![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Ibu tahu ada masalah dalam hubungan kalian, tapi ibu harap kalian bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik," tutur Mira pada Rudi setelah memerhatikan interaksi antara putra dan menantunya.
Rudi hanya tersenyum sumir menanggapi nasihat ibunya. Ya, sudah lebih dari seminggu semenjak malam itu Cinta seolah berusaha menghindarinya. Dia tahu betul wanita itu sedang butuh waktu, apalagi dia juga baru saja menjadi ibu baru. Namun, dia juga tidak mau berlama-lama seperti ini. Perasaan takut akan kehilangan wanita yang dia cintai itu selalu menghantui Rudi setiap matanya terpejam.
"Ibu pulang dulu, ya," pamit Mira sembari sedikit melirik pintu rumah Cinta yang masih terbuka. Menantunya tengah menidurkan si kembar di dalam kamar.
Rudi menatap punggung Mira yang semakin menjauh. Angin malam berembus kencang menyapu permukaan kulit pria itu hingga membuat bulu halus di tubuhnya meremang. Dia bergegas masuk setelah memastikan sang ibu tidak terlihat lagi dari halamannya.
Pria itu menatap nanar istrinya yang tengah berbaring menghadap Raja dan Ratu. Kedua bayi dengan berat badan 4kg tengah tertidur pulas di tengah ranjang. Perlahan Rudi melangkah mendekati Cinta.
"Sampai kapan kau mau mendiamkanku?" tanya Rudi memberanikan diri.
"Sampai kapan kau mau merahasiakan itu dariku?" Cinta balik bertanya yang berhasil membuat Rudi kehilangan kata-kata.
Wanita itu perlahan bangkit dan duduk di bibir ranjang. Dia menatap nanar Rudi yang masih berdiri mematung sembari menelan salivanya dengan berat.
"Apa hubunganmu dengannya?"
"Aku ... dia temanku. Kita bertemu saat ada acara seminar pertanian. Ayahnya juga mengajariku tentang cara mengolah perkebunan, itu sebabnya aku membantu Bimo," jelas Rudi mencoba meyakinkan istrinya.
Kini Cinta semakin menatap lekat suaminya. Mata dengan iris berwarna coklat itu menyelidik seolah tengah menguliti isi kepala Rudi. Suaminya memang aktif dalam komunitas petani milenial terutama yang bergerak di komoditas sayuran. Dia juga termasuk jajaran petani muda yang paling sukses dengan omset ratusan juta setiap bulannya. Pria yang mengambil alih usaha ayahnya sejak masih di bangku kuliah itu sering mewakili komunitasnya untuk menghadiri acara di negeri tetangga.
"Bukankah dia seorang dokter?"
"Bimo memang dokter, tapi ayahnya dulu seorang petani dan memiliki perkebunan sebelum akhirnya ...." Rudi menggantung kalimatnya dan mengepalkan tangan dengan tatapan mata menggelap.
"Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Orangtuanya sudah meninggal, dan Bimo butuh modal untuk memulai bisnis perkebunan lagi."
Kini kening wanita itu semakin berkerut mendengar penuturan Rudi. Jawaban suaminya menimbulkan banyak pertanyaan yang sangat ingin mendapatkan jawaban saat itu juga. Kenapa Bimo ingin merubah profesi? Bagaimana hubungannya dengan Bella? Apa akhirnya dia menyerah pada Bella dan memulai hidup baru? Semua pernyataan itu berputar-putar di kepalanya.
"Sayang, aku mohon percayalah padaku. Aku tidak sanggup jika harus kau diamkan terus menerus," ujar Rudi sembari berlutut di hadapan Cinta.
Aah, itu sudah bukan urusanku lagi. Aku hanya perlu fokus pada anak-anakku sekarang, batin Cinta mencoba menghalau segala kemungkinan yang ada di otaknya.
Rudi menelan kembali salivanya saat melihat tatapan mata Cinta. Dia mengatupkan kedua bibir sebelum akhirnya mengangguk dengan cepat.
"Aku ingin kau selalu bahagia. Aku mohon jangan bersikap dingin lagi padaku. Aku tidak sanggup, Sayang," ucap pria itu dengan mencium punggung tangan Cinta dengan lembut.
Pada akhirnya tembok yang dibangun oleh Cinta itu runtuh. Dia menarik tipis sudut bibirnya sesaat, namun sudah membuat hati pria di hadapannya itu menghangat. Rudi bangkit. Menarik tubuh Cinta dalam pelukan hangatnya.
"Aku mencintaimu. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku karena aku hanya butuh kamu. Aku tidak butuh apapun selain dirimu, Sayang. Berjanjilah untuk tetap di sisiku hingga akhir hidupku. Tolong berjanjilah padaku," ucap Rudi dengan suara yang sedikit bergetar.
Cinta memejamkan mata. Dia bisa merasakan sebuah ketakutan dari nada suara Rudi. Namun, sejujurnya rasa penasaran dan ketidak percayaan masih bersarang, melekat kuat dalam hati ibu muda tersebut.
"Ya, aku akan percaya padamu kali ini, dan ... mau kah kau berjanji untuk tidak merahasiakan apapun lagi dariku?" tanyanya dengan nada datar.
"Ya, aku berjanji. Aku akan melakukan apapun yang kau minta," jawab Rudi dengan yakin.
Malam itu Rudi bisa bernapas lega. Lepas sudah segala gundahnya. Maafkan aku Cinta, dengan berat hati aku harus melakukan ini.
...----------------...
Senja sudah berkali-kali menyapa Tahta bersama kenangan yang dia bawa, tapi pria itu tetap tinggal dalam kegelapannya. Pipinya terlihat lebih tirus dari setahun yang lalu saat Bella memilih untuk menusuknya dengan belati yang disulut api.
Tumpukan kertas selalu menghiasi permukaan meja calon CEO tersebut. Dia lebih memilih menenggelamkan diri dengan pekerjaan, bahkan saat tubuhnya tak lagi bisa menahan.
Tahta semakin berjaya dengan karirnya, tapi bukan dengan hatinya. Pria yang menyandang status duda dan telah dua kali gagal dalam rumah tangga itu menutup rapat pintu hatinya. Dia, yang awalnya seperti seekor merak, menggoda dan penuh wibawa, kini berubah menjadi seekor elang pemburu dengan sorot mata tajam dan menyeramkan.
Pria itu seolah telah lupa cara tersenyum. Dia lupa bagaimana rasanya bahagia. Tidak ada hal yang bisa menyenangkan hatinya. Namun, ada satu hal yang bisa sedikit memberikan ketenangan bagi pria itu. Sebuah foto. Foto seorang wanita yang sudah menjadi mantan istri pertamanya itu selalu setia menemani hari-hari Tahta.
Tahta menghentikan gerakan jarinya di atas keyboard. Ekor mata berwarna hitam itu melirik foto di dalam bingkai berwarna hitam di ujung meja kerjanya. Dia meraih benda berlapis kaca tersebut. Menatap lekat potret itu dengan satu jari menyapu permukaan kaca dengan lembut. Netra hitamnya menunjukkan sebuah kerinduan yang begitu dalam.
"Aku tidak mau mendengar kabar apapun tentangmu. Itu akan membuatku lebih hancur saat aku tahu kau telah bahagia bersama pria lain."
...Bersambung .......