[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Kisah Lalu 2


..."Nyatanya, kata 'berdamai dengan keadaan' itu hanya mudah untuk diucapkan."...


Rudi, pria yang tengah terbaring lemah tak berdaya itu mulai menggerakkan ujung jari dan kelopak matanya saat merasakan benda dingin menyapu permukaan kulitnya. Pria itu perlahan membuka mata, tapi menutupnya kembali saat cahaya terang yang sudah dua minggu tak bisa dia lihat itu terasa menusuk retinanya.


"Kau sudah bangun, Rud?" Suara lembut seorang wanita yang sangat familiar dan sangat dia rindukan, menggetarkan hati Rudi.


Dia kembali berusaha membuka netranya yang masih terasa begitu berat untuk terbuka. Menggerakkan tangannya dengan lemah, berusaha menggapai apapun yang ada di sekitarnya.


Melihat pergerakan Rudi, Cinta menaruh washlap yang dia gunakan untuk membasuh tubuh suaminya, dan perlahan menyentuh tangan Rudi yang masih tersisa sedikit kehangatan di permukaannya.


"Ci–Cin–ta ..." lirih Rudi dengan nada lemah tak bertenaga.


Cinta hanya tersenyum simpul sembari sekilas mengeratkan genggaman tangannya. Wanita itu tidak tahu harus bereaksi bagaimana saat melihat pria di hadapannya tersebut tiba-tiba sadarkan diri. Dia senang, terharu melihat suaminya itu bisa kembali membuka mata, tapi di sisi lain, rasa kecewa dan sakit hatinya seolah telah menjadi rantai yang mengikat kebahagiaannya, dan menjadi tembok besar yang menghalangi keduanya. Pada akhirnya, Cinta hanya memilih untuk menyambut Rudi dengan senyum simpul sembari menelan rasa sakithatinya.


Rudi yang tengah berusaha mengumpulkan tenaga, menatap sendu istri yang begitu dia rindukan. Perasaan bahagia bercampur aduk dengan rasa bersalahnya. Tanpa terasa air mata mengalir begitu saja tanpa permisi, dan bersama itu pula Rudi kembali dari lamunannya.


"Aku akan menelfon ibu dan Rumi," ucap Cinta sembari menyeka setitik air mata di sudut matanya.


"Maafkan aku."


Tangan Cinta yang sebelumnya sibuk mencari ponsel di dalam tas, seketika terhenti. Masih dengan menundukkan kepala tanpa menatap Rudi, Cinta ingin mendengar ucapan pria itu.


"A–aku sudah membuatmu menderita, membuat anak-anak kehilangan sosok ayah kandungnya. Maafkan aku karena sudah membuatmu kehilangan orang yang kau cintai," sambung Rudi masih dengan suaranya yang begitu lemah dan berat.


Perlahan Cinta pun mengangkat kepalanya, mengarahkan manik matanya pada pria yang terlihat seperti mayat hidup tersebut. Hatinya terasa tersayat melihat bibir putih, dan kulit pucat pasi yang tergambar di wajah sahabat kecilnya itu. Tanpa terasa setitik air mata bergulir tanpa permisi.


"Aku tidak sepenuhnya menyalahkanmu, Rud. Aku kecewa, tapi aku juga berterima kasih. Karenamu aku jadi bisa memahami arti mencintai, dan ... yang kita rasakan selama ini bukan cinta, tapi obsesi, Rud. Kau ... dan aku, kita sama-sama terobsesi pada seseorang, dan ... kita sama-sama melakukan hal yang salah untuk mendapatkannya." Cinta melepaskan tangannya dari genggaman Rudi untuk menghapus linangan air matanya.


