![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Di negara yang lebih sering disebut sebagai negeri Jiran, seorang pria berpawakan tinggi berdiri tegak di balik pintu ruang yang sedikit terbuka. Cahaya disekitarnya terlihat remang-remang. Namun, Tangannya yang terkepal erat hingga urat-urat di punggung dan lengannya bisa tetap terlihat jelas. Rahang pria itu mengetat hingga membuat wajahnya terlihat begitu kaku. Suara gelak tawa yang berasal dari dalam ruangan di depannya itu semakin membuat jantung pria itu bergerak tak beraturan. Ingin rasanya dia menerobos masuk dan menghantam wajah pria yang tertawa lebar tersebut. Namun, dia tidak bisa bertindak gegabah. Pria di dalam ruangan tersebut adalah ayah kandungnya sendiri yang tengah tertawa di bawah penderitaan dan ketakutan ibunya.
Tahta kembali memasang telinganya, mendengarkan percakapan dan rencana busuk pria paruh baya tersebut.
Bagaimana bisa kau setega itu hingga mengorbankan nyawa seorang anak, Ayah? batin Tahta saat tanpa sengaja dia mendengar percakapan ayah dan ibunya di telepon.
"John, awasi wanita itu. Jika kau melihatnya bertingkah mencurigakan habisi saja dia." Setelah suara ibunya yang berteriak mengancam ayahnya, kini hanya suara Zain yang terdengar pelan tapi tajam.
"Apa saya perlu menyingkirkannya?" Suara asisten pribadi ayahnya tersebut membuat Tahta membeliakkan matanya seketika.
"Aku masih membutuhkannya untuk pemilihan perdana menteri. Wartawan akan curiga jika tidak ada yang mendampingiku selama acara berlangsung."
"Jadi...."
"Tahan saja dia dan kembalikan ke sini, setelah pemilihan kita bisa atur strategi lain untuk menyingkirkannya."
"Baik, Tuan."
Tahta semakin memperkuat genggamannya hingga kuku-kuku jarinya terasa menancap dan mengoyak kulit telapak tangan. Jika saja pembunuhan itu bukan tindakan kriminal, mungkin saja dua orang yang ada di dalam ruangan tersebut sudah tak bernyawa saat ini. Karena sudah tidak tahan dengan apa yang dia dengarkan, Tahta memilih berbalik pergi dan mengurungkan niatnya bertemu Zain.
"Sepertinya semua sudah harus kau akhiri sampai di sini ayah," gumamnya dengan tatapan penuh kebencian dan dendam.
Pria yang tengah kalut itu seperti tengah kesetanan, mengendarai mobil sedan berwarna hitam miliknya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota Kuala lumpur tanpa mempedulikan rambu-rambu yang ada. Dia terus menekan pedal gasnya hingga tanpa dia sadari dua mobil polisi sudah memburunya di belakang dengan suara sirine yang memekakkan telinga.
Tahta secara spontan menginjak rem hingga mobilnya sedikit memutar saat sebuah mobil polisi menghadangnya dari arah depan. Pria itu menatap bingung dengan situasi di sekitarnya.
"Buka pintu!" perintah seorang polisi sembari menggendor pintu mobil Tahta.
"Hah! Si*lan!" keluh Tahta menghela napas kasar sembari membuka pintu.
Ya, kini dia menyadari kesalahannya. Dia sudah melaju terlalu jauh tanpa tahu berapa kecepatan yang dicapainya, mungkin saja sampai batas maksimum, pikir pria tersebut.
Pada akhirnya Reza harus menyelesaikan semua masalah yang ditimbulkan oleh atasannya tersebut. Dengan beberapa kali negosiasi dan tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan, masalah itupun dapat ditangani di tengah malam.
Tidakkah aku bisa tidur nyenyak sehari saja? Dasar bos ... haish ... aku bahkan tak berani mengumpat padanya," gerutu Reza dalam hati sembari menatap Tahta yang sudah duduk menengadahkan kepala ke langit-langit ruang kerjanya.
"Za, cari tahu apa yang sudah dilakukan ayah dan ibuku."
"Maksud Anda?"
"Hah, bod*h sekali kau ini. Cari tahu saja kebusukan yang sudah dilakukan ayahku, kumpulkan semua bukti yang bisa kau dapatkan dan berikan besok pagi!"
"Ba–baik, akan segera saya kerjakan."
...----------------...
"Saya rasa semua ini sudah cukup untuk membuatnya kehilangan segalanya, benar, kan?" ucap Tahta pada seorang pria tua yang duduk di seberang meja kerjanya.
"Apa kau yakin dengan ini? Kau juga akan kehilangan segalanya jika sampai kasus ini sudah terangkat ke publik," jawab pria paruh baya yang juga merupakan calon perdana menteri sekaligus pesaing berat ayahnya tersebut.
"Ya. Setidaknya Anda lebih baik untuk menduduki kursi itu daripada ayah saya. Saya juga tahu reputasi Anda bukan hanya di depan kamera, jadi bantu saya untuk membuat proses ini berjalan lancar dan lebih cepat. Jika tidak ... ibu saya yang akan menjadi pertaruhannya."
Pria bernama Ashar itu sedikit melebarkan matanya mendengar pernyataan Tahta. Bagaimana mungkin ada pria sekejam itu bahkan menempatkan nyawa anak-anak dan istrinya sendiri ke dalam bahaya hanya demi kekuasaan.
"Saya percaya Anda akan membantu saya, dan semua file di berkas ini sudah cukup kuat jika Anda ingin melaporkan ayah saya atas perbuatan kotornya dalam hal politik maupun bisnis, dan satu hal lagi .... " Tahta menghentikan kalimatnya dan mengambil napas.
"Dia juga membunuh tuan tanah untuk kelancaran proyek Danau Biru," pungkasnya dan segera berpamitan pada pria yang akan segera menjadi petinggi negara tersebut.
Ashar masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar, bahkan setelah mengantarkan tamunya tersebut keluar dari ruang kerjanya. Dia menatap lekat berkas yang tergeletak di atas mejanya. Meskipun dia juga menginginkan kursi sebagai perdana menteri, tapi tidak ada niatan sedikitpun untuknya bermain curang. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan kejahatan dan ketidakadilan itu bebas begitu saja. Dia harus mengambil tindakan sebagai seorang warga negara yang masih menjunjung tinggi keadilan.
"Apa Anda benar-benar akan melakukan ini, Pak? Bagaimana dengan perusahaan? Mereka akan menyita semua, termasuk hasil kerja keras Anda," ucap Reza yang tengah mengekori atasannya.
Tahta tidak mengacuhkan asistennya. Dia hanya terus berjalan dengan langkah pasti menuju ruangannya sembari menatap tajam ke arah depan.
"Siapkan pesangon untuk para pegawai!" perintah Tahta sebelum akhirnya menutup pintu ruangannya dan meninggalkan Reza yang masih membeku di depan pintu.
"Pak, bagaimana bisa aku menghidupi calon istri dan anakku kalau aku tidak bekerja?"
"Sebelum memikirkan untuk menghidupi mereka, sebaiknya kau pikirkan dulu cara menyeleksi kelima calon istrimu itu."
"Apa Anda bercanda, Pak? Untuk menyeleksi calon ibu dari anakku, aku harus memastikan bahwa aku punya penghasilan untuk menghidupi mereka. Jika tidak, mereka yang akan mencampakkanku terlebih dulu," protes Reza dengan ekspresi kesal.
"Jangan menambah beban pikiranku untuk memikirkan istri dan anak halumu itu, selesaikan saja pekerjaan yang aku berikan kalau kau tidak ingin kehilangan pekerjaan."
Pada akhirnya, Reza hanya bisa berbalik pasrah dan tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Pria muda itu berjalan lunglai dengan wajah tertunduk. Atasannya itu tidak akan mungkin bisa dibujuk, dan mungkin, ini adalah detik-detik terakhir dia bekerja di perusahaan tersebut.
...Bersambung .......
...****************...
Haloo, My Shining Star.... Aku rinduuu... Gimana kabar teman-teman hari ini? Semoga sehat selalu, yaa. See you soon.
Mohon bantuannya, yaa. Tolong pencet Like, kasih komentar, dan Vote di akhir cerita. Terima kasih banyak kesayangan.