![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
..."Aku hanya rindu, bukan berarti ingin kembali."...
Tahta memejam, saat jari tangan yang terlihat mungil dan lentik itu menyentuh pipinya. Mengusap cairan bening yang sudah membekas di setiap inci kulit yang dilewati. Perasaan hangat menjalari tubuh Tahta. Tanpa disadari tangan pria itu terulur, menyentuh tangan Cinta. Menekan tangan mungil itu di pipinya dan perlahan membawanya ke dalam kecupan hangat. Dengan mata terpejam, pria itu mengirup dengan rakus aroma tangan mantan istrinya.
Cinta terbelalak. Tubuhnya menegang tanpa bisa berkata apa-apa. Jantung wanita itu berdebar tak terkendali. Rasa hangat menyapu telapak tangannya saat sang mantan suami mengembuskan napas, setelah mengisi penuh rongga dadanya dengan aroma tangan Cinta. Kesadaran Cinta pun kembali bersamaan dengan rasa hangat yang terasa menjalar dari telapak tangannya. Wanita itu dengan cepat menarik tangan kanannya dari genggaman Tahta.
"A–aku akan me–menemani anak-anak." Cinta berbalik, mengatupkan bibir, dan mencoba menyembunyikan pipi yang telah bersemu kemerahan.
"Berhenti!" Suara bariton Tahta membuat Cinta menghentikan gerakan tangannya di gagang pintu.
Wanita itu perlahan berbalik menatap Tahta dengan canggung. "A-ada apa?" Jantungnya serasa hampir melompat saat ini.
Sudut bibir Tahta samar-samar tertarik ke samping. "Kau semakin cantik saat malu."
Cinta membelalak. Tatapan canggung itu lenyap berganti dengan tatapan tajamnya. Namun, pipinya masih memerah, bahkan semakin merah. Ah, sial! Pria di hadapannya itu pasti tengah menertawainya. Cinta sesaat benar-benar kehilangan kontrol atas dirinya. Bagaimana bisa dia bersikap menjadi wanita lugu dan mudah dirayu, di hadapan mantan suami si*lannya itu.
Cinta berdecih kesal pada dirinya sendiri. "Aku menyesal karena membuka pintu untukmu," ucap wanita itu sembari merengutkan bibirnya.
"Kenapa? Apa karena ini membuatmu merindukan masa lalu kita?"
"Apa yang harus aku rindukan dari masa lalu yang...." Cinta menjeda kalimatnya dan menatap risih pada Tahta.
"... dipenuhi kebodohanmu itu?"
Pria itu mengangkat sebelah alisnya. Cinta tidak mengungkit tentang Bella, tidak ada juga gurat kepedihan di wajahnya yang terlihat kesal. Kaki Tahta bergerak satu langkah ke depan, membuat Cinta harus melangkah mundur menghindarinya. Namun sia-sia, pria itu kembali mengikis jarak yang Cinta buat. Kini wanita itu sudah tidak bisa lagi berkutik. Tembok sudah menghalangi pergerakannya, dan kini tubuh jangkung Tahta berada sangat dekat di hadapannya.
Nyali Cinta menciut saat harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Dia bisa saja berteriak jika pria itu melakukan hal di luar nalar. Ini negara hukum, pasti dia akan mendapatkan pasal pelecehan. Namun, tubuhnya seolah tidak bisa diajak kompromi dengan isi kepalanya. Dia hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah.
Tahta mengulum senyum saat melihat mantannya itu semakin gugup. Dia semakin mencondongkan tubuhnya mengikis jarak wajah keduanya hingga embusan napas Cinta yang hangat sesekali menyapu permukaan kulit lehernya.
Awalnya hanya telapak tangan yang Tahta tempelkan ke tembok di samping wajah Cinta. Namun kini bukan hanya telapak, demi mengikis jarak dia menempelkan tangan hingga ke sikunya.
"Bukankah kau pernah begitu tergila-gila pada pria bodoh ini? Bukankah itu artinya kau lebih bodoh, Sayang?" bisik Tahta tepat di samping telinga Cinta.
Cinta seketika mendongak. Manik mata dua sejoli itu saling beradu. "Iya. Aku dulu sama bodohnya denganmu. Jadi, sekarang aku tidak akan menjadi orang yang bodoh seperti sebelumnya."
"Aku pun," sahut Tahta dengan cepat.