Rasanya sudah tidak sanggup untuknya membicarakan masa kelam itu lagi. Hatinya terasa begitu hancur. Dia harus kembali mengorek luka lama yang baru saja bisa sedikit terobati. Ya, dibandingkan kekecewaannya terhadap Rudi, luka yang tercetak dari hubungannya dengan Tahta lebih terasa menyakitkan. Rasa kecewa pada dirinya sendiri, rasa penyesalan akan rencananya sendirilah yang membuat luka itu terasa menghancurkan seluruh sendi-sendi kehidupan Cinta. Rencana yang pada akhirnya mengorbankan kebahagiaan kedua anaknya.


Sebuah senyuman hangat muncul di bibir pria itu meskipun dengan cara dipaksakan, tapi senyum itu masih terlihat begitu tulus dan penuh kelegaan. Rudi kembali meluruskan kepalanya dan memejamkan mata perlahan. "Aku sangat lelah, aku ingin istirahat. Tetaplah di sini, istriku," ujarnya sebelum akhirnya benar-benar memejamkan mata sempurna.


Sekali lagi, air mata tanpa permisi sudah menerobos benteng pertahanan Cinta. Wanita itu tengah menahan isakan tangis yang serasa semakin menghimpit dadanya. Wajah pucat pria di hadapannya tersebut membuat segala kebencian menguap begitu saja, dan digantikan oleh rasa penyesalan atas ketidakpekaannya.


Tanpa keduanya sadari, dua sosok wanita juga tengah menagis terisak di balik pintu ruang perawatan tersebut. Mereka hanya bisa saling memeluk dan saling menguatkan satu sama lain. Ya, dokter sudah mengatakan bahwa pria yang selama bertahun-tahun menjadi kepala keluarga itu, sudah tidak punya harapan lagi. Mereka hanya bisa berdoa siang dan malam memohon keajaiban dari Tuhan.


Ibu Mira menyeka air matanya dengan cepat. Meskipun itu hanya sebuah usaha yang sia-sia, dia tetap terus mencoba menghentikan cairan bening itu agar tidak sampai ke permukaan pipinya.


"Setidaknya, dengan maaf yang sudah diberikan oleh kakak iparmu, beban di hatinya sudah sedikit berkurang. Setidaknya, ibu bisa sedikit bernapas lega melihat mereka bisa bersama hingga akhir," gumam Mira dengan tatapan sayu.


"Mbak, tolong minggir sedikit!" teriak seorang pria sembari membunyikan klakson pick up miliknya, hingga membuat Cinta yang sedari tadi berdiri di gerbang makam terjingkat.


"I–iya, Pak maaf," jawab wanita yang baru saja kembali dari lamunan panjangnya.


Cinta bergegas menuju mobilnya yang terparkir di belakang pick up tersebut. Dia masih sibuk menetralkan netranya yang masih sedikit buram karena terlalu lama menangis. Cinta menempelkan keningnya di setir mobil, menatap lantai mobil dan sandalnya yang penuh lumpur.


"Seburuk ini kisah hidupku. Sangat kotor, dan tidak ada keindahan. Hah!" Dia menghela napas berat.


"Tidak-tidak. Anak-anakku adalah kebahagiaan yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku tidak pantas mengeluh atas kesalahan yang aku lakukan sendiri. Jika saja saat itu aku tidak menjadi orang ketiga dalam hubungan Tahta, mungkin kisahku tidak akan seburuk ini, kan?" gumamnya sembari tersenyum miris. Wanita itu tengah berusaha berdamai dengan keadaan, tapi nyatanya, kata damai itu hanya mudah untuk diucapkan.


...Bersambung .......


...----------------...


Haii, Dear....


I miss you so bad. Maaf kalau updatenya nggak bisa rutin setiap hari, yaa. Meskipun begitu, aku tetap berharap kalian mau mendukungku dengan cara memberikan Like, Komen, dan Vote di novel ini. Oh, iya aku juga membuat beberapa cerpen romance di W*ttpa*, jika kalian punya aplikasinya cari aja nama pena "Ismi Sima Simi" oke.... Sampai jumpa secepatnya, My Shining Star.