napas wanita paruh baya itu memburu tatkala pikiran buruk melintas di kepalanya. Mungkinkah selama ini dia juga telah berhasil dikelabui oleh wanita itu? Mungkinkah janin yang dia anggap cucunya itu adalah anak pria lain? Mungkin hasil tes DNA itu sudah dimanipulasi olehnya? Semua pertanyaan itu berputar-putar di otaknya. Wajah Laras terasa memanas saat memikirkan semua perkiraannya itu adalah sebuah kebenaran.


"Apa kau yakin?"


Caca mengangguk dengan pasti. Jarak meja mereka saat itu tidak terlalu jauh. Meskipun sembari bergurau dengan temannya, tapi Caca samar-samar masih bisa mendengar percakapan keduanya saat suasana sedikit lebih tenang.


...Bersambung .......


...****************...