"Aku tidak akan bertindak bodoh seperti dulu. Aku ...." Tahta memejamkan mata saat merasakan nyeri yang tiba-tiba menjalar di hatinya. Setiap kali mengungkit masa lalu, duri yang bersarang di dadanya seolah bereaksi. Dia menatap sendu wanita di hadapannya. Tangan Tahta yang berada di tembok bergerak merapikan surai hitam Cinta yang menutupi pipinya.
"Aku akan melakukan apapun untukmu dan anak-anakku. Sampai kalian memaafkan kebodohanku, aku akan menjadi pria pecundang yang hanya bisa menangis menyesali perbuatannya, di hadapanmu. Tidak kah ... tidakkah kau merindukanku? Meskipun sedikit saja, meskipun hanya seujung kukumu. Tidakkah kau merindukanku?" Netra Tahta kembali memerah dengan cairan bening sudah menggenang di ujungnya.
"Apa air mata sudah menjadi senjatamu sekarang? Di mana Tahta yang dulu begitu angkuh itu?" tanya Cinta dengan tersenyum seolah mengejek.
"Entahlah. Aku adalah pria paling lemah jika di hadapan kalian bertiga. Jika kau berpikir air mata adalah caraku untuk mendapatkan belas kasihmu, maka jawabannya adalah, ya. Aku ingin kau dan anak-anak tidak mengabaikanku. Aku ingin kau mengingatku, tidak peduli meskipun yang kau ingat adalah wajah menyedihkan atau wajah seorang pecundang, asal kau tidak lagi mengingat tentang kebrengs*kanku."
Cinta menatap nanar kepala Tahta yang masih setia tertunduk. "Aku merindukanmu."
Satu kalimat pendek dari Cinta membuat kepala Tahta terangkat. Binar kebahagiaan bercampur tatapan tidak percaya juga tergambar jelas di wajahnya.
"Aku hanya rindu, bukan berarti ingin kembali."
...Deg!...
Binar di wajah Tahta lenyap. Tubuhnya membeku, dan jantung yang tadi berdetak tak karuan, seolah berhenti berdetak. Wanita yang dicintainya, tak lagi menginginkannya, itulah yang terlintas di otak Tahta.
Cinta menyadari perubahan ekspresi mantan suaminya, tapi dia tidak ingin berbuat apapun yang bisa menimbulkan kesalahpahaman lagi. Dia tidak ingin berharap, atau memberikan harapan apapun. Dia hanya ingin hidup. Hidup tenang, aman, dan damai bersama kedua anaknya.
"Minggir. Aku harus tidur."
"Tidak bisa."
Cinta menyipitkan mata mendengar jawaban Tahta. Dengan posisi mereka yang begitu dekat, dan jawaban Tahta yang tidak rasional, membuat otak Cinta tidak bisa berfungsi dengan baik. Isi otaknya benar-benar seperti benang kusut saat ini.
"Ming–gir." Wanita itu mendorong dada bidang Tahta dengan tangan kirinya.
"Tidak."
"Aku mau tidur."
"Aku tidak akan melarangmu tidur."
"Kalau begitu minggir!"
"Tapi apa kau yakin mau tidur sambil membawa itu?" tanya Tahta memajukan dagunya ke arah tangan kanan Cinta.
Netra Cinta mengikuti arah pandang Tahta. Tanpa dia sadari, cangkir teh putih itu masih bertengger manis di tangan kanannya. "Ee–ee, ini ... aku berniat mencucinya."
"Tidak perlu. Berikan padaku," jawab Tahta sembari meraih cangkir dari tangan Cinta.
"Cepatlah istirahat dengan anak-anak. Kau pasti capek. Dan tolong katakan pada mereka, aku sangat menyayangimu dan mereka." Ucapan Tahta berakhir dengan mengelus sayang rambut hitam Cinta. Tak lupa dia membumbui perpisahannya dengan tatapan penuh kasih pada janda beranak dua itu.
Cinta masih mematung di dekat pintu, saat pria yang mengobrak-abrik hatinya itu telah melangkah pergi. Dia memperhatikan punggung Tahta yang semakin menjauh menuruni anak tangga. Napas wanita itu memburu saat debaran jantungnya terasa semakin kuat. Cinta mengulum senyum kecil, rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.
...Bersambung.......
...****************...
Haloo, Bestieee. Ada komplain nggak minggu ini? Nggak ada, ya? Kalau gitu aku minta Vote, Like, dan komentarnya, dooong. Boleh, yaaa? Lope lope sekebon buat kaliaaan, My Shining Star